Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : Pertahanan Yang Runtuh
Hari Senin adalah hari yang sangat berat untuk dilewati. Dengan hoodie hitam milik Khafi yang beberapa minggu lalu dipinjamkan dan belum sempat dikembalikan, Kiara melangkah memasuki area sekolah.
Kacamata berbingkai bening terpasang manis di wajahnya, berusaha keras menyembunyikan matanya yang bengkak akibat menangis semalaman. Rambut panjangnya ia ikat kuda cukup tinggi, sementara poni tipisnya menutupi dahi.
Khafi—yang memang datang lebih pagi dari biasanya—tersentak kecil saat melihat sosok mungil itu berjalan melintasi pintu kelas. Pandangannya terkunci pada hoodie yang sangat ia kenali, namun, raut wajah gadis itu mengalihkan perhatiannya karena terlalu pucat. Meski bibirnya sudah dipoles lip gloss berwarna merah muda segar untuk menyamarkan warna aslinya, tubuh Kiara justru terlihat tenggelam dan lemas. Beberapa titik keringat dingin menetes di pelipisnya, seolah badannya sedang dipanggang dari dalam.
Kiara berusaha bersikap biasa saja saat mendekati tempat duduknya. Ia mengulas senyum manis saat menyapa Neona, walau senyuman itu tak sedikit pun mencapai matanya.
"Pagi, Ona," sapanya pelan.
"Pagi, Kiaa... Kok mukanya pucat banget? Pake kacamata lagi, tumben?" tanya Neona curiga, meneliti wajah sahabatnya dari dekat.
Kiara tertawa kecil, melambaikan tangan dengan gerakan yang dibuat serapi mungkin. "Kemarin habis marathon film sama Mama sampai subuh. Makanya mata gue agak sepet dan sembab gitu. Santai aja, Na."
Kiara memang luar biasa dalam hal mengelabui orang lain.
Suasana kelas yang mendadak hectic karena persiapan upacara membuat anak-anak lain tak terlalu menyadari perbedaan pada diri Kiara.
Ferdi yang menyadari hoodie yang dipakai Kiara langsung menyenggol lengan Khafi.
"Lho, Khaf... itu bukannya hoodie lo? Ning bisa ada di si Kia?" bisik Ferdi keheranan.
"Udah lama dipinjam," jawab Khafi seadanya. Tangannya sibuk memasang dasi seragam, tetapi ekor matanya terus mengawasi setiap pergerakan Kiara dari sudut kelas.
Tet! Tet! Tet!
Bel berbunyi nyaring. Kiara segera melepas hoodie milik Khafi dari tubuhnya, merapikan seragamnya yang agak basah oleh keringat, merapikan dasi, kacamata, serta topi upacaranya. Kali ini, ia sedikit mengambil jarak dari Neona. Padahal biasanya mereka berdua selalu bergandengan tangan tiap kali berjalan keluar kelas menuju lapangan.
Di lapangan upacara, karena tubuhnya terbilang mungil, seharusnya Kiara berbaris di barisan paling depan seperti biasa. Namun, kondisi tubuhnya yang benar-benar sedang buruk membuatnya beberapa kali menolak di pindah ke depan. Ia bahkan terlibat percekcokan kecil dengan Dinda yang biasanya berdiri tepat di belakangnya.
"Gue di sini aja, Din. Lagi males di depan," bisik Kiara dengan nada memohon.
Neona yang di sampingnya makin heran. Sementara itu, Khafi yang baru datang ke barisan cowok tidak langsung menuju ke belakang seperti biasanya. Ia justru melangkah tenang dan berdiri di barisan paling tepi, tepat di samping posisi Kiara.
Rian---sang Ketua Murid--- menyadari hal itu. "Kia, maju! Lo mungil, ketutupan Dinda nanti!" paksanya seraya akan menarik lengan Kiara..
"Apaan sih, yan! Gue mau di sini!" Kiara menghindar dari tarikan Rian sambil bersungut kesal, suaranya terdengar sangat parau.
