Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Sinar matahari pagi bertiup lembut menembus kabut tipis yang menyelimuti area Glasshouse, sebuah rumah kaca bergaya inggris kuno yang terletak di sudut timur benteng Blackwood Manor.

Dinding-dinding kaca tebal berkerangka besi hitam itu dipenuhi oleh rimbunnya tanaman mawar langka, anggrek hitam, dan dedaunan hias koleksi pribadi mendiang Lady Vivienne.

Aroma manis nektar mawar dan tanah basah menyelimuti udara di dalam rumah kaca yang hangat.

Evangeline duduk di sebuah kursi besi tempa putih berukir daun. Mengenakan gaun rajut tebal berwarna gading dengan selendang kasmir lembut yang menutupi bahu kanannya, ia tampak bagaikan seorang bangsawan yang sedang menikmati ketenangan pagi.

Di hadapannya, Dominic duduk di kursi bertolak belakang. Pria itu telah menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku, menampilkan otot-otot lengannya yang kekar dan guratan luka tembak lama di kulitnya.

Di atas meja kaca kecil di antara mereka, terhampar sebuah kotak kayu berisi berbagai botol perawatan kuku dan cairan pembersih milik Eva.

Dominic sedang memegang jemari kiri Eva dengan sangat cermat. Jemari besar yang biasa memegang senapan otomatis atau mematahkan leher musuh itu kini menggenggam sebuah kuas kecil berteteskan kuteks berwarna merah burgundy.

"Jangan bergerak, Evie," gumam Dominic dengan kening berkerut dalam, tingkat konsentrasinya tampak jauh lebih tinggi daripada saat ia merencanakan penyergapan. "Garis kuku kelingkingmu sedikit melengkung."

Eva tak sanggup menahan tawa halusnya. Tawa itu lolos dari mulutnya membuat Dominic menghentikan gerakan kuasnya dan mendongak menatap wajah istrinya.

"Kau tertawa?" tanya Dominic dengan alis terangkat sebelah, memasang raut pura-pura tersinggung.

"Aku hanya tidak pernah membayangkan," sahut Eva dengan mata hazel berbinar lembut, "seorang penguasa Blackwood Syndicate yang ditakuti seluruh faksi Verona Heights... bisa begitu serius melukis kuku istrinya."

Dominic menatap jemari halus Eva yang telah dihiasi warna merah burgundy sempurna. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang hangat, lalu mendongak dan menatap tepat ke dalam mata Eva.

"Di luar rumah kaca ini, aku memang harus menjadi monster agar tidak ada orang yang berani menginjak kita," kata Dominic, suaranya meluncur rendah dan dalam.

"Tapi di dalam sini, aku hanya seorang suami yang ingin membuat wanitanya tersenyum. Dan jika melukis kukumu bisa membuatmu melupakan rasa sakit di bahumu, aku akan melukisnya setiap hari."

Dominic memajukan tubuhnya, mendaratkan ciuman lembut di punggung tangan kiri Eva yang kukunya baru saja selesai dipoles. Hawa hangat dari napas Dominic menjalar di kulit Eva, menghadirkan desiran manis dalam dadanya.

Eva menatap ke dalam iris kelam Dominic. Setiap detik yang dihabiskannya dalam masa tenang ini makin mengikis jarak di antara mereka.

"Terima kasih, Dominic," bisik Eva, membalas genggaman tangan pria itu dengan kelembutan yang jujur.

Klek.

Suara pintu kaca yang terdorong terbuka memecah Momen hangat tersebut.

Viktor melangkah masuk dengan langkah cepat namun teratur. Pria tinggi berwajah dingin itu berhenti tiga langkah dari meja kaca, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan.

"Tuan Dominic, Nyonya Evie," sapa Viktor santai namun sigap.

"Ada apa, Viktor?" tanya Dominic, nada suaranya kembali datar dan berwibawa, meski tangannya masih enggan melepaskan jemari Eva.

