Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bangku Kosong dan Kulkas yang Tumbang
Kring!
Bel masuk SMA Dirgantara berbunyi nyaring, memecah kesibukan pagi para murid yang bergegas menuju kelas.
Amira duduk di bangkunya dengan dagu bertumpu pada kedua tangan.
Matanya tak lepas menatap ke arah luar jendela, tepatnya ke arah lapangan basket outdoor yang hari ini terlihat kosong melompong.
Tidak ada suara pantulan bola.
Tidak ada decit sepatu kets yang bergesekan dengan lapangan semen.
Dan yang paling penting, tidak ada sosok jangkung dengan jersey hijau tua yang biasanya sedang mengomeli anggota timnya.
"Tumben lapangan sepi," gumam Amira pelan, meremas ujung bolpoinnya.
Rara yang baru selesai menyalin PR Sejarah menoleh ke arah jendela.
"Iya ya. Katanya sih hari ini tim basket inti diliburin latihannya," sahut Rara santai.
"Diliburin kenapa?" tanya Amira refleks, suaranya sedikit terlalu antusias.
Maya yang duduk di depan mereka langsung berbalik badan, menyunggingkan senyum penuh arti.
"Cieee... nyariin sang kapten ya?" goda Maya sambil menusuk-nusuk pelan pipi Amira dengan ujung pensil.
"A-apaan sih! Siapa yang nyariin? Aku cuma nanya karena tumben aja nggak berisik!" elak Amira cepat.
Wajahnya mendadak terasa hangat.
Gadis itu buru-buru membuka buku paket Sejarah untuk menutupi salah tingkahnya.
Namun, huruf-huruf di buku itu seolah menari-nari dan berubah wujud menjadi wajah menyebalkan Alfian Pratama.
Sejak pengakuannya sendiri semalam, Amira memang sudah bertekad untuk berhenti mencari "Sky".
Tapi anehnya, begitu ia menerima perasaannya untuk Alfian, cowok itu justru menghilang hari ini.
Rasa penasaran Amira akhirnya mencapai puncaknya saat jam istirahat pertama.
Alih-alih diam di kelas, Amira beralasan ingin mengembalikan buku ke perpustakaan.
Padahal, rute yang ia ambil sengaja memutar melewati kantin tengah tempat geng basket biasanya nongkrong.
Benar saja, dari kejauhan terlihat gerombolan anak cowok berjaket varsity sedang tertawa-tawa.
Namun mata Amira hanya mencari satu sosok, dan sosok itu benar-benar tidak ada di sana.
"Ngapain lo ngintip-ngintip kayak buronan, Mir?"
Deg.
Amira terlonjak kaget saat suara Rio tiba-tiba muncul dari arah belakangnya.
"Rio! Ngagetin aja sih!" omel Amira sambil memegangi dadanya.
Rio tertawa kecil, menenteng dua mangkuk mi ayam panas di tangannya.
"Lo yang aneh. Jalan nunduk-nunduk sambil celingukan ke meja anak basket. Nyariin kapten gue ya?" tebak Rio dengan instingnya yang tajam.
Gengsi Amira langsung meronta minta diselamatkan.
"E-enggak! Orang aku mau ke perpus kok!" sanggah Amira memalingkan wajah.
Rio mendengus geli, sama sekali tidak termakan kebohongan gadis kelas sebelas itu.
"Alfian nggak masuk hari ini. Sakit dia," ucap Rio sengaja memberikan informasi tanpa diminta.
Langkah Amira yang berniat kabur seketika terhenti.
"Sakit? Sakit apa?" tanya Amira, nada suaranya berubah panik tanpa bisa ia cegah.
"Migrain kronisnya kumat parah," jawab Rio, wajahnya berubah sedikit lebih serius.
"Kemarin sore habis kelar kumpul panitia, dia nyaris pingsan di kamar mandi. Akhirnya gue yang nganterin dia balik."
Napas Amira sedikit tertahan.
Kejadian kemarin sore? Bukankah itu tepat setelah insiden di lorong backstage?
Rasa bersalah mendadak menyeruak memenuhi rongga dada Amira.
"Dia... separah itu ya sakitnya?" cicit Amira, meremas ujung seragamnya.
Rio menghela napas panjang, mengangguk pelan.
"Kalau udah kumat, dia bisa demam dan nggak bisa bangun dari kasur. Makanya hari ini latihan diliburin total," jelas Rio.
Rio lalu menyipitkan matanya, menatap Amira dengan penuh selidik.
"Lagian aneh banget. Tumben-tumbenan kepalanya kumat secepat itu. Lo berdua habis ngapain emang kemarin di aula?" pancing Rio jahil.
Wajah Amira sontak memerah padam mengingat posisi dahi mereka yang bersentuhan kemarin sore.
"Nggak ngapa-ngapain! Udah ah, aku mau ke perpus beneran!" seru Amira panik.