Khafi melirik, lalu menimpali dengan nada menggodanya yang khas. "Udah nurut aja sama KM, Ell. Badan kek cebol gitu sok-sokan mau di belakang."
Kiara menoleh tajam, bersiap menyemprot Khafi. Namun, saat tatapan mereka beradu, Khafi justru tertegun. Di balik lensa kacamata bening itu, mata Kiara terlihat sangat merah, sayu, dan penuh rasa lelah yang amat sangat. Khafi bungkam seketika.
"Diem deh, tiang listrik dilarang berbicara." Kiara tetap menimpali walau kali ini sambil mengalihkan pandangan karena Khafi terlalu dalam menatapnya.
Upacara dimulai. Panas matahari pagi yang kian menyengat mulai membakar lapangan.
Awalnya upacara berjalan lancar. Namun masuk ke sesi amanat pembina upacara, tubuh Kiara mulai bergeliat gelisah. Deru napasnya terdengar makin keras dan memburu.
Beberapa teman di depan, belakang, dan sampingnya mulai berbisik khawatir karena tingkah Kiara yang sangat ketara untuk dilihat.
"Kia, nggak apa-apa?"
"Pucat banget, Ra. Mau ke belakang aja?"
Kiara hanya menggeleng patah-patah, memaksakan diri tetap bertahan. "Dikit lagi... sebentar lagi selesai," batinnya.
Namun pandangannya mendadak menggelap dengan kepala yang rasanya berputar hebat. Suara pembina upacara mendadak bergema makin jauh dan berdenging, hingga akhirnya—
Brak!
Tubuh mungil Kiara limbung dan ambruk ke samping.
"Kiara!"
Sebelum tubuh itu menghantam rumput, tangan Khafi dengan sangat cepat dan refleks menangkap pinggang dan bahunya. Saat kulit tangan Khafi bersentuhan dengan lengan Kiara, dan saat Neona panik menahan satu lengan sahabatnya, keduanya terperanjat hebat.
Panas tubuh Kiara sangat menyengat—seperti memegang besi panas.
Barisan upacara mendadak heboh dan ricuh seketika. "Ada yang pingsan! Ada yang pingsan!"
Guru pembina segera menenangkan barisan, sementara Khafi tanpa membuang waktu langsung menyusupkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Kiara. Ia mengangkat tubuh gadis itu dengan gaya bridal carry, lalu setengah berlari menerobos barisan menuju ruang UKS, diikuti beberapa anggota PMR dan Neona yang menyusul panik di belakangnya.
Langkah kaki Khafi berpacu cepat membelah koridor sekolah. Di dalam dekapannya, tubuh Kiara terasa makin panas membakar, seolah gadis itu sedang berada di dalam tungku. Kepala Kiara terkulai pasrah di pundak Khafi, napasnya memburu halus tapi tersendat.
"Ara... Kiara, bangun," panggil Khafi pelan, kepanikan mulai merayap di nada suaranya. "Gak usah bercanda, Ara. Buka mata lo."
Tidak ada jawaban. Jemari lentik Kiara yang biasanya galak menunjuk-nunjuk mukanya kini terkulai lemas tanpa tenaga.
Sesampainya di ruang UKS, Khafi langsung menerobos masuk dan membaringkan tubuh Kiara di atas brankar dibantu oleh dua anggota PMR dan Neona yang menyusul dengan napas terengah-engah.
Tanpa komando, tangan Khafi cekatan melepas topi upacara yang masih melekat di kepala Kiara. Jemarinya lalu beralih melepas kacamata berbingkai bening itu dengan sangat hati-hati, membiarkan raut wajah pucat Kiara terlihat seutuhnya.
Dengan napas yang tak beraturan, Khafi mengusap dahi Kiara pelan, merapikan poni tipisnya yang lepek oleh keringat dingin dan menghalangi dahi. Kulit gadis itu benar-benar menyengat.
"Ini kenapa panas banget, sih?!" cetus Khafi panik, suaranya naik satu oktav saat menatap anggota PMR yang sibuk menyiapkan alat. "Nggak ada dokter apa di sini?! Petugas kesehatannya mana?!"
