**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Ambang Delapan Belas
Pada hari ulang tahunku yang kedelapan belas, Arkana mengembalikan semua kunci yang selama ini tidak pernah kumiliki.
Kunci gerbang Vila Arkana.
Kartu akses lift kantor.
Satu kartu bank atas namaku sendiri.
Dan kunci sebuah mobil kecil yang terparkir di halaman.
"Ini bukan hadiah," katanya di meja sarapan. "Mulai hari ini kau bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri."
Aku membolak-balik kunci mobil. "Termasuk memilih ke mana aku pergi?"
"Termasuk menanggung akibatnya."
"Kalau aku memilih pergi dari rumah ini?"
Tangan Arkana berhenti di atas cangkir kopi.
Hanya sesaat.
"Pintu tidak pernah kukunci untuk menahanmu."
Aku hampir bertanya mengapa selalu ada penjaga di luar, mengapa sopir melaporkan setiap kepulanganku, dan mengapa dia tahu siapa yang duduk di sebelahku di pesta sekolah. Namun di atas meja sudah ada surat penerimaan fakultas musik dari universitas pilihanku.
Dia menandatangani biaya kuliah tanpa mengubah satu jurusan pun.
Aku memilih tinggal.
Siang itu aku mengemudikan mobil sendiri menuju kampus. Kendaraan pengawal tetap mengikuti dari dua mobil di belakang, tetapi tidak ada sopir di kursi sebelah yang menentukan arah. Untuk pertama kalinya, tanganku sendiri memegang kemudi dan kakiku sendiri memilih kapan harus berhenti atau melaju.
***
Hari-hari pertama di kampus terasa aneh. Untuk pertama kalinya orang-orang mengenalku sebagai Larasati, mahasiswa piano, bukan anak tanpa nama dari panti atau perempuan muda yang tinggal di rumah seorang bos mafia.
Aku mengikuti kelas teori musik, berlatih di ruang kedap suara, dan makan mi instan bersama teman-teman ketika kantin tutup. Pengawal Arkana tetap ada, tetapi mereka menunggu di luar pagar dengan pakaian biasa.
Kebebasan kecil itu membuatku bernapas.
Ibu Clara, yang kini mengajar satu kelas pilihan di kampus, memperlakukanku sama seperti mahasiswa lain. Jika tempo permainanku goyah, dia mengetuk partitur tanpa memedulikan siapa yang membayar biaya kuliahku.
"Teknikmu sudah cukup," katanya suatu sore. "Sekarang berhenti memainkan perasaan komposer lain dan cari suaramu sendiri."
"Bagaimana caranya?"
"Mainkan sesuatu yang tidak bisa kamu katakan."
Malam itu aku mulai menyusun melodi sederhana. Dua tema saling mengejar. Tema pertama lembut dan ragu, tema kedua gelap serta berat. Setiap kali keduanya hampir bertemu, tanganku memisahkan mereka ke oktaf berbeda.
Aku belum memberi judul.
Arkana pernah berhenti di luar ruang musik saat aku memainkannya. Bayangannya terlihat di bawah pintu, diam sampai nada terakhir. Ketika kubuka pintu, lorong sudah kosong. Hanya ada secangkir susu hangat di meja kecil.
"Bos bilang kamu lupa makan malam," kata Bi Sum.
"Dia mendengarkan?"
"Bibi tidak tahu."
Aku tahu.
Itulah cara kami hidup saat aku mendekati usia dewasa. Dia berdiri di luar pintu. Aku berpura-pura tidak menunggunya masuk.
Namun tiap malam aku tetap pulang ke Vila Arkana.
Kadang Arkana belum datang. Kadang dia sudah berada di ruang kerja dengan tumpukan berkas dan pistol tersembunyi di bawah meja. Kami makan dalam diam, membahas jadwal kuliah, lalu kembali ke ruang masing-masing.
Tidak ada yang berubah.
Setidaknya sampai malam di Restoran Lumière.
***
Bayu memesan seluruh ruang atas restoran untuk merayakan ulang tahunku. Katanya makan malam di rumah terlalu membosankan untuk usia delapan belas.
"Sekarang kamu resmi dewasa," ujarnya sambil mengangkat gelas soda. "Kau boleh membuat keputusan buruk dan menyalahkan diri sendiri."
"Nasihatmu selalu berguna," kataku.
"Aku ahli keputusan buruk."
Arkana duduk di seberang meja dengan kemeja hitam. "Jangan jadikan dia muridmu."
Bayu tertawa. "Kau menjaga anak itu sampai tumbuh jadi perempuan dewasa, tapi masih bicara seolah dia akan tersesat kalau melewati gerbang sendiri."
Arkana tidak menjawab.
Aku memotong kue kecil di tengah meja. Delapan belas lilin sudah dipadamkan. Angka emas di atas kue tergeletak di piringku, bukti sederhana bahwa sebuah batas telah kulewati.
Setelah makan, pianis restoran meminta istirahat. Manajer mengenalku sebagai mahasiswa musik dan mempersilakanku memainkan satu lagu.
Aku duduk di depan grand piano.
Restoran Lumière mendadak tenang. Lampu gantung memantul di permukaan hitam piano. Di luar jendela, Jakarta berkilau setelah hujan.
Aku memainkan lagu yang belum memiliki judul, melodi tentang dua kupu-kupu yang terbang mengelilingi api. Yang satu takut terbakar. Yang lain takut ditinggalkan.
Saat nada terakhir selesai, tepuk tangan memenuhi ruangan.
Aku menoleh ke meja.
Bayu sedang berbicara dengan pelayan. Arkana tidak.
Dia menatapku.
Bukan menatap tanganku untuk menilai teknik. Bukan menatap wajahku untuk memastikan aku baik-baik saja. Bukan tatapan seorang wali yang mengawasi anak pulang sekolah.
Tatapan itu berhenti terlalu lama.
Panas merambat ke tengkukku. Aku menunduk, tetapi tuts piano memantulkan wajahnya. Arkana berdiri dan berjalan mendekat.
Setiap langkahnya membuat restoran yang ramai terasa semakin sunyi.
"Lagu baru?" tanyanya.
"Belum selesai."
Dia berdiri di sisi bangku, cukup dekat hingga aroma tembakau di kemejanya mengalahkan wangi bunga di meja.
"Apa judulnya?"
"Aku belum tahu."
"Sepasang kupu-kupu," katanya.
Aku mengangkat wajah.
Mata gelap itu menyapu wajahku, lalu berhenti di bibirku.
Secepat apa pun, aku melihatnya.
Arkana juga tahu aku melihat.
Tidak ada satu pun dari kami yang mundur.
Delapan belas lilin telah padam kurang dari satu jam lalu.
Dan untuk pertama kalinya, pria yang membesarkanku memandangku bukan sebagai anak yang harus dilindungi, melainkan sebagai seorang perempuan.