Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
untuk sahabat
Keesokan harinya, matahari pagi baru saja naik ketika sebuah pemandangan tak biasa menghentikan aktivitas orang-orang di sekitar area pertokoan pinggir jalan. Deru mesin yang berat, halus, namun bertenaga raksasa memecah riuh rendah jalanan kota saat Rama mengemudikan sebuah mobil Bugatti mewah membelah kemacetan. Tepat setelah mobil super sport seharga puluhan miliar rupiah itu bermanuver pelan, mobil Bugatti sudah terparkir di tempat parkir kafe itu. Kemilau bodinya yang eksklusif tampak sangat kontras memantulkan cahaya matahari di atas aspal parkiran yang agak berdebu.
Tentu saja hal itu sedikit membuat kehebohan di antara para pengunjung dan warga sekitar. Karna hanya sedikit dan bahkan satu satunya mobil super mewah seperti ini berada dilingkungan kaffe biasa. Kedai kopi tempat Rama biasa menghabiskan malam minggunya dengan menyesap cangkir murah dan membakar rokok sebatang demi sebatang, kini mendadak dipenuhi pasang mata yang membelalak penasaran. Kamera ponsel mulai bermunculan dari balik kaca-kaca jendela toko di seberang jalan.
Apalagi pas turun dari kabin mewah mobil sport tersebut, pusat perhatian massa langsung terkunci sepenuhnya. Keluar lah rama dan putri dari pintu yang terangkat anggun. Penampilan mereka hari itu benar-benar menyedot seluruh atensi yang ada. Tentu saja para wanita muda dan pria muda sangat kagum dengan mereka. Rama yang rambut sebahunya berkilau indah tertata rapi, berjalan berdampingan dengan sang putri Antasena yang kecantikan berwajah dinginnya tampak setara dengan model papan atas internasional. Mereka terlihat seperti sepasang ekspatriat atau selebritas kelas dunia yang tersesat di sudut kota biasa.
Namun rama dan putri berjalan cepat masuk kedalam kaffe... Mereka mengabaikan bisik-bisik kagum dan tatapan penuh selidik dari orang-orang yang mulai berkerumun di luar. Begitu melewati pintu kaca kedai, merekapun langsung duduk dipojok, mengambil meja yang agak tersembunyi dari pandangan publik agar bisa berbicara dengan lebih leluasa.
Rama mengembuskan napas pendek, merasa sedikit tidak nyaman dengan kegaduhan instan yang mereka ciptakan sejak masuk ke area parkir tadi. Ia menatap calon istri kontraknya yang duduk tenang di hadapannya.
"maafkan aku put... hal ini diluar dugaanku," kata rama.. Ia tidak menyangka bahwa membawa salah satu koleksi kendaraan dari garasi Antasena akan memicu kehebohan massal sekelas ini di kedai langganannya.
Putri hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman langka yang meruntuhkan kesan dingin di wajahnya selama beberapa detik. "sudahlah..." jawabnya pendek, seolah-olah urusan Bugatti dan kehebohan orang-orang di luar adalah hal yang terlampau biasa dalam kehidupan sehari-herinya sebagai anak seorang konglomerat.
Untuk mencairkan ketegangan, rama pun memanggil pelayan kedai yang sejak tadi berdiri mematung di dekat meja kasir dengan wajah gugup bercampur tidak percaya melihat sosok Rama yang kini bertransformasi total.
"put kamu mau pesan apa?"
tanya rama sambil menoleh ke arah wanita di hadapannya.
"yg dingin saja," sahut putri pelan.
"baik pak kasih 2," kata rama kepada pelayan yang buru-buru mencatat pesanan dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu berjalan cepat menuju dapur belakang.
Setelah pelayan itu menjauh, rama kemudian merogoh sakunya. Ia mengambil ponselnya, menyalakan layar, lalu dia langsung menghubungi sahabatnya.
Suara nada sambung terdengar beberapa saat di dalam keheningan meja pojok mereka sebelum akhirnya panggilan itupun tersambung di seberang sana.
"wan kamu cepat kesini ke kafe biasa. aku tunggu.." ucap Rama langsung pada inti maksud tujuannya tanpa basa-basi.
Di ujung telepon, terdengar suara Iwan yang agak berisik, tampaknya ia sedang sibuk dengan aktivitas paginya pasca memenangkan taruhan besar kemarin. "ok bro bentar," kata iwan singkat sebelum memutus sambungan.
