SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Artefak Rongsokan dan Taruhan Nyawa
Proses pelelangan selesai. Artefak 'Air Mata Dewi Suci' yang berbentuk kristal biru bercahaya sebesar kepalan tangan, diantarkan ke balkon VVIP dalam kotak kaca berlapis emas.
Aura menatap artefak itu dengan tatapan menilai. Ia mengetuk-ngetuk kotaknya.
"Cahayanya redup, Bos. Ini pasti barang regenerasi kedua. Kalau di e-commerce, ini namanya barang refurbished (rekondisi). Harusnya harganya nggak lebih dari lima puluh ribu emas. Gila, demi Hama Pirang, gue ngerusak harga pasar," gerutu Aura sambil menyentuh kristal itu.
"Sst, jangan banyak protes," Caden mengambil kristal biru itu dari kotaknya. Ia meraih tangan Aura, dan meletakkan kristal yang memancarkan aura magis hangat itu tepat di telapak tangan gadis tersebut.
"Untukmu," ucap Caden pelan.
Aura melongo. "Hah? Buat gue? Buat apa, Bos? Gue sehat walafiat. Darah tinggi gue cuma naik kalau ngeliat grafik saham warna merah."
"Jadikan saja sebagai pemberat kertas di meja kerjamu, atau jadikan lampu tidur," jawab Caden santai, seolah ia baru saja memberikan sebuah gantungan kunci murahan, bukan artefak seharga tujuh ratus ribu koin emas. "Aku membelinya hanya agar Arthur tidak memilikinya. Sekarang, barang itu hak milikmu."
"Wah... gila. Punya bos sultan jalur antagonis ini emang beda level flexing-nya," Aura menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. Ia langsung memasukkan artefak itu ke dalam tas tangannya. "Lumayan, besok gue gadai di bank pusat buat nambah modal investasi gandum."
Caden hanya tersenyum maklum. Pria itu sudah kebal dengan kelakuan barbar asistennya.
"Ayo kita pulang. Udara di sini mulai berbau keputusasaan orang miskin," kata Caden, menarik tangan Aura.
Mereka baru saja melangkah keluar dari balkon VVIP menuju lorong pribadi yang sepi, ketika tiba-tiba, dari balik bayangan pilar batu, lima sosok berjubah hitam melompat keluar. Mereka memegang belati magis beracun yang bersinar kehijauan.
"Mati kau, Lintah Darat Caden!" teriak salah satu pembunuh bayaran itu.
"Wah, wah! Ambuscade (penyergapan)!" Aura langsung melompat bersembunyi di belakang punggung lebar Caden.
Alih-alih panik, Aura malah berteriak, "Woy, Mas Pembunuh! Kalau mau nyerang, tolong arahin pisaunya ke atas dada Bos gue aja! Jangan ke bawah! Jasnya Bos gue ini custom-made dari kulit naga seharga dua ratus juta! Sayang kalau sobek!"
Para pembunuh itu ternganga sejenak mendengar teriakan nyeleneh dari gadis di belakang target mereka. Caden sendiri mendengus geli di tengah situasi mematikan.
"Kau lebih mengkhawatirkan harga jasku daripada nyawaku, Elara?" tanya Caden santai, sama sekali tidak mencabut pedangnya.
"Nyawa Bos kan tebel gara-gara plot armor tokoh penting! Jas kulit naga nggak punya asuransi robek!" balas Aura.
"Cukup bercandanya! Serang!" teriak ketua pembunuh.
Mereka menerjang serempak. Namun, sebelum belati mereka sempat menyentuh jas Caden, sang Pangeran hanya menjentikkan jarinya.
TRANG! WUSSS!
Sebuah tekanan gravitasi magis yang sangat mengerikan menghantam kelima pembunuh itu dari atas. Lantai marmer retak. Kelima pria itu langsung ambruk ke lantai dengan suara tulang berderak, memuntahkan darah, dan tidak bisa bergerak satu sentimeter pun.
Aura mengintip dari balik punggung Caden. Matanya melebar melihat lantai yang hancur.
"BOS! Itu lantai marmer kuno pecah! Nanti tagihan perbaikannya masuk ke beban pengeluaran departemen kita nggak?!" jerit Aura histeris.
Caden menoleh, menatap asistennya dengan pandangan gemas yang luar biasa. Ia menarik Aura ke depannya dan memeluk pinggang gadis itu erat-erat.