"Utusan dari Konsorsium Keuangan Faksi Valenti baru saja tiba di gerbang luar," lapor Viktor. "Tuan Vincent Valenti mengirimkan dokumen persetujuan pengalihan jalur logistik pelabuhan barat. Beliau meminta konfirmasi langsung dari Anda sebelum penutupan bursa sore nanti."

Dominic menghela napas pendek, menatap Eva dengan tatapan yang menyiratkan rasa penyesalan karena harus memotong momen tenang mereka.

Eva tersenyum mengerti, mengusap pelan lengan kemeja Dominic. "Pergilah, Dominic. Urus pekerjaan mu duku. Aku ingin duduk di sini sebentar menikmati udara hangat rumah kaca."

Dominic diam sejenak, lalu mengecup kening Eva dengan lembut. "Aku hanya akan pergi setengah jam. Viktor, tempatkan dua pengawal di pintu luar rumah kaca dan pastikan Nyonya tidak terkena angin malam jika matahari mulai redup."

"Siap, Tuan," jawab Viktor tegas.

Dominic berdiri, merapikan gulungan kemejanya, lalu melangkah keluar bersama Viktor. Langkah kakinya yang mantap perlahan menjauh, menyisakan Eva sendirian di dalam keheningan rumah kaca yang megah tersebut.

Sepeninggal Dominic, Eva bersandar pada kursi. Ia mengangkat tangan kirinya ke atas, mengamati kilapan kuteks merah burgundy di bawah pancaran sinar matahari yang menembus atap kaca. Warna merah itu tampak begitu anggun, sebuah simbol kecil dari perhatian Dominic yang teramat besar.

Namun, ketenangan Eva tidak bertahan lama.

Srek...

Suara langkah kaki yang tertahan dan gesekan gaun beludru kaku terdengar dari balik deretan pot tanaman anggrek hitam di sudut rumah kaca.

Eva tidak terkejut. Ketajaman indranya sebagai agen terlatih sudah menangkap kehadiran seseorang sejak Dominic melangkah keluar. Tanpa mengubah posisi duduknya, Eva menurunkan tangannya perlahan dan memutar kepala ke arah sumber suara.

Madam Vane melangkah keluar dari balik rimbunnya dedaunan.

Wanita tua itu berjalan dengan anggun namun menakutkan, kedua tangannya memegang gagang tongkat kayu hitam dengan kencang.

"Nyonya Evie," sapa Madam Vane dengan suara parau yang berbisik.

"Madam Vane," sahut Eva tenang, matanya menatap wanita tua itu tanpa ada sedikit pun riak ketakutan. "Aku tidak mendengar langkah keduamu masuk dari pintu depan."

"Ada banyak jalur di dalam manor ini yang tidak tercatat dalam peta resmi, Nyonya," balas Madam Vane, menyunggingkan senyum tipis. Wanita tua itu melangkah mendekati meja kaca, menatap botol-botol perawatan kuku yang ditinggalkan Dominic.

"Tuan Dominic tampak sangat mencintaimu," kata Madam Vane, pandangan matanya beralih menatap Eva. "Seorang penguasa perang yang menyerahkan hatinya secara utuh kepada seorang wanita... adalah pemandangan yang langka sekaligus berbahaya di Verona Heights."

Eva memiringkan kepalanya sedikit. "Mengapa berbahaya, Madam?"

"Karena cinta membuat mata seorang pembunuh menjadi buta," jawab Madam Vane tajam. "Cinta membuat Tuan Dominic percaya bahwa wanita yang dipeluknya adalah seorang malaikat polos yang butuh dilindungi, tanpa menyadari bahwa ada duri tajam yang tersembunyi di balik kelembutan kulitnya."

Dada Eva berdesir pelan, namun raut wajah gadingnya tetap terkunci rapat dalam ketenangan yang sempurna.

"Anda selalu berbicara dengan teka-teki yang penuh prasangka, Madam Vane," balas Eva dengan nada suara yang halus namun tegas.

