Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Estella melempar tubuhnya ke atas kasur berukuran king-size di kamar apartemen mewahnya. Ia menenggelamkan wajahnya ke dalam tumpukan bantal bulu angsa yang empuk, meraup aroma khas kamarnya sendiri yang sudah dua minggu tidak ia hirup.
"Haaah... nikmatnya dunia!" seru Estella kencang seraya meregangkan kedua lengan dan kakinya lebar-lebar di atas ranjang.
Ia berguling ke kiri dan ke kanan dengan bebas tanpa perlu takut jahitan di punggungnya robek atau ketahuan bersikap 'kurang sopan' oleh pengawal serba hitam milik Lucian. Tidak ada aura membunuh yang membekukan darah, tidak ada bau darah yang menyengat, dan tidak ada ancaman pistol yang menempel di pelipisnya.
"Merdekaaaa!" pekik Estella seraya mengepalkan kedua tangannya ke udara. "Gue kagak pernah merasa setenang dan sebahagia ini sepanjang hidup gue terlempar ke novel gila ini! Ini baru namanya hidup sebagai anak sultan kaya raya!"
Estella menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi lampu kristal mewah. Rasa lelah fisik dan mental akibat drama penyiksaan dua minggu terakhir seolah menguap begitu saja. Ia mengusap punggungnya yang kini sudah kembali mulus tanpa bekas luka sedikit pun.
Tiba-tiba, ingatan saat ia tertembak rasa takut dan membocorkan rahasia tentang masa kecil mereka di seberang telepon berkelebat kembali di kepalanya.
"Tapi tunggu deh..." gumam Estella seraya bertopang dagu di atas bantal. "Pas di telepon kemarin, gue kan sempat ceplos-ceplos soal kejadian waktu kita umur enam tahun di taman itu. Soal kalung manik-manik bintang buatan tangan itu juga..."
Mata Estella berbinar terang, sebuah senyuman tipis yang penuh harapan mulai terbit di bibirnya.
"Sepertinya kondisi keselamatan gue udah mendingan deh!" celoteh Estella heboh pada dirinya sendiri. "Iya kan?! Psikopat gila kayak Lucian itu pasti nggak bakal tega bunuh gue! Bagaimanapun juga, gue ini kan sosok 'bidadari kecil' yang pernah menghibur masa kecilnya yang suram dan mengenaskan! Gue yang nempelin plester di mukanya, gue yang ngasih dia makan kue manis! Masa iya dia tega menggorok leher penolong masa kecilnya sendiri? Kagak ada sejarahnya protagonis atau villain se-kejam itu!"
Estella terkikik geli, merasa bahwa kartu rahasia masa kecil itu adalah tameng gaib terbaik yang bisa menyelamatkan nyawanya dari batas waktu tiga puluh hari.
Namun, hanya dalam hitungan detik, raut wajahnya kembali menyusut. Rasa ragu dan realistis khas Estella mendadak mengambil alih otaknya.
"Tepi ya... ah, udahlah!" desah Estella seraya menyandarkan kepalanya kembali ke bantal dengan helaan napas pasrah. "Lucian itu kan otak geser, jiwa psikopatnya udah mendarah daging. Kalaupun tebakan gue salah dan dia tetap nekad bunuh gue pas batas waktu 30 hari itu habis... ya mau gimana lagi?"
Estella memejamkan matanya pelan, menyunggingkan senyum pasrah yang getir namun tenang.
"Lagian, kalaupun gue dibunuh di sini... mungkin itu artinya jiwa gue bakal terbebas dan balik ke dunia nyata gue lagi, kan?" bisiknya lirih pada kesunyian kamar. "Dunia asal gue di mana gue nggak perlu dikejar-kejar preman, disiksa cambuk bergerigi, atau disuruh memunguti potongan tubuh manusia di tengah hutan..."
Dengan pikiran yang campur aduk antara harapan untuk selamat dan kepasrahan untuk kembali ke dunia asalnya, Estella menarik selimut tebalnya hingga menutupi leher, membiarkan rasa kantuk yang damai memeluknya sepanjang malam itu.
