Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Ke Camp

Mereka membiarkan Swanzi berteriak...

Aku terkejut dan berlari kearahnya,

Swanzi kesurupan Roh.

Tangan Raja Yuko meraih tanganku, menahanku mendekat.

"Biarkan...

Jangan di dekati"

" Tapi dia menyakiti dirinya sendiri" kataku.

"Itu caranya untuk tetap hidup" kata Raja Yuko.

"Tidak bisa" kataku menuju ke arah Swanzi.

Lalu seperti benda keras memukulku dari belakang.

Sakit...

Aku pingsan.

Kepalaku pusing, aku terbaring di lantai kereta.

Aku tidak tau dibawa kemana.

Kami berhenti di tengah hutan.

Suara burung berkicau.

Ini masih terlalu pagi, kulihat dari sela-sela tirai kereta embun pagi masih turun.

"Akghhh.... Tolong" kata suara diluar.

Kudengar pedang saling beradu.

Aku tidak ingin mati di kereta ini dengan keadaan tangan terikat.

Aku berusaha mencari apa saja yang bisa membuat ikatan tanganku lepas.

Aku ingat tusuk konde, kuhentakan sedikit kepalaku ke lantai kereta satu kali gagal.

Dua kali.

"Kamu tidak apa-apa" kata Raja Yuko yang masuk ke kereta membuka ikatanku dengan pedangnya.

Dalam hati apa yang tidak apa-apa.

Kepalaku terbentur dua kali.

dia menarik dan membawaku melompat keluar kereta.

banyak hal aneh pemandangan yang tidak aku duga.

Sulur dan akar-akar kayu menyerang pengawal...

di ujung sulur yang menjuntai dari atas pohon ada bunga2 yang menganga, berduri siap memangsa, aku berlari mengikuti langkah Raja Yuko.

"Disini mantramu tidak akan bisa digunakan" kata Raja Yuko.

Aku gemetaran berlari ikut.

Menghindar ketakutan berlari di belakang Raja Yuko.

Pedang-pedang pengawal yang tewas di rampas sulur-sulur itu untuk melawan.

kami berlari terlalu jauh.

Aku tidak tau kami dimana, akhirnya menemukan sungai kecil.

Hanya ada lima pengawal yang mengawal kami.

mereka terluka lalu aku merobek kain jubahku yang panjang untuk mengikat luka mereka.

Raja Yuko membasuh pedangnya di sungai dan mencuci wajahnya.

"Kita akan berjalan sepuluh kilometer lagi untuk sampai camp" kata salah satu pengawal yang melaporkan kepada Raja Yuko dengan menunjukan peta.

"Hutan ini berbahaya, kalian harus berhati-hati" kata Raja Yuko.

Tapi bukan menjelaskan kepada Pengawal dia mengatakan itu ke arahku.

Rasanya aku ingin pulang saja.

Kakiku sakit semua.

Aku berdiri melihat sekeliling hutan hijau yang lebat,

"Bagaimana nasib mereka tadi" tanyaku

"Kalau mereka selamat mereka akan menyusul" kata Raja Yuko.

"Kenapa kau bilang kalau mantraku tidak mempan disitu" tanyaku lagi sambil mengikuti berjalan kaki di belakangnya.

"Akan menghabiskan energi" katanya.

Aku berhenti melangkah, "Jadi itu alasannya, kenapa kau larang aku mencoba" kataku kesal.

"Stttssst..... " Raja Yuko dan pengawal terdiam di tempat.

Aku terdiam gemetaran.

Dari arah depan segerombol penyengat hutan.

Kulihat di depan kami sarang raksasa.

Kami pasti mati kali ini.

Hutan apa-apaan. Sekeliling banyak keladi raksasa. Pohon besar tinggi di depan dengan gerombolan lebah yang siap menyerang.

Otakku berpikir.

Lalu aku melentikan jariku menggunakan kekuatan pikiran sama seperti saat di mimpi aku menyerang Swanzi dengan bunga mawar.

Aku menebas daun keladi raksasa yang jaraknya sepuluh kaki dari kami, daun itu berterbangan dan mengalihkan pandangan lebah.

"Lariiiii" kataku berlari duluan menarik tangan Raja Yuko.

Kami semua lari ke arah lain secepatnya jantungku rasanya hampir copot.

**

"Minum dulu.. " kata Raja Yuko menawarkan aku air putih dari botol yang ada di pinggangnya. Aku meminum seteguk.

Kami berjalan dan berlari di hutan sekitar tiga kilometer belum tiba di camp.

Aku benar-benar kehausan Raja Yuko memotong dahan kayu sebagai tongkat membantuku berjalan.

Kulihat Seorang pengawal membawa dua pedang, "boleh kupinjam" kataku dengan sombong.

