Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehadiran Dimas Jullian Mahendra

        

     SATU MINGGU KEMUDIAN... 

 Di sore hari ini, seperti biasa, Rania melangkah pulang dari pasar dengan langkah yang ringan namun terasa sedikit lelah setelah seharian bekerja. Tas anyaman bambu yang tersampir di bahunya kini terasa lebih ringan. 

 Wajahnya yang bersinar segar tak lepas dari senyum sederhana, meski kakinya terasa sedikit pegal berdiri seharian di lapak Bu Rahma. 

 Matahari mulai condong ke barat, menyinari jalan setapak tanah yang ia lalui dengan cahaya keemasan yang hangat dan menenangkan. Angin sore berhembus pelan, mengibaskan ujung rambutnya yang terurai lembut di punggung, membawa aroma tanah basah dan rumput yang segar. Langit di atasnya tampak bersih dan biru jernih, perlahan berubah menjadi jingga lembut di perbatasan cakrawala, seolah alam pun ikut menyambut kedatangan senja dengan keindahan yang sederhana namun menakjubkan.

 

 Rania berjalan menunduk sedikit, menikmati keheningan sore itu, pikirannya melayang pada Mamanya yang pasti sedang menunggunya di rumah. Ia membayangkan wajah Mamanya yang akan tersenyum lega begitu melihatnya pulang dengan selamat, lalu mereka akan duduk bersama di meja kayu kecil sambil berbagi cerita tentang hari yang baru saja berlalu. 

 Bayangan itu membuat langkah kakinya semakin ringan, seolah kelelahan seharian itu hilang seketika hanya dengan membayangkan kehangatan rumah sederhana mereka. Ia berharap hari ini Mamanya tidak terlalu lelah di sawah, berharap panen padi kali ini memuaskan sehingga kebutuhan mereka bulan ini bisa terpenuhi dengan lebih baik. Rania selalu berdoa untuk kesehatan dan keselamatan Mamanya, karena wanita itulah satu-satunya dunianya saat ini.

 

Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti.

 

 Sebuah mobil berwarna silver meluncur pelan dari arah berlawanan, lalu berhenti tepat di hadapannya, memotong jalan yang ia lalui. Posisinya begitu dekat hingga Rania harus melangkah mundur selangkah untuk menghindar. Jantungnya seketika berpacu lebih cepat, napasnya tertahan di tenggorokan.

  Ia menatap mobil itu dengan mata terbelalak, tubuhnya kaku berdiri mematung di tempat. Mobil itu tampak begitu bersih dan berkilau tertiup cahaya matahari sore, sangat berbeda dengan sepatu kainnya yang berdebu tanah jalanan.

  Rania tidak pernah melihat mobil seperti itu melewati jalan setapak desa ini, jalan yang tanahnya masih lembap dan becek setelah hujan turun pagi tadi. Siapa yang akan datang ke sini dengan mobil semewah itu? batinnya bertanya-tanya dengan cemas.

 

 Pintu mobil terbuka perlahan, dan sosok seorang pemuda melangkah turun. Pemuda itu tampak rapi, mengenakan kemeja berwarna biru dongker yang rapi dengan lengan digulung hingga siku, celana kain berwarna krem, dan sepatu kulit yang bersih berkilau. 

 Penampilannya sederhana namun memancarkan keanggunan yang tenang, seolah ia bukan orang yang biasa berjalan di jalan tanah seperti ini. Usianya terlihat sebaya dengan Rina, kakaknya. 

 Rambutnya yang hitam sedikit berantakan tertiup angin sore, dan sepasang mata yang teduh itu kini menatap lurus ke arah Rania dengan sorot mata yang sulit diartikan—kaget, lega, dan sekaligus penuh kekhawatiran. 

 Cahaya matahari yang menyinari wajahnya membuatnya tampak begitu hangat, namun Rania masih merasa canggung dan takut, tidak tahu apakah ia harus menyapa atau justru berlari menjauh.

