Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 Perubahan kecil
Lian Yue termenung menatap keluar jendela, pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan. Jauh dalam hatinya, ia tak mengira masa lalu dari tubuh ini begitu rumit.
Helaan napas berat terdengar sesekali. Tapi Lian Yue sadar, dirinya tak bisa diam saja seperti itu hanya memikirkan hal-hal yang tak pasti. Maka dengan langkah kaki yang sedikit di paksakan, ia kembali mengambil keranjang bambu dan cangkulnya.
"Baiklah, helaan napas dan terus berpikir tidak akan memberikan jalan keluar yang nyata." ujarnya, lalu dengan langkah mantap ia kembali menyusuri jalan setapak menuju gunung.
Tanah di ladang sudah mulai perlahan pulih, meski lambat. Jadi, disela waktu senggangnya Lian Yue kembali berniat menyusuri gunung. Selain mencari tahu tentang batu merah yang masih menjadi misteri, Lian Yue pun berharap menemukan sesuatu yang berharga yang bisa di tukar dengan beberapa real perak.
Namun, saat langkah kakinya semakin dekat ke gunung. Dari kejauhan suara seorang pria memanggil-manggilnya.
"Istriku! Istriku!"
Han Zheng terlihat berlari mengejar Lian Yue, membawa keranjang bambu dengan sebuah topi jemari.
"Kenapa tidak memberitahuku jika kamu ingin ke pergi ke gunung?" tanya Han Zheng. "Ini, kamu melupakan topimu.."
Han Zheng memasangkan topi jerami itu di kepala Lian Yue, lalu menggandeng tangannya dan kembali berjalan. Selama perjalanan, mereka mengobrol ringan dengan dikelilingi tawa kecil saat beberapa kali Han Zheng melontarkan jawaban yang lucu dengan raut wajah datarnya.
Lian Yue menyadari sedikit perubahan pada Han Zheng, pria itu entah mengapa hari ini begitu cerewet dengan caranya sendiri.
Lian Yue berpikir, mungkin perubahan kecil pada suaminya itu terjadi setelah malam itu. Dimana Lian Yue pergi diam-diam menemui sosok dibalik datangnya utusan dari keluarga Xian.
Butuh sekitar 1 hari untuknya kembali ke keluarga Han, dan itu membuat ayah dan Ibu mertuanya tampak khawatir. Lian Yue tak mengira akan membutuhkan waktu selama itu, ia berangkat saat malam hari dan tiba saat sore hari.
Tapi meski ia sudah menemui orang itu, yang ia dapat hanya secara surat tak jelas dan hanya memperparah kebingungannya.
"Istriku, hari ini kita tidak ke timur?" tanya Han Zheng.
Lian Yue menggelengkan kepalanya, "Tidak, kita coba ke hutan di sebelah barat. Gunung timur sudah sering dan lagi banyak kejadian aneh disana. Kita coba ke barat..."
Han Zheng hanya mengangguk dan mengekor kemana pun Lian Yue pergi.
Sedangkan di atas sana, beberapa burung terbang rendah sambil berkicau.
[Manusia aneh, disebelah sana ada banyak buah beri yang manis dan asam.]
[Manusia suka memakan buah itu, kami juga.]
Lian Yue tersenyum kecil mendengar suara-suara burung kecil itu, lalu dengan informasi kecil dari para burung, Lian Yue menemukan rumpun pohon beri liar. Warnanya keunguan dan berbuah cukup lebat.
"Oh, ini buah asam... Istriku, kamu yakin mau memetiknya?" tanya Han Zheng.
Lian Yue mengangguk, "Tentu saja, ini manis.. dibuat jadi campuran roti juga enak, rotinya jadi tampak lebih cantik." ujar Lian Yue.
Han Zheng tampak ragu, tapi ia tetap memetik buah itu. Baru saja beberapa buah masuk ke keranjang bambunya, Lian Yue berseru membuatnya terkejut.
"Astaga, suamiku!" seru Lian Yue. Ia merebut keranjang Han Zheng dan menatap isinya, lalu beralih menatap pria besar itu dengan tatapan tak percaya.
"Apa yang kamu petik ini?" tanya Lian Yue. "Kemari, coba ini..." ujar Lian Yue seraya menyodorkan buah beri yang baru saja Han Zheng petik.
"Tapi..." Han Zheng hendak menolak, tapi saat melihat wajah Lian Yue yang tersenyum cantik juga tangannya yang bersiap hendak menyuapinya, Han Zheng menjadi menurut saja.
Rasa sepat dan asam langsung terasa begitu giginya menggigit buah beri yang baru saja di suapi oleh Lian Yue.
"Bagaimana?" tanya Lian Yue.
"Asam..." sahut Han Zheng dengan raut wajah mengkerut menahan rasa asam dan sepat.
Lian Yue tertawa kecil, "Lalu kenapa kamu memetik buah beri yang seperti ini? Ini masih mentah..."
Han Zheng menatap buah di keranjangnya lalu beralih menatap buah beri yang ada di keranjang Lian Yue. Warnanya berbeda.
Buah di keranjangnya berwarna orange dengan sedikit semburat kemerahan, tapi buah beri di keranjang istrinya berwarna keunguan.
Han Zheng tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
semangaat thor
atau mungkin masih terpendam😌😌🤔🤔
di otak saya🤣🤣
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