Gadis itu langsung berlari terbirit-birit meninggalkan Rio yang kembali tertawa terbahak-bahak di tengah jalan koridor.
Namun di balik larinya, dada Amira terasa sesak.
Ada rasa rindu dan khawatir yang menyatu, membuat perutnya terasa mual memikirkan kondisi cowok dingin itu.
Jam sekolah berakhir, namun tugas kepanitiaan Pensi baru saja dimulai.
Amira kembali disibukkan dengan urusan mendekorasi aula yang luasnya minta ampun.
Meski tangannya sibuk menempelkan hiasan dinding, pikirannya terus melayang ke rumah besar keluarga Pratama.
"Udah minum obat belum ya dia?" gumam Amira tanpa sadar.
"Siapa yang belum minum obat, Mir?"
Suara ramah itu menyapa telinga Amira.
Amira menoleh dan mendapati Devan berdiri di sebelahnya sambil membawa sekotak donat beraneka rasa.
"Eh, Kak Devan. Bukan siapa-siapa kok," kilah Amira tersenyum canggung.
Devan menyodorkan kotak donat itu ke arah Amira.
"Nih, ambil satu. Lo kelihatan pucat dari tadi," tawar Devan dengan senyum mematikannya.
"Makasih, Kak," Amira mengambil satu donat rasa cokelat dengan sungkan.
Devan tidak langsung pergi.
Ketua Pelaksana Pensi itu justru bersandar santai pada tembok di sebelah Amira, memperhatikannya mengunyah donat.
"Kak Devan nggak sibuk ngecek panggung?" tanya Amira mencoba memecah kecanggungan.
"Panggung udah beres diurus anak-anak logistik. Gue mending di sini, nemenin panitia yang manis," gombal Devan terang-terangan.
Amira nyaris tersedak remahan donatnya.
Gadis itu terbatuk pelan, buru-buru membersihkan mulutnya dengan tisu.
Devan terkekeh pelan, tangannya bergerak cepat menepuk-nepuk punggung Amira dengan lembut.
"Pelan-pelan makannya, Amira. Nggak akan ada yang ngerebut kok," ucap Devan dengan suara renyah.
Amira menelan ludah susah payah.
Devan memang sangat baik dan ramah, persis seperti tipe cowok idaman semua siswi di sekolah ini.
Tapi entah kenapa, sentuhan dan gombalan cowok itu tidak membuat jantung Amira berdebar seperti saat Alfian membentaknya.
Sret!
Tiba-tiba, sebuah tangan besar menarik lengan Amira dengan kuat hingga tubuh gadis itu mundur dua langkah ke belakang.
"Kak Devan!" pekik Amira kaget karena tarikan itu terlalu mendadak.
Namun, saat Amira menoleh ke samping, bukan wajah Devan yang ia lihat.
Melainkan wajah pucat pasi dengan rahang yang mengeras menahan amarah.
Alfian Pratama.
Cowok itu tidak memakai seragam sekolah, melainkan mengenakan hoodie hitam kebesaran dan celana jeans gelap.
Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya terlihat sangat lelah, namun sorot tajamnya sama sekali tidak berkurang.
"Lo ngapain lagi deket-deket cewek gue?" desis Alfian dengan suara bariton yang teramat serak dan berat.
Cesss!
Darah Amira seakan berhenti mengalir detik itu juga.
Seisi aula yang tadinya bising mendadak sunyi senyap bak kuburan.
Semua panitia yang berada di sana menjatuhkan barang bawaan mereka, melongo menatap pemandangan langka di sudut ruangan.
Devan sendiri tampak sangat terkejut, namun cowok itu dengan cepat menguasai dirinya.
"Wah, santai, Yan. Sejak kapan Amira jadi cewek lo?" balas Devan dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Bukannya kemarin lo sendiri yang bilang, hubungan kalian cuma koordinator dan anggota?"
Alfian mendengus kasar.
Tangan kanannya masih menggenggam erat pergelangan tangan Amira, membawanya sedikit berlindung di balik punggung lebarnya.
"Itu kemarin. Dan hari ini, aturannya udah berubah," final Alfian tanpa keraguan sedikit pun.
Amira menatap punggung tegap Alfian dengan mata membelalak lebar.
Jantungnya berdetak brutal hingga ia takut suaranya terdengar oleh semua orang di aula ini.
Dia... sakit-sakit ke sekolah cuma buat ngomong gini?! jerit batin Amira histeris.
Devan mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah.
"Oke, oke, kapten. Message received," ucap Devan dengan nada santai, meski matanya menyiratkan kekecewaan.
"Gue cabut dulu, mau ngecek sound system."
Setelah Devan benar-benar pergi menjauh, barulah kehebohan di aula pecah.
Bisik-bisik nyaring mulai terdengar dari berbagai sudut.
Alfian tak mempedulikan tatapan kepo para murid.
Cowok itu langsung menarik tangan Amira, membawanya keluar dari aula menuju taman belakang sekolah yang sepi.