Ternyata Pedang itu sangat berat aku hampir tidak kuat mengangkatnya dengan lenganku yang kecil ini tidak kuat mengangkat pedang, tenagaku hampir habis berlarian.

Mereka melihatku menahan tawa..

Sangat mengesalkan.

Kulihat Raja Yuko memalingkan wajah tertawa.

"Kenapa kalian tertawa kalau tidak aku bantu pasti kalian tadi semua di sengat lebah" kataku kesal.

"Pegang ini saja" Raja Yuko menyerahkan Sebilah Pisau dari sakunya.

Pisau yang tajam.

Bagus juga tidak seberat yang tadi.

Hari sudah sangat sore hampir gelap.

Tanganku juga gemetaran lapar.

Seorang pengawal yang pergi sendirian kembali membawa buah markisa dari dalam hutan dan beberapa buah liar untuk kami makan.

Aku memakan buah itu kuseka dengan bajuku.

Pakaian ini sudah tidak ada bagus-bagusnya warna putihnya berubah jadi kumal, beberapa bagian sobek karena kayu dan memang kusobek untuk perban.

Ternyata kulihat tangan Raja Yuko terluka.

"Sini aku Perban" kataku.

"Tidak perlu" dia menolak.

Tapi tetap kutarik lengannya lalu aku sobek lagi kain jubahku untuk mengikat.

"Ini akan menahan pendarahannya, nanti setibanya di camp kita obati" kataku.

Lalu aku duduk menjauh, duduk di sebuah batu.

**

Empat kilometer lagi, berjalan aku sudah sangat lelah.

di perjalanan ada hujan yang lebat, kami semua basah kuyup.

Aku juga kedinginan.

Seandainya aku bisa berpindah tempat ke tempat yang dituju.

"Kita beristirahat" kata Raja Yuko.

Kami duduk di bawah pepohonan.

Pengawal mengumpulkan sedikit ranting untuk menyalakan api.

"Jangan berjauhan, kita harus waspada" kata Raja Yuko.

setengah jam kami duduk menghangatkan diri di perapian. Melingkar karena dingin..

Tiba-tiba muncul bayangan hitam tangan-tangan itu muncul dengan cepat mencengkram salah seorang pengawal. Dia berusaha melawan tapi tebasan pendangnya tidak menemukan bentuk.

Aku berdiri memutar jariku membaca mantra memikirkan ruang yang tepat untuk berpindah.

" Pegang akuuuuu" teriakku, kami berpegangan.

**

Kami berada di ruangan kamar tidur, dengan cat berwarna putih.

Aku, Raja Yuko dan empat pengawal yang masih kebingungan.

Diluar Hujan Deras.

"Jangan bersuara, ini kamarku. Kita Aman" ucapku.

Aku bersama lima pria ini.

Aku membongkar laci dan mengambil obat serta salep.

Aku tidak membuka lemari pakaianku.

Disitu ada buku tua.

Aku ambil piyamaku yang menggantung, menyempatkan mandi dan berganti baju.

Aku meminta mereka tetap di kamar mengoleskan setelah mereka mandi.

sementara itu, Aku keluar turun ke Dapur.

**

Aku meminta banyak masakan dan makanan di masukan ke box termasuk roti dan buah-buahan.

Aku juga minta mereka bilang ke orang tuaku untuk mengatakan aku ikut kegiatan amal ke luar negeri memberikan bantuan bencana.

Aku masuk kamar.

Mengobati luka.

Makanan yang sudah di persiapkan aku minta diantar ke depan kamar.

Pelayan sempat bertanya.

"Kenapa tidak di simpan di bawah saja nona?"

"Nanti aku akan lupa menghitung bahan makanan yang kurang, bawakan saja di depan kamar" kataku.

aku melakukan ini semua demi mereka ini, tamu-tamu dari Dunia Zink.

Makanan sudah siap, luka mereka sudah kuobati dengan obat-obat luka, kuminta meminum obat nyeri semoga saja mempan untuk mereka yang berbeda dunia harusnya mempan. Kuminum vitamin dan kumasukan ke dalam tas.

Agar aku tidak buang-buang energi merapal mantra.

Untung mereka penurut dan mau-mau saja.

"Apa ini semua? " tanya Raja Yuko melihat bungkusan makanan yang banyak.

Dan aku membawa tas besar berserta selimut tebal.

"Makan sekarang rotinya" kataku memerintah.

Mereka semua patuh makan roti dan minum air.

"Kalau sudah selesai.

Pikirkan Camp" ucapku pada Raja Yuko.

Mereka selesai makan, diluar masih hujan lebat dengan gemuruh menggelegar.

"Kita berangkat" kataku.

**

Kami tiba di sebuah lapangan kosong.

Bangunan Kayu, di depan tertutup rapat.

Obor sudah menyala dan kami semua tetap waspada.

Kenapa harus repot di lapangan kenapa tidak langsung masuk pikirku.

