Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghukum Arkan
Riswan tak suka keributan dengan sikap Arkan terlalu tertekan. Lagi pula apa yang terjadi dengan Arkan, sampai Arkan tak suka dengan semua orang.
Riswan masuk kedalam ruangan pasien, sedangkan Arkan hanya menunggu di luar. Ditengah ramai pengunjung, Arkan mengingat sesuatu.
"Astaghfirullah al-aziim, kenapa saya meninggalkan Riana. Tapi benarkah ia sangat baik-baik saja," batin Arkan, mendadak panik padahal Istrinya tengah sakit.
Melihat penampilan Arkan yang dibuat panik, Dokter Fahri pasti mengira jika Arkan hanya memperdulikan wanita tersebut. Sudah yakin filing Dokter Fahri, namun tetap saja Arkan tak menyukai sikap Dokter Fahri.
"Ngapain loh liat saya segala. Loh iri kan karena ga ada yang loh harapkan," ujar Arkan ia ingin pergi namun lirikan Fahri menyorot tajam seolah akan memberi peringatan.
"Hmmm... Harapkan bagaimana? Yang ku harapkan sudah ada di depan mata, mau bersaing dengan gue, Pak Arkan?" jawab Dokter Fahri ia tidak ingin membuat Arkan mati sengsara karena sifatnya melebihi batas.
Dokter Fahri sengaja meraih ponselnya, dan ia akan merekam suara Arkan. Karena Dokter Fahri sudah bekerja sama dengan Riswan. Selama ini, Arkan tak mencintai istrinya, ada simpanan yang membuat Arkan tergila-gila padanya.
"Maksudmu, apa?" Jangan kamu bilang itu semua karena Hanum, istri ku. Sialan Dokter stress," bentak Arkan, menghina Dokter Fahri sampai ingin mencekik namun di tepis begitu saja.
"Istri?"Kalau kamu suami hebat, kamu ga akan pernah menduakan cinta sejati yang dimiliki istrimu. Cepat atau lambat, kedudukan mu akan jatuh, Arkan," tukas Dokter Fahri ia menunjuk diri dan ingin menghancurkan apa yang selama ini ia libatkan pada istrinya.
Tidak terima, Dokter Fahri sampai di tarik oleh Arkan. Sudah kepanasan, menyebut jika Arkan menduakan istri. Darimana ia tahu? Atau Riswan yang ingin Arkan sudahi sebagai anaknya.
Kegaduhan membuat aparat melihat kejadian antara Arkan dan Dokter Fahri. Padahal, Dokter Fahri ingin bergurau saja dengan Arkan. Namun sayang, Arkan sudah terbawa emosi ingin menghabisi nyawa dokter Fahri.
Ditarik ke tempat lebih sunyi, reaksi Arkan setelah mengetahui jika Dokter Fahri ingin bersama dengan istrinya. Lagi pula, omongan itu membuatnya semakin menyala.
Bughhhh
Bughhhh
Pukulan keras menghantam dada Dokter Fahri, Arkan kehilangan kesabaran. Bersanding dengan orang salah, jika selama ini Riswan yang sudah mengarahkan jika Dokter Fahri di tugaskan untuk menyelidiki Arkan.
Memang jabatan Fahri sudah bekerja menjadi sosok Dokter. Fahri mengantikan sahabatnya yang tengah sakit ginjal. Maka dari itu ialah pengganti sahabatnya.
Namun Arkan tak mengetahui bahwa Riswan sudah bekerja sama dengan Fahri.
Satpam yang ingin ke toilet, tiba-tiba saja mendengar suara keributan dari belakang taman. Melihat penampilan bagus, dan ia melihat Dokter Fahri sedang di masa oleh seseorang.
Satpam yang tak mengenali sosok pria tersebut, tapi ia baru saja bertemu dengan Riswan di halaman parkir mobil.
Satpam secepatnya pergi, agar tak ada kasus menyebar luas.
....
Di kediaman ruangan Pasien, mereka saling berbagi. Tak hanya itu, jika Chandra akan diangkat menjadi anak baik di dalam rumah tersebut. Dan Pemuda itu akan diangkat menjadi aspri Arkan.
Apakah Arkan akan menerima ini semua, tapi ia sudah tidak cocok dengan semua sikap Riswan.
"Kakek, tapi saya tidak ingin membuat Kakek kecewa, saya anak tak suka berbaur. Di tolong Kak Hanum saja, Chandra sudah senang," ucap Chandra sambil tersenyum menatap semua yang menganggap anak tersebut ada.
