Indonesia
NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 — Pernikahan Pertama yang Gagal

BAB 29 — Pernikahan Pertama yang Gagal

Nama pengirim amplop itu berhasil kami ketahui dalam waktu kurang dari satu jam.

Banyu mengenali pemilik inisial M.P. sebagai Marisa Purnama, mantan kepala administrasi hukum Kalyana Group. Ia meninggalkan perusahaan sembilan tahun lalu, lalu menghilang dari daftar profesi dan media sosial. Alamat terakhirnya tidak lagi aktif.

Marisa pernah mengirim satu paket kepada ayah Banyu.

Di buku catatan Rahmat Pradana, paket tersebut ditulis dengan judul yang sama seperti keterangan Lila:

Pernikahan Pertama yang Gagal.

Pukul sepuluh malam, kami berkumpul di Ruang Tengah. Rendra sudah pergi setelah menyerahkan struktur vendor dan nomor otorisasi Surya. Ia tidak meminta ikut ketika Banyu datang membawa arsip ayahnya.

Aku memperhatikan kepergiannya dari balik kaca.

Beberapa minggu lalu, ia pasti akan bertahan dengan alasan bahaya. Malam ini ia menyerahkan apa yang diketahui, lalu pergi karena tidak diundang.

Perubahan itu nyata.

Kerusakan yang dibuatnya juga nyata.

Aku tidak perlu memilih salah satunya dan mengabaikan yang lain.

Banyu membuka kotak arsip di depan kamera Damar dan Arum. Di dalamnya ada salinan korespondensi Marisa, daftar transaksi, dan sebelas halaman catatan wawancara. Tidak ada paket asli. Rahmat hanya sempat memotret beberapa bagian sebelum mengembalikannya kepada sumber.

“Kenapa dikembalikan?” tanyaku.

“Marisa takut salinan fisiknya ditemukan,” jawab Banyu. “Ayahku cuma sempat memotret. Setelah itu berkasnya dibawa lagi.”

“Apakah dia masih hidup?”

“Terakhir ada kabar dua tahun lalu. Setelah itu tidak ada.”

Damar menandai pertanyaan tersebut untuk penelusuran terpisah. Aku membaca foto halaman pertama.

Perkaranya terjadi dua belas tahun lalu, sebelum Aditya mulai mengumpulkan bukti secara terbuka. Seorang istri eksekutif Kalyana Logistics bernama Ratri Wisesa ingin mengajukan perceraian setelah menemukan rekening bersama mereka dipakai untuk menutup kerugian perusahaan suaminya.

Suaminya, Darma Wisesa, adalah direktur operasional.

Ratri tidak hanya meminta pembagian harta. Ia juga mengancam melaporkan pemalsuan tanda tangan, pemindahan aset, dan kekerasan yang terjadi ketika ia menolak menandatangani pinjaman baru.

“Ini penyelesaian yang ditandatangani Ayah,” kataku.

Banyu mengangguk. “Perkara pertama yang kemudian menjadi pola.”

Dokumen resmi menggambarkan hasil yang tampak baik. Ratri menerima rumah, biaya pendidikan dua anak, uang hidup selama dua tahun, dan bantuan membuka usaha kecil. Sebagai gantinya, ia mencabut laporan pidana, menyerahkan saham atas nama bersama, dan menandatangani kerahasiaan.

Kalau hanya membaca halaman hasil, seseorang dapat menyebutnya kemenangan.

Lalu aku membuka catatan sesi.

Mediator menulis bahwa Ratri “terlalu emosional untuk memahami risiko proses terbuka.” Ia diminta tidak didampingi pengacara pada dua pertemuan awal karena kehadiran kuasa hukum dianggap membuat suasana konfrontatif.

Suaminya tetap datang bersama penasihat perusahaan.

Aku membaca kalimat itu lagi.

“Ini bukan mediasi,” kataku. “Satu pihak dibiarkan sendirian.”

Damar mengangguk. “Supaya hasilnya terlihat sukarela.”