 

 Pemuda itu menutup pintu mobilnya perlahan, lalu melangkah menghampiri Rania yang masih berdiri terpaku di tempat. Langkahnya tenang namun cepat, seolah ia takut gadis itu akan menghilang jika ia terlambat sedetik saja. Suara langkah kakinya di atas tanah kering terdengar pelan namun jelas, semakin mendekat hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Rania, hanya berjarak beberapa langkah.

 

"Maaf... maaf..." ucap pemuda itu pelan, suaranya terdengar halus namun jelas di keheningan sore itu. 

"Aku tidak bermaksud mengejutkanmu...Aku hanya... begitu melihatmu, aku tidak bisa melewatkan kesempatan ini"ucap pemuda itu.

 

 Rania tetap diam. Lidahnya terasa kaku, tak mampu mengucapkan satu kata pun. Ia hanya menatap lekat-lekat wajah pemuda itu, mencoba mencari ingatan di mana ia pernah melihat wajah ini sebelumnya.

  Wajah itu tidak asing—ada sesuatu yang akrab di sana, sesuatu yang membuat hatinya berdebar aneh, namun ia tak bisa langsung menaruh nama di balik wajah itu. Matanya yang jernih meneliti setiap garis wajah pemuda itu, dari alisnya yang rapi hingga senyumnya yang tipis dan meneduhkan. Di mana ya? batinnya terus bertanya, mengingat-ingat setiap percakapan Rina, setiap nama yang pernah disebutkan kakaknya itu.

 

"Kamu tidak apa-apa, Rania?" tanya pemuda itu lagi, kali ini dengan nada yang terdengar jelas penuh kekhawatiran.

 "Ada yang sakit? Apakah aku terlalu mengejutkanmu?"

 

 Rania tercengang. Matanya membelalak lebih lebar. Dia mengenal namaku! batinnya berteriak kaget. Siapa pria ini? Bagaimana dia tahu namaku? Apakah dia teman Ayah? Atau mungkin kenalan Mamanya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar cepat di kepalanya, membuatnya semakin bingung dan diam saja. 

 Tangannya yang menggenggam tali tas anyaman itu meremasnya erat-erat, kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan sendiri karena gugup. Jantungnya berdegup kencang, menabrak dinding dadanya seolah ingin melompat keluar. Ia tidak tahu harus menjawab apa, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Semua terasa begitu tiba-tiba, begitu mendadak, di tengah jalan tanah yang sepi ini.

 

 Pemuda itu melihat Rania hanya melamun menatapnya tanpa bersuara. Ia tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya pelan dan menepuk bahu Rania dengan lembut. Sentuhannya begitu halus, begitu sopan, seolah ia takut menyakiti gadis itu walau hanya sedikit. 

"Rania?" panggilnya lagi, sedikit lebih lembut, seolah ingin menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

 "Kau mendengarku, kan?"tannya,

 

 Rania tersentak hebat, tubuhnya sedikit terlonjak kaget. 

"I-iya..." jawabnya terbata-bata, pipinya perlahan memerah karena malu tertangkap sedang melamun. 

"Aku... aku mendengar. Maaf, aku hanya... kaget sekali"ucap rania gugup.

 

 Pemuda itu tersenyum lebih lebar kali ini, senyum yang hangat dan menenangkan, membuat ketegangan di wajah Rania perlahan mencair. Matanya yang teduh bersinar ramah, seolah senyum itu saja sudah cukup untuk menjelaskan segalanya. 

"Tidak perlu malu, Rania. Aku mengerti sekali. Aku tahu ini pasti terasa sangat aneh bagimu karena orang asing tiba-tiba muncul dan menyebut namamu. Tapi aku bukan orang asing, sungguh" ucap pemuda itu.

 

"Kenapa kamu lupa sama Kakak?" ucapnya pelan namun penuh keakraban.

 

 Mendengar kata-kata itu, kebingungan Rania justru semakin dalam. Kakak? batinnya bertanya-tanya. Aku tidak punya kakak laki-laki yang lain. Yang aku punya hanya Rina, kakak perempuanku, dan Rian, kakak laki-lakiku satu-satunya .Siapa dia? Apakah dia salah mengira aku orang lain? Rania menatap wajah pemuda itu dengan tatapan bingung, bibirnya sedikit terbuka ingin bertanya namun kata-kata itu tertahan di kerongkongan.

