Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Ratu Sorak dan Klarifikasi Sang Kapten
Amira melangkah keluar dari ruang penyimpanan alat olahraga dengan tatapan kosong.
Otaknya seakan menolak memproses kejadian yang baru saja terjadi.
Kalimat terakhir Alfian yang berjanji akan mengurus rumor mobil itu terus terngiang-ngiang layaknya kaset rusak di kepalanya.
Dia mau ngurus rumornya? Buat aku? Atau buat jaga nama baiknya sendiri? batin Amira berdebat sengit.
Tapi mengingat tangan kokoh cowok itu yang sempat menahan pinggangnya agar tidak jatuh, wajah Amira kembali memanas.
"Sialan. Bisa gila aku kalau begini terus," rutuk Amira pelan sambil menampar kedua pipinya sendiri pelan-pelan.
Ia harus segera sadar dan kembali ke kelas sebelum Bu Ratna mengamuk karena hukuman sapu-menyapu tadi ia tinggalkan begitu saja.
Teng! Teng! Teng!
Bel istirahat kedua berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah.
Amira baru saja sampai di ambang pintu kelasnya saat Rara dan Maya langsung menerjangnya dengan wajah panik.
"Mir! Lo dari mana aja sih?!" seru Maya sambil menarik pergelangan tangan Amira.
"Ya dari gudang olahraga lah, kan gue dihukum Bu Ratna," jawab Amira santai, meski hidungnya masih sedikit bindeng.
"Lo nggak tahu apa yang lagi terjadi di luar sana?" Rara ikut menimpali dengan suara berbisik tapi penuh tekanan.
Amira mengerutkan dahinya bingung. "Emang ada apa lagi? Ada foto gue tidur mangap di kelas?"
"Bukan itu, astaga!" Rara menepuk jidatnya sendiri.
"Kak Sisca dan geng cheerleader-nya lagi nyariin lo ke sekeliling sekolah!"
Deg.
Jantung Amira yang tadinya sudah mulai tenang kini kembali berpacu layaknya rollercoaster.
"Kak Sisca? Yang katanya pacarnya Alfian itu?" tanya Amira memastikan, suaranya sedikit bergetar.
"Iya! Dia ngamuk besar lihat foto lo semobil sama Alfian di grup angkatan tadi pagi," jelas Maya cepat.
"Sekarang mending lo diam di kelas aja deh, jangan ke kantin dulu sampai badai reda."
Amira mendengus keras, rasa gengsi dan harga dirinya mendadak memberontak naik.
"Nggak mau! Perut gue lapar banget gara-gara nyapu gudang berdebu. Gue mau ke kantin," tolak Amira keras kepala.
Lagipula, kenapa dia harus takut?
Dia tidak mencuri pacar siapa-siapa, dan insiden numpang mobil itu murni karena paksaan si kapten kulkas arogan.
"Tapi Mir, Kak Sisca itu ratu bullying di sekolah ini. Lo bisa habis dilabrak!" cegah Rara memperingatkan.
"Biarin. Kalau dia berani macam-macam, gue laporin ke guru BK sekalian," ucap Amira berapi-api.
Dengan langkah mantap yang dipaksakan, Amira berjalan mendahului kedua temannya keluar kelas.
Namun, belum sampai lima langkah Amira menyusuri koridor menuju tangga kantin, langkahnya terhenti.
Di ujung koridor, berdiri tiga orang siswi kelas XII dengan seragam ketat dan make-up tipis yang terlihat mencolok.
Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang gadis cantik berambut lurus sebahu dengan tangan terlipat di dada.
Tatapan gadis itu setajam silet, menyorot langsung ke arah Amira.
"Jadi ini yang namanya Amira?" suara melengking nan angkuh itu memecah kesunyian koridor.
Sisca melangkah maju perlahan, diikuti dua dayangnya di sisi kanan dan kiri.
Amira menelan ludah susah payah, tapi ia memaksakan diri untuk berdiri tegak dengan dagu terangkat.
"Iya, itu aku. Ada perlu apa ya, Kak?" jawab Amira sesopan mungkin, berusaha tidak mencari masalah duluan.
Sisca berhenti tepat dua langkah di depan Amira.
Matanya memindai Amira dari ujung kepala sampai ujung sepatu dengan tatapan super meremehkan.
"Gue dengar lo anak baru dari kampung mana gitu, ya?" sindir Sisca dengan senyum miring.
Beberapa murid yang kebetulan lewat langsung menghentikan langkah mereka, membentuk kerumunan kecil untuk menonton drama gratis ini.
"Aku dari kota, Kak. Bukan dari kampung," koreksi Amira datar.
