Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: tamat
Genre:Obsesi / Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:54.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Teman Masa Kecil 23.

Keesokan harinya di pagi hari, suara deru motor NMAX hitam yang berat dan gagah membelah keheningan kompleks perumahan Livy.

Setelah bertahun-tahun berpisah jarak dengan Livy, hari ini Rayhan akan kembali berangkat sekolah bersama Livy. Namun dulu waktu SD mereka jalan kaki, hanya saja sekarang nampak berbeda.

Sedangkan dari sudut pandang lain.

Livy masih mengancingkan kerah seragam putihnya di depan cermin ketika mama Anggita mendadak berteriak dari lantai bawah.

"Livy! Ada Rayhan di bawah! Katanya mau berangkat bareng!"

Jemari Livy mendadak kaku. 'Rayhan?' Batin nya sejenak, sebelum gadis itu menyibak tirai jendela yang ada di dalam kamar.

Di bawah sana, bersandar pada sebuah motor Yamaha NMAX hitam legam yang tampak gagah dan berkilat diterpa matahari pagi, berdiri Rayhan yang sudah berseragam rapih.

Rayhan mendongak. Ketika mata mereka bertemu, cowok itu melepaskan helm full-face hitamnya, menampilkan senyum tipis yang langsung membuat perasaan Livy mendadak terasa seperti diaduk.

"Lama banget berdandan-nya, Liv"

"Bentar lagi pakai seragam! Lagian siapa si yang minta dijemput?" Teriak Livy yang kemudian sepuluh menit kedepan ia keluar kamar.

Hingga Livy bertemu Rayhan di luar rumah dan bersikap formal pada umumnya. "Ngapain kamu bawa motor segede ini? Mau sekolah atau mau mudik?"

Rayhan terkekeh pelan. Dia menegakkan posisi motornya yang tampak kokoh. "Sengaja. Biar kamu aman di belakang. Buruan naik, keburu gerbang sekolah ditutup."

Livy memandangi jok belakang NMAX yang cukup tinggi dan lebar. Tanpa berpikir panjang, Livy menaiki jok sepeda motor Rayhan.

"Pegangan, Vy," ucap Rayhan setelah Livy berhasil naik dan duduk dengan jarak beberapa sentimeter di belakangnya.

"Nggak mau. Modus kamu," gerutu Livy, melipat tangannya di dada.

Rayhan tidak mendebat. Dia hanya tersenyum di balik kaca helmnya, lalu perlahan menarik gas. Mesin NMAX itu merespons dengan halus namun bertenaga, meluncur membelah jalanan pagi yang mulai padat.

Saat motor melewati polisi tidur dengan sedikit sentakan, tubuh Livy otomatis terdorong ke depan. Tangannya refleks memegang ujung jaket denim Rayhan.

Ada kehangatan yang menjalar dari punggung cowok itu ke telapak tangan Livy.

Dari kaca spion, Livy bisa melihat mata Rayhan yang sesekali melirik ke arahnya. Tatapan cowok itu tidak lagi sama seperti dulu.

Motor melambat karena lampu merah. Rayhan menurunkan satu kakinya untuk menahan bobot NMAX yang berat itu dengan kokoh.

Dia menoleh sedikit ke belakang, menatap Livy langsung ke matanya.

"Kamu dari tadi kelihatan murung ada apa Liv?" Tanya Rayhan dengan nada serius, tanpa ada nada bercanda sedikit pun.

"Enggak apa-apa" Jawab Livy, namun hal itu jelas ada kejanggalan di mata Rayhan.

Pada akhirnya perjalanan ke sekolah di atas motor NMAX milik Rayhan kembali hening setelah Rayhan bertanya seperti itu.

Namun, begitu roda motor melewati gerbang SMA Wijaya, atmosfer hangat itu perlahan menyusut. Livy merasa ada kengerian tersendiri di balik mata seseorang.

Mata elang milik Hanafi si ketua osis yang sedang berjaga di gerbang sekolah menyorot tajam ke arah mereka.

Livy berpisah dengan Rayhan di gerbang sekolah karena pria itu pergi ke kantin buat sarapan.