Begitu sampai di bawah pohon rindang di sudut taman, Alfian melepaskan tangan Amira.
Napas cowok itu tersengal-sengal, keringat dingin membasahi pelipisnya yang pucat pasi.
Bruk.
Alfian menyandarkan punggungnya ke batang pohon besar, memejamkan mata menahan pusing yang luar biasa hebat.
Amira panik bukan main melihat kondisi cowok itu.
"Alfian! Kamu kenapa?! Kamu lagi sakit kan kata Rio?!" seru Amira melangkah maju, tanpa sadar menyentuh dahi Alfian dengan punggung tangannya.
Suhu tubuh cowok itu terasa sangat panas, berbanding terbalik dengan udara sore yang mulai mendingin.
"Astaga! Badan kamu panas banget! Ngapain kamu bela-belain ke sekolah?!" omel Amira dengan mata mulai berkaca-kaca karena khawatir.
Alfian membuka matanya perlahan, menatap langsung ke dalam manik mata Amira.
"Karena gue tahu si buaya itu pasti bakal deketin lo kalau gue nggak ada," jawab Alfian dengan suara serak.
Amira tertegun.
Air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya nyaris saja jatuh.
"Kamu itu bodoh ya?!" bentak Amira, suaranya bergetar hebat.
"Penting banget pamer kekuasaan sampai nggak peduli nyawa sendiri?! Kamu nyaris pingsan, tahu nggak!"
Alfian tersenyum tipis.
Senyum yang sangat lemah, namun berhasil membuat jantung Amira berdegup jutaan kali lebih cepat.
"Gue nggak pamer kekuasaan, Amira," bisik Alfian pelan, kepalanya bersandar lemas pada batang pohon.
"Gue cuma... nggak bisa tenang di kasur mikirin lo senyum ke arah dia lagi."
Deg.
Pertahanan Amira benar-benar runtuh detik itu juga.
Semua gengsi, semua penolakan, dan semua sisa-sisa bayangan tentang Sky menguap tak bersisa.
Hanya ada Alfian.
Alfian yang rela menyeret tubuh sakitnya hanya karena cemburu buta.
"Kamu ini emang kulkas paling nyebelin yang pernah aku kenal," isak Amira pelan, meremas ujung hoodie hitam cowok itu.
Alfian terkekeh pelan mendengar makian itu.
Tangan kanannya yang terasa lemas perlahan terangkat, menyentuh puncak kepala Amira.
Tidak ada rambut halus yang diselipkan seperti yang dilakukan Devan tadi.
Hanya ada sebuah usapan canggung namun luar biasa protektif di atas kepala gadis itu.
"Udah, jangan nangis. Gue nggak bakal mati cuma gara-gara demam," hibur Alfian dengan nada datarnya yang kembali.
"Siapa yang nangis! Ini kelilipan debu aula!" kilah Amira mengusap matanya dengan kasar.
Alfian kembali terkekeh, namun tawanya terputus oleh suara batuk yang cukup keras.
Wajah cowok itu makin memucat, dan tubuhnya sedikit limbung ke depan.
Dengan sigap, Amira menahan tubuh besar itu agar tidak jatuh ke tanah.
"Tuh kan! Baru juga dibilangin!" omel Amira sambil memapah lengan Alfian melingkar di bahunya.
"Ayo, aku anterin kamu ke mobil. Pak Tarjo nunggu di depan kan?"
"Nggak," jawab Alfian memejamkan mata, kepalanya bersandar lemas di bahu kecil Amira.
"Gue bawa motor."
Amira melebarkan matanya horor.
"Kamu bawa motor gede itu dalam keadaan nyaris pingsan begini?!" jerit Amira tak habis pikir.
Alfian hanya membalasnya dengan gumaman tak jelas.
Amira mendengus panjang, menatap cowok keras kepala di pelukannya ini dengan perasaan campur aduk.
"Mulai hari ini, kamu resmi jadi tanggung jawabku, Kapten," desis Amira mutlak.
"Aku yang bakal boncengin kamu pulang!"
Alfian sedikit membuka matanya, menatap wajah garang Amira dari jarak yang sangat dekat.
"Lo... bisa bawa motor sport kopling?" tanya Alfian tak percaya.
Amira menyeringai bangga, menepuk dada bidang Alfian dengan pelan.
"Jangan ngeremehin anak IPS. Dulu aku sering ngebengkel bantuin sepupuku," pamer Amira.
Alfian terdiam, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya lebih dalam ke bahu gadis itu.
Aroma vanilla dari rambut Amira perlahan meredakan rasa sakit di kepalanya.
"Oke," bisik Alfian lemah, menyerah sepenuhnya pada gadis itu.
Dan sore itu, menjadi saksi bisu runtuhnya ego sang kapten, digantikan oleh sebuah ketergantungan baru yang tak akan bisa ia lepaskan lagi.