Pada sesi kedua, Ratri menolak kerahasiaan. Mediator menanggapinya dengan pertanyaan mengenai kemampuan membayar sekolah anak jika perusahaan membekukan tunjangan. Pada sesi ketiga, Ratri ditawari rumah, tetapi sertifikatnya tetap atas nama yayasan selama masa kerahasiaan.

Bantuan itu tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Selama ia diam, semuanya tetap ada.

Aku mengenali beberapa teknik yang digunakan dalam catatan. Memisahkan tuntutan dari kebutuhan. Meminta pihak memikirkan kehidupan setelah konflik. Mengubah kalimat tuduhan menjadi permintaan konkret.

Tekniknya tidak salah. Yang salah adalah cara mereka memakainya dan untuk apa.

Setiap kali Ratri membicarakan pemalsuan tanda tangan, mediator mengembalikan percakapan kepada kestabilan anak. Setiap kali ia meminta pemeriksaan aset, mediator menyebut risiko proses panjang. Setiap kali ia berkata takut kepada suaminya, ketakutan itu ditulis sebagai kemarahan akibat pernikahan yang gagal.

“Aku memakai beberapa pertanyaan seperti ini,” kataku.

Damar menatapku. “Dalam konteks yang sama?”

“Tidak. Pertanyaan seperti itu bisa membuka pilihan. Di sini malah dipakai buat membatasi orang.”

Banyu membuka transkrip wawancara Rahmat dengan Ratri, yang dilakukan setelah kesepakatan ditandatangani.

Ratri mengatakan mediatornya ramah, sabar, dan tidak pernah mengancam. Itulah sebabnya ia baru menyadari tekanan setelah semuanya selesai. Tidak ada yang berkata ia harus menerima. Mereka hanya menjelaskan, berulang kali, apa yang akan hilang jika ia menolak.

Sekolah anak.

Rumah sementara.

Biaya hidup.

Akses kepada pengacara.

Sampai akhirnya tanda tangan itu terasa seperti satu-satunya jalan yang tersisa untuk keluarganya.

Dadaku sesak oleh kesamaan yang baru kusadari.

Rendra melakukan hal serupa kepadaku dalam bentuk yang lebih halus. Ia tidak menyuruhku menerima lamaran. Ia membuat semua pintu lain tertutup tanpa suara.

Jadi, ini bukan cuma cara Rendra bekerja.

Keluarga Kalyana telah lama membangun keputusan dengan mengatur harga penolakan.

“Apa peran Ayah?” tanyaku.

Banyu menunjukkan memo audit Aditya. Pada awalnya, Ayah hanya memeriksa aliran dana. Ia memastikan rumah dibayar, biaya sekolah tersedia, dan usaha kecil Ratri menerima modal.

Lalu ia menemukan klausul pencabutan.

Jika Ratri berbicara kepada media, regulator, atau mantan pegawai lain, seluruh bantuan dapat dihentikan. Bahkan rumah dapat ditarik kembali dalam tiga puluh hari.

Ayah menulis keberatan di pinggir dokumen:

Ini bukan penyelesaian. Ini pembayaran dengan ancaman tertunda.

Tanda tangannya tetap berada di halaman persetujuan.

“Kenapa dia menandatangani?” tanyaku, meski jawabannya sudah muncul dari catatan Ayah sendiri.

“Menurut Marisa, Aditya diberi dua pilihan,” kata Banyu. “Sahkan dana sekarang agar Ratri dan anak-anak mendapat rumah malam itu, atau tahan persetujuan sampai dewan membahas ulang. Dewan bisa menunda berminggu-minggu.”

“Ayah memilih rumah.”

“Iya.”

“Terus dia menyesal?”

“Iya.”

Aku mengerti pilihannya.

Itu justru membuatnya lebih menyakitkan.

Aku pernah mengatakan kepada staf bahwa hasil baik tidak membenarkan proses yang mengambil pilihan orang lain. Ayah mungkin memakai alasan serupa dengan Rendra: kalau tidak bertindak cepat, seseorang akan terluka.

