"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Faksi Tinta Mati
Pendar merah dari visor topeng Zero membelah senyap lorong beton, memantulkan bayangan amorf di dinding rel tua.
"MILOOO!!" jerit Nora histeris, hendak menerjang maju sebelum jemari Nio mencengkeram kuat bahunya.
"Jangan melangkah, Nora. Dia sengaja memancing emosimu," bisik Nio seraya meraba tekstur keras kertas kosong di sakunya.
Zero tertawa pelan, suara sintetis dari alat pengubah vokalnya bergetar merendahkan.
"Selalu rasional, Nio. Kertas kosong di sakumu itu penyangkalan konyol untuk meyakinkan presensimu yang sudah mati," cibir Zero.
"Zero tidak membunuh tubuh; dia mencabut sejarah dari dada manusia," gumam Nio menatap lurus mata musuh bebuyutannya.
Dari kegelapan gerbong di belakang Zero, empat sosok berpakaian seram hitam melangkah keluar membawa senjata laras pendek.
Masing-masing dari mereka mengenakan lambang tetesan tinta menyilang pada lengan jaket—simbol faksi Tinta Mati.
"Anak buahmu... eksekutor lapangan yang mengeksekusi perintah kotormu di dunia nyata," pangkas Nio tenang.
"Tinta Mati bukan sekadar peretas, Nio. Mereka adalah tangan yang menyapu jejak manusia dari bumi," sahut Zero dengan nada bangga.
Nora mengepalkan tangannya rapat-rapat, matanya menatap tajam tabung kaca di tangan Zero.
"A-apa yang sudah kalian lakukan pada adikku?!" tuntut Nora dengan vokal bergetar menahan amarah.
"Sebelum eksistensi seseorang tereliminasi, Tinta Mati menguras seluruh aset perbankan dan properti mereka," pangkas Nio mendahului.
Zero menoleh lambat ke arah Nio, menunjukkan keterkejutan kecil dari gestur kepalanya.
"Kalian memeras para korban sampai tidak menyisakan satu sen pun, lalu menghapus pendaftaran publik mereka agar tidak ada yang bisa melapor," lanjut Nio.
"Pola yang cerdik untuk mendanai jaringan gelapmu tanpa meninggalkan residu keuangan," pangkas Nio tajam.
Salah satu eksekutor Tinta Mati di samping Zero tampak menggeser posisinya gelisah.
"Dia tahu mekanisme kerja faksi kita, Bos..." bisik eksekutor itu dengan suara agak tertahan.
"Tentu saja dia tahu. Dia adalah karya masa lalu yang terlewatkan," kekeh Zero seraya mengangkat tabung data Milo lebih tinggi.
"Tapi pengetahuan tidak bisa membeli kembali identitas adikmu, Nora," seru Zero penuh dominasi.
"Sebutkan harganya! Berapa uang yang kalian kuras dari akun Milo?!" teriak Nora melangkah satu pukulan maju.
"Uang hanyalah kertas tanpa nilai bagiku, Nora!" bentak Zero dengan vokal membesar yang memantul gema di lorong.
"Aku menawarkan kebebasan dari penderitaan identitas! Milo kini menjadi tabula rasa yang murni!" pangkas Zero dingin.
'Dia menggunakan doktrin gila ini untuk menutupi trauma masa lalunya sendiri,' batin Nio meneliti gerak-gerik Zero.
Tanpa mengalihkan pandangan, Nio menggeser jemari kirinya di balik saku, menekan tombol pemicu frekuensi pada perangkat genggamnya.
BZZZZZZT!
Seketika itu juga, lampu visor topeng Zero dan senjata para eksekutor Tinta Mati berkedip liar akibat gangguan elektromagnetik.
"A-apa yang terjadi dengan senjata kita?!" seru salah satu anak buah Zero panik seraya memeriksa pemicu fisiknya.
"Gangguan frekuensi lokal... kamu meretas transmisi Tinta Mati sejak di pasar gelap!" geram Zero menatap Nio dengan kemarahan memuncak.
Nio memanfaatkan jeda kepanikan itu untuk menarik pistolnya dan menembak kabel transmisi di atas gerbong.
BANG! BANG!
PRANGGG!
Kabel listrik bertegangan tinggi putus dan jatuh menyambar lantai rel, menyemburkan percikan api biru yang membakar udara.
"SEKARANG, NORA! LARI KE KANAN!!" teriak Nio seraya menerjang salah satu eksekutor Tinta Mati.
THUD!
Nio menghantamkan siku tangannya tepat ke rahang sang eksekutor, menyambar tablet kendali yang terpasang di pinggang lawan sebelum tubuh itu roboh.
