Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Truth
Beberapa saat kemudian, di tengah kepekatan malam yang menyelimuti kawasan luar istana, Martha membawa Aragoto pergi secara diam-diam menuju rumah kecil mereka yang sederhana. Di dalam ruangan yang diterangi oleh temaram cahaya pelita, Goro telah menunggu dengan ekspresi wajah yang sarat akan kecemasan dan ketegangan.
Begitu pintu tertutup rapat, Martha dan Goro saling bertukar pandang sejenak, mengonfirmasi satu sama lain bahwa saat yang paling ditakuti sekaligus paling krusial ini sudah tidak bisa ditunda lagi. Mereka berdua lantas menoleh secara bersamaan, memandang lekat-lekat ke arah Aragoto yang berdiri terpaku dengan sisa-sisa air mata di pipinya.
Goro melangkah maju pelan, lalu menarik sebuah kursi kayu untuk Aragoto. "Duduklah, Nak," ucap Goro dengan suara berat yang terdengar bergetar. "Sudah waktunya bagimu untuk mengetahui kebenaran yang selama ini kami sembunyikan rapat-rapat."
Aragoto menatap kedua orang tua angkatnya itu dengan kebingungan yang teramat sangat. Napasnya masih terasa sesak akibat kejadian malam itu. "Kebenaran apa, Ayah, Ibu? Apa maksud dari semua ini?"
Martha duduk di sisi lain, menggenggam erat jemari Aragoto yang terasa dingin. Dengan nada suara yang sarat akan penyesalan dan kasih sayang yang mendalam, Martha mulai membuka rahasia besar tersebut.
"Aragoto... selama ini, kami selalu merawatmu dengan segenap cinta kasih yang kami miliki," ucap Martha terbata-bata. "Tapi... kami harus jujur kepadamu malam ini. Kami berdua bukanlah orang tua kandungmu."
Mendengar pengakuan itu, mata Aragoto membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang, seolah hantaman kenyataan baru saja meremukkan dadanya. "Bukan orang tua kandungku...? Lantas... siapa aku sebenarnya?"
Goro menghela napas panjang, mengambil alih penjelasan dengan tatapan mata yang menyiratkan beban sejarah kerajaan yang kelam. "Raja dan mendiang Ratu Hikari... merekalah orang tua aslimu yang sebenarnya, Aragoto."
Dunia seakan runtuh seketika di hadapan Aragoto. Kakinya lemas, kepalanya berdengung hebat. Informasi itu terlalu mustahil untuk dicerna oleh akal sehatnya. Putra mahkota? Anak dari raja dan ratu tiran yang dilayani dan dikawalnya setiap hari?
"I-itu tidak mungkin..." cicit Aragoto dengan suara tercekat, menggelengkan kepalanya panik. "Jangan bercanda, Ayah! Kalau aku anak mereka, lalu kenapa aku hidup sebagai pelayan rendahan di istana mereka sendiri?!"
"Karena hukum istana yang kejam, Nak," sambung Martha dengan air mata yang kembali menetes di pipinya. Ia merapatkan genggaman tangannya di tangan Aragoto. "Kau lahir sebagai bagian dari sepasang anak kembar yang terlarang oleh adat kerajaan. Hukum Hikari menyatakan bahwa anak kembar adalah pertanda malapetaka bagi takhta. Oleh karena itu, mendiang Ratu terpaksa memisahkan kalian sejak lahir."
Aragoto terpaku, seluruh tubuhnya membeku. Bayangan sosok Putri Miyura—ratu muda yang arogan namun bermanja-manja padanya—tiba-tiba melintas terang di dalam kepalanya.
"Dan Putri Miyura..." lanjut Martha dengan suara nyaris berbisik, "ia adalah saudara kembar kandungmu sendiri, Aragoto. Kalian mengalirkan darah yang sama dari rahim wanita yang sama."
Kenyataan itu menghantam pertahanan Aragoto bagaikan sambaran petir di siang bolong. Segala potongan teka-teki masa lalu, kedekatan aneh yang ia rasakan pada sang ratu, hingga rasa sakit luar biasa yang tak bertepi saat mendiang Ratu berpulang beberapa bulan lalu, mendadak menemukan jawabannya.
Martha menatap lekat-lekat manik mata Aragoto yang basah, lalu menjelaskan dengan suara yang sangat lembut. "Ingatkah kau saat Ratu meninggal dunia dan dadamu terasa begitu sesak seolah ada bagian jiwamu yang tercabut? Itu bukanlah kebetulan, Aragoto. Itu adalah ikatan darah. Ikatan batin yang mutlak antara seorang anak dan ibu kandungnya, meskipun akal sehatmu tidak pernah tahu siapa wanita itu."
