Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. Melawan Mutiara Pedang
Udara di Arena Pertama pagi itu terasa lebih berat daripada biasanya, bukan karena banyaknya orang yang berdesakan di tribun sampai ke baris paling atas, bukan karena matahari yang bersinar terlalu terik di atas kepala, dan bukan juga karena tekanan dari para Tetua dan Pemimpin Sekte yang duduk di kursi tertinggi dengan wajah tanpa ekspresi, melainkan karena dua nama yang akan bertarung hari ini membawa beban yang terlalu besar untuk sebuah arena, satu nama adalah Nangong Yeon, Mutiara Pedang Klan Nangong, salah satu dari Tiga Bunga Kecantikan Jianghu yang sudah dijuluki jenius sejak usia dua belas tahun dan yang pedangnya dikatakan bisa memotong angin tanpa meninggalkan suara, dan nama kedua adalah Tang Hyun, Anak Racun Klan Tang, murid yang bahkan tiga bulan lalu masih dianggap tidak akan hidup sampai musim dingin dan yang sekarang sudah membuat separuh dunia murim membencinya dan separuh lainnya ketakutan setengah mati.
Tang Hyun berdiri di sisi timur arena, jubah ungu gelapnya sudah diganti dengan jubah baru yang tidak memiliki satu pun hiasan, karena dia tahu bahwa di pertarungan seperti ini, setiap benang tambahan bisa menjadi tempat musuh menyembunyikan jarum atau racun, dan di pinggangnya hanya ada tiga kantong kecil serta jarum panjang yang sudah dia asah selama semalaman sampai ujungnya bisa membelah rambut.
Di seberangnya, Nangong Yeon berdiri dengan anggun, mengenakan gaun biru muda yang berkibar tertiup angin gunung, rambutnya diikat dengan pita sutra putih, dan di tangannya ada pedang panjang bernama "Aliran Awan" yang bilahnya bening seperti air dan gagangnya diukir dengan gambar bunga peony, senjata yang sudah menumpahkan darah ratusan musuh tanpa pernah ternoda.
"Pertandingan dimulai!" teriak wasit, dan suaranya menggema ke seluruh Gunung Hua.
Detik berikutnya, Nangong Yeon menghilang.
Bukan menghilang secara harfiah, tetapi gerakannya terlalu cepat untuk diikuti oleh mata biasa, dan sebelum Tang Hyun sempat bernapas, ujung pedang "Aliran Awan" sudah berada hanya satu inci dari tenggorokannya, membawa serta angin dingin yang membuat kulitnya merinding.
Tang Hyun berguling ke samping dengan insting, bukan dengan teknik, dan pedang itu menggores bahu kanannya, meninggalkan luka tipis yang langsung mengeluarkan darah, dan darah itu jatuh ke tanah dan membuat batu arena mendesis karena racun di dalamnya.
"Kau cepat," kata Nangong Yeon dengan senyum manis, seolah dia baru saja menyapa teman lama, "tapi tidak cukup cepat."
Dia kembali menyerang, dan kali ini bukan satu tebasan, melainkan rangkaian serangan yang disebut "Tarian Seribu Kelopak", sebuah teknik yang membuat pedangnya tampak seperti seribu kelopak bunga yang berjatuhan dari langit, indah, mematikan, dan tidak memberi celah sedikit pun.
Tang Hyun hanya bisa bertahan, dia tidak menyerang balik, karena dia tahu bahwa jika dia menyerang sembarangan, dia akan mati dalam tiga gerakan, sehingga dia menggunakan semua yang dia pelajari dari Tang So-yeon selama tiga hari terakhir, menghindari dengan langkah terkecil, memiringkan tubuh hanya beberapa senti, dan menggunakan kipasnya untuk menepis ujung pedang agar tidak mengenai titik vital.
Setiap kali pedang itu lewat, anginnya memotong jubahnya, dan setiap kali darahnya menetes, tanah di bawahnya menjadi hitam, membuat para penonton di baris depan menahan napas karena mereka baru pertama kali melihat seseorang bisa bertahan selama ini melawan Mutiara Pedang tanpa menggunakan senjata.
"Menarik," gumam Nangong Yeon setelah tiga puluh detik bertarung, "kau bukan hanya mengandalkan racun. Kau benar-benar berlatih."
"Aku tidak punya pilihan lain," jawab Tang Hyun pelan sambil terus bergerak, "kalau aku berhenti, aku akan mati."
Nangong Yeon tertawa kecil, "Kau terlalu jujur. tapi aku suka itu."
