Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Reyku

Empat hari kemudian, Keira mengubah nama kontak Reynard di ponselnya.

Nama lama itu hanya Rey, dibuat bertahun-tahun lalu ketika nomor tersebut pertama kali diberikan Vanessa. Keira menghapus tiga huruf sederhana itu dan mengetik nama baru.

Reyku.

Ia menatap hasilnya hampir satu menit sebelum mengirim tangkapan layar kepada pemilik nama, disertai emoji yang menutupi wajah.

Tiga detik kemudian, pintu unit 8B terbuka keras.

Reynard berlari dari seberang tanpa sandal. "Ci Kei!"

"Pelan! Tetangga bisa dengar."

Ia tidak peduli. Reynard mengangkat Keira dari lantai dan memeluknya erat sampai perempuan itu harus menepuk bahunya.

"Turunkan aku."

"Nggak mau."

"Cuma nama kontak."

"Reyku," ulang Reynard dengan senyum bodoh. "Ada kata ku."

"Kalau kamu terus lebay, aku ganti jadi Anak Berisik."

Reynard segera menurunkannya, tetapi tetap melingkarkan tangan di pinggang. "Nggak boleh. Sudah resmi."

Keira pura-pura kesal. Sebenarnya ia sudah menahan malu sejak menekan tombol kirim.

Mereka duduk di sofa di antara kardus dan tas yang belum selesai dikemas. Minggu depan Reynard dan Vincent akan pindah ke asrama BINUS. Sebagian pakaian sudah dilipat, buku-buku masuk kotak, dan rak 8A mulai kosong.

Keira mengambil satu hoodie abu-abu dan meletakkannya di tumpukan barang yang tinggal. Reynard segera memindahkannya ke koper.

"Itu terlalu tebal untuk asrama."

"Aku butuh."

"Jakarta panas."

"Kamu pernah memakainya."

Keira teringat satu malam ketika AC terlalu dingin dan ia mengambil hoodie itu tanpa izin. "Jadi?"

"Masih ada parfummu sedikit."

Keira melempar hoodie itu ke wajahnya. Reynard menangkapnya sambil tertawa, lalu melipat dengan sangat hati-hati seolah benar-benar benda berharga.

Di saku depan, Keira menemukan bungkus permen dari kencan pertama mereka yang tidak pernah resmi disebut kencan. Reynard merebutnya sebelum dibuang.

"Kamu menyimpan sampah?"

"Bukti sejarah."

"Kamu perlu bantuan profesional."

"Aku sudah punya penerjemah pribadi untuk menerjemahkan kegilaanku menjadi romantis."

Keira mendengus, tetapi diam-diam menyelipkan bungkus itu kembali ke saku hoodie.

"Apartemen akan sepi," kata Keira.

Reynard yang semula menyandarkan kepala di bahunya mendadak diam. "Kamu akan baik-baik saja?"

"Sebelum kamu datang, aku juga tinggal sendiri."

"Itu bukan jawaban."

Keira memainkan jemarinya. "Mungkin aku akan butuh waktu untuk terbiasa. Tapi kita bisa video setiap malam. Kamu juga pulang saat akhir pekan."

"Kalau kamu sibuk?"

"Aku tetap mengangkat telepon."

Reynard memandang tumpukan kardus. "Kadang aku masih takut kamu akan sadar semua ini terlalu merepotkan."

"Apa maksudmu?"

"Aku masih mahasiswa baru. Kamu sebentar lagi magang, lalu masuk dunia kerja. Aku lebih muda tiga tahun dan nggak bisa selalu berada di dekatmu." Ia tertawa tipis tanpa humor. "Sejak SMP aku terus mengejar bayanganmu. Setelah akhirnya mendapatkanmu, rasanya tetap seperti bisa hilang kapan saja."

"Kamu pikir selama ini hanya kamu yang takut?" tanya Keira.

Reynard menatapnya.

"Aku juga takut suatu hari kamu bertemu orang yang hidupnya lebih ringan. Perempuan yang seumur denganmu, yang nggak punya terlalu banyak pertimbangan, dan nggak menyuruhmu merahasiakan hubungan."

"Nggak akan."

"Kamu menjawab terlalu cepat."

"Karena aku sudah mencarimu terlalu lama untuk tertarik kepada orang lain hanya karena lebih mudah."

Keira tersenyum tipis. "Kalau begitu kita sama-sama berhenti membayangkan keputusan yang belum dibuat pasangan kita."

"Sepakat."

"Kalau rindu, bilang. Jangan pura-pura sibuk."

"Kamu juga."