"Apakah kehadiran saya di sisi Dominic mengganggu ketenangan rahasia tua yang Anda jaga di manor ini?"

Madam Vane menatap Eva. "Rahasia di manor ini tidak pernah tenang, Nyonya Evie," kata Madam Vane.

"Empat belas tahun lalu, Lady Vivienne ibu dari Tuan Dominic juga percaya bahwa ia bisa mengendalikan rahasia tersebut. Ia percaya bahwa sahabatnya, Clara Cross, bisa membantunya membongkar pengkhianatan di tubuh Konsorsium."

Nama Clara Cross kembali meluncur dari bibir Madam Vane, bergaung di antara dinding-dinding kaca rumah kaca.

"Dan kau tahu bagaimana kisah itu berakhir?" lanjut Madam Vane, melangkah satu tapak lebih dekat ke meja Eva.

"Lady Vivienne tewas karena kecelakaan yang janggal dan Clara Cross mati tertusuk sebagai pengkhianat. Dua wanita cerdas yang hancur karena mencoba menyentuh takhta Ordo Lima Duri."

Eva mengepalkan jemari kirinya di pangkuan gaunnya, mengendalikan detak jantungnya agar tidak menunjukkan emosi sedikit pun.

"Mengapa Anda menceritakan hal itu kepadaku?" tanya Eva pelan.

Madam Vane menundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya yang keriput ke arah Eva. Bau minyak lavender tua dan aroma kertas lapuk menguar pekat dari tubuhnya.

"Aku menceritakannya karena aku melihat bayangan Clara Cross dalam tatapan matamu, Nyonya," bisik Madam Vane.

"Tatapan mata seorang wanita yang tidak takut pada kematian... tatapan mata yang mencari dendam."

Suasana di dalam rumah kaca mendadak berubah menjadi tegang. Dua wanita itu saling mengunci pandangan dalam keheningan yang mencekam.

Eva tidak membantah, tidak pula mengiyakan. Sebagai Ghost Rose, ia tahu bahwa reaksi berlebihan adalah konfirmasi. Ia hanya menatap Madam Vane dengan tatapan yang dingin dan tak tergoyahkan.

"Jika Anda melihat bayangan itu..." suara Eva meluncur sangat tenang dan dalam, "...maka Anda pasti tahu bahwa bayangan itu tidak akan berhenti sampai seluruh kebenaran di balik Tragedi St. Jude terungkap."

Madam Vane terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Wanita tua itu menegakkan kembali tubuhnya, mengetukkan tongkat kayunya ke lantai batu rumah kaca.

"Kebenaran adalah racun paling mematikan di rumah ini, Nyonya Evie," kata Madam Vane seraya berbalik membelakangi Eva.

"Besok malam adalah peringatan empat belas tahun Tragedi St. Jude. Lady Eleanor akan mengadakan perjamuan doa tertutup di aula utama untuk mendiang Lady Vivienne."

Madam Vane menghentikan langkahnya di dekat pintu keluar, tanpa memutar kepalanya.

"Jika kau memang berniat mencari kotak besi milik Clara Cross yang kau lihat di Brankas Besi Kelabu..." bisik Madam Vane, "...perjamuan esok malam adalah satu-satunya kesempatanmu. Saat seluruh keluarga dan pengawal berkumpul di aula, jalur bawah tanah akan ditinggalkan tanpa penjagaan."

Setelah membocorkan informasi berharga tersebut, Madam Vane melangkah keluar dari rumah kaca, menghilang di balik rimbunnya pepohonan taman tanpa menunggu tanggapan Eva.

Eva duduk terpaku di kursinya, matanya menatap pintu kaca yang bergoyang pelan.

"Madam Vane tahu aku melihat kotak rahasia milik Ibu di dalam brankas. Tetapi alih-alih melaporkanku kepada Dominic atau Lady Eleanor... dia justru memberikanku petunjuk dan kesempatan untuk mengambilnya," batin Eva bergetar hebat.

