Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5 Mencoba menggoda Eldrick
Ke esokan paginya..
Lily membuka matanya. Raut wajahnya terlihat panik.
"Sayang, bangun. Kita akan terlambat ke kantor."Ujar Lily yang terdengar panik.
Eldrick hanya tersenyum kecil.
"Aku ini bosnya sayang."
Lily berdecak kesal. Apa suaminya sedang menyombongkan diri di hadapannya.
Lily tidak terlalu menanggapi ucapan suaminya. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dia jelas tidak ingin terlambat di hari pertamanya. Lily membersihkan diri secepat kilat dan juga mengenakan pakaian kantor.
Dia tidak sempat merias wajahnya. Dia hanya mengenakan lipstik agar tidak terlihat pucat.
"Aku pergi sayang."
Lily pamit kepada suaminya tanpa menoleh sedikit pun. Hal itu membuat Eldrick sedikit kesal.
Jika di pikir-pikir, semua ini salahnya. Lily sudah memohon agar dia berhenti tapi dia tidak menghiraukannya. Eldrick melakukannya sampai tiga ronde baru ia benar-benar puas.
Eldrick tersenyum kecil mengingatnya.
Sementara itu, Lily sudah berada di depan jalan raya. Tempat di mana ia selalu menunggu taksi.
Tempat itu jauh dari mansion mewah mereka. Semua itu ia lakukan agar menghindar dari kecurigaan.
Hal itu juga ia lakukan, agar dia bisa hidup damai bersama dengan Eldrick.
Tiga puluh menit berlalu.
Lily sudah tiba di depan perusahaan. Dia melirik jam tangannya.
Lily tersenyum kecil ketika masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum ia terlambat. Dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam perusahaan dan melakukan absen untuk pertama kalinya.
Senyum terlihat di wajah wanita cantik itu.
"Untung saja aku masih belum terlambat."Gumam Lily.
Dia berbalik dan hendak melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa kamu tersenyum? Apa kamu pikir kamu berhasil berhasil menjadi sekertaris CEO?"
Lily menoleh.
Seperti dugaannya. Orang yang baru saja berbicara pasti Ana. Benar saja saat ini Ana sudah berdiri di hadapannya.
Di hari pertamanya. Tampaknya dia sudah menemukan beberapa teman.
"Apa dia orang yang lolos wawancara bersama mu?"
Salah satu karyawan yang bersama dengan Ana bertanya.
Ana hanya mengangguk.
"Dari raut wajahnya dia terlihat begitu senang. Dia tidak tahu jika tugasnya hanya membuat kopi. Setidaknya posisinya lebih tinggi dari ob." Timpal yang lain.
Lily menatap Ana.
Dia belum mengerti apa yang di maksud oleh mereka. Lily tidak tahu tentang pekerjaannya. Dia pikir jika dia dan Ana akan menjadi sekertaris Ceo.
"Lily."
Panggil seseorang.
Lily menoleh.
"Iya tuan."
Seorang pria paruh baya berdiri di hadapannya. Tatapannya terlihat dingin. Sama sekali tidak ramah saat menatap dirinya.
Tapi tatapannya sangat berbeda saat melihat ke arah Ana. Melihat hal itu. Lily mulai menyadari sesuatu.
"Kamu tidak tahu? Dia adalah manajer kita."Ujar Ana.
Mendengar hal itu. Lily sedikit terkejut.
"Maaf tuan. Saya tidak mengenali anda."
Pandangan Lily turun pada name tag pria paruh baya itu.
Benar saja. Pria paruh baya itu adalah seorang manajer.
"Tuan Hartono. Maaf saya tidak mengenali anda."Lily kembali meminta maaf.
"Sudahlah. Sekarang buat kopi untuk tim mu. Jika kamu masih mau bekerja di tim ku maka kamu harus melakukan apa yang aku katakan."
"Baik tuan."Lily hanya bisa tersenyum meski dia memahami situasi saat ini.
Ana yang melihat hal itu sedikit puas. Dia berjalan pergi bersama dua karyawan wanita yang bersamanya.
Kini hanya ada Lily dan tuan Hartono.
"Kerjakan tugasmu."
Tuan Hartono pergi setelah mengatakan hal itu.
Lily menghela nafas kasar.
Dia tidak terkejut lagi dengan hal itu. Bahkan ketika mereka kuliah. Para dosen juga berpihak kepada Ana.
Meski Ana yang melakukan kesalahan. Dia juga yang mendapatkan teguran. Lagi-lagi hanya perbedaan kasta.
Lily hanya bisa pasrah. Dia melangkah masuk ke dalam ruangan pantry.
Karena ini hari pertamanya. Tentu saja dia akan kesulitan menemukan ruang pantry.
Lily harus bertanya kepada karyawan lain. Untung saja karyawan yang dia temui memberitahunya tanpa drama.
Setibanya di ruang pantry. Lily segera membuat kopi. Dia membuat kopi cukup banyak.
Di sisi lain. Eldrick baru saja tiba di perusahaan. Pria itu melangkah masuk ke dalam perusahaan miliknya bersama dengan orang kepercayaannya.
Brak..
Tangan Eldrick sigap menangkap seorang wanita yang tanpa sengaja menabrak dirinya.
"Maafkan saya tuan."Ujar wanita itu yang tidak lain adalah Ana.
Eldrick memicingkan matanya. Raut wajahnya terlihat tidak senang.
"Maaf tuan Eldrick. Saya tidak sengaja menabrak anda dan terimah kasih sudah menolong saya."Ujar Ana dengan lembut.
Eldrick menyeringai kecil.
Netranya tertuju kepada kancing baju Ana yang terlepas. Karena hal itu, sebagian dadanya terlihat dengan jelas.
Menyadari hal itu. Eldrick segera melepaskan tangannya. Pemandangan itu sudah terlihat oleh beberapa karyawan lain.
Eldrick berlalu pergi begitu saja.
"Tampaknya dia sengaja melakukan hal itu. Dia ingin menggoda anda tuan." Bisik Will.
Eldrick menyeringai kecil.