"Oh, ya? Terus kenapa kelakuan lo kampungan banget?" tembak Sisca langsung.
Bug.
Salah satu dayang Sisca sengaja menyenggol bahu Amira dengan kasar hingga gadis itu oleng sedikit ke belakang.
"Heh, lo pikir lo siapa berani deket-deket sama Alfian?!" bentak dayang berambut ikal di sebelah Sisca.
Amira menyeimbangkan tubuhnya, napasnya mulai sedikit memburu karena emosi.
"Aku nggak pernah deket-deket sama dia! Kalau kalian masalahin soal foto mobil itu, tanya aja langsung sama cowoknya!" balas Amira ngegas.
Kesabarannya yang setipis tisu mulai robek.
"Berani lo ngelawan gue?!" Sisca membelalakkan matanya, merasa harga dirinya sebagai senior diinjak-injak.
Sisca maju satu langkah, telunjuknya dengan berani menunjuk tepat ke dahi Amira.
"Denger ya, Cewek Gatel. Alfian itu cowok gue! Jangan harap lo bisa caper dan ngerusak hubungan kita!" ancam Sisca dengan suara melengking.
Amira menepis telunjuk Sisca dari wajahnya dengan kasar.
Sret!
"Cowok kakak? Bagus deh kalau gitu!" seru Amira tak kalah lantang.
"Tolong bilangin sama pacar kakak yang arogan itu, jangan suka maksa-maksa orang buat numpang di mobilnya kalau cuma bikin fitnah murahan kayak gini!"
Kerumunan murid yang menonton langsung terkesiap kaget mendengar keberanian siswi kelas XI itu.
Wajah Sisca memerah padam karena amarah dan rasa malu.
Tidak pernah ada junior yang berani membentaknya sekeras ini di depan umum.
"Dasar cewek nggak tahu diri!"
Sisca mengangkat tangan kanannya, bersiap melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Amira.
Amira refleks memejamkan mata, menunggu rasa panas menjalar di pipinya.
Namun, detik demi detik berlalu, tamparan itu tak kunjung mendarat.
Hanya terdengar suara napas kerumunan yang tertahan kaget.
Amira membuka sebelah matanya perlahan.
Tepat di hadapannya, sebuah tangan kekar beralaskan lengan kemeja seragam yang digulung, mencengkeram erat pergelangan tangan Sisca di udara.
Mata Amira membelalak lebar.
Aroma parfum mint maskulin itu lagi.
"Lo mau ngapain, Sisca?" suara bariton yang teramat dingin dan datar itu menghentikan waktu di koridor tersebut.
Alfian berdiri tegap di antara Amira dan Sisca.
Wajah cowok itu luar biasa keras, rahangnya terkatup rapat dengan otot yang menonjol menahan amarah.
Sisca yang tangannya masih dicengkeram, tampak terkejut bukan main.
"Al... Alfian? Kamu kok ngebela cewek ini sih?!" protes Sisca, wajahnya berubah memelas.
Alfian menghempaskan pergelangan tangan Sisca dengan kasar seolah membuang kotoran.
"Siapa yang ngebela?" suara Alfian terdengar seperti geraman tertahan.
Cowok itu menatap Sisca dengan pandangan super merendahkan yang sukses membuat nyali sang Ratu Cheerleader ciut seketika.
"Gue cuma muak lihat lo bikin keributan di sekolah sambil bawa-bawa nama gue," lanjut Alfian tanpa ampun.
"Tapi Fian, dia udah caper sama kamu! Dia berani numpang di mobil kamu, padahal aku aja pacar kamu belum pernah—"
"Tunggu," potong Alfian cepat, mengangkat sebelah tangannya.
Suasana koridor mendadak hening seketika.
Bahkan Rio yang baru saja datang berlari dari arah tangga langsung mengerem langkahnya melihat aura membunuh sahabatnya itu.
Alfian memiringkan kepalanya sedikit, menatap Sisca dengan senyuman miring yang sangat mematikan.
"Pacar gue?" ulang Alfian dengan nada penuh ejekan.
Mata hitam legamnya menyorot tajam ke arah gadis cheerleader itu.
"Sejak kapan gue pacaran sama lo, Sisca?"
Boom!
Pernyataan itu seolah menjatuhkan bom nuklir di tengah koridor SMA Dirgantara.
Bisik-bisik heboh langsung pecah di antara kerumunan murid yang menonton.
"Gila, jadi selama ini Kak Sisca cuma ngaku-ngaku dong?"
"Sumpah malu banget kalau jadi dia!"