Kruuukkk...
Keheningan apartemen mewah itu mendadak dipecahkan oleh suara nyaring yang berasal dari perut Estella. Gadis itu menepuk perutnya yang meronta kesakitan, memutar bola matanya pasrah seraya bangkit dari kasur empuk tempatnya rebahan sejak siang.
Dengan langkah terhuyung-huyung dan selimut tebal yang masih melilit di bahunya bagaikan jubah kerajaan, Estella melangkah menuju area dapur bersih di apartemennya. Ia memutar gagang pintu kulkas raksasa berlapis stainless steel itu dengan penuh harapan.
KLEK.
Kosong melompong.
Hanya ada satu botol air mineral dingin yang hampir habis dan sebuah apel plastik hiasan yang bertengger sepi di rak tengah.
"Aish... anjirlah!" omel Estella heboh seraya menepuk jidatnya sendiri. "Gue anak sultan kaya raya, punya apartemen seluas lapangan futsal, tapi kulkas gue bersih banget kagak ada makanan sebiji pun! Pengawal sama pelayan keluarga Aurora pada ke mana coba?! Masa anak majikannya harus mati kelaparan sebelum dieksekusi psikopat?!"
Dengan omelan yang tak henti-hentinya meluncur dari bibirnya, Estella akhirnya menyerah. Ia melepas selimutnya, menggantinya dengan hoodie oversize berwarna krem dan celana training santai, lalu melangkah gontai keluar dari apartemennya untuk mencari makan di tengah dinginnya angin malam.
Sebuah kafe estetis bernuansa warm lighting yang buka 24 jam menjadi tempat tujuan Estella. Kafe itu terletak di sudut jalan protokol utama kota, memiliki area luar (outdoor) dengan meja-meja kayu kecil yang menghadap langsung ke jalan raya.
Estella duduk di salah satu kursi kayu tersebut, menikmati sepotong kue cokelat tebal dan secangkir cokelat hangat yang menghembuskan uap tipis.
Malam semakin larut, namun jalanan di depannya masih ramai oleh lalu-lalang lampu kendaraan yang melintas secepat kilatan cahaya. Estella bertopang dagu, menatap kerlap-kerlip lampu mobil dengan pandangan mata yang perlahan meredup penuh perenungan konyol.
Dari sekian miliar manusia di muka bumi... batin Estella mulai melantur, mengunyah sendok cokelatnya dengan perlahan. ...kenapa harus gue sih yang terlempar masuk ke dalam novel gila ini? Kenapa bukan tetangga gue yang hobi setel musik kencang-kencang jam dua malam? Atau temen gue yang sukanya ngutang kagak dibayar? Kenapa harus gue, seorang gadis lugu, imut, dan tidak berdosa ini?!
Estella mendesah berat, mengetuk-ngetuk jarinya di meja kayu. Otaknya yang ajaib mulai melahirkan berbagai pertanyaan filosofis versi absurd.
Sebenarnya apa sih tujuan keberadaan gue di dunia novel ini? pikirnya makin melenceng jauh. Apakah takdir sengaja melempar gue ke sini cuma buat tes mental? Atau gue dikirim sebagai agen rahasia penyelamat kedamaian yang gagal total? Atau jangan-jangan... tujuan hidup gue di sini murni cuma buat 'cari mati' dengan cara paling estetik dan dramatis di tangan cowok kulkas dua pintu itu?!
Estella menepuk pipinya sendiri pelan seraya meringis.
"Aish, mikir apa sih gue!" gumamnya seraya menyedot cokelat hangatnya. "Kalau tujuan gue di sini cuma buat cari mati, mending dari kemarin gue daftar jadi pemain sirkus main api sekalian! Kan lumayan dapet gaji daripada disiksa gratisan di gudang tua!"
Di tengah racotan dan perenungan konyolnya tentang takdir dan eksistensi dirinya di dalam dunia novel tersebut, Estella tidak menyadari sebuah mobil sedan hitam berlapis kaca gelap yang terparkir tenang di seberang jalan, memperhatikannya dari dalam keremangan malam.