Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Suasana di dalam rumah utama keluarga Alessio malam itu terasa begitu formal dan dingin, kontras dengan arsitektur megahnya yang bergaya modern klasik.

Di ruang tamu yang luas, Dante dan Rey duduk bersebelahan di atas sofa kulit premium. Di hadapan mereka, duduk dua sosok berwibawa yang memegang kendali tertinggi keluarga: Jung Dong-hwan sang ayah yang juga ketua Aetheris Games dan istrinya, Kim Hae-sook.

Jung Dong-hwan menyesap teh hangatnya perlahan sebelum membuka percakapan, matanya yang tajam menatap sang putra tunggal.

"Bagaimana, betah di Aetheris Games?"

"Betah," jawab Dante singkat dan datar, tanpa ekspresi.

"Betahlah, ada pujaan hati," timpal Rey asal dari sampingnya, tak bisa menahan diri untuk tidak menggoda saudaranya.

Dante langsung menoleh, menatap Rey dengan pandangan membunuh. "Diam kau."

Mendengar kata 'pujaan hati', Kim Hae-sook langsung menegakkan posisi duduknya, matanya berbinar penasaran.

"Siapa? Dante, kamu sudah punya kekasih?"

"Gak usah ditanggapi omongannya Rey, Eomeoni (Ibu)," potong Dante cepat sebelum ibunya mulai menginterogasi lebih jauh tentang Alesia Fiore.

"Sudah, sudah," Jung Dong-hwan menaruh cangkir tehnya ke meja, membuat suasana santai itu lenyap seketika.

"Appa memanggil kalian ke sini bukan soal operasional harian perusahaan, melainkan soal perkembangan MSR Company."

Raut wajah Dante dan Rey seketika berubah serius. Nama perusahaan itu selalu berhasil membangkitkan atmosfer kelam di antara mereka.

"Sudah ada perkembangan, Pah?" tanya Dante, memajukan tubuhnya.

Jung Dong-hwan mengangguk perlahan.

"Sudah. Dan benar saja dugaan kita selama ini. Valentino sudah menjabat sebagai direktur utama sejak 20 tahun yang lalu. Dan tiba-tiba, hanya dalam waktu 2 tahun kemudian, dia secara misterius berhasil menjadi pemilik serta pemegang saham terbesar di MSR Company. Tapi, tanggal pastinya perpindahan aset itu belum bisa dilacak secara mendetail."

Jung Dong-hwan menjeda kalimatnya, menatap Rey dengan pandangan prihatin yang mendalam.

"Namun, informan Appa memberikan satu petunjuk penting. Bulannya sama... tepat sebulan setelah orang tua Rey mengalami kecelakaan tragis itu."

Mendengar kalimat terakhir sang ketua, keheningan yang mencekam langsung menyergap ruangan. Ingatan tentang kecelakaan maut dua dekade lalu yang merenggut nyawa orang tua kandung Rey kembali terbayang.

Kecelakaan yang selama ini mereka curigai sebagai sabotase terencana oleh Valentino untuk merebut MSR Company dari tangan pemilik sahnya orang tua Rey.

Rey menundukkan kepalanya, meremas kedua telapak tangannya sendiri.

"Sebenarnya... aku sudah rela, Pah. Dan aku juga sudah damai dengan diriku sendiri. Aku tidak mau dendam ini terus mengikat hidup kita."

"Gak bisa begitu, Rey!" potong Dante tegas, suaranya meninggi penuh penekanan.

Ia menepuk bahu saudara angkatnya itu dengan keras.

"Kita tinggal beberapa langkah lagi untuk mengungkap kebenarannya. Jangan menyerah begitu saja tepat di depan garis finis. Ayolah."

Rey hanya bisa menghela napas panjang, tersentuh oleh kepedulian Dante yang selalu pasang badan untuk urusan masa lalunya.

"Terus... rencana Appa apa sekarang?"

Jung Dong-hwan menatap Dante lurus-lurus.

"Appa mau menjodohkan Dante dengan Bianca Victoria, anak tunggal dari Valentino."

Mendengar rencana ekstrem itu, suasana kembali menegang. Namun, tanpa ragu sedikit pun demi membantu saudaranya, Dante langsung menjawab,

"Oke, aku setuju."

"Aku gak setuju!" seru Rey cepat, menoleh ke arah Dante dengan pandangan tidak percaya.

"Pah, kenapa harus melibatkan Dante dalam masalah masa laluku?"

"Kenapa kamu keberatan, Rey? Lagipula, Bianca sendiri yang memang maunya sama Dante sejak dulu," sahut Kim Hae-sook lembut, mencoba menenangkan anak angkatnya itu.