"Tagihannya kumasukkan ke utang Arthur. Aku yakin pembunuh bayaran kelas teri ini sewaan dari Fraksi Selatan yang putus asa," bisik Caden. Ia mengangkat tangannya yang bersarung kulit hitam, dan dengan satu gerakan kecil, kelima pembunuh itu pingsan total.
Suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari ujung lorong. Pangeran Arthur muncul dengan napas tersengal, diikuti oleh beberapa pengawalnya. Matanya langsung tertuju pada para pembunuh yang tumbang dan artefak yang menyembul dari tas Aura.
"Caden! Apa yang kau lakukan?!" Arthur menatap ngeri.
"Membereskan sampah yang kau kirim, Arthur," jawab Caden dingin, auranya kembali mematikan. "Jika kau tidak sanggup membeli barang di pelelangan, setidaknya jangan menggunakan uang hasil ngutangmu untuk menyewa pembunuh bayaran murahan."
"Aku tidak menyewa mereka!" bantah Arthur panik. "Aku datang untuk... untuk memohon padamu, Elara! Tolong, jual kembali artefak itu padaku! Wilayahku benar-benar membutuhkannya!"
Aura mendesah. Ia menatap gaun ratusan jutanya, memastikan tidak ada cipratan darah, lalu menatap Arthur dengan pandangan manajer yang kelelahan menghadapi karyawan underperform.
"Pangeran Arthur. Gue ulangin ya hukum dasar ekonomi," Aura merogoh tasnya, mengeluarkan artefak kristal itu. "Harga ditentukan oleh supply and demand (penawaran dan permintaan). Tadi harganya tujuh ratus ribu emas karena lagi live auction. Sekarang, barang ini udah jadi private asset gue. Kalau Anda mau beli dari gue..."
Aura menyeringai licik. "Harganya naik jadi satu setengah juta koin emas. Take it or leave it."
Arthur terbelalak, lututnya nyaris lemas. "Satu setengah juta?! Kau gila?! Kau memeras darah rakyatku demi keserakahanmu!"
"Gue nggak meras rakyat lo, gue lagi ngajarin lo betapa mahalnya harga sebuah kekalahan," potong Aura tajam. "Kalau lo nggak punya uangnya, minggir. Waktu lembur gue udah habis. Bos, ayo pulang. Punggung gue pegal nih habis tegang ngeliat marmer retak."
Caden tersenyum miring. Ia menatap Arthur untuk terakhir kalinya.
"Kau dengar asistenku, Arthur? Menyingkir. Atau aku akan membuat beban gravitasimu sepuluh kali lipat lebih berat dari lantai ini."
Caden merangkul pinggang Aura, membawanya melangkah melewati Arthur yang hanya bisa berdiri membeku dalam keputusasaan yang absolut.
Di dalam kereta udara menuju penthouse, Aura sibuk mengusap-usap kristal biru itu.
"Satu setengah juta emas, Bos! Kalau dia beneran minjem ke bank pusat buat beli ini, kita untung delapan ratus ribu emas dalam semalam! ROI 114%!" celoteh Aura bersemangat.
Caden menarik kristal itu dari tangan Aura, meletakkannya asal di kursi sebelah, lalu menarik tubuh mungil gadis itu ke pangkuannya.
"Bos ngapain?!" Aura memekik kaget, menahan dada bidang Caden.
"Jam kerja sudah selesai, Elara," suara Caden menurun, mengalun serak dan posesif. Ia menyingkirkan anak rambut Aura ke belakang telinga. "Kau baru saja melindungi jasku dari tusukan pisau. Sebagai imbalannya, aku harus memberimu 'kompensasi' tambahan malam ini."
"Kompensasi apa?! Duitnya ditransfer aja, Bos! Nggak usah pakai kontak fisik!" Aura mencoba meronta, tapi pelukan lengan Caden di pinggangnya tidak bisa digeser satu milimeter pun.
Caden menundukkan wajahnya, matanya menatap tajam bibir Aura. "Kompensasi kali ini tidak bisa dibayar dengan emas, Gadis Serakah. Aku akan membayarnya dengan ini."
Dan tepat saat kereta udara membelah langit malam kekaisaran, sang Pangeran Antagonis kembali menyegel bibir asisten bar-barnya, memastikan bahwa mulai detik ini, satu-satunya hal yang tidak bisa dikalkulasi oleh otak kapitalis Elara adalah seberapa dalam ia telah jatuh ke dalam genggaman sang Antagonis.