Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Ruangan kantor polisi sektor setempat terasa dingin dan pengap di bawah terpaan lampu neon yang berpendar terang. Jam dinding menunjukkan pukul 00.30 WIB ketika atmosfer tegang menyelimuti area meja pemeriksaan. Suara ketukan papan ketik komputer petugas beradu secara teratur dengan suara langkah kaki beberapa polisi yang lalu-lalang di lorong.

Di salah satu sudut bangku kayu, Tae-jun duduk berdampingan dengan Ji-eun dan Seo-ah. Sudut bibirnya yang tampan meninggalkan jejak luka memar kebiruan yang merona merah.

Ji-eun duduk merapat di sebelah Tae-jun, memegangi kantong es batu yang dibungkus saputangan untuk dikompreskan secara perlahan ke sudut bibir pria itu. Setiap kali es tersebut menyentuh lukanya, Tae-jun hanya mengernyitkan alis tanpa mengeluh sedikit pun.

"Maafkan aku..." bisik Ji-eun lirih dengan raut wajah penuh penyesalan. Mata jernihnya tampak sedikit berkaca-kaca menatap memar di wajah Tae-jun. "Gara-gara aku, Kau jadi harus terlibat sampai ke kantor polisi seperti ini. Reputasimu sebagai direktur bisa..."

Tae-jun meraih genggaman tangan Ji-eun yang memegang kompresan es, lalu menahannya lembut. Pria itu menggelengkan kepala pelan dengan tatapan mata yang hangat.

"Jangan katakan itu," potong Tae-jun dengan nada suara yang tenang dan berwibawa. "Pria itu hampir saja melayangkan tinjunya ke wajahmu. Kalau aku diam saja dan tidak melindungimu, aku yang tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Soal reputasi... aku tidak peduli."

Seo-ah yang duduk di sisi lain Ji-eun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya yang menangkup wajahnya bergetar pelan karena rasa bersalah yang amat besar. "Ji-eun-a, Direktur Seo... maafkan aku. Ini semua murni kesalahanku. Kalau saja aku tidak melayani pesan Lee Gyeong-tae dan langsung memblokir nomornya, hal konyol ini tidak akan pernah terjadi."

Ji-eun merangkul bahu Seo-ah erat, mencoba menenangkan sahabatnya yang kini mengusap air mata. "Ini bukan salahmu, Seo-ah-ya. Lee Gyeong-tae saja yang memang bajingan dan tidak tahu diri."

Di ruang pemeriksaan sebelah, Gyeong-tae sedang duduk memegangi rahang dan hidungnya yang diperban tipis oleh petugas medis. Pria itu terus menggerutu dan menuntut agar Tae-jun diproses hukum karena telah melakukan penganiayaan fisik secara brutal padanya.

"Pak Polisi! Lihat wajah saya!" seru Gyeong-tae dengan nada tinggi dan angkuh dari meja sebelah. "Pria itu yang menyerang saya lebih dulu! Dia memukul saya sampai tersungkur! Saya mau dia ditahan dan bertanggung jawab!"

Petugas polisi yang sedang mengetik laporan menghela napas panjang, lalu menatap Gyeong-tae dengan pandangan jemu. "Saudara Lee Gyeong-tae, harap tenang. Kami sudah mengambil keterangan dari saksi-saksi warga sekitar dan memeriksa rekaman CCTV dari toko kelontong di depan taman tersebut."

Polisi itu memutar layar monitor komputer ke arah Gyeong-tae dan pengacaranya yang baru tiba.

"Dari rekaman CCTV terlihat sangat jelas," tegas sang polisi sembari menunjuk layar. "Anda terlebih dahulu melakukan tindakan kekerasan fisik dengan mendorong Saudari Seo-ah hingga jatuh tersungkur. Setelah itu, Anda hendak melayangkan pukulan tangan kosong ke arah Saudari Han Ji-eun sebelum Saudara Seo Tae-jun bertindak untuk menghentikan Anda. Apa yang dilakukan Saudara Tae-jun dikategorikan sebagai tindakan pembelaan diri dan perlindungan terhadap orang lain dari ancaman tindak pidana kekerasan."

Mendengar penjelasan polisi tersebut, wajah Gyeong-tae langsung memucat seketika. Skakmat.

Tak lama kemudian, pintu kaca kantor polisi terbuka lebar. Seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas hitam elegan melangkah masuk dengan tegas, diikuti oleh dua orang pengacara hukum papan atas yang mengenakan pin Firma Hukum ternama. Pria itu adalah Pengacara Kang, kuasa hukum pribadi keluarga Tae-jun.

Pengacara Kang melangkah mantap mendekati meja kepala penyidik. Dengan sikap yang amat profesional dan tenang, ia menyerahkan kartu namanya.

"Selamat malam," ujar Pengacara Kang dengan nada mantap. "Saya adalah kuasa hukum resmi dari Saudara Seo Tae-jun, Direktur Utama dari Seo Group. Kami datang untuk memastikan proses hukum berjalan transparan."