Niat yang berbeda tidak membuat polanya jadi berbeda.

Arum menemukan daftar pembayaran kepada mediator. Dana tidak diberikan sekali. Ada honor per sesi, bonus ketika kesepakatan ditandatangani, dan pembayaran tambahan jika tidak ada gugatan selama satu tahun.

“Bonus hasil,” katanya.

“Mediator tidak seharusnya dibayar berdasarkan hasil seperti ini,” jawabku.

“Di atas kertas, pembayarannya disebut biaya pendampingan pascamediasi.”

Aku membaca sebelas perkara berikutnya. Nama korban berbeda, tetapi strukturnya sama. Perempuan datang membawa persoalan aset, ancaman, atau penyalahgunaan identitas. Mediator mengarahkan mereka pada penyelesaian privat. Yayasan memberi rumah, sekolah, bantuan hukum, atau pekerjaan. Semua bantuan itu dapat dicabut jika mereka berbicara.

Tiga mediator muncul bergantian.

Satu sudah meninggal.

Satu pindah ke luar negeri.

Nama ketiga ditulis hanya dengan inisial S.M.

“Cari nomor registrasinya,” kataku.

Damar membuka daftar mediator lama. Nomor pada dokumen masih aktif. Profilnya menunjukkan pengalaman lebih dari dua puluh tahun, sejumlah pelatihan etik, dan posisi sebagai pendiri sebuah lembaga mediasi independen.

Aku mengenali foto itu sebelum halaman selesai terbuka.

Perempuan berkacamata dengan rambut pendek, senyum tipis, dan kebiasaan memiringkan kepala ketika mendengarkan.

Ia mengajariku bahwa mediator tidak boleh memakai ketenangan untuk membuat korban meragukan rasa takutnya sendiri.

Ia yang menyuruhku mendirikan Ruang Tengah.

Ia yang datang pada pemakaman Ibu, memegang tanganku, lalu berkata aku tidak perlu menjadi kuat di depan semua orang.

Naufal pernah menyebut seorang koordinator bernama Bu Sari. Saat itu aku tidak menghubungkannya dengan siapa pun. Nama Sari terlalu umum, dan aku tidak pernah membayangkan mentorku berada di jaringan yang sama.

Aku membuka berkas latihan pertamaku yang tersimpan di lemari kantor. Sari pernah mengoreksi simulasi mediasi yang kulakukan saat berusia dua puluh empat tahun. Dengan tinta biru, ia menulis:

Jangan pernah membuat kedamaian lebih penting daripada kebebasan pihak yang paling lemah.

Tulisan itu tidak cocok dengan isi catatan Ratri. Dalam perkara lama, mediator justru memakai ketenangan, anak-anak, dan kebutuhan rumah sebagai jalan menuju tanda tangan.

“Ada kemungkinan nomor registrasinya dipakai orang lain?” tanyaku.

“Ada,” jawab Damar. “Belum tentu dia. Kita masih harus cek arsip asli, tanda tangan, sama pembayarannya.”

Harapan itu muncul begitu saja, terlalu cepat. Aku membencinya karena menunjukkan betapa kuat keinginanku menjaga satu orang tetap bersih.

Banyu membuka foto lain. Dalam tujuh dari dua belas penyelesaian, S.M. bukan hanya tercatat sebagai mediator. Ia juga menulis catatan tangan, menerima laporan pascamediasi, dan menandatangani pencairan bonus tahunan.

Tulisan tangannya mirip koreksi pada berkas latihanku.

Itu belum menjadi bukti final.

Tetapi cukup untuk menggoyahkan keyakinanku tentang tempat ini.

Damar memperbesar tanda tangan pada halaman penyelesaian Ratri.

Inisial S.M. berubah menjadi nama lengkap.

Nama mediator yang dibayar untuk membawa pernikahan pertama itu menuju kebungkaman adalah Sari Mahendra perempuan yang mengajariku menjadi mediator.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!