Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15 Apartemen Grace
Apartemen Grace
Pukul 10 malam.
"Lily, semuanya sudah masak. Tolong ambil air."Teriak Grace dari dalam ruang makan.
"Aku datang."
Lily ke ruang makan dengan membawa dua gelas air. Suasana hatinya benar-benar berbeda saat ini.
Ini adalah pertama kalinya dia memiliki seorang teman. Ini adalah pengalaman pertamanya berkunjung ke rumah teman.
"Duduklah. Lily, aku begitu antusias."Ujar Grace dengan penuh senyuman.
"Aku juga. Apa karena ini pertama kalinya aku memiliki teman?"Ujar Lily memandang sahabatnya.
Grace terkekeh kecil.
"Mungkin saja."
Kedua wanita itu kembali tertawa kecil sambil menyantap makanannya.
Sesekali tawa terdengar di antara mereka berdua. Bahkan kedua wanita itu tidak hentinya mengobrol bersama.
Keduanya sama-sama antusias.
Selesai makan malam. Lily dan Grace membereskan meja makan.
Drt..
Bunyi ponsel Lily mengalihkan perhatian Grace.
Grace menoleh ke arah ponsel Lily yang berada di sudut meja. Grace bahkan melihat nama yang tertera di layar ponsel Lily.
"Lily, Suami mu menelpon mu."Ujar Grace memanggil Lily.
Dengan cepat Lily melangkah masuk ke meja makan. Wanita itu sedikit panik dan segera mengangkat teleponnya.
Lily bahkan terlihat sangat gugup. Dia jelas takut jika Grace mengetahui tentang suaminya. Meski mereka berdua berteman baik tapi Lily tetap saja belum siap menceritakan semuanya.
"Ada apa?"
Grace mendekat setelah Lily meletakkan ponselnya.
"Bukan apa-apa."Jawab Lily tapi dia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya di hadapan Grace.
"Apa suami mu bersikap baik kepada mu? Dia tidak melukai mu bukan?"
Lily langsung tersenyum kecil.
"Tidak Grace. Jangan khawatir soal itu. Aku tidak akan membiarkan hal itu."
Grace mendekat.
"Lalu mengapa kamu terlihat khawatir?"
"Karena tidak biasanya dia menelpon malam-malam begini."
Grace sedikit menjauh.
Dia langsung mempercayai ucapan sahabatnya. Lagi pula dia melihat Lily baik-baik saja.
Grace merapikan meja dengan cepat.
Sementara Lily mengkhawatirkan sesuatu yang lain.
"Apa dia sudah gila? Kenapa dia nekat melakukan hal ini?"Batin Lily.
Begitu semuanya telah beres. Lily segera pamit.
Grace melihatnya dari atas balkon kamarnya. Sesekali Grace tersenyum bahagia.
Sementara Lily berusaha menghindari suaminya. Tapi semua itu terlambat. Sang suami sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum bahagia.
"Sayang."Lily tampak gugup.
"Kamu selalu menghindari ku sayang. Apa kamu malu punya suami seperti ku?"
Eldrick langsung memeluk sang istri.
Lily berdecak kesal.
"Apa yang kamu katakan? Wanita mana yang tidak mau memiliki suami seperti mu. Semua wanita bahkan menginginkan mu. Akulah wanita yang paling beruntung itu."Ujar Lily segera melerai pelukannya.
"Ayo cepat masuk. Grace sedang melihat kita."Ujar Lily kembali.
Lily segera melerai pelukannya dan menarik suaminya masuk ke dalam mobil.
Eldrick hanya terkekeh kecil.
"Bagaimana bisa kamu ada sini? Bagaimana kamu tahu kalau ini rumah Grace?"
Lily menelisik suaminya.
"Kamu meragukan ku sayang? Aku ini lebih banyak tahu dari yang kamu kira."Ujar Eldrick tersenyum kecil.
Lily mendengus kesal.
"Apa terjadi sesuatu?
Eldrick tersenyum kecil. Meski dia berusaha menyembunyikannya tapi dia tahu jika sang istri pasti tahu.
"Kamu selalu tahu sayang. Aku tidak bisa menyembunyikannya dari mu."
"Apa mereka...?"
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya."
"Maaf sayang. Kamu harus mendapatkan masalah karena ku."