Mendengar penjelasan tersebut, pertahanan terakhir Aragoto runtuh sepenuhnya. Ia tidak mampu lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Pemuda itu hanya bisa terdiam membisu, menundukkan kepalanya dalam-dalam menatap lantai kayu di bawahnya, membiarkan badai kepedihan, kebencian pada takdir, dan rasa bersalah atas pembunuhan yang baru saja dilakukannya menghancurkan sisa kewarasannya di hadapan orang tua angkatnya.
Martha menarik napas dalam-dalam, menatap sendu ke arah pemuda yang kini terpukul hebat di hadapannya. Dengan suara yang tercekat di tenggorokan, ia bersiap melontarkan kalimat berat.
"Aragoto... setelah kau mengetahui semua kenyataan ini, kau bebas untuk berhenti memanggil kami ibu dan ayah..." ucap Martha terbata-bata, mencoba memberikan kebebasan bagi identitas baru Aragoto sebagai seorang pangeran darah biru.
Namun, sebelum Martha sempat menyelesaikan kalimatnya, Aragoto langsung mendongakkan kepalanya. Ia memotong ucapan itu dengan gelengan perlahan yang tegas, sementara tatapan matanya menyiratkan luka dan ketegasan yang mendalam.
"Tidak, Ibu... Ayah..." potong Aragoto dengan suara parau namun mantap. "Jika Raja dan Ratu yang berdarah dingin itu tega membuangku sejak lahir, maka mereka sama sekali bukan orang tua ku. Orang tuaku adalah kalian berdua, orang-orang yang merawat dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang di saat mereka membuangku ke jalan."
Goro tertegun mendengarnya, sementara Martha kembali menitikkan air matanya karena terharu mendengar kesetiaan hati anak angkatnya itu. Aragoto menatap kedua orang tua angkatnya satu persatu, lalu menunduk hormat dengan tulus.
"Terima kasih, Ibu... Ayah," ucap Aragoto lirih, suaranya bergetar menahan tangis. "Terima kasih karena telah menjadi orang tua sejati bagiku selama ini."
Mendengar ucapan tulus tersebut, Martha menggeleng pelan, lalu meraih kembali tangan Aragoto untuk meluruskannya dengan sebuah fakta sejarah istana yang selama ini tertutup rapat.
"Aragoto... ada satu hal lagi yang harus kau ketahui agar kau tidak sepenuhnya membenci ibumu," ucap Martha dengan nada penuh iba. "Sebenarnya... pada mulanya, mendiang Ratu tidak pernah sudi membuangmu. Ia mencintaimu sebagaimana ia mencintai Miyura."
Aragoto mengangkat alisnya perlahan, menatap Martha dengan pandangan penuh tanya. "Lalu... kenapa aku dibuang ke panti asuhan istana dan dibesarkan sebagai pelayan?"
"Karena Raja," jawab Goro dengan rahang mengeras penuh kebencian masa lalu.
Martha melanjutkan penjelasan suaminya dengan suara gemetar. "Raja menghasut Ratu dengan dalih hukum kutukan anak kembar yang bisa meruntuhkan tahta Hikari. Ratu yang saat itu tertekan di bawah dominasi mutlak suaminya akhirnya termakan oleh hasutan itu, hingga dengan air mata darah ia terpaksa merelakanmu dipisahkan darinya. Tapi bukan berarti itu membenarkan perbuatan mereka... hanya saja, kebencianmu yang utuh seharusnya kau tujukan kepada raja yang keji itu, Aragoto."
Aragoto kembali terdiam, mencerna setiap kepingan masa lalu kelam keluarganya yang perlahan-lahan terkuak di hadapannya, menyisakan bara api baru di dalam dadanya.
Aragoto hanya terdiam seribu bahasa, menelaah setiap kata yang meluncur dari bibir Martha dan Goro. Kepalanya terasa berdengung hebat menampung beban sejarah keluarga yang begitu kelam. Jemarinya dengan erat menggenggam sebuah gelas piringan kecil di atas meja, memperhatikan pantulan bayangan dirinya sendiri di permukaan air yang ada di dalamnya, merenungkan betapa ironis jalan hidup yang harus ia tempuh sebagai bayangan dari saudari kembarnya sendiri.
.
.
.
.
Sementara itu, jauh dari tempat persembunyian yang sunyi tersebut, suasana megah dan kaku menyelimuti ruang utama Istana Hikari. Di bawah cahaya lampu gantung kristal yang berpendar terang, Putri Miyura duduk anggun di meja makan panjang berlapiskan taplak sutra, menikmati santapan malam bersama Sang Raja—ayah kandungnya sendiri yang telah termakan usia.
Tidak ada kehangatan keluarga di antara keduanya; yang ada hanyalah keheningan formal yang dipenuhi aroma anggur mahal dan hidangan daging panggang mewah, seolah kematian sang ratu beberapa bulan lalu tidak pernah meninggalkan celah kosong di meja makan tersebut.