Dan kemudian auranya berubah.
Jika sebelumnya dia bertarung seperti menari, sekarang dia bertarung seperti badai, dan pedang "Aliran Awan" bersinar terang, dan dari bilahnya keluar Qi berwarna biru yang membentuk bentuk bunga peony besar di udara.
"Jurus pamungkas Klan Nangong: Mekar Seribu Peony," teriak seseorang dari tribun, dan semua orang tahu bahwa jurus ini bisa menghancurkan sebuah rumah dalam satu serangan.
Tang Hyun tahu dia tidak bisa menghindar, karena area serangannya terlalu luas, sehingga dia melakukan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan, dia menggigit lidahnya sampai berdarah, memukul dadanya sendiri dengan telapak tangan, dan menyemburkan darahnya ke depan, darah itu bercampur dengan Qi dan berubah menjadi kabut merah kehitaman yang berbau besi dan racun.
Kabut itu bertabrakan dengan "Mekar Seribu Peony", dan terjadi ledakan besar yang membuat seluruh arena bergetar, debu dan angin bertiup ke segala arah, dan ketika debu itu menghilang, orang-orang melihat Tang Hyun berlutut di tanah, mulutnya mengeluarkan darah, dan separuh jubahnya robek, sementara Nangong Yeon masih berdiri, tetapi gaunnya sedikit kusut dan ada garis hitam tipis di pipinya, tanda bahwa kabut racun Tang Hyun berhasil menyentuhnya.
Seluruh arena terdiam, karena ini adalah pertama kalinya seseorang membuat Nangong Yeon terluka, meskipun hanya sedikit.
"Kau..." Nangong Yeon menyentuh pipinya dan melihat jarinya yang ternoda hitam, lalu dia menatap Tang Hyun dengan mata yang sedikit menyipit, "kau berani melukaiku."
"Aku minta maaf," kata Tang Hyun dengan suara serak, "tapi aku tidak bisa kalah di sini."
Nangong Yeon menghela napas, lalu dia tersenyum, senyum yang benar-benar tulus untuk pertama kalinya hari itu, "Aku mengerti. Aku juga tidak bisa kalah di sini."
Dan dia menyerang lagi, kali ini tanpa menahan diri, kecepatannya dua kali lipat dari sebelumnya, dan setiap tebasannya membawa niat membunuh yang nyata, bukan lagi untuk menguji, tetapi untuk mengakhiri.
Tang Hyun hanya bisa bertahan selama sepuluh detik lagi, dan pada detik kesebelas, pedang Nangong Yeon berhasil menembus pertahanannya dan mengenai sisi perutnya, mendorongnya mundur dan membuatnya jatuh terlentang di tanah.
Darah mengalir deras dari lukanya, dan penglihatannya mulai kabur, dan dia bisa mendengar wasit berteriak, "Berhenti! Pemenangnya adalah--"
"Tunggu," suara pelan memotong, dan semua orang menoleh, ternyata itu Tang Hyun yang masih berusaha berdiri dengan satu tangan menekan lukanya.
"Aku... belum menyerah," katanya, dan dia mengeluarkan jarum terakhir dari lengan bajunya, jarum yang ujungnya sudah dia lumuri dengan racun terkuat yang dia miliki, racun yang bahkan dia sendiri belum pernah menggunakannya karena bisa membunuhnya juga.
Nangong Yeon menatapnya, dan alih-alih marah, dia justru tampak terkesan, "Kau benar-benar keras kepala."
"Karena aku sudah terlalu sering kalah," jawab Tang Hyun, dan dia melemparkan jarum itu dengan seluruh tenaga yang tersisa.
Jarum itu melesat lurus ke arah bahu Nangong Yeon, terlalu cepat untuk dihindari dari jarak sedekat ini, dan tepat ketika semua orang berpikir Mutiara Pedang akan terluka, Nangong Yeon menggerakkan pedangnya sedikit dan menepis jarum itu, tetapi ujung jarum berhasil menggores lengannya, meninggalkan goresan kecil yang langsung berwarna ungu.
Nangong Yeon menatap lukanya, lalu menatap Tang Hyun, dan dia menghela napas panjang.
"Aku menyerah," katanya tiba-tiba.
Seluruh arena meledak dalam kebingungan, "Apa? Menyerah? Kenapa?"
Nangong Yeon menunjuk goresan di lengannya, "Racun ini... jika dibiarkan, tanganku akan lumpuh selama sebulan. Dan turnamen ini masih panjang. Aku tidak bisa mengambil risiko."
