"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RATAPAN DI BALIK PINTU TERKUNCI
Mobil taksi yang ditumpangi Elara akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besi rumahnya. Setelah membayar dengan sisa uang tunai yang ada di dalam tas kecilnya, Elara melangkah masuk dengan tubuh yang terasa lemas dan hati yang dipenuhi kecemasan. Setiap jengkal langkahnya menuju pintu depan terasa begitu berat, seolah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusinya sendiri.
Begitu pintu kayu jati itu terdorong terbuka, suasana dingin dan mencekik langsung menyambutnya. Di ruang tamu yang luas namun kini terasa hampa, sang ayah berdiri dengan wajah merah padam dan napas memburu. Sementara itu, ibunya hanya duduk di sudut sofa dengan mata sembap, tak berani menyela aura amarah yang mengudara di ruangan tersebut.
"Dari mana saja kamu, Elara?!" suara sang ayah menggelegar, memecah keheningan rumah.
Elara menundukkan kepala, memegang erat tali tasnya dengan jemari yang gemetar. Ia tahu persis alasan kemarahan ayahnya. Ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi sejak semalam—benda itu telah dilempar dan dihancurkan oleh dua pria jahat di klab malam sebelum mereka mengejarnya ke hutan. Namun, Elara memilih untuk menelan rapat-rapat kenyataan mengerikan itu. Ia tak mungkin menceritakan insiden semalam, apalagi mengakui bahwa ia baru saja menghabiskan malam di mansion seorang bos mafia asing.
"Ponselku... hilang, Pa," bisik Elara lirih, berusaha menutupi kebenaran di balik suara pelannya.
Jawaban itu bukannya meredakan situasi, melainkan menyulut sulur emosi sang ayah hingga mencapai Puncaknya. Pria setengah baya yang dilanda frustrasi akibat kehancuran bisnisnya itu melangkah lebar mendekati Elara.
PLAK!
Sebuah tamparan keras melayang dan mendarat telak di pipi kanan Elara. Sentakan kuat itu membuat kepala Elara terlempar ke samping, menyisakan rasa panas yang membakar kulit pipinya dan dengungan bising di dalam telinganya. Elara meringis pelan, memegangi pipinya yang kini merona merah akibat hantaman tersebut.
"Jangan pernah berakting polos di hadapanku!" gertak ayahnya dengan telunjuk mengacung tepat di depan wajah Elara, mata pria itu melotot penuh ancaman. "Pernikahan ini tinggal menghitung hari! Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri atau bertindak bodoh yang bisa menggagalkan perjodohan ini! Jika kau merusaknya, keluarga ini akan benar-benar hancur dan membusuk di jalanan!"
Elara tetap bungkam, menahan gumpalan air mata yang mendesak keluar dari sudut matanya. Di dalam kamar dan rumah yang dulu menjadi tempat berlindungnya, ia kini tak lebih dari sekadar barang dagangan yang dipaksa menyerah pada takdir.
Elara menyeret langkahnya yang terasa seribu kali lebih berat menuju lantai atas. Setiap pijakan tangga kayu seolah menyedot habis sisa kekuatan yang masih bertengger di tubuhnya. Begitu mencapai kamarnya, ia langsung memutar kunci rapat-rapat, memutus rapat interaksi dengan dunia luar yang baru saja menghantamnya tanpa ampun.
Ia melangkah perlahan menuju tepi tempat tidur, lalu perlahan meluncur turun hingga terduduk di atas lantai marmer yang dingin. Elara menyandarkan punggungnya pada sisi tempat tidur bersepuh emas yang dulu menjadi simbol kemewahan hidupnya. Di kamar yang luas dan sunyi ini, benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah akhirnya hancur lebur.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menetes deras membasahi pipinya yang masih terasa panas dan perih akibat tamparan sang ayah. Tangannya yang gemetar naik menutupi wajahnya, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan agar tidak terdengar sampai ke luar pintu.
Segalanya terasa begitu tidak adil. Dalam kurun waktu singkat, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk yang tak bersudahan. Perusahaan ayahnya hancur, kehormatan keluarganya dipertaruhkan, dan dirinya dijadikan jaminan untuk diserahkan kepada seorang pria tua yang bahkan tak pernah ia kenal. Belum sempat ia memproses nasib tragis itu, malam mengerikan di klab dan insiden bersama Haidar—seorang bos mafia dingin bersenjata—makin mencabik-cabik sisa kesadaran dan kehidupannya.
Elara memeluk kedua lututnya rapat-rapat ke dada, menenggelamkan wajahnya di sana. Di tengah kegelapan kamarnya yang pengap, ia meratapi kemalangannya sendiri, merasa benar-benar terisolasi dan tak punya lagi tempat untuk melarikan diri dari takdir kelam yang menunggunya besok