Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang yang Belum Usai

Hari-hari setelah malam pengakuan itu berlalu dengan ritme yang jauh lebih manis bagi Reina Lunox dan Jino West. Tidak ada lagi perang dingin di meja makan atau sindiran tajam yang dilontarkan hanya untuk memancing emosi. Sebagai gantinya, lembaran baru di antara mereka diwarnai dengan gestur-gestur kecil penuh perhatian—mulai dari Jino yang diam-diam membawakan secokelat hangat saat Reina lembur mengerjakan tugas kuliah, hingga Reina yang mulai terbiasa menyiapkan kopi hitam dengan takaran gula yang pas sesuai selera pria itu.

Namun, di balik keharmonisan yang mulai terjalin di penthouse lantai empat puluh, sebuah badai kecil rupanya sedang merayap pelan dari dunia luar.

Sore itu, Reina sedang duduk di salah satu kafe dekat kampusnya bersama Maya, menyelesaikan draf bab terbaru untuk web novel wuxia miliknya yang berjudul "Gadis desa dan Lima Pangeran Tsundere". Jari-jarinya dengan lincah menari di atas papan ketik laptop, mencurahkan imajinasi liar tentang intrik istana dan pertarungan pedang.

"Wah, Rein, akhir-akhir ini senyummu kelihatan makin sumringah aja nih," goda Maya sambil menyeruput green tea latte-nya, melirik sekilas ke arah layar laptop sahabatnya. "Jangan-jangan karakter pangeran tsundere di novelmu itu sekarang beneran jadi inspirasi nyata di kehidupan sehari-harimu, ya?"

Reina langsung menghentikan ketikannya. Wajahnya merona merah. Ia buru-buru menutup layar laptopnya setengah, lalu mendelik pura-pura galak ke arah Maya. "Apaan sih, May! Jangan ngawur, deh. Aku cuma lagi fokus revisi naskah biar pembaca di NovelToon nggak pada ngamuk karena updatenya kelamaan."

"Alasan aja kamu!" tawa Maya semakin menjadi-jadi. "Tapi ya, wajar sih kalau kamu klepek-klepek. Calon suamimu itu kan paket komplit: CEO kaya raya, tampan, setia, plus bucin akut. Kurang apa lagi coba?"

Reina terdiam sejenak. Mendengar kata "setia", bayangan nama Elena Vance yang sempat mengusik malam mereka beberapa hari lalu mendadak melintas di kepalanya. Meskipun Jino sudah menjelaskan semuanya secara tuntas dan meyakinkannya, nurani seorang wanita tetap menyisakan sedikit rasa waspada yang tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Tepat saat Reina hendak membalas ucapan Maya, ponsel yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring. Layar benda pipih itu menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal dengan kode area internasional.

Reina mengerutkan keningnya. Maya yang melihat layar ponsel itu ikut menghentikan tawanya.

"Nomor siapa itu, Rein? Coba angkat, jangan-jangan penagih utang atau undian berhadiah palsu," canda Maya.

Dengan perasaan sedikit ganjil, Reina menggeser tombol hijau di layar ponselnya lalu mendekatkan benda itu ke telinganya. "Halo? Dengan siapa ini?" tanya Reina dengan nada hati-hati.

Beberapa detik terlewat dalam keheningan, sebelum sebuah suara wanita beraksen tegas dan elegan terdengar dari ujung sana. Suara itu terdengar asing, namun ada nada intimidasi yang langsung membuat bulu kuduk Reina meremang.

"Apakah saya berbicara dengan Nona Reina Lunox? Calon tunangan Tuan Jino West?"

Deg. Jantung Reina seolah berhenti berdetak seketika. Nama itu... tidak salah lagi. Maya yang melihat perubahan drastis di wajah sahabatnya langsung memasang ekspresi penasaran sekaligus siaga.

Reina meneguk ludahnya susah payah, berusaha mempertahankan suaranya agar tidak bergetar. "Ya, benar. Saya sendiri. Kalau boleh tahu, dengan siapa saya berbicara dan dari mana Anda mendapatkan nomor ini?"

Di ujung sambungan sana, wanita itu—Elena Vance—tertawa kecil; sebuah tawa dingin yang terdengar meremehkan.

"Tidak sulit bagi seseorang untuk mencari tahu nomor ponsel gadis desa yang beruntung bisa menduduki singgasana Tuan Muda West," ucap Elena dengan nada sinis tanpa filter. "Aku tidak akan bertele-tele, Reina. Aku sedang berada di kota ini sekarang. Kita perlu bertemu. Ada beberapa hal penting tentang masa lalu Jino yang harus kauketahui sebelum kau terlalu jauh melangkah ke dalam perangkap keluarga besar West."

Reina mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa tidak nyaman bergolak hebat di dalam dadanya. Namun, alih-alih merasa ciut, harga diri Reina sebagai seorang wanita justru terpancing naik.

"Kalau yang ingin kaubicarakan adalah masa lalu Jino, maaf saja, aku sama sekali tidak tertarik," balas Reina tegas dengan nada dingin yang berusaha ia pertahankan. "Jino sudah menceritakan semuanya padaku. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk membuang waktu bertemu."