 

"Aku...Dimas" ucap pemuda itu lembut, seolah melihat kebingungan yang mendalam di mata gadis itu. 

"Sahabat Rina, kakakmu. Rina sering bercerita tentangmu, Rania. Tentang kamu yang tinggal di desa,..Aku sudah lama ingin bertemu denganmu, tapi baru kali ini ada kesempatan" ucap pemuda bernama dimas.

 

 Mata Rania seketika berbinar, seolah pelita yang lama padam tiba-tiba menyala kembali. Wajah itu, nama itu... semuanya tersambung kembali di kepalanya. Rina pernah menyebut nama Dimas dalam surat-suratnya, menyebutnya sebagai sahabat yang paling tulus, orang yang selalu ada di saat-saat sulit. Rania bahkan pernah melihat foto mereka berdua di dalam dompet Rina—foto yang di simpan baik-baik oleh kakaknya itu, tapi untuk bertemu hanya dua atau empat kali saja.

 

"Kak Dimas?" gumamnya pelan, matanya menatap wajah pemuda itu lekat-lekat, kini dengan pengenalan yang mulai utuh.

 "Benar... ini Kakak..." ucapnya, lalu ia terdiam sejenak, menunduk sedikit karena malu.

 "Kak Dimas... Maafkan aku ya, tadi aku benar-benar tidak menyangka. Aku pikir..."

 

 Dimas tertawa kecil, tawa yang renyah dan ramah. Ia melihat pipi Rania yang memerah, dan gadis itu pun tersenyum malu seraya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal—kebiasaan kecilnya saat merasa malu atau canggung. 

 "Aku tahu, aku tahu. Tidak apa-apa, sungguh. Wajar sekali kau kaget. Aku memang seharusnya memberi tahu lebih dulu, bukan muncul begitu saja ".

 

"Iya, Kak Dimas" sahut Rania pelan, senyum malu-malu kini merekah di wajahnya yang bersinar. 

"Maaf ya... tadi aku sempat bingung. Kaka tiba-tiba muncul dan menyebut namaku, aku jadi kaget sekali" ungkap rania.

 

"Tidak apa-apa, Rania. Aku mengerti" jawab Dimas lembut, menatap gadis itu dengan tatapan penuh kehangatan. 

"Aku sebenarnya ingin berkunjung ke sini, menemui kamu dan Mamamu. ini aku kebetulan lewat ke arah sini, dan begitu melihatmu berjalan sendirian di jalan ini, aku langsung mengenalimu. Kamu sangat mirip dengan Rina, tahu? Itu sebabnya aku begitu yakin itu kamu. Senyummu, caramu berjalan... semuanya begitu mirip" ucap dimas.

 

 Rania tersenyum mendengarnya, hatinya terasa hangat dan tenang. Ada rasa nyaman yang muncul begitu saja saat berhadapan denganDimas, ia sudah mengenal pria ini sejak lama. "Terima kasih sudah menyapa, Kak. Terima kasih sudah mengenaliku. Mama pasti akan senang sekali kalau tahu Kak Dimas datang berkunjung. Mau ikut ke rumah sebentar? Mama pasti senang sekali bertemu sahabat Kak Rina" ucap rina

 

 Dimas menatap wajah Rania yang penuh harap, lalu tersenyum lembut. 

"Tentu saja. Aku justru ingin sekali menemui Mamamu. Ayo, aku antar kamu sampai ke rumah. Jalanan ini tanahnya licin setelah hujan tadi, hati-hati melangkah ya."

 

 Rania mengangguk mantap, lalu berjalan berjalan menuju mobil Dimas, merekapun menyusuri jalan setapak itu menuju rumahnya yang tidak jauh dari sana. Hatinya yang tadinya penuh kebingungan kini berganti dengan kebahagiaan yang sederhana—ada sahabat kakaknya yang datang, ada seseorang yang mengenali dirinya, dan untuk sesaat, ia merasa tidak sendirian.