Komentar-komentar pedas dari murid-murid lain mulai terdengar nyaring.
Wajah Sisca memucat pasi, bibirnya bergetar menahan tangis malu yang tak tertahankan.
"Ta... tapi kan kita sering jalan bareng tim basket dan cheerleader..." cicit Sisca berusaha membela diri, namun suaranya nyaris hilang ditelan keributan.
"Jalan bareng sebagai satu tim sekolah, bukan jalan berdua," ralat Alfian tegas dan kejam.
Alfian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, posturnya terlihat sangat mendominasi.
"Gue nggak pernah nembak lo, nggak pernah ngasih harapan ke lo, dan gue pastiin... gue nggak tertarik sama lo," final Alfian tanpa saringan.
Dayang-dayang Sisca langsung menunduk malu, sementara Sisca sendiri meneteskan air mata karena harga dirinya baru saja dihancurkan lebur oleh cowok yang ia puja-puja.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Sisca berbalik dan berlari kencang menerobos kerumunan murid sambil menangis histeris.
Dayang-dayangnya buru-buru menyusul di belakangnya.
Drama pelabrakan itu usai dengan ending yang sangat memalukan bagi sang pelaku.
"Bubar semuanya! Nggak ada yang perlu ditonton lagi!" usir Rio dengan suara keras, membantu menyingkirkan kerumunan murid yang masih kepo.
Perlahan, koridor itu kembali sepi, hanya menyisakan Amira, Alfian, dan Rio yang berdiri agak jauh.
Amira masih berdiri mematung di tempatnya.
Otaknya terlalu penuh untuk memproses kenyataan bahwa gosip besar di sekolah ini ternyata hanya isapan jempol belaka.
Jadi... dia nggak punya pacar? batin Amira tanpa sadar merasa sedikit lega.
Namun kelegaan itu buru-buru ia tepis saat Alfian berbalik menatapnya.
Tatapan tajam itu kini tertuju sepenuhnya pada Amira.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Alfian datar, meski ada sebersit nada khawatir yang sangat tipis di ujung kalimatnya.
Amira mengerjap, buru-buru merapikan kerah seragamnya yang sedikit berantakan.
"N-nggak apa-apa. Aku bisa urus sendiri kok, kamu nggak usah ikut campur," jawab Amira dengan gengsi yang kembali meroket.
Alfian mendengus pelan, senyum sinis kembali terukir di bibirnya.
"Bisa urus sendiri apanya? Tadi aja lo udah merem nunggu ditampar," sindir Alfian tepat sasaran.
Wajah Amira kembali memerah karena malu ketahuan.
"Ya kan aku reflek! Lagian ini semua salah kamu, tahu nggak?!" sungut Amira mulai nyerocos.
"Salah aku lagi?" Alfian menaikkan sebelah alisnya tak percaya.
"Iya! Coba aja kemarin kamu nggak maksa aku masuk mobil, foto sialan itu nggak bakal ada! Dan aku nggak bakal dilabrak sama cewek halu kamu itu!" omel Amira tanpa rem.
Alfian melangkah maju satu tindak.
Ia menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan wajah Amira yang sedang mendongak menantangnya.
"Gue udah tepati janji gue, kan?" bisik Alfian pelan, matanya menatap tepat ke dalam manik mata Amira.
Deg.
"Gue udah beresin rumor itu di depan semua orang. Sekarang, nggak bakal ada yang berani nyentuh lo karena mikir lo ada hubungannya sama gue," lanjut Alfian dengan suara berat yang menggetarkan.
Napas Amira tertahan.
Jarak mereka terlalu dekat, sangat tidak aman untuk jantungnya yang baru saja berolahraga lari maraton tadi.
"Satu lagi," tambah Alfian, tatapannya mendadak berubah sedikit lebih serius.
"Jangan pernah bawa-bawa nama 'Sky' itu lagi. Gue Alfian, dan mulai sekarang, lo berurusan sama gue sebagai Alfian, bukan bayangan masa lalu lo." tegas Alfian
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti sebuah deklarasi itu, Alfian kembali menegakkan tubuhnya.
Cowok itu berbalik dan berjalan santai menyusul Rio yang sudah menunggunya di ujung tangga.
Amira berdiri membeku di tengah koridor.
Kakinya terasa lemas seperti jeli.
Tangan kanannya perlahan naik, meremas ujung seragam di depan dadanya, tepat di mana jantungnya berdetak dengan gila-gilaan.
Berurusan sama dia sebagai Alfian?
Amira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Sial, kenapa cowok menyebalkan ini perlahan-lahan mulai menggeser posisi "Sky" di kepalanya?