"Aku tau yang kau pikirkan, aku menentukan tempat ini siapa tau di dalam sudah di serang" kata Raja Yuko yang membaca pikiran kesalku.

Aku hanya menoleh cemberut dan menarik napas, menghembuskannya kasar karena kesal.

Pengawal berjalan mengetuk gerbang.

Tanah tandus.

Dua pengawal membawa makanan bekal.

Kami masuk ke bangunan kayu tersebut.

sempatku lihat sebuah kereta ketika masuk di samping bangunan.

Kereta yang kukenal kugunakan tadi rupanya ada yang selamat.

**

Di dalam ruangan hanya kami berdua,

"Kenapa kamu tidak melakukan itu dari tadi" kata Raja Yuko memandangku marah.

Bisa-bisanya marah sudah di selamatkan.

"Dengar, kamu melarangku kembali. Jangan menggunakan kekuatanku mana bisa aku berpikir" kataku.

"Apa kamu tidak bisa berpindah tempat ketempat yang kita pikirkan selain rumahmu"

"Raja Yuko yang bijaksana, aku ini punya kekuatan yang terbatas, kalau aku bisa begitu dari tadi saja aku sudah bertanya kita ke istana saja" kataku, lagi pula aku juga mendadak tau aku ada kekuatan lain selain menjadi manusia biasa.

"Buat apa repot-repot kesini" ucapku kesal.

"Baginda... " Swanzi datang dan pelayannya.

"Kalian selamat Swanzi" tanya Raja mendekati Swanzi terlihat senang kehadiran Swanzi.

"Kami selamat.. Ini pakaian Mayanza yang tertinggal di kereta" kata Swanzi.

Rupanya dia yang membawa kereta itu.

Menatap aku yang menggunakan piyama lengan panjang, busana berbeda dengan jubah-jubah yang sangat tidak simple di otakku.

"Terima kasih, akan kupakai nanti" ucapku meletakan bungkusan pakaian di sampingku dan duduk di lantai aku sudah merasa kecapekan. Rasanya paling nyaman adalah berbaring.

Swanzi menatap dingin ke arahku.

Pinggangku sakit sekali.

Aku bersandar,

Raja Yuko dan Swanzi di ikuti oleh pelayannya keluar kamar.Kubiarkan mereka bicara apa di luar dengan Raja Yuko, rasanya hari ini sangat melelahkan.

Berlari, hampir mati di karena sulur monster dan pedang di kejar lebah, monster hitam terlalu banyak kejutan.

**

Kutatap tumpukan box, tersisa buah apel dan anggur selebihnya makanan dalam box habis semalam.

Mereka membagikannya dengan penghuni yang ada di camp.

Wilayah camp ini lebih besar dari tempat sebelumnya.

Bangunan dari kayu berdiri tegak di bawah pagar benteng kayu yang tinggi.

Tentara lebih banyak.

Ada beberapa tentara duduk berjaga di menara.

Semuanya terlihat lelah, lapar dan tenaga habis terkuras melawan mahluk yang tidak jelas wujudnya.

Semalam aku tertidur, kepalaku berbantal bungkusan pakaian aku tidak tau siapa yang menyelimutiku tadi malam, kemarin hari yang melelahkan.

Yang jelas aku lebih nyaman tidur dengan piyama sutraku. Dan Tas Bekalku di samping.

"Sudah bangun? " kata Raja Yuko yang menemuiku di beranda kamar.

Kakiku menjuntai kebawah, lebam mungkin terantuk sesuatu di hutan, tadi sudah kugosok salep untuk meredakan nyeri.

Aku tidak menjawab, melihatnya sudah berganti dengan pakaian jubah berwarna hitam dengan pedang di pinggangnya.

Matahari yang bersinar, menerangi sekitar, pemandangan yang tandus, tanah kering berdebu tertiup angin pagi seperti tidak pernah hujan.

"Swanzi mana? " tanyaku.

"Masih tidur" jawabnya.

"Oh... Aku ingin bertanya kalau kau tidak keberatan, Apa hubunganmu dengan Swanzi? "

Raja Yuko menatap mataku.

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜..

𝙼𝚎𝚗𝚞𝚛𝚞𝚝 𝚔𝚊𝚕𝚒𝚊𝚗 𝚊𝚙𝚊 𝚑𝚞𝚋𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚁𝚊𝚓𝚊 𝚈𝚞𝚔𝚘 𝚍𝚊𝚗 𝚂𝚠𝚊𝚗𝚣𝚒????

𝚃𝚞𝚕𝚒𝚜 𝚍𝚒 𝚔𝚘𝚕𝚘𝚖 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛 𝚢𝚊..

𝙱𝚎𝚛𝚒 𝚊𝚔𝚞 𝚙𝚎𝚝𝚞𝚗𝚓𝚞𝚔😊

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!