Prajurit Tinta Mati lainnya mencoba membidik, namun hempasan asap kabel yang terbakar membatasi jarak pandang mereka.
"B-BERHENTIII! TANGKAP MEREKA!" jerit Zero murka seraya mendekap tabung data Milo agar tidak terkena percikan api.
Nora melompati besi rel yang panas, meraih tangan Nio yang sudah berhasil merebut tablet kendali jaringan Tinta Mati.
"Kita tidak mengambil tabung Milo?!" tanya Nora terengah-engah saat mereka memanjat tangga darurat menuju saluran pembuangan.
"Tabung itu cuma umpan sinyal! Data fisik Milo disimpan di peladen induk Tinta Mati yang tercatat di tablet ini!" jawab Nio cepat.
Nio menarik Nora melewati celah besi tua, lalu mengunci pintu palka dari dalam dengan batangan baja.
DUM! DUM! DUM!
Pukulan keras dari luar menghantam pintu palka, diiringi teriakan murka para anggota Tinta Mati yang tertahan.
"MEREKA TIDAK AKAN BISA KELUAR DARI SEKTOR DUA! HAPUS SELURUH AKSES MEREKA!!" raung Zero dari balik pintu baja.
Di dalam lorong pembuangan yang gelap dan lembap, Nio menyandarkan punggungnya ke dinding beton seraya mengatur napas.
Pendar hijau dari layar tablet yang baru direbutnya menerangi wajah Nio dan Nora yang dipenuhi jelut.
"Anomali ini... arsitektur Tinta Mati ternyata jauh lebih besar dari perkiraanku," gumam Nio seraya menatap barisan algoritma di layar.
"Apa maksudmu, Nio? Apa kita bisa menemukan Milo dari tablet itu?" tanya Nora penuh harap seraya mendekat.
"Tinta Mati bukan cuma beroperasi di kota ini," pangkas Nio seraya meraba kertas kosong di sakunya untuk menenangkan diri.
"Mereka adalah organisasi terstruktur yang menjual jasa penghilangan manusia kepada para elit pejabat Sektor Satu," jelas Nio.
Jemari Nio menari cepat di atas layar tablet, melakukan rekonstruksi folder rahasia milik faksi Tinta Mati.
Sebuah berkas bertuliskan "Daftar Tereliminasi Sektor Utama" mendadak terbuka, menampilkan puluhan nama yang ditandai garis merah.
Nora menahan nafasnya saat melihat nama adiknya tercantum di urutan paling bawah.
"Lihat ini... Milo belum sepenuhnya tereliminasi," tunjuk Nora dengan jemari bergetar.
"Eksistensinya masih tertahan di fase pemerasan akhir karena akun banknya terkunci enkripsi ganda," pangkas Nio mendapati fakta baru.
"Artinya Milo masih hidup?!" seru Nora dengan pendar harapan yang kembali mengejawantah di matanya.
"Dia disekap di fasilitas pemrosesan data Tinta Mati di Sektor Utama... lokasi yang belum pernah ada presedennya untuk kita tembus," sahut Nio datar.
Nio mendongak menatap lorong pembuangan yang senyap, menyadari tingkat bahaya yang kini berkali-kali lipat lebih tinggi.
"Zero akan mengerahkan seluruh faksi Tinta Mati untuk memburu kita sebelum kita mencapai Sektor Utama," ujar Nio tegas.
Nora memegang lengan Nio dengan erat, menyalurkan kehangatan emosional yang selama ini terasing dalam hidup Nio.
"Kita sudah melangkah sejauh ini, Nio. Aku tidak akan mundur, berapa pun jumlah musuh yang harus kita hadapi," seru Nora mantap.
Nio menatap mata wanita itu sejenak, lalu mengangguk lambat.
"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata," bisik Nio menyuarakan monolog batinnya.
"Tapi malam ini, kita akan memaksa Tinta Mati mengembalikan nama adikmu," pangkas Nio mematikan layar tablet.
KLAK!
Tiba-tiba, suara langkah kaki berirama santai terdengar mendekat dari ujung lorong pembuangan yang gelap di hadapan mereka.
Sesosok pria tua memegang lentera minyak tua melangkah keluar dari balik bayangan uap air.
"Kael?!" pekik Nora kaget melihat pemilik kedai itu berdiri di tempat pembuangan kotor ini.
Kael tersenyum tipis, merapatkan mantel tebalnya seraya menatap Nio dengan pandangan penuh rahasia.
"Kalian tidak bisa ke Sektor Utama lewat jalur atas, Nio..." kata Kael dengan suara parau yang tenang.
"Karena sepuluh tahun lalu... akulah orang yang membangun jalan rahasia Tinta Mati ke fasilitas itu," aku Kael membuat suasana seketika membeku.