Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Perubahan Tanah dan Tanda Pertanyaan
Uang hasil penjualan tanaman Daun Perak Dingin segera melunasi seluruh utang pajak, bahkan menyisakan jumlah yang cukup banyak untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga Ashford. Kabar ini mengejutkan Tuan Karis dan Penguasa Wilayah yang semula yakin bahwa keluarga tersebut akan bangkrut lalu kehilangan tanah leluhur.
Meskipun bertanya-tanya dari mana asal kekayaan mendadak itu, tidak ada yang berani menuntut penjelasan karena uang diserahkan secara sah dengan jumlah yang tepat.
Kehidupan di kediaman Ashford perlahan berubah.
Cedric memperbaiki pagar rumah yang rusak, membeli benih tanaman berkualitas tinggi, serta memperbarui perlengkapan bertani. Namun, perubahan paling luar biasa justru terjadi di Bukit Tanpa Nama yang dulu dikenal tandus.
Beberapa hari setelah transaksi di kota, Arlen kembali ke sana. Bocah itu mendadak berhenti di kaki bukit dan memperhatikan sekeliling dengan takjub. Tanah yang dulu berwarna hitam pekat, keras, dan retak-retak, kini mulai melunak menjadi cokelat gelap yang subur.
Di sela-sela bebatuan, rumput hijau tumbuh rapat menutupi permukaan gersang. Bahkan ada beberapa bunga liar kecil berwarna ungu yang mekar indah-pemandangan yang sama sekali belum pernah tercipta di sana. Udara pun terasa sangat sejuk, membawa energi baru yang menyegarkan bagi siapa saja yang menghirupnya.
Arlen berjalan naik ke puncak bukit. Hamparan tanaman Daun Perak Dingin tumbuh semakin lebat dan tinggi. Di samping tanaman itu, seekor serigala kelabu yang kini dipanggil Penjaga sedang berbaring tenang. Saat melihat Arlen datang, hewan itu mengangkat kepala lalu menggeram pelan dengan ramah.
"Kau juga merasakannya, kan?" tanya Arlen sambil duduk di samping Penjaga dan mengusap bulunya yang kini semakin halus. "Seluruh tempat ini berubah karena aliran energi yang dulu terkunci mulai mengalir lancar.
Kehadiran kita di sini perlahan mengembalikan keseimbangan alam."
Arlen berdiri lalu berjalan menyusuri tepian bukit untuk mengamati perubahan tersebut secara saksama. Bocah itu menyadari bahwa saat memadukan aura perunggu dengan energi dingin bumi, tindakan tersebut tidak hanya menciptakan lingkungan yang nyaman bagi tanaman, tetapi juga menyuburkan seluruh wilayah sekitar.
Namun, ada hal lain yang menarik perhatian. Di bagian paling tengah bukit, tepat di titik pusat aliran energi bumi terbesar, tanah di sana tampak sedikit turun hingga membentuk cekungan kecil melingkar. Arlen berjongkok lalu menyentuh permukaan tanah dengan telapak tangan. Ada sesuatu yang berdenyut lembut jauh di bawah sana, jauh lebih dalam dari perkiraan semula. Sesuatu itu seolah memanggil jiwanya perlahan.
Apakah ini sumber Besi Bintang yang kuduga dulu? Atau ada rahasia yang lebih besar lagi tersembunyi di sini? batin Arlen penasaran.
Arlen tahu tubuh kecilnya belum cukup kuat untuk menggali sedalam itu sekarang.
Latihan harus ditingkatkan sampai kekuatannya berkembang lebih jauh. Namun, sebuah janji terpatri di dalam hatinya bahwa suatu hari nanti rahasia terdalam bukit ini akan terungkap.
Sore harinya saat pulang ke rumah, Arlen melihat sang ayah sedang berdiri di pinggir ladang lama yang dulu hampir gagal panen. Cedric tampak heran mengamati batang-batang tanaman gandum yang tiba-tiba tumbuh lebih tinggi dan hijau dibandingkan minggu lalu.
"Elena, kemarilah!" panggil Cedric saat mendengar langkah kaki istrinya mendekat. "Lihat ini. Tanah ini sama sekali tidak kita beri pupuk baru, tetapi lihat bagaimana tanaman gandum ini tumbuh pesat seolah mendapat perawatan terbaik."
Elena mengamati tanaman itu dengan mata terbelalak. "Aku tidak mengerti.
Apakah ada perubahan pada cuaca belakangan ini? Setiap kali berjalan ke arah ujung tanah kita, tubuhku rasanya menjadi lebih segar dan sehat."
Arlen berdiri diam di kejauhan mendengar percakapan tersebut. Pengaruh energi dari bukit ternyata mulai menyebar perlahan ke seluruh wilayah tanah keluarga.
Penjelasan yang masuk akal harus segera disiapkan jika perubahan ini semakin mencolok nantinya.
Sayangnya, bukan hanya hal baik yang muncul. Perubahan mencolok seperti ini pasti akan memicu kecurigaan pihak luar.
Benar saja, tiga hari kemudian seorang petugas dari kediaman Penguasa Wilayah kembali datang. Pria itu tidak membawa pesan ancaman seperti dulu, melainkan hanya berkeliling mengamati sekitar dengan tatapan curiga.