 Angin sore berhembus lembut menyapu wajah jalan, membawa serta dedaunan kering yang berputar pelan di udara. Rania menyadari bahwa hari ini ternyata bukan hari yang biasa saja, hari ini ada sesuatu yang istimewa datang menyapa hidupnya yang sederhana.

 

 Sesampainya di depan rumah kayu sederhananya mobil berhenti, rania keluar lalu berjalan menuju teras. Ia merogoh tas anyaman bambunya, merogoh bagian dalam tas itu dengan jari-jarinya yang cekatan. Tangan kanannya menyusuri saku kecil di dalam tas, mencari benda kecil yang terasa dingin dan keras itu. Tak lama kemudian, ia mengangkat tangan kanannya yang kini menggenggam sepasang kunci sederhana berwarna perak kusam. Dengan tenang, ia memasukkan kunci itu ke lubang pintu kayu yang sudah agak usang, memutarnya perlahan hingga terdengar bunyi 'klik' halus, lalu menarik daun pintu itu hingga terbuka lebar. Pintu itu berderit pelan, suara yang sudah sangat dikenalnya, suara rumah yang selalu menyambutnya pulang.

 

"Ayo masuk, Kak" ajak Rania sambil tersenyum ramah, menyingkir sedikit memberi jalan. 

"Mama pasti sebentar lagi pulang dari sawah. Kakak tunggu dulu ya, aku siapkan minum dulu" ucap rania ramah.

 

 Namun Dimas justru berdiri diam di ambang pintu, tidak melangkah masuk sedikit pun. Matanya menatap sekeliling dengan sopan, lalu ia menatap Rania dengan senyum lembut namun tegas. 

"Kakak tunggu saja di teras sampai Mamamu datang, Rania. Tidak baik kalau kita berada di dalam rumah berdua saja. Bisa timbul fitnah, dan Kakak tidak ingin hal itu terjadi. Nama baikmu jauh lebih berharga daripada apa pun, dan aku ingin menjaganya seperti aku menjaga nama baik Rina sendiri" ucap dimas.

 

 Rania tertegun sejenak, lalu pipinya sedikit memerah karena malu sekaligus kagum akan kesadaran Dimas. Ia mengangguk mantap, merasa bersyukur sekali bahwa sahabat kakaknya itu begitu bijaksana dan peduli pada dirinya. 

"Baiklah, Kak. Kakak duduk dulu di bangku teras ya. Aku masuk sebentar saja, mengambilkan minum. Jangan kemana-mana ya, Mama pasti sebentarlagi pulang" ucap rania sebelum beranjak pergi.

 

 Dimas hanya membalas dengan tersenyum, lalu ia melangkah ke samping dan duduk di bangku kayu panjang yang terletak di teras depan rumah itu, menunggu dengan tenang. Punggungnya tegap namun santai, matanya menatap ke arah jalan setapak yang berkelok, seolah menantikan kedatangan wanita yang melahirkannya sahabatnya.

 

 Benar saja, tak lama kemudian, terdengar suara roda berputar di tanah keras dan langkah kaki yang teratur mendekat dari arah jalan setapak. Mama Rania muncul dari balik tikungan, tangannya mendorong sebuah gerobak kayu kecil yang berisi dua karung padi yang penuh dan berat, baru saja dipanen dari sawah. 

 Punggungnya sedikit membungkuk menahan beban, namun langkahnya tetap tegap dan penuh semangat. Keringat menetes di pelipisnya, membasahi kerudung sederhana yang ia ikat di kepala, namun wajahnya tampak damai dan bersyukur. Cahaya matahari sore menyinari siluetnya, membuatnya tampak begitu gagah dan tegar di mata siapa pun yang melihatnya.