"Apakah Madam Vane adalah sekutu tersembunyi yang ditinggalkan oleh ibunya? Atau ini adalah jebakan lain yang dirancang untuk menguji kesetiaan Evie Thorne?" pikiran Eva seperti benang kusut menerka kemungkinan yang sebenarnya terjadi.

Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala Verona Heights, melukis langit malam dengan warna keunguan yang pekat.

Di dalam studio lukis pribadi lantai dua yang jarang digunakan, Dominic sedang berdiri di depan kanvas besar. Pria itu memegang kuas cat minyak, mencoba menggoreskan warna-warna hangat untuk menggambarkan pemandangan taman mawar yang dilihatnya bersama Eva pagi tadi.

Eva melangkah masuk secara perlahan, mengenakan gaun malam longgar berwarna hijau zamrud. Ia berdiri di belakang Dominic, melingkarkan kedua lengannya di pinggang tegap pria itu dan menyandarkan pipinya di punggung hangat Dominic.

Dominic menghentikan gerakan kuasnya seketika. Rasa terkejut yang manis menyapu hatinya saat merasakan sentuhan manja dari istrinya. Pria itu meletakkan kuasnya, lalu menggenggam jemari Eva yang melingkar di perutnya.

"Ada apa, Evie?" tanya Dominic lembut, memutar tubuhnya sedikit untuk menatap Eva.

"Tidak ada apa-apa," bisik Eva, mendongak menatap rahang tegas Dominic. "Aku hanya ingin berada dekat denganmu."

Dominic tersenyum hangat. Pria itu mengangkat tubuh Eva dengan sangat mudah, mendudukkan wanita itu di atas meja kayu studio lukis yang penuh dengan tabung cat, lalu berdiri di antara kedua kaki Eva.

Dominic merengkuh pinggang Eva, menarik tubuh mungil wanita itu hingga dada mereka menempel rapat. Pria itu menunduk, mencium bibir Eva dengan kehangatan yang begitu intim.

Eva membalas ciuman Dominic, jemari kirinya menyusuri tengkuk rambut pendek pria itu. Di dalam kehangatan studio lukis yang temaram oleh pendar lampu dinding, Eva membiarkan dirinya larut dalam dekapan pria yang berstatus suaminya itu

"Dominic..." panggil Eva halus saat tautan bibir mereka terlepas sejenak.

"Ya, sayang?"

"Apapun yang terjadi esok hari... maukah kau berjanji satu hal padaku?"

Dominic mengusap pipi gading Eva dengan ibu jarinya. "Janji apa?"

"Berjanjilah bahwa kau akan selalu mempercayaiku," bisik Eva, matanya menatap dalam ke iris mata Dominic.

"Bahkan jika suatu hari nanti dunia mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang berbeda dari yang kau kenal."

Dominic menatap Eva dengan kening sedikit berkerut tipis, bingung oleh arah pertanyaan tersebut. Namun, melihat Binar keseriusan dan kerentanan di mata Eva, rasa protektif Dominic mengalahkan segala keraguannya.

"Kau adalah Evie-ku," kata Dominic tegas.

"Wanita yang menyelamatkan nyawaku, wanita yang mengenakan cincin Blackwood di jarinya. Aku tidak peduli apa yang dikatakan dunia luar, Evie. Kepercayaanku padamu adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun di kota ini."

Dominic kembali mencium bibir Eva dengan ketulusan, sebuah janji sudah terucap di dalam studio lukis.

Eva memejamkan matanya rapat-rapat, meremas bahu kemeja Dominic. Kalimat Dominic terasa seperti pedang bermata dua yang menghantam batinnya. Kepercayaan Dominic adalah pelindung terbesarnya saat ini, namun sekaligus menjadi potensi penderitaan terhebat jika identitas aslinya sebagai Evangeline Cross terbongkar nanti.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!