Langkahnya sempat berjalan sampai ke arah kaki bukit, namun seolah ada dinding tak kasat mata yang menahan tubuhnya, petugas itu tidak berani melangkah lebih jauh ke atas lalu memilih berbalik pergi dengan wajah bingung.
Malam harinya saat keluarga sedang duduk makan bersama, Cedric membuka pembicaraan.
"Ada yang aneh terjadi di tanah kita belakangan ini," ujar Cedric pelan sambil melirik Arlen sejenak. "Tanah tandus berubah subur, tanaman tumbuh lebih cepat, dan udara terasa berbeda.
Aku mendengar orang dari desa sebelah mulai berbisik-bisik menyebut tempat ini diberkati atau dikutuk."
Cedric menjeda kalimatnya lalu menatap sang putra dengan pandangan menuntut jawaban.
"Arlen... apakah semua ini ada hubungannya dengan tempat di bukit itu? Atau dengan kekuatan yang kau miliki?"
Arlen mengangguk perlahan, memilih untuk tidak lagi berbohong sepenuhnya kepada sang ayah. "Aku rasa bukit itu selalu menyimpan kekayaan tersembunyi yang tidak diketahui orang lain, Ayah.
Mungkin keberadaanku yang sering ke sana perlahan membantu tempat itu terbangun. Jika dijaga dengan baik, tempat ini bisa menjadi wilayah paling makmur di seluruh daerah.
Tapi kita harus menjaga rahasianya agar tidak dirampas orang lain."
Elena mendengarkan dengan saksama dengan perasaan campur aduk. Sang ibu sadar putranya tumbuh membawa hal-hal luar biasa, namun tanggung jawab yang dipikul anak sekecil itu tentu sangat berat.
"Kami tidak akan menceritakannya kepada siapa pun," ujar Elena tegas memecah keheningan.
"Ini tanah kami, dan kami berhak menjaganya. Namun kita harus tetap waspada. Semakin indah sesuatu terlihat, semakin banyak orang yang ingin merebutnya."
Pembicaraan berakhir dengan kesepakatan untuk tetap bungkam.
Namun, Arlen tahu ini baru awal dari segalanya. Jika bukit itu benar-benar menyembunyikan sumber energi Kuno yang besar, maka tidak hanya manusia yang akan datang, tetapi juga makhluk lain yang peka terhadap perubahan alam.
Malam itu, Arlen kembali berlatih di halaman belakang rumah. Matanya dipejamkan demi memusatkan seluruh perhatian pada aliran energi di dalam tubuh. Lapisan cahaya berwarna perunggu kini terasa semakin kokoh dan padat, tetapi ada batas tebal yang menghalangi untuk melangkah ke tingkat berikutnya. Tantangan baru sangat dibutuhkan untuk mengasah kekuatan agar tidak diam di tempat.
Tiba-tiba sebuah pesan dari buku tua peninggalan ibunya serta ingatan masa lalu melintas di kepala: kekuatan tidak hanya didapat dari latihan diam, melainkan dari pemahaman mendalam akan hukum alam dan pertarungan nyata.
Karena fisik saat ini masih terlalu kecil untuk bertarung melawan musuh kuat, ketajaman pikiran dan teknik pengendalian tenaga harus dilatih terlebih dahulu.
Keesokan paginya, Arlen menyusun rencana baru untuk membagi waktu:
* Pagi hari: Merawat tanaman dan mengamati perkembangan bukit.
* Siang hari: Mempelajari buku pengetahuan umum, sejarah, dan sifat alam untuk memahami struktur dunia.
* Sore hari: Melatih gerakan dasar ilmu pedang serta pengendalian aura.
Arlen juga berniat meminta izin kepada Cedric untuk membuat ruang latihan sederhana di bagian paling dalam bukit yang tersembunyi dan aman.
Namun sebelum niat itu disampaikan, hal tak terduga terjadi.
Saat tiba di bukit pagi itu, Penjaga sudah berdiri di bagian tertinggi. Serigala kelabu itu menggeram rendah ke arah hutan belantara di kejauhan dengan sikap waspada penuh ancaman.
Arlen segera berlari naik ke sana lalu berdiri di samping Penjaga. Kepekaan batin diperluas demi merasakan situasi di sekitar perbatasan wilayah.
Dari arah hutan gelap yang jauh, sebuah gelombang energi yang tidak biasa terdeteksi mendekat.
Aliran energi itu bukan milik manusia, bukan pula energi alam yang tenang, melainkan sesuatu yang gelap, kacau, dan membawa hawa tajam yang tidak nyaman.
Ada sesuatu yang sedang bergerak maju, tertarik pada perubahan besar yang terjadi di bukit ini.
Arlen mengepalkan tangan erat-erat. Perubahan yang diciptakan ternyata tidak hanya membawa berkah, tetapi juga mengundang bahaya dari tempat yang jauh.
Tingkat kekuatan harus segera ditingkatkan karena ancaman sesungguhnya bukan lagi dari manusia serakah seperti Tuan Karis, melainkan dari makhluk yang jauh lebih buas dan gelap.