Livy sendiri mulai berjalan sendirian menyusuri koridor gedung B. Tanpa gadis itu sadari bahwa Hanafi diam-diam sedang mengekori Rayhan ke kantin.

Langkah kaki Livy membawanya berhenti di depan barisan loker abu-abu.

Livy membuka loker nomor empat belas miliknya. Aroma aneh langsung menusuk hidungnya. Di dalam loker, di antara tumpukan buku cetak sosiologi, terdapat sebuah kotak bekal plastik berwarna kuning terang.

Di atasnya ada secarik kertas kecil berbentuk hati dengan tulisan tangan yang besar-besar dan agak berantakan.

“Semangat sekolahnya, Livy sayang. Dimakan ya, dicoba pakai cinta.”

Livy mengernyitkan alis. Ia membuka tutup kotak tersebut. Detik berikutnya, ia hampir ingin tertawa sinis. Di dalamnya ada potongan-potongan pancake yang bentuknya tidak keruan, dengan bagian bawah yang hitam pekat akibat gosong total.

Hampir mirip nasi goreng buatan Livy tadi pagi cuma karena ia melamun mikirin sesuatu.

Livy menatap makanan itu datar. Kepalanya mendadak memutar memori lama.

Dulu, ia pernah bangun jam lima pagi demi membuatkan Kyacharaben bento berbentuk beruang untuk seseorang. Tangannya bahkan sampai melepuh kena minyak panas, dan ia menanti di balik tembok dengan jantung berdebar hanya untuk melihat bento itu berakhir di tempat sampah karena orang tersebut enggan menerimanya.

Tanpa ragu-ragu, tanpa ekspresi, Livy menutup kembali kotak bekal itu. Ia berjalan beberapa langkah menuju tempat sampah besar di ujung koridor, lalu menjatuhkan kotak kuning itu ke dalamnya.

Suara ‘pluk’ saat kotak itu menghantam dasar tempat sampah terdengar begitu memuaskan di telinganya.

Di ujung koridor lain, terhalang oleh pilar beton besar, Galang berdiri membeku. Ia melihat dengan jelas bagaimana bekal yang ia buat sejak subuh—dengan jari telunjuk yang sempat teriris pisau dan dapur rumahnya yang berantakan—dibuang begitu saja tanpa sisa.

Teman di sebelahnya, Rian melihat hal itu, pria itu langsung menepuk bahu Galang. "Kan, saya bilang juga apa, Lang. Livy yang sekarang beda. Kamu mending menyerah deh. Dulu kamu sia-siain dia pas dia ngejar kamu kayak orang gila."

Galang tidak menjawab. Matanya masih menatap tempat sampah tempat bekalnya berada, lalu beralih menatap punggung Livy yang berjalan menjauh.

Alih-alih marah atau terluka hingga mundur, yang ada sebuah senyuman tipis menyungging di bibirnya— hampir tidak kentara muncul di sudut bibir Galang.

"Saya gak bakal menyerah," bisik Galang pada dirinya sendiri. "Saya emang pantas dapetin ini karena dulu saya masih bego. Dan saya bakal bikin dia ngeliat saya lagi, segimanapun dia buang saya."

Di jam pelajaran pertama yang sudah dimulai lima belas menit yang lalu, Galang terus melihat Livy saat sedang bertengkar konyol dengan Rayhan si murid baru. Tidak jelas pembahasan nya apa.

Namun Galang melihat sorot mata Rayhan yang semula menyipit sambil tertawa-tawa makin lama terlihat mata Rayhan semakin misterius.

Hingga waktu tak terasa berputar di jam istirahat pertama, koridor belakang sekolah cenderung sepi.

Livy duduk di bangku semen di bawah pohon rindang, menatap lurus ke lapangan basket yang kosong. Di sampingnya, Rayhan duduk sambil mengunyah roti sobek, namun matanya sejak tadi tidak lepas dari wajah teman kecilnya yang tampak mendung.

"Liv," panggil Rayhan memecah keheningan. "Tadi anak-anak kelas sebelah heboh."

"Heboh kenapa?" Tanya Livy mengerut kening.