"Sabar, Khaf! Dokter pembina lagi jalan ke sini," ujar salah satu anggota PMR yang mengenal Khafi mencoba menenangkan.
Anggota PMR itu dengan sigap melonggarkan kancing paling atas seragam Kiara agar jalur napasnya lebih lega, lalu membuka ikat pinggangnya, dan mengambil thermometer digital. Saat alat itu berbunyi bip, angka yang tertera membuat semua orang di ruangan itu menahan napas.
39,8°C.
"Tinggi banget demamnya..." gumam Neona panik, matanya berkaca-kaca melihat kondisi sahabatnya.
"Gue bilang juga apa! Lu pada ngapain aja dari tadi?!" Khafi makin emosi, rasa panik dan takut di dadanya berubah menjadi sifat defensif yang tak terkontrol.
"Khafi, mending lo keluar dulu deh. Kasih ruang biar udara masuk, ini ramai banget," tegur petugas PMR sambil menyiapkan kompres basah dan minyak kayu putih.
"Nggak. Gue tetap di sini," tolak Khafi kekeh. Ia berdiri kokoh di samping brankar, menolak bergeser walau cuma satu senti, matanya terkunci rapat menatap wajah lemah musuh abadinya yang kini tampak begitu rapuh.
"Kak, mohon keluar sebentar ya. Dokter pembina sudah datang, biar segera ditangani," tegas seorang anggota PMR yang lain saat seorang dokter perempuan paruh baya melangkah masuk membawa perlengkapan medis.
Khafi sempat ingin membantah, tapi tatapan tegas dokter itu membuatnya tak punya pilihan. Neona, yang sedari tadi menggenggam jemari dingin Kiara sambil mengusapnya lembut, akhirnya bangkit dengan mata berkaca-kaca. Mau tak mau, mereka berdua diluar ruangan, meninggalkan Kiara dalam penanganan medis.
Di luar ruang UKS, suasana lapangan yang baru saja usai melangsungkan upacara masih sedikit bising. Namun, Khafi dan Neona sama sekali tidak berniat kembali ke barisan kelas.
Neona bersandar di tembok dengan wajah tertunduk, isakan kecil lolos dari bibirnya. Sementara Khafi berdiri gelisah, meremas jemarinya sendiri dengan pikiran yang kalut luar biasa.
"Ini gara-gara Jum'at sore kemarin, kan?!" cetus Neona tiba-tiba, menatap Khafi dengan mata sembab penuh kekesalan. "Yang katanya kalian hujan di lapangan. Kenapa sih lo bikin dia hujanan?!" Gosip tersebut memang tersebar luas sampai saat ini.
Khafi bungkam. Untuk pertama kalinya, cowok yang biasanya selalu punya seribu alasan dan jawaban sinis itu hanya diam dituduh. Tenggorokannya terasa tercekat. Bayangan Kiara yang berjalan tanpa alas kaki di bawah guyuran hujan dan senyuman pucatnya pagi tadi terus berputar di kepalanya.
"Gue juga kesel sama Kia..." bisik Neona lagi, meluruhkan punggungnya di kursi panjang. "Kenapa dia nggak cerita apa-apa sama gue? Tadi pagi dia bilangnya cuma capek maraton film sama Mamanya... Kenapa harus bohong, sih?"
Khafi membuang muka, mengepalkan tangan di dalam saku celananya. Ia tahu alasan kebohongan itu—kebohongan manis yang juga dikirimkan Kiara ke WhatsApp Mamanya kemarin.
Pintu UKS akhirnya terbuka setelah terasa seperti ribuan tahun bagi mereka berdua. Dokter keluar dengan raut wajah serius. Khafi langsung melangkah maju tanpa ragu.
"Dok, gimana kondisinya?" sergap Khafi cepat.