"Ini bukan soal Bianca, Eomeoni," tegas Rey, dadanya naik turun menahan emosi.

"Tapi aku gak mau Dante harus mengorbankan dirinya dan masa depannya untuk menikah dengan wanita dari keluarga itu hanya demi membantuku!"

Jung Dong-hwan mengangkat tangannya, meminta semua orang tenang.

"Bianca baru akan kembali ke Korea 3 bulan lagi karena dia harus menyelesaikan studi kedokterannya dulu di Amerika. Jadi, kalian berdua punya waktu tepat tiga bulan untuk bersiap dan menyiapkan rencana matang di dalam perusahaan mereka."

Dante menatap Rey, memberi isyarat lewat matanya agar saudaranya itu tidak mendebat lagi.

"Oke. Tiga bulan sudah lebih dari cukup. Aku tetap setuju, Pah."

Rey akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi, meskipun hatinya dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat kepada Dante.

"Ya sudah, kalau begitu kita makan malam dulu ya. Makanan di meja makan sudah siap," ucap Kim Hae-sook meredakan ketegangan.

Mereka berempat kemudian pindah ke ruang makan dan menyantap makan malam bersama dalam keheningan yang penuh dengan taktik terselubung.

Setelah selesai makan malam dan berpamitan, Dante dan Rey melangkah keluar menuju mobil untuk pulang.

Malam sudah larut saat mobil sedan mewah itu membelah jalanan kota Seoul yang sepi. Rey fokus menyetir, sementara Dante duduk di kursi penumpang depan, menatap lampu-lampu jalanan yang berkelebat.

Rey melirik Dante dari sudut matanya, rasa bersalahnya kembali membuncah.

"Dante... Fiore gimana kalau kamu akhirnya terpaksa menikah dengan Bianca?"

Mendengar nama 'Fiore' disebut, dada Dante mendadak berdesir aneh. Wajah menggemaskan Alesia saat marah-marah dan saat melempar uang di kantin tadi siang langsung terbayang di benaknya. Dante membuang napas pendek, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Aku bakal ulur waktu, Rey. Tenang saja," ucap Dante, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh perhitungan taktis.

"Nantinya, begitu Bianca datang, aku akan meminta proses pertunangan terlebih dahulu. Jadi, kita gak perlu buru-buru melangkah ke pernikahan. Selama masa pertunangan itu, aku akan memanfaatkannya, membuat Bianca jatuh cinta sepenuhnya sampai dia memberikan akses penuh padaku. Setelah semua aset MSR Company berubah menjadi atas namaku dan kejahatan Valentino terbukti, aku akan memutuskan pertunangan itu secara sepihak."

Rey menelan ludah, mencengkeram kemudi dengan erat.

"Makasih banyak ya, Dante... kamu sudah mau membantuku sejauh ini, bahkan sampai harus berpura-pura seperti ini."

Dante menepuk lengan Rey pelan, menyunggingkan senyum tipisnya.

"Santai saja. Kita sudah berjanji untuk menyelesaikan ini bersama sejak kecil, kan?"

Setelah mengantarkan Dante kembali ke rumah pribadinya, Rey mengemudikan mobil menuju apartemennya sendiri. Malam itu, keheningan di dalam apartemennya terasa begitu pekat.

Rey melangkah masuk ke dalam kamarnya, menyalakan lampu temaram, lalu berjalan menuju sebuah laci kayu di sudut ruangan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka laci tersebut dan mengambil sebuah benda dari bagian paling dalam sebuah bingkai foto tua yang sudah agak berdebu.

Di dalam foto itu, tampak sosok Rey saat masih berusia lima tahun, berdiri riang diapit oleh kedua orang tua kandungnya yang tersenyum sangat bahagia berlatar belakang taman bunga. Itu adalah foto terakhir yang mereka ambil sebelum kecelakaan maut merenggut segalanya.

Rey duduk di tepi ranjang, mendekap foto itu erat-earat di dadanya. Pertahanannya runtuh sepenuhnya. Air mata yang sejak di rumah utama tadi ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh begitu saja, membasahi pipinya di dalam kesunyian malam.

Ia menangis dalam diam, meratapi takdirnya yang harus mengorbankan kebahagiaan Dante, saudara terbaiknya, demi membalaskan ketidakadilan yang menimpa masa lalunya.

Tiga bulan ke depan bukan lagi sekadar tentang waktu, melainkan awal dari permainan topeng yang berbahaya bagi mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!