 

 Melihat itu dari teras, Dimas segera bangkit berdiri. Tanpa menunggu dipanggil, ia berjalan cepat menghampiri wanita itu dan dengan sigap mengambil alih pegangan gerobak dari tangan Mama Rania. Gerobak itu terasa berat, namun Dimas mendorongnya dengan mantap dan hati-hati agar tidak menggoncang isinya. "Izinkan saya membantu, Tante" ucapnya lembut namun tegas.

 

 Mama Rania terkejut, tubuhnya sedikit mundur karena kaget saat seseorang tiba-tiba mengambil alih beban yang ia dorong. Ia menatap pemuda asing itu dengan mata membelalak, napasnya masih sedikit terengah. 

"Siapa... Siapa kau, Nak?" tanyanya pelan, suaranya terdengar ragu namun sopan. Namun saat ia menatap wajah pemuda itu lebih lekat-lekat, keraguan di matanya perlahan berganti dengan pengenalan yang begitu menyentuh hati. Garis wajah itu, sorot mata itu... ada begitu banyak kemiripan dengan seseorang yang sangat ia sayangi.

 

"Tante, saya Dimas" ucap Dimas lembut, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat sambil terus memegang pegangan gerobak itu. "Sahabat Rina"lanjut dimas.

 

 Seketika itu juga, senyum yang begitu hangat dan tulus terukir lebar di wajah Mama Rania. Matanya berkaca-kaca, tangannya yang kasar namun lembut menutup mulutnya sejenak karena tak percaya. 

"Ya Allah... Nak Dimas..." ucapnya pelan, suaranya bergetar karena haru. "Kok bisa... kau ada di sini? Rina... Rina tahu kau ke sini?" tanyanya.

 

 Dimas tersenyum lembut, matanya bersinar ramah melihat reaksi tulus wanita itu. "Rina bercerita banyak tentang Tante dan Rania. Jadi saya berkesempatan datang ke sini, langsung mampir menyapa. Rina tahu, Tante. Dia yang meminta saya datang ke sini " ucap dimas setengah berbisik.

 

 Mama Rania terdiam sejenak, menatap wajah Dimas dengan tatapan rindu yang mendalam. Ia seketika ingin bertanya—bertanya tentang kabar putrinya yang jauh di sana, bertanya tentang kehidupan Rina, tentang bagaimana hari-harinya berlalu, apakah ia makan dengan baik, apakah ia tidur nyenyak, apakah ia bahagia. Namun sebelum sempat kata-kata itu keluar dari bibirnya, Dimas dengan sopan menyela halus, seolah mengerti keinginan hati wanita itu.

 

"Rina sangat baik, Tante. Dan ka rian uga baik-baik saja" ucap Dimas menenangkan, menjawab pertanyaan yang belum sempat terucap itu. "Dia rajin, cerdas, dan selalu menyebut nama Tante setiap kali kami berbicara. Jangan khawatir, Tante. Rina dijaga dengan baik di sana...ka rian pasti menjaganya" ucap dimas.

 

 Wanita itu tersenyum lega, mengangguk pelan, air mata bahagia menetes di pipinya yang keriput namun lembut. 

"Terima kasih, Nak Dimas... Terima kasih sudah menyampaikan kabarnya. Terima kasih sudah datang ke sini, menemui kami. Rina memang beruntung punya sahabat sebaik kau".

 Ia lalu menunjuk ke arah belakang rumah. "Bisa tolong bawa gerobak ini ke gudang kecil di belakang, Nak? Simpan saja di sana dulu. Terima kasih ya, sudah membantu Tante"

 

"Tentu, Tante. Dengan senang hati" jawab Dimas patuh.

 

 Ia pun mendorong gerobak itu perlahan mengikuti Mama Rania yang berjalan di sampingnya menuju bangunan kecil di belakang rumah. Di sana, dengan hati-hati, Dimas menurunkan dua karung padi itu dan menyimpannya rapi di sudut ruangan, menatanya agar tidak jatuh dan terjaga dari kelembapan.

 Setelah selesai, mereka berjalan kembali beriringan menuju teras depan, langkah mereka teratur dan tenang, diiringi percakapan ringan yang mengalir begitu hangat.

