Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Anya menatap nanar ke arah meja kayu kotor di depannya.
Bau asap rokok dan alkohol murah menyengat hidungnya dengan sangat kuat.
"Jadi, kau mau bayar pakai apa sekarang?"
Suara serak itu berasal dari pria botak bertato naga di depannya.
Pria itu menggebrak meja dengan sangat keras.
Brak!
Anya tersentak mundur sampai punggungnya membentur sofa kulit yang robek.
"Beri aku waktu seminggu lagi," ucap Anya dengan suara gemetar.
"Ayahku pasti akan mengirimkan uangnya."
"Bohong!"
"Bapakmu yang pecundang itu sudah kabur membawa selingkuhannya sejak minggu lalu."
Pria botak itu tertawa meremehkan ke arah wajah Anya.
"Utang lima ratus juta tidak bisa dibayar dengan air mata, Nona."
Anya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan rasa takutnya.
"Aku benar-benar tidak tahu dia pergi ke mana."
"Aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang."
Tiba-tiba sebuah suara mekanis yang dingin berbunyi di dalam kepala Anya.
[Peringatan: Tingkat bahaya meningkat drastis.]
[Misi Utama: Bertahan hidup dari penagih utang.]
Anya mengabaikan layar biru transparan yang melayang di sudut pandangannya itu.
Ini bukan saatnya mengurus sistem aneh yang tiba-tiba muncul di kepalanya sejak kemarin malam.
"Kalau begitu, kau saja yang kami jual malam ini," ucap pria botak itu sambil menyeringai mesum.
Dia memberi kode dengan dagunya pada dua anak buahnya yang bertubuh besar.
Kedua pria itu langsung melangkah maju dan mencengkeram kedua lengan Anya dengan kasar.
"Lepaskan aku!" teriak Anya sambil meronta sekuat tenaga.
"Tolong lepaskan!"
"Diam kau jalang!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Anya.
Rasa panas dan perih langsung menjalar di wajahnya saat itu juga.
Anya merasakan sudut bibirnya robek dan mengecap rasa anyir darah di lidahnya.
"Bawa dia ke ruang belakang sekarang," perintah si pria botak kesal.
"Kita lihat berapa harga yang pantas untuk gadis ini di pelelangan bawah tanah nanti."
Anya terus meronta dan menendang udara kosong dengan kakinya.
Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya karena rasa putus asa.
"Tolong aku, siapa saja tolong!" jerit Anya sekeras mungkin.
"Tidak ada yang akan menolongmu di tempat ini."
Dor!
Suara tembakan pistol yang memekakkan telinga tiba-tiba memecah keributan di ruangan itu.
Lampu ruangan berkedip sesaat sebelum seseorang menendang pintu masuk hingga hancur berkeping-keping.
Brak!
Semua orang di ruangan itu terdiam kaku dan menoleh serempak ke arah pintu.
Dua orang anak buah yang memegang lengan Anya juga terkejut lalu melepaskan cengkeraman mereka secara refleks.
Anya jatuh terduduk di lantai yang kotor sambil memegangi pipinya yang memerah.
Dia mendongak perlahan dan melihat siluet seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu.
Asap tipis mengepul perlahan dari moncong pistol yang dipegang pria itu.
Langkah kakinya terdengar tenang namun sangat mengancam saat dia berjalan masuk ke dalam ruangan.
Tap. Tap. Tap.
"Siapa kau berani mengacau di wilayahku?!" bentak pria botak itu sambil cepat-cepat mencabut pistol dari pinggangnya.
Namun sebelum dia sempat mengangkat senjatanya untuk membidik, sebuah pisau kecil melesat di udara.
Pisau itu menancap tepat di pergelangan tangan pria botak tersebut.
Jleb!
"Arghhh!" teriak pria botak itu kesakitan sambil menjatuhkan pistolnya ke lantai.
Pria yang baru datang itu akhirnya melangkah ke bawah cahaya lampu neon yang berkedip.
Anya akhirnya bisa melihat wajah pria itu dengan sangat jelas sekarang.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang rapi tanpa kerutan dan terlihat sangat mahal.
Wajahnya sangat tampan dengan rahang tegas namun memiliki tatapan mata yang luar biasa dingin seperti es.
"Kau terlalu berisik untuk ukuran lintah darat kelas teri."
Suara pria itu terdengar sangat berat dan datar, nyaris tanpa emosi sama sekali.
"Tuan Muda Kenji!" seru salah satu anak buah yang kini gemetar ketakutan.
"Kenapa Anda ada di sini?"
Pria botak yang tangannya tertancap pisau itu langsung menjadi pucat pasi seketika.
Dia buru-buru berlutut di lantai sambil memegangi tangannya yang terus meneteskan darah.
"Maafkan saya, Tuan Muda."
"Saya benar-benar tidak tahu Anda akan berkunjung ke tempat kumuh ini malam ini."
Kenji sepenuhnya mengabaikan permintaan maaf yang menyedihkan itu.
Dia berjalan melewati para preman itu seolah mereka hanyalah sampah yang tidak berharga di matanya.
Langkahnya berhenti tepat di depan Anya yang masih duduk gemetar di lantai.
Kenji menatap Anya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jadi ini putri dari tikus tua yang mencuri uang kasinoku?" tanya Kenji tanpa mengalihkan pandangannya.
Anya menelan ludah dengan susah payah karena aura intimidasi dari pria ini terlalu kuat.
"Aku tidak tahu apa-apa soal uang curian itu," jawab Anya pelan namun berusaha tegas.
Kenji berjongkok menyamakan tingginya lalu mencengkeram dagu Anya dengan satu tangan.
Cengkeramannya tidak terlalu kuat tapi cukup kokoh untuk membuat Anya tidak bisa memalingkan wajahnya.
"Ayahmu mencuri lima ratus juta dari kasinoku dan kabur seperti pengecut."
"Menurut aturan keluarga kami, utang darah selalu dibayar dengan darah."
Anya memaksakan dirinya untuk menatap langsung ke dalam mata hitam kelam pria itu.
"Tolong jangan bunuh aku di sini."
"Aku bisa bekerja apa saja untuk melunasinya padamu."
"Tolong beri aku satu kesempatan," mohon Anya dengan suara yang masih bergetar hebat.
Kenji melepaskan dagu Anya perlahan lalu berdiri kembali.