Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. HARI PERTAMA

Bab 4. Hari Pertama

Pagi itu, Hagia sudah terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan rok hitam panjang berbahan jatuh. Rambutnya diikat rapi ke belakang, sementara tas kerja yang semalam telah dipersiapkan sudah berada di dekat pintu kamar.

Ketika keluar, aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruang makan penthouse. Kalandra telah duduk di sana dengan secangkir kopi hitam di samping tablet yang masih menampilkan agenda kerjanya. Pria itu hanya mengangkat pandangan sekilas.

"Tepat waktu."

"Itu kebiasaan saya."

"Bagus."

Tak lama kemudian bel pintu berbunyi. Seorang perempuan paruh baya masuk sambil membawa beberapa kantong belanja.

"Selamat pagi, Tuan." Tatapannya kemudian beralih kepada Hagia. "Selamat pagi, Nyonya."

Hagia membalas dengan senyum sopan meski sapaan itu masih terdengar asing di telinganya.

"Namanya Bu Hesti," ujar Kalandra singkat. "Mulai hari ini beliau bekerja paruh waktu mengurus penthouse."

Beberapa menit kemudian sarapan sederhana telah tersaji. Kalandra meletakkan tabletnya.

"Hari ini kamu mulai bekerja sebagai asisten pribadi saya."

"Anda sudah mengatakannya kemarin."

"Dan pagi ini, ada rapat dewan direksi."

"Bahas apa?"

"Evaluasi tender Stadion Nasional."

Tangan Hagia sempat berhenti di atas gelas yang hendak diangkatnya. Semalam ia baru saja menerima surel resmi dari panitia bahwa Xavier dinyatakan sebagai calon pemenang tender tersebut. Artinya, pagi ini ia akan duduk di ruang rapat untuk mendengarkan orang-orang membahas kekalahan mereka sendiri atas hasil karyanya.

Namun, wajahnya tetap tenang.

"Apa yang harus saya lakukan?"

"Catat seluruh hasil rapat. Setelah selesai, buat ringkasannya."

"Baik."

Sarapan kembali berlangsung dalam diam. Tidak lama kemudian mereka meninggalkan penthouse menuju Arshaka Group. Setelah tiba di kantor, mobil hitam milik Kalandra berhenti di jalur khusus direksi tepat beberapa menit sebelum pukul delapan pagi.

Begitu sang CEO turun, para petugas keamanan dan karyawan yang berada di lobi segera memberi salam. Beberapa di antaranya tampak saling berpandangan ketika Hagia keluar dari sisi penumpang dan mengikuti langkah Kalandra menuju pintu utama

"Itu Nona Hagia, kan?"

"Bukannya kemarin dia datang soal utang studio?"

"Kenapa sekarang bersama Pak Kalandra?"

Bisik-bisik kecil mulai terdengar, tetapi Hagia memilih mengabaikannya. Ia hanya berjalan beberapa langkah di belakang Kalandra hingga keduanya memasuki lift eksekutif. Sepanjang perjalanan naik, tidak banyak percakapan.

"Kamu langsung ikut ke ruang rapat."

"Baik."

"Duduk di belakang saya."

"Ya."

Tidak ada hal lain. Lift kembali terbuka. Begitu keluar, Hagia langsung disambut suasana yang jauh berbeda dibanding lantai-lantai di bawah. Koridor eksekutif tampak lengang. Beberapa sekretaris terlihat berjalan cepat membawa map, sementara para direktur yang sudah datang lebih dulu mulai memasuki ruang rapat utama.

Kalandra berjalan tanpa memperlambat langkah. Hagia mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Hari pertama bekerja, tetapi ia langsung diajak mengikuti rapat dewan direksi. Itu saja sudah cukup membuat siapa pun menjadi gugup.

Ia menarik napas perlahan. Beberapa menit lagi, ia harus duduk mendengarkan orang-orang membahas hasil karyanya sendiri, sambil berpura-pura tidak mengetahui apa pun.

Kalandra mendorong pintu ruang rapat. Seluruh percakapan di dalam ruangan langsung berhenti.

"Selamat pagi, Pak Kalandra."

Para direksi berdiri hampir bersamaan. Kalandra membalas dengan anggukan tipis sebelum mengambil tempat di kursi utama. Pandangannya kemudian beralih kepada Hagia.

"Duduk."

Hagia mengambil kursi yang telah disiapkan tepat di belakang sisi kanan Kalandra. Sebuah tablet dan buku catatan sudah tersedia di atas meja kecil di hadapannya.

Ia baru saja duduk ketika layar proyektor mulai menyala. Judul presentasi itu langsung membuat jemarinya menegang. Evaluasi Tender Pembangunan Stadion Nasional. Hagia menundukkan pandangannya sesaat.

Di depan ruangan, layar besar perlahan menampilkan gambar sebuah stadion dengan desain atap yang begitu khas. Jantung Hagia berdetak sedikit lebih cepat. Ia mengenali setiap garis itu. Setiap lengkungan dan setiap titik struktur. Itu adalah hasil karyanya sendiri.