Rama menurunkan ponselnya, meletakkannya di atas meja kaca di samping botol minuman dingin mereka yang baru saja diantarkan. Matanya melirik ke arah pintu masuk kedai, menanti kedatangan satu-satunya orang yang akan menerima lembar undangan eksklusif pernikahan kontraknya bersama sang putri yang duduk tenang memandangi jalanan di luar melalui balik kaca kedai.
Suasana di sudut kedai kopi itu terasa hangat meskipun hawa tegang sisa kehebohan di luar masih belum sepenuhnya mereda. Pintu kaca kafe kembali berderit, memunculkan sesosok pria yang sangat familier bagi Rama. Tak lama Iwan pun sudah datang. Dengan langkah yg sedikit tergesa dia menghampiri sahabatnya, matanya sempat menyapu sekeliling ruangan sebelum akhirnya terkunci pada meja paling pojok tempat Rama dan sang putri duduk.
Begitu sampai di depan meja, Iwan langsung mematung selama beberapa detik. Ia menatap Rama dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mulut yang sedikit terbuka, benar-benar syok melihat transformasi drastis pemuda yang biasanya berpenampilan acak-acakan di kubikel kantor.
"waaahh kamu broo... aku sempat g mengenali mu tadi," kata iwan.. Suaranya terdengar penuh kekaguman sekaligus tidak percaya bahwa pria gagah berkarisma di hadapannya ini adalah sahabat yang kemarin malam masih makan nasi bungkus bersamanya di atas kasur tipis.
"hahah biasa aja wan. duduk dulu kita bicara," sahut Rama sambil terkekeh pelan, melambaikan tangannya untuk mencairkan suasana canggung sahabatnya. "kamu pesan saja... kali ini aku traktir," kata rama.
Iwan tersenyum lebar, langsung menarik kursi di sebelah Rama tanpa merasa canggung lagi. Ia menoleh ke arah pelayan kafe yang sejak tadi bersiap di dekat mereka. "pak, 1 cola dengan es," ucap Iwan. Pelayan hanya mengangguk cepat, lalu segera berbalik menuju meja bar.Setelah pelayan menjauh, Iwan memajukan posisi duduknya, melirik sekilas ke arah wanita cantik berwajah dingin yang duduk tenang di hadapan mereka sebelum kembali menatap Rama. "ok bro, ada apa nih.."
"gini wan... perkenalkan ini putri antasena.." ucap Rama dengan nada suara yang tenang namun penuh hormat, mengenalkan calon istri kontraknya secara resmi.
Iwan pun mengangguk sopan ke arah putri, memberikan impresi terbaik sebagai sahabat pengantin pria, meskipun di dalam hatinya ia masih berdecak kagum dengan aura berkelas yang dipancarkan oleh putri klan Antasena tersebut.
Sang putri membalas anggukan Iwan dengan sebuah senyuman tipis yang elegan.
Lalu rama menyodorkan kertas undangan exclusive dari dalam saku kemeja tipisnya ke atas meja kaca. Desain undangan itu sangat mewah, dilapisi beludru gelap dengan tinta emas murni khas Keluarga Antasena.
"minggu depan pernikahanku bro... dan hanya kamu yg aku undang. jadi tak ada alasan kamu g datang," kata Rama dengan penekanan yang tegas namun penuh kehangatan persahabatan.
Mendengar maklumat mutlak dari sahabat karibnya, Iwan langsung menegakkan posisinya dan memberikan sikap hormat jenaka. "siap laksanakan," kata iwan.. Dan mereka berdua pun tertawa bersama... Tawa lepas yang sangat renyah, memecah dinding formalitas di meja pojok tersebut. Bagi mereka berdua, status sosial mobil mewah atau kasur tipis kosan tidak akan pernah bisa mengubah esensi persahabatan sejati yang sudah mereka rajut sejak masa-masa sulit dulu.
Setelah tawa mereda dan pelayan meletakkan segelas cola dingin di hadapan Iwan, Rama melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu terus berjalan, dan jadwal yang disusun oleh Nyonya Besar Antasena untuk hari ini masih cukup padat.
"maaf wan aku tak bisa lama... ada beberapa hal yg mau aku urus dengan putri," kata Rama sambil bersiap untuk berdiri dari kursinya.Iwan mengangguk paham, meneguk colanya sekali sebelum ikut bangkit dari duduknya. "baiklah bro... sampai nanti..."
Rama memberikan tepukan pelan di bahu Iwan, lalu menuntun sang putri untuk melangkah keluar dari kedai. Di belakangnya, iwan hanya menatap punggung tegap sahabatnya dengan senyuman penuh rasa bangga. Lembar undangan mewah di tangannya adalah bukti nyata bahwa peluang kecil itu kini telah resmi dimenangkan oleh Rama.