"Tidak apa-apa. Ayo kembali sayang. Jangan di pikirkan. Apa pun yang terjadi semuanya akan baik-baik saja. Jangan di pikirkan sayang. Aku bisa mengatasinya. Jika mamah atau nenek terus menekan mu. Kamu bisa mengatakannya." Eldrick terlihat khawatir.
"Percayalah. Aku baik-baik saja. Aku bisa mengatasi mereka."
Eldrick tersenyum.
"Ayo kembali."
Eldrick melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, Lily dan Eldrick terus mengobrol.
"Apa kamu senang berteman dengan Grace?"
Eldrick menoleh kepada sang istri.
"Kami memiliki nasib yang sama. Sama-sama tidak memiliki teman. Dia juga sering di bully sayang sama sepertiku."
Eldrick menoleh kepada sang istri. Tatapannya sendu.
"Sekarang, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sebelumnya semua kesalahan ku."
Eldrick terlihat merasa bersalah.
"Ini bukan salah mu. Aku sendiri yang merahasiakannya darimu sayang."
Lily mengecup singkat pipi sang suami. Eldrick hanya tersenyum kecil.
Di sisi lain. Tepatnya di kediaman keluarga Colins.
Ana menangis di hadapan kedua orang tuanya.
"Ibu! Bagaimana ini? Ini sangat memalukan. Eldrick terang-terangan menghina Ana. Dia menolak Ana di hadapan semua orang."Mamah Ana membuka suara .
Wanita paruh baya itu tidak bisa menerima putrinya di perlakukan seperti itu.
"Sudahlah. Untuk apa memaksakan pernikahan dengan seseorang yang tidak mencintai kita."
Ana mulai khawatir. Bagaimana pun, dia harus mendapatkan Eldrick.
Eldrick harus menjadi suaminya.
"Tidak bisa nek. Bagaimana pun Eldrick harus menjadi suami ku. Aku sangat mencintainya nek."Lirih Ana dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Nyonya Colins menghela nafas kasar.
"Bagaimana ini bu? Ibu harus membantu Ana."Ujar mamah Ana.
Nyonya Colins menghela nafas kasar kembali.
"Nanti aku mengaturnya."
Nyonya Colins meninggalkan menantu dan cucunya. Wanita tua itu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Begita masuk ke dalam kamarnya. Nyonya Colins duduk di tepi ranjang menatap lurus ke jendela.
"Maafkan saya nak."
Wanita tua itu terlihat bersalah dengan apa yang terjadi saat ini. Meski begitu, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Drt..
Bunyi ponsel nyonya Colins mengalihkan perhatiannya.
"Ada apa Morley? Tidak biasanya kamu menelpon malam-malam begini."Ujar nyonya Colins.
Terdengar helaan nafas panjang dari sebrang telepon.
"Maafkan aku Colins. Cucuku sudah mengecewakan kalian."
Nyonya Colins hanya tersenyum.
"Anak-anak sekarang sulit di atur. Dia sudah menikah. Aku tidak ingin merusak hubungan mereka dengan memaksakan kehendak kita. Biarkan Eldrick bahagia dengan wanita pilihannya." Ujar Nyonya Colins.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita. Jika kita sudah tiada maka hubungan kita akan berakhir saat kita sudah tiada."
Nyonya Morley terdengar sedih.
"Kita hanya bisa merelakannya. Aku juga punya cucu yang lain Morley. Dia memilih menikah muda. Di usianya ke 25 tahun. Dia sudah menikah selama 3 tahun. Aku hanya bisa membiarkan mereka bahagia."
"Kamu sangat baik Colins. Tapi aku tidak bisa sepertimu. Cucuku harus mengikuti aturan ku."
Nyonya Colins hanya diam. Dia mengenal sahabatnya itu dengan sangat baik.
Nyonya Morley tidak mau kalah. Dia selalu ingin menang. Hatinya juga keras tapi nyonya Colins tahu jika sahabatnya itu berhati baik. Meski terkadang perkataannya sangat menusuk.
Obrolan keduanya berlangsung cukup lama. Selesai mengobrol, nyonya Colins mematikan teleponnya.
Wanita tua itu meletakkan ponselnya. Dia berbaring di atas tempat tidurnya.
Selang beberapa menit lamanya. Nyonya Colins mulai tertidur.
Dengkuran halus terdengar dari bibirnya. Raut wajahnya terlihat begitu tenang. Bahkan tidak terlihat adanya beban pikiran yang terlihat saat ini.