"Suhu tubuhnya mencapai 40°C dan badannya sangat lemas. Dari pemeriksaan, pasien mengalami dehidrasi berat dan sepertinya sejak kemarin tidak ada asupan makanan yang masuk sama sekali," jelas Dokter tegas. "Kondisinya memburuk, kita harus segera merujuknya ke Rumah Sakit untuk penanganan emergency dan pemasangan infus. Bisa dibantu hubungi orangtuanya?"
Neona langsung panik. Ia buru-buru merogoh saku rok sekolahnya untuk mengambil ponsel sahabatnya yang saat pingsan tadi terlempar keluar. Ia mencoba menghubungi nomor Mama Kiara.
Nada sambung berdering... lalu terputus.
Panggilan dialihkan.
"Nggak diangkat, Dok! Sibuk terus!" ucap Neona dengan panik.
Tanpa berpikir panjang, Khafi mengeluarkan ponselnya sendiri dan mendial satu-satunya nomor yang bisa ia andalkan dalam situasi seperti ini: Mamanya.
Begitu telepon tersambung dan Khafi menceritakan kondisi Kiara yang akan dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi dan pingsan, suara Mamanya di seberang telepon panik bukan main.
"Apa?! Ya Allah, Ara pingsan?! Rumah sakit mana, Khaf?! Mama langsung jalan sekarang, kamu kirim lokasinya!" cetus Mamanya penuh kecemasan sebelum mematikan telepon.
Petugas sekolah dibantu anggota PMR bergerak cepat meluncurkan brankar Kiara keluar dari UKS menuju area parkiran. Sekolah memutuskan membawa Kiara menggunakan mobil operasional sekolah karena ambulans butuh waktu untuk datang.
Saat brankar itu didorong melewati koridor, Khafi melihat sendiri bagaimana kacaunya kondisi Kiara. Wajah mungil itu kini begitu pucat pasi, bibirnya kering pecah-pecah, dan matanya terpejam rapat dengan kening yang sesekali berkerut menahan sakit.
Khafi dan Neona berlari kecil menyusul hingga ke samping mobil. Saat Khafi hendak menerobos masuk ke dalam mobil, langkah mereka ditahan oleh Bu Dewi selaku Wali Kelas mereka yang baru saja tiba.
"Khafi, Neona, kalian tetap di sekolah. Biar Ibu dan petugas PMR yang mendampingi ke Rumah Sakit. Kalian harus balik ke kelas," tahan Bu Dewi tegas.
"Tapi, Bu—" potong Khafi, tatapannya memohon.
"Nanti orang tua Kiara dan Mama kamu yang menyusul ke sana, Khafi. Masuk kelas sekarang."
Pintu mobil ELF sekolah ditutup rapat. Khafi dan Neona hanya bisa berdiri mematung di pinggir parkiran, menatap mobil putih itu melaju cepat meninggalkan gerbang sekolah membawa tubuh lemah Kiara.
Beberapa murid yang melintas di area parkiran menyempatkan diri melirik dengan berbisik-bisik. Momen pingsannya Kiara dan bagaimana Khafi membawanya tadi menjadi pusat perhatian satu sekolah.
Ketika Khafi dan Neona berjalan kembali ke kelas dengan langkah berat, suasana kelas XI IPS 2 yang tadinya bising dan riuh seketika menghening. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
"Gimana kondisi Kia, La?"
"Katanya dibawa ke RS ya?"
"Kena demam berdarah apa gimana?"
Pertanyaan-pertanyaan itu bersahutan. Neona tak sanggup menjawab dan langsung duduk di kursinya, membenamkan wajah di atas lipatan tangan sambil menangis sesenggukan, murid perempuan yang lain langsung menghampiri dan menenangkannya.
Sementara Khafi berjalan kaku menuju bangkunya di belakang, mengabaikan tatapan berbagai macam dari Pandu, Kevin, dan Ferdi.
Guru mata pelajaran pertama masuk tak lama kemudian untuk menenangkan situasi kelas dan memulai pelajaran, namun pikiran Khafi sudah tidak berada di ruangan itu lagi. Ia menatap kosong ke arah bangku kosong di depan kelas—tempat seorang gadis mungil yang biasanya selalu berdebat dengannya kini terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.