Elena kembali tertawa, kali ini terdengar semakin tajam dan berbahaya. "Oh, benarkah? Apakah dia juga menceritakan betapa hancurnya keluarga Vance karena pengkhianatan bisnis yang dipicu oleh ambisiku? Atau... apakah dia menyembunyikan fakta bahwa darah keluarga kami dan keluarganya terikat oleh janji yang jauh lebih dalam dari sekadar kontrak perjodohan bisnis kalian?"

Keluarga... dan janji yang lebih dalam?

Sebelum Reina sempat menuntut penjelasan lebih lanjut atau melontarkan bantahan, Elena melanjutkan kalimatnya dengan ancaman terselubung.

"Jika kau tidak ingin mempermalukan dirimu sendiri di hadapan publik saat hari pernikahan nanti, datanglah ke Kafe Blue Sky di pusat kota pukul empat sore ini. Aku menunggumu, Reina. Jangan coba-coba mangkir, atau kau sendiri yang akan menyesal seumur hidup."

Tut... tut... tut.

Sambungan telepon langsung terputus sepihak. Reina mematung dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Napasnya memburu cepat, dan dadanya terasa sesak oleh ribuan pertanyaan yang berputar liar di dalam kepalanya.

"Rein? Ada apa? Siapa yang telepon tadi? Kenapa wajahmu pucat banget gitu?" selidik Maya bertubi-tubi dengan nada cemas, mengguncang pelan lengan sahabatnya.

Reina menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan getaran di sekujur tubuhnya. Ia menatap Maya dengan manik mata yang menyiratkan tekad kuat. "May... sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan."

"Hah? Urusan apa mendadak begini? Mau diantar?"

"Tidak usah, aku bisa sendiri," jawab Reina cepat, membereskan laptop dan buku-bukunya ke dalam tas dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Pukul tiga lewat empat puluh menit sore itu, taksi online yang ditumpangi Reina akhirnya berhenti tepat di depan sebuah kafe mewah bergaya modern minimalis di sudut pusat kota. Kafe Blue Sky tampak tenang dengan interior kaca dan tanaman hias hijau di setiap sudutnya.

Reina melangkah masuk dengan langkah pasti, meski di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa seperti sedang berjalan menuju medan perang yang asing.

Tidak butuh waktu lama bagi Reina untuk menemukan sosok yang ia cari. Di meja sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya, duduk seorang wanita berambut sebahu dengan potongan rapi, mengenakan setelan blazer desainer warna beige yang sangat elegan. Wajahnya cantik, tajam, dengan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya—menyimbolkan aura wanita karier kelas atas yang tidak tersentuh.

Elena Vance. Wanita itu sedang menyesap teh hitamnya dengan anggun saat menyadari kehadiran Reina di hadapannya.

Reina berdiri sejenak di dekat meja tersebut, lalu tanpa menunggu undangan, ia menarik kursi di seberang Elena dan duduk dengan dagu terangkat tinggi, menolak untuk terlihat lemah sedikit pun.

"Kau tidak datang terlambat. Bagus," ucap Elena tenang, meletakkan cangkirnya perlahan ke atas piring kecil, lalu menatap Reina dari balik lensa kacamatanya dengan sorot mata menilai penuh meremehkan. "Kau jauh lebih muda dan... polos dari yang kubayangkan, Reina Lunox. Pantas saja Jino sempat melunak."

Reina menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu tanpa gentar sedikit pun. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Langsung saja ke intinya, Nona Vance. Aku tidak punya banyak waktu luang untuk mendengarkan basa-basi dari wanita yang gemar mengusik kehidupan orang lain."

Elena tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh racun yang langsung membuat suasana di sekitar meja itu terasa semakin dingin.

"Kau pikir kau mengenal Jino West sepenuhnya?" tanya Elena sinis, memiringkan sedikit kepalanya. "Kau pikir perjodohan kalian yang diatur oleh para orang tua itu adalah puncak dari segalanya? Dengar ya, anak muda... Jino bukan tipe pria yang bisa diikat hanya dengan rasa kasihan atau sekadar drama demam semalaman."

Reina menggigit bibir dalamnya, namun ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya. "Setidaknya, aku tidak berkhianat dan menjual rahasia perusahaan demi kepentingan pribadi sepertimu."

Skakmat. Kalimat itu sukses membuat senyuman di wajah Elena memudar seketika digantikan oleh kilat kemarahan di matanya. Namun, wanita itu dengan cepat menguasai dirinya kembali, menegakkan duduknya lalu mengeluarkan sebuah map dokumen tipis dari dalam tas mahalnya dan mendorongnya pelan di atas meja ke arah Reina.

"Kau boleh saja membanggakan dirimu sekarang," desis Elena tajam dengan suara berbisik yang menusuk. "Tapi buka dokumen itu, dan lihat sendiri... apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh calon suami sempurnamu itu darimu."

Reina menatap map dokumen tersebut dengan perasaan bimbang yang luar biasa. Jemarinya merapat, ragu-ragu untuk menyentuh benda di hadapannya, sadar betul bahwa apa pun yang ada di dalam map itu berpotensi meruntuhkan seluruh kebahagiaan rapuh yang baru saja ia bangun bersama Jino.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!