Indonesia
NovelToon NovelToon
SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PETUALANG PERTAMA KE PASAR

Matahari pagi menyinari Hutan Kelam dengan cahayanya yang hangat. Di depan rumah kayu dua lantai yang baru direnovasi, Kayy sedang mendorong sebuah gerobak kayu kecil beroda dua—karya pertukangan terbarunya yang tampak sederhana namun dirancang dengan presisi kinetik agar sangat ringan saat didorong.

Di dalam gerobak tersebut, tumpukan wortel emas, kubis hijau segar yang memancarkan aroma manis, dan tomat-tomat merah merona tertata rapi. Semuanya adalah hasil panen dari pekarangan bersumber daya Celestial Soil.

"Shiro, ingat tugasmu ya," kata Kayy seraya menunjuk serigala es raksasa itu dengan gagang celemeknya. "Jaga rumah. Jangan biarkan ada monster lain masuk, dan jangan makan tanaman wortel di samping."

Shiro—serigala es A-Rank setinggi tiga meter yang kini bertindak sebagai penjaga rumah—duduk tegap dengan patuh. Di telinga kanannya, pita kain merah buatan Elena masih terikat rapi. Shiro menggonggong pelan guk!, menganggukkan kepalanya yang raksasa dengan raut wajah sangat serius, seolah baru saja menerima misi tingkat S dari Raja Iblis.

"Shiro baik-baik ya di rumah! Nanti Elena bawakan kue manis!" seru Elena riang dari atas gerobak kayu.

Anak perempuan berusia lima tahun itu duduk manis di sela-sela tumpukan sayur kubis segar. Ia mengenakan gaun katun sederhana berwarna kuning muda dan topi jerami kecil, membuatnya terlihat makin menggemaskan.

Alya melangkah keluar dari teras, mengenakan gaun kain rakyat biasa dan selendang cokelat tipis yang menutupi sebagian rambut pirangnya. Mantan Saintess itu memilih penampilan paling sederhana agar keberadaannya tak mudah dikenali oleh bekas pengikut Kerajaan.

"Sudah siap semuanya, Kayy?" tanya Alya tersenyum manis.

"Siap. Kita berangkat sekarang sebelum harinya terlalu terik," jawab Kayy seraya menarik handle gerobak kayunya.

Perjalanan dari kedalaman Hutan Kelam menuju kota perbatasan—Kota Oaktree—memakan waktu sekitar satu jam berjalan santai. Berkat sihir penyamaran sederhana dari Alya dan jalur rahasia buatan Kayy, mereka bertiga tiba di gerbang Kota Oaktree tanpa hambatan sedikit pun.

Kota Oaktree adalah kota perdagangan yang cukup ramai. Jalanan berbatu dipenuhi oleh lalu lalang kereta kuda, para pedagang, dan petualang yang membawa perlengkapan zirah.

"Wahhh... Ibuk, lihat! Rumahnya banyak sekali!" cicit Elena dengan mata berbinar-binar. Jemari mungilnya menunjuk-nunjuk ke arah deretan toko batu di pinggir jalan. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya Elena melihat peradaban manusia di luar Hutan Kelam.

"Hati-hati, Sayang. Pegang tangan Ibu ya kalau turun nanti," bisik Alya lembut, menuntun Elena agar berdiri di samping gerobak.

Kayy mendorong gerobaknya menuju sudut pasar rakyat yang agak sepi. Pria itu menyebarkan kain bersih di atas meja kayu sewaan, lalu menata sayur-sayuran hasil panennya. Kayy hanya berniat menjual sayurnya dengan harga murah standar pasar rakyat—cukup untuk membeli beberapa gulung kain katun baru untuk gaun Elena dan krayon warna untuk menggambar.

"Berapa harga wortelnya, Pak?" tanya seorang pedagang sayur langganan pasar yang lewat.

"Satu keping koin perunggu untuk tiga buah," jawab Kayy santai dengan ulas senyum ramah.

Harga itu sangat murah. Namun, ketika pedagang tua itu mengambil salah satu wortel emas milik Kayy...

BZZZZT!