"Tapi Kakek sangat bersyukur dan terimakasih sama kalian berdua. Kalian sudah bawa menantu saya kesini. Ambilah hadiah itu sebagai rasa syukur kami, Chandra dan Yusuf."
Keduanya sepakat untuk memberikan yang terbaik, lagi pula Anak laki-laki dan pemuda merasa dihargai. Jika selama ini, ia tak mungkin berhak memiliki rasa suka kepada Hanum.
"Terimakasih banyak, Om. Saya akan memberikan contoh baik agar tak mengecewakan orang rumah, Om."
Riswan tanpa berkata-kata langsung memeluk tubuh kedua orang yang telah menyelamatkan nyawa menantu. Sedangkan satpam terus mencari ruangan Hanum.
Hingga akhirnya dapat, Satpam yang gegabah, sulit mengontrol emosi namun ditahan langsung oleh Yusuf.
"Maaf semuanya sudah menganggu, saya ingin menyampaikan berita____," ucapan itu terpotong saat Riswan filing jika Arkan membuat kegaduhan dengan orang lain.
Menarik tangan satpam, Yusuf juga mengikutinya dari belakang. Perasaan was-was Fatimah, tapi ia tak mungkin berbicara langsung dengan Hanum. Takut jika mengenai dengan kesehatan Hanum.
"Ma, apa yang terjadi dengan Pak satpam itu, Ma. Kenapa berhenti mengatakan nya," seluk Hanum, ia kembali bergetar hatinya saat ada kejadian menimpa suaminya.
"Sayang, tidak apa-apa!" Sekarang kamu tenang, ada Mama juga Chandra."
Firasat tak enak lewat dihati Hanum, merasa jika Suami ada sesuatu disana. Tapi, kenapa semua diam seolah tak terjadi apapun.
Satpam yang bersikap lebih terbuka, kini menghantarkan Riswan ke tempat dimana anaknya sedang mencari keributan dengan Dokter Fahri.
"Itu disana, Pak!"Maaf sudah lancang masuk dimana ada menantu, Pak Riswan tengah sakit," ucap Pak satpam dengan takut, jantung rasanya mau copot. Sementara Yusuf menenangkan hati Pak satpam.
Tanpa menunggu jawaban, Riswan tengah mengamuk saat melihat Fahri tengah bonyok. Riswan akan memberi hukuman kepada Arkan. Sudah membuat malu di seluruh RS milik Hanum.
Apakah Riswan langsung memberikan informasi akurat, siapa yang akan menduduki posisi sebagai CEO? Tapi Riswan ingin memberikan kesempatan kedua untuk Arkan, agar Arkan memperbaiki kesalahannya.
Riswan tengah menampar pipi Arkan, tidak peduli jika disana ada Dokter Fahri. Dokter Fahri juga tengah kesakitan, semua wajahnya habis bonyok. Memar dan luka yang dalam akibat pukulan keras menghantam pada wajah.
Plak!!
Plak!!
"Pukul saja, Arkan, Pa. Papa sebenarnya bela, Arkan atau dia," sambil menunjuk-nunjuk Dokter Fahri sebagai alasan, karena Dokter Fahri sudah memancing amarah Arkan.
"Kamu buat Papa malu, Ar. Sekarang kamu berhenti dari pekerjaan kamu, ini yang Papa dapatkan."
Arkan lemas mendengarkan ucapan Riswan, Arkan duduk sambil bersujud di kaki Riswan. Arkan yang bahkan akan menjadi lebih menakutkan, lagi pula pembalasan dendam kepada Dokter tersebut belum terselesaikan.
Yusuf yang takut akan kemarahan Riswan, padahal ia sudah ditugaskan menjadi aspri Arkan. Dengan rasa takut, tapi segala kekuatan maupun keberanian, Yusuf akan memberi presentasi yang memuaskan dari hasil tangan ia sendiri.
Amanah adalah hal paling sulit yang harus kita jaga, terkadang manusia mampu menjanjikan tanpa tahu apa penyebabnya.
Riswan tak sudi dengan sikap Arkan, ia meninggalkan Arkan seorang diri. Satpam membantu Fahri untuk mendapatkan perawatan. Namun Fahri juga merasa takut dengan ancaman maut Arkan.
....
Riana dan Ibunya mulai beraksi, niatnya yang ingin mengambil barang mewah malah ketahuan oleh penjaga satpam yang baru saja menjenguk kelurga sakit.