Wasit terdiam, lalu dengan ragu dia mengangkat tangan Tang Hyun, "Pemenangnya... Tang Hyun dari Klan Tang!"
Keheningan selama tiga detik, lalu sorakan, teriakan, dan sumpah serapah meledak dari seluruh tribun, karena tidak ada yang percaya bahwa Mutiara Pedang baru saja kalah dari seorang murid Klan Tang.
Tang Hyun jatuh pingsan tepat setelah itu, karena dia sudah kehabisan darah dan tenaga, dan hal terakhir yang dia rasakan sebelum gelap adalah ada seseorang yang menggendongnya lagi, dan bau samar bunga plum yang familiar.
Ketika dia bangun, sudah malam, dan dia berada di kamar penginapan Klan Tang, dengan perban melilit perutnya dan botol-botol obat di meja samping tempat tidurnya.
Tang Ling duduk di kursi dekat pintu, hampir tertidur, dan begitu melihat Tang Hyun membuka mata, dia langsung melompat, "Kau sadar! Dewa, kau membuatku takut setengah mati!"
"Apa... apa yang terjadi?" tanya Tang Hyun dengan suara parau.
"Kau menang," kata Tang Ling sambil tersenyum lebar, "kau benar-benar mengalahkan Nangong Yeon. Sekarang seluruh Gunung Hua membicarakanmu. Ada yang bilang kau monster, ada yang bilang kau jenius, dan ada yang bilang Nona Tang So-yeon pasti sudah memberimu racun terlarang."
Tang Hyun menutup mata, "Aku... hampir mati."
"Tapi kau tidak mati," suara dingin terdengar dari sudut ruangan, dan Tang So-yeon berdiri di sana, bersandar di dinding dengan lengan disilangkan, "itu yang penting."
Tang Hyun mencoba duduk, tetapi sakit, sehingga dia menyerah dan hanya menatap Tang So-yeon, "Kenapa... kenapa Nona ada di sini?"
"Karena aku penasaran," jawab Tang So-yeon sambil berjalan mendekat, "aku ingin tahu bagaimana rasanya dikalahkan oleh racun. Ternyata rasanya tidak enak."
Tang Hyun terkejut, "Nona... juga bertarung dengan Nona Nangong?"
"Tidak," Tang So-yeon menggeleng, "aku hanya menonton. Dan aku melihat sesuatu yang menarik."
"Apa?"
"Kau tidak bertarung untuk menang," kata Tang So-yeon pelan, "kau bertarung agar tidak kehilangan. Itu berbeda."
Tang Hyun tidak tahu harus menjawab apa, karena itu benar, dia tidak peduli dengan kemenangan, dia hanya peduli agar tidak kembali menjadi orang yang tidak berdaya seperti Gu Cheol.
Tang So-yeon meletakkan sebuah kotak kecil di meja, "Ini obat dari Sekte Pengobatan. Mereka memberikannya sebagai permintaan maaf karena murid mereka mencoba membunuhmu. Minum tiga kali sehari."
Setelah itu dia berbalik dan hendak pergi, tetapi di pintu dia berhenti dan berkata tanpa menoleh, "Pertandingan semifinalmu adalah melawan Baek Seolhwa. Bersiaplah. Dia tidak akan memberimu kesempatan kedua."
Pintu tertutup, dan Tang Hyun terdiam, karena Baek Seolhwa adalah Bunga Salju Emei, wanita yang berdiri di puncak generasi muda, dan melawan dia berarti melawan tembok yang tidak bisa ditembus.
Tapi anehnya, Tang Hyun tidak takut, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada orang yang menunggunya di luar pintu, ada orang yang peduli apakah dia hidup atau mati, dan ada orang yang percaya bahwa dia bisa melangkah lebih jauh.
Malam itu, berita tentang kemenangannya menyebar ke seluruh Jianghu, dan di sebuah ruangan jauh di Sichuan, Tetua Ketiga tersenyum tipis ketika membaca laporan itu.
"Anak itu," gumamnya, "mungkin benar-benar bisa mengubah Klan Tang."
Dan di sebuah kamar lain, Nangong Yeon duduk sambil mengobati lengannya, dan dia terus memutar ulang wajah Tang Hyun yang penuh darah tetapi tetap berdiri.
"Menarik," gumamnya, "sangat menarik."
Babak semifinal akan dimulai dalam tiga hari, dan dunia murim menunggu untuk melihat apakah Anak Racun bisa menumbangkan Bunga Salju.