"Kita mulai."

Suara Kalandra langsung membuat seluruh ruangan hening. Pria itu berdiri di depan layar dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Tatapannya menyapu seluruh peserta rapat sebelum kembali tertuju pada gambar stadion.

"Semua orang di ruangan ini sudah mengetahui hasil tender Stadion Nasional."

Tidak ada yang menjawab.

"Kita kalah."

Dua kata itu diucapkan tanpa emosi. Namun, justru karena disampaikan setenang itu, seluruh ruangan terasa semakin berat.

"Kekalahan bukan masalah."

Kalandra mengambil remote presentasi. "Yang menjadi masalah adalah kita tidak mengetahui apa yang membuat kita kalah."

Gambar berikutnya muncul di layar. Perbandingan proposal Arshaka Group dan proposal pemenang.

"Selisih penilaian hanya tiga koma dua persen."

Beberapa direksi mulai membuka dokumen di depan mereka.

"Itu berarti kualitas rancangan kita sebenarnya tidak buruk."

Kalandra menghentikan pergantian slide.

"Yang membuat kita kalah adalah efisiensi."

Ia menunjuk salah satu bagian struktur atap stadion.

"Perancang ini berhasil menekan biaya konstruksi hampir tiga puluh persen tanpa mengurangi standar keamanan maupun kualitas bangunan."

Ruangan kembali sunyi. Semua orang memahami arti angka itu.

Dalam proyek bernilai triliunan rupiah, penghematan tiga puluh persen bukan lagi sekadar keunggulan. Melainkan kemenangan mutlak. Direktur Teknik mengangkat tangan.

"Kami sudah mempelajari gambar yang berhasil kami dapatkan dari panitia."

"Kami juga masih belum menemukan bagaimana dia bisa memangkas biaya sebanyak itu."

Kalandra mengangguk kecil.

"Itulah alasan rapat ini."

Ia menekan tombol berikutnya.

Kini layar menampilkan nama yang hanya terdiri dari satu kata.

XAVIER

"Tidak ada identitas pribadi."

"Tidak ada foto."

"Tidak ada alamat."

"Tidak ada satu pun data yang menunjukkan siapa orang di balik nama ini."

Slide berikutnya berganti. Puluhan proyek muncul berurutan di layar.

Gedung konser, museum, bandara, pusat konvensi, beberapa stadion, seluruhnya berada di berbagai negara.

"Sebagian besar proyek ini dikerjakan dalam lima belas tahun terakhir."

Direktur Teknik mengangguk pelan.

"Nama Xavier sebenarnya bukan nama baru."

"Kami menemukan jejaknya sejak belasan tahun lalu."

"Tetapi..."

Ia membuka berkas di depannya.

"Seluruh kontrak selalu ditandatangani oleh orang yang berbeda."

Slide berikutnya menampilkan satu nama.

NIKA UTAMI

Jemari Hagia yang memegang stylus berhenti sesaat. Nama itu akhirnya muncul juga. Berarti sistem penyamaran yang selama bertahun-tahun dibangun ibunya masih bekerja dengan sempurna. Semua jejak berhenti di Nika.

"Nama ini paling sering muncul."

"Seluruh komunikasi resmi menggunakan dirinya sebagai perwakilan."

"Klien bertemu Nika."

"Negosiasi dilakukan Nika."

"Penandatanganan kontrak dilakukan Nika."

"Namun..." Ia berhenti sejenak. "Kami tetap tidak menemukan siapa Xavier sebenarnya."

Pak Danu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Jadi selama ini semua orang hanya berurusan dengan perwakilannya?"

"Benar."

Direktur Teknik mengangguk.

"Tidak pernah ada satu pun dokumentasi yang menunjukkan Xavier hadir langsung."

Kalandra tetap memandang layar beberapa saat.

"Menarik."

Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya. Kemudian ia menekan tombol berikutnya. Foto Nika memenuhi layar.

"Mulai dari perempuan ini."

"Kalau dia mewakili Xavier..." Tatapan Kalandra perlahan beralih kepada seluruh direksi. "berarti dia mengetahui siapa orang yang selama ini kita cari."

Ruangan kembali hening.

"Saya ingin bertemu dengannya."

"Bukan untuk menggugat hasil tender, tetapi untuk mengetahui siapa Xavier sebenarnya."

Tidak ada seorang pun yang membantah. Karena semua orang di ruangan itu mengetahui satu hal. Kalau Kalandra sudah mengatakan akan menemukan seseorang, maka cepat atau lambat, orang itu pasti akan ditemukan. Dan tanpa disadari siapa pun, orang yang sedang mereka cari itu kini duduk tenang di sudut ruang rapat. Mencatat setiap kalimat. Mendengarkan setiap rencana. Sambil berusaha menyembunyikan detak jantungnya sendiri.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!