Gyeong-tae yang mendengar nama "Seo Group" dan melihat pengacara papan atas berdiri di depan matanya langsung bungkam seribu bahasa. Nyalinya menciut seketika. Ia baru menyadari bahwa pria yang beradu tinju dengannya malam ini bukanlah orang sembarangan yang bisa ia gertak dengan mudah.

Pengacara Kang kemudian berjalan menghampiri Gyeong-tae, menatap pria itu dari atas ke bawah dengan dingin. "Saudara Lee Gyeong-tae, atas nama klien kami, kami siap mengajukan tuntutan balik atas tuduhan tindakan penganiayaan terhadap Saudari Seo-ah, percobaan penganiayaan berat terhadap Saudari Han Ji-eun, serta perbuatan tidak menyenangkan dan pengancaman di muka umum. Jika kasus ini berlanjut ke meja hijau, saya pastikan Anda akan menghadapi hukuman kurungan penjara yang tidak singkat."

Gyeong-tae mendadak bergidik ketakutan. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia tahu betul ia tidak memiliki sumber daya atau kekuatan hukum untuk melawan taipan bisnis besar seperti keluarga Tae-jun.

"A-apa tidak ada jalan damai...?" bisik Gyeong-tae terbata-bata dengan nada yang berubah drastis menjadi memohon.

Tae-jun berdiri dari bangkunya, melangkah perlahan mendekati Gyeong-tae. Dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap dan tatapan mata yang tajam bagai elang, Tae-jun menunduk menatap pria di hadapannya.

"Jalan damai hanya ada satu," ujar Tae-jun dengan suara berat yang dipenuhi penekanan kuat. "Kau tandatangani surat pernyataan kesepakatan damai malam ini juga, serahkan seluruh rekaman komunikasi, dan berjanji secara hukum untuk tidak pernah memunculkan wajahmu lagi di hadapan Seo-ah maupun Ji-eun dalam jarak satu meter pun di sisa hidupmu. Jika kau melanggar satu patah kata saja dari perjanjian ini..."

Tae-jun mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik dengan nada dingin yang menyengat, "...aku sendiri yang akan memastikan hidupmu dan kariermu hancur tanpa sisa."

Tanpa berpikir dua kali dan dalam kondisi gemetar hebat, Gyeong-tae langsung menyambar pulpen dan menandatangani surat pernyataan damai serta pencabutan laporan yang disodorkan oleh pihak kepolisian dan pengacara Tae-jun.

Pukul 02.15 dini hari, mereka akhirnya keluar dari gedung kantor polisi setelah Tae-jun meminta Pengacara Kang tidak akan memberitahukan masalah ini ke keluarganya atau siapapun. Udara malam yang dingin menyapa kulit mereka saat melangkah turun dari anak tangga semen.

Gyeong-tae telah pergi lebih dulu menggunakan taksi dengan rasa malu dan ketakutan yang luar biasa.

Seo-ah menghela napas lega yang amat panjang, menatap Tae-jun dan Ji-eun dengan pandangan penuh rasa terima kasih yang tak terhingga. "Direktur Seo... Ji-eun-a... aku benar-benar tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi. Terima kasih sudah melindungiku malam ini."

"Sudahlah, Seo-ah-ya," jawab Ji-eun seraya memeluk sahabatnya erat. "Yang penting masalah ini sudah selesai sepenuhnya. Dia tidak akan berani mengganggumu lagi."

Tae-jun memastikan Seo-ah masuk ke dalam taksi yang dipesankan oleh pengacaranya untuk mengantarkan perempuan itu pulang ke rumahnya dengan aman.

Setelah taksi Seo-ah menghilang di belokan jalan, tinggal Tae-jun dan Ji-eun yang berdiri berdua di bawah pendar lampu jalanan yang sunyi. Ji-eun menoleh menatap Tae-jun, menyentuh lembut lengan kemeja pria itu.

"Bibirmu pasti masih terasa sangat sakit, ya?" tanya Ji-eun lembut, matanya menyiratkan kehangatan dan rasa cinta yang begitu dalam.

Tae-jun tersenyum manis, mengabaikan rasa perih di sudut bibirnya. Ia merengkuh pinggang Ji-eun, menarik tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya yang kokoh di tengah keheningan malam.

"Sakitnya hilang saat melihatmu aman di sisiku," bisik Tae-jun tulus di puncak kepala Ji-eun.

Di bawah naungan langit malam yang larut, setelah melewati kekacauan di kantor polisi dan perselisihan yang menguji keberanian mereka, hubungan di antara Tae-jun dan Ji-eun justru terasa kian tak tergoyahkan. Kejadian malam ini mempertegas satu hal, Tae-jun bukan hanya sekadar kekasih di balik pintu rapat, melainkan pelindung nyata yang siap berdiri di garis terdepan demi keselamatan dan kebahagiaan Ji-eun.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!