Mereka mengaitkan jari kelingking seperti anak kecil. Kesepakatan itu sederhana, tetapi mata Reynard terlihat jauh lebih tenang setelahnya.

Keira baru memahami nada yang didengarnya sebelum tidur empat hari lalu. Reynard bukan hanya takut merindukannya. Ia takut jarak mengembalikan posisi mereka menjadi kakak dan adik.

Keira memeluknya lebih dulu. "Lihat aku."

Reynard menoleh.

"Aku sudah berjalan bersamamu sampai sejauh ini. Aku mengaku, melanggar aturanku sendiri, dan hampir mati malu dua kali. Menurutmu aku akan pergi hanya karena kamu tidur beberapa kilometer dari sini?"

"Kalau ada laki-laki dewasa di kantor yang lebih mapan?"

"Kamu juga dewasa."

"Maksudku lebih tua."

"Belum tentu lebih sabar menghadapi omelanku."

Reynard akhirnya tersenyum.

Keira menekan pipinya. "Aku memilihmu, Rey. Jangan membuat keputusan untukku hanya karena kamu takut."

"Baik."

"Dan nama kontak itu bukti."

"Boleh aku mencetaknya dan membingkai?"

"Aku tarik lagi ucapanku."

Reynard tertawa dan memeluknya lebih erat. Untuk pertama kalinya, Keira merasa dirinya yang menjadi tempat aman, bukan hanya orang yang menerima perlindungan.

Sore itu mereka melanjutkan mengemas barang. Keira mencatat kabel dan pengisi daya yang harus dibawa. Reynard mengambil ponselnya untuk memasangkannya ke pengisi daya, dan layar menyala tepat di halaman pencarian yang belum ditutup.

pacar terlalu bersemangat gimana

Reynard membaca dengan suara keras. Keira menyambar ponsel, tetapi ia mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Kembalikan!"

"Jadi kamu mencari panduan tentang aku?"

"Itu iklan."

"Iklan berbentuk riwayat pencarian?"

"Aku cuma penasaran."

Reynard tertawa sampai harus duduk di lantai. "Apa jawaban internet?"

"Katanya suruh pacarnya pindah ke asrama."

"Kejam."

"Makanya jangan terlalu senang."

Ia akhirnya mengembalikan ponsel, tetapi sepanjang satu jam berikutnya terus menawarkan saran konyol. Keira menutup mulutnya dengan lakban kertas. Reynard membiarkannya, bahkan berpose sambil menunjuk tulisan Reyku di layar.

"Aku akan menyimpan fotonya," kata Keira.

Reynard mencabut lakban. "Bagus. Jadikan foto kontak."

"Nanti orang bertanya kenapa pacarku seperti korban penculikan."

Keduanya mendadak diam setelah kata pacarku keluar begitu alami. Keira berdeham dan kembali melipat baju. Reynard merangkak mendekat dari lantai, lalu menyandarkan dagu ke lututnya.

"Katakan lagi."

"Tidak."

"Sekali saja."

"Bantu masukkan baju atau aku ganti kontakmu jadi Korban Penculikan."

Reynard menurut, tetapi senyum bahagianya tidak hilang sampai malam.

Menjelang malam, hanya satu koper yang belum ditutup. Reynard memasukkan buku terakhir, lalu berkata sambil menekan resleting, "Sebenarnya aku sudah memikirkan sesuatu sejak lama."

"Apa?"

"Kalau aku sudah punya kemampuan yang cukup, aku akan menikahimu dengan cara yang pantas. Bukan bersembunyi seperti sekarang."

Keira berhenti melipat kaos. Nada Reynard terlalu serius untuk dianggap candaan.

"Rey, kamu baru mau masuk asrama. Kenapa bicara soal menikah?"

Reynard justru mengangkat koper. "Berat juga. Sepertinya aku bawa terlalu banyak buku."

"Jangan mengalihkan pembicaraan."

"Besok bantu aku pilih yang ditinggal, ya?"

Ia berjalan ke kamar dengan wajah tenang, meninggalkan Keira yang masih memegang kaos dan satu janji besar yang tidak sempat ia tanyakan lebih jauh.

Di layar ponselnya, nama Reyku masih terlihat di atas percakapan mereka. Keira menyentuhnya pelan. Untuk seseorang yang baru berani mengubah satu nama kontak, pembicaraan tentang pernikahan seharusnya terasa menakutkan.

Anehnya, yang ia rasakan justru harapan kecil yang hangat, hidup, dan semakin sulit disembunyikan dari dirinya sendiri juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!