 

 Sesampainya di sana, Rania sudah menunggu dengan sabar di meja kayu kecil di teras. Di hadapannya, di atas piring rotan yang bersih, tersaji sebuah nampan berisi tiga gelas teh hangat yang masih mengepulkan uap putih, aromanya wangi dan menenangkan—teh melati kesukaan mereka. 

 Rania berdiri tegak di samping meja, menatap kedua orang itu dengan senyum manis yang tak pernah pudar, matanya berbinar bahagia melihat Mamanya tersenyum begitu lebar setelah sekian lama.

 

"Mari, Kak Dimas, Mama..." ajak Rania pelan, mengulurkan tangan menyuguhkan minuman yang telah ia siapkan.

 "Minumlah dulu, pasti lelah sekali. Tehnya masih hangat, semoga bisa menyegarkan kembali" ucap rania.

 

 Dimas dan Mama Rania pun duduk bersama di bangku kayu itu, diiringi kehangatan teh yang mengepul di udara sore yang damai itu. Cahaya matahari semakin miring, menyinari wajah mereka berdua dengan cahaya keemasan yang lembut, seolah langit pun ikut tersenyum melihat kehangatan yang terjalin di antara mereka. 

 Dimas menyandarkan punggungnya, memegang gelas teh hangat itu di tangannya, merasakan kehangatan yang menjalar dari gelas itu ke seluruh tubuhnya. Di hadapannya, dua wanita sederhana namun luar biasa itu menatapnya dengan penuh kasih sayang, dan untuk sesaat, Dimas merasa seolah ia bukan sekadar tamu, melainkan bagian dari keluarga ini.

 

  Mama Rania menyeruput tehnya pelan, menatap Dimas dengan mata yang masih berkaca-kaca namun kini penuh kebahagiaan. "Terima kasih sudah datang, Nak Dimas. Terima kasih sudah membawa kabar Rina. Rasanya... rasanya seolah Rina sendiri yang datang berkunjung ke rumah ini"

 

 Dimas tersenyum lembut, meletakkan gelasnya perlahan di atas meja. "Sama-sama, Tante. Rina juga selalu rindu pada Tante dan Rania. Mungkin hari ini aku yang datang, tapi hatinya Rina ikut bersamaku ke sini"ucap dimas.

 

 Rania duduk di samping Mamanya, memegang tangan wanita itu erat-erat, menatap Dimas dengan mata yang berbinar bahagia. "Kak Dimas, jangan pulang dulu ya. Makan malam bersama kami. Mama pasti akan memasak makanan kesukaan Kak Rina, supaya Kak Dimas bisa merasakan masakan Mama juga"

 

 Mama Rania mengangguk mantap, menatap Dimas dengan harapan yang tulus. "Iya, Nak Dimas. Menginaplah sebentar. Malam ini makan bersama kami. Rumah ini sederhana, tapi cukup lah. Kami ingin sekali kau berbagi cerita tentang Rina, tentang kehidupan di kota besar itu. Apakah kau berkenan?"

 

 Dimas menatap wajah mereka berdua—wajah yang penuh harap, penuh kasih sayang yang tulus tanpa kepura-puraan. Ia tersenyum lebar, mengangguk mantap. 

"Dengan senang hati, Tante. Terima kasih sudah menyambutku begitu hangat. Aku akan berbagi cerita sebanyak yang kalian mau, dan aku akan makan malam bersama kalian malam ini. Terima kasih telah memperlakukanku seperti keluarga sendiri" ucap dimas.

 

 Sore itu, di teras rumah kayu sederhana itu, di antara uap teh yang mengepul dan senyuman yang tulus, tiga jiwa itu duduk bersama dalam kehangatan yang tak bisa dibeli dengan apa pun. Di kejauhan, matahari perlahan terbenam sepenuhnya, menyisakan langit yang berwarna ungu kemerahan yang indah, menandakan bahwa hari yang penuh kejutan ini telah berlalu dengan damai, dan malam yang hangat baru saja dimulai.

 

Bersambung...

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!