Sensasi hangat dan menyegarkan mendadak merembet dari telapak tangan pedagang tua itu menuju seluruh tubuhnya. Pegal-pegal di punggungnya yang sudah diderita selama sepuluh tahun mendadak hilang seketika! Rasa lelahnya menguap tanpa sisa.

Mata pedagang tua itu membelalak lebar seperti mau copot. "I-Ini... Ini bukan wortel biasa! Mana suci di dalam wortel ini bahkan lebih murni daripada ramuan penyembuh tingkat tinggi (High Elixir)!"

"Ah, tidak kok. Itu cuma wortel kebun biasa," potong Kayy cepat dengan raut wajah paling polos, mencoba meredam suasana.

Namun, kegembiraan pedagang tua itu tak bisa dibendung. "Wortel ajaib! Wortel penyembuh! Dijual murah di sini!" teriak pedagang itu heboh memanggil kerumunan pasar.

Dalam hitungan detik, lapak sederhana Kayy langsung dikerumuni oleh puluhan warga kota, petualang yang terluka, hingga tabib-tabib Kerajaan yang sedang mencari bahan obat!

"Aku beli lima wortel! Ini sepuluh koin perak!"

"Aku borong kubisnya! Mananya sangat pekat!"

"Jangan dorong-dorong! Aku dulu yang datang!"

Pasar Kota Oaktree mendadak ricuh oleh kehebohan warga yang berebut ingin membeli sayur racikan Kayy.

Melihat banyaknya orang dewasa yang saling berdesakan, Elena tidak takut sedikit pun. Anak perempuan berusia lima tahun itu justru berdiri di atas bangku kayu kecil di samping Kayy, membusungkan dadanya yang mungil seraya berteriak dengan suara nyaring yang amat renyah.

"Ayo beli sayur Ayah! Sayurnya enak dan bikin kuat!" seru Elena sambil mengacungkan sebuah kubis segar dengan kedua tangan kecilnya.

Para pembeli dan petualang yang tadinya saling sikut mendadak terdiam. Mereka menoleh menatap Elena. Keimutan dan kepolosan anak perempuan bertopi jerami itu mendadak melelehkan hati semua orang di pasar.

"Aww... Anak siapa ini? Lucu sekali!"

"Dek, ini koin emas untukmu, aku beli semua kubis yang kamu pegang!"

"Paman beli wortelnya lima ya, anak manis!"

Dengan sekejap, fokus para pembeli berubah dari mencari obat herbal menjadi "memberikan uang jajan" untuk senyuman Elena. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, seluruh isi gerobak kayu milik Kayy ludes tak tersisa, digantikan oleh tumpukan koin perak dan emas di atas meja.

Kayy menepuk dahinya pelan seraya bermonolog dalam hati, “Niatnya cuma mau jualan santai cari koin perunggu... Kenapa malah jadi borongan koin emas begini?”

Alya terkekeh pelan melihat ekspresi pasrah suaminya. Ia mengusap rambut Elena dengan penuh kasih sayang. "Elena pintar sekali membantu Ayah dan Ibu."

"Hehehe! Elena hebat kan, Ibu?" sahut Elena melompat gembira.

Setelah merapikan gerobak yang sudah kosong, Kayy mengantongi koin-koin tersebut dan mengajak Alya serta Elena berjalan-jalan menikmati suasana kota. Mereka membeli gulungan kain katun terbaik, roti manis bersalut gula, dan set cat warna untuk Elena menggambar di rumah.

Saat matahari mulai bergeser ke barat, keluarga kecil itu berjalan kembali menuju jalur Hutan Kelam. Elena duduk santai di atas gerobak kosong seraya mengunyah roti manisnya dengan gembira.

"Hari ini seru sekali ya, Ayah!" kata Elena mendongak menatap Kayy.

Kayy tersenyum hangat, mengacak-acak pelan topi jerami putri kecilnya. "Iya, seru. Tapi lain kali kalau jualan, sayurnya harus kita sembunyikan aura penyembuhnya sedikit, biar Ayah tidak pusing melayani pembeli."

Alya tertawa renyah merangkul lengan Kayy, sementara di kejauhan, bayangan rumah kayu dua lantai mereka dan raungan gembira Shiro yang menyambut kedatangan mereka mulai terlihat di balik pepohonan pinus yang hangat.

1
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!