"Mereka bilang, Galang minta jadwal piket koridor B tiap pagi. Terus tadi ada yang liat dia naruh sesuatu di loker kamu." Rayhan menjeda kalimatnya, memperhatikan perubahan raut wajah Livy yang langsung mengeras. "Dan mereka juga lihat kamu ngebuang bekal itu ke tempat sampah."

Livy mengembuskan napas berat, bersandar pada sandaran bangku. "Bukan urusan saya, Ray."

Rayhan menurunkan rotinya, menatap Livy dengan pandangan mata yang mendalam, kehilangan semua unsur jenaka yang biasanya melekat pada dirinya. "Saya tahu semuanya, Liv."

Livy menoleh, menatap Rayhan bingung. "Tahu apa?"

"Tahu gimana tindakan kamu dua tahun tahun belakangan," suara Rayhan melembut, namun terdengar begitu serius. "Saya tahu seberapa gila nya kamu dulu ngejar-ngejar cowok brengsek kayak Galang sampai kamu lupa caranya ngehargain diri kamu sendiri. Waktu saya beli sarapan pagi tadi ketua osis mendatangi saya ke kantin, dia menceritakan semuanya tentang kamu."

Livy tertegun sejenak. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mengira akan berhasil menyembunyikan semua kehancurannya di balik topeng keceriaan di depan Rayhan.

"Ray..."

"Sekarang dia baru ngerasa kehilangan pas kamu udah melangkah pergi? Dia mau ngejar kamu balik?" Rayhan tersenyum miring, ada kilatan emosi pelindung di matanya. Ia berputar, menghadap penuh ke arah Livy dan menggenggam kedua pundak gadis itu dengan lembut namun kokoh.

"Dengerin saya, Livy. Jangan pernah balik liat ke belakang lagi. Luka yang dia kasih ke kamu itu terlalu mahal buat dibayar pakai sekotak makanan gosong atau perhatian-perhatian murah dia yang sangat terlambat."

Livy menatap mata cokelat gelap Rayhan. Di sana, ia tidak menemukan candaan. Yang ada hanyalah ketulusan yang begitu pekat, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Galang selama bertahun-tahun ia berjuang sendirian.

"Saya ada di sini sekarang," ucap Rayhan, suaranya merendah, bergetar oleh emosi yang tertahan. "Saya janji, Liv. Saya bakal bikin kamu lupa sama semua rasa sakit yang pernah dia kasih. Saya bakal bikin kamu lupa gimana rasa nya ngemis cinta. Karena bareng saya, kamu cuma perlu duduk manis dan biar saya yang mastiin kamu bahagia. Gak akan saya biarin cowok itu nyentuh hidup kamu lagi."

Di bawah rindangnya pohon sekolah, di antara angin pagi yang berembus pelan, Livy merasakan ada sesuatu yang retak di dalam dadanya—bukan karena terluka, melainkan karena dinding pertahanan dingin yang ia bangun dua minggu ini perlahan mulai terkikis oleh kehangatan tangan Rayhan.

Sedangkan dari POV Galang ia tidak ingin kalah semangat dari Rayhan.

Di gedung olahraga. Pria itu memberi tahu semua teman-teman basketnya bahwa ia berniat akan menurunkan harga dirinya demi mengejar Livy yang sudah menjauh.

......................

...****************...

Tbc,

1
Syifa Azhar
Karin siapa nih?? kok tiba-tiba muncul nama beda typo kah😂
kadang temen nya livy juga sering ganti nama dari fanya jadi lazma😂😂
Rofiwan: karin tokoh sampingan baru yang muncul sesaat kak, circle livy ada 3 kak. Fanya, Lazma dengan Mayang.
total 1 replies
memei
saya saya kurang enak bgt di bacanya
memei
kata saya saya saya ,gak enak banget di bacanya
Rofiwan: iya maaf kak, kalau kurang enak dibaca🙏 di bab pertengahan cerita sudah jadi bahan evaluasi dan panggilan saya kamu udah diganti.
total 1 replies
memei
sebenarnya pasti banyak cowok yg iri PNGN jadi Galang yg di cintai cewek secara ugal ugalan
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
HO OH! kek begituu jadi cewekk, laki-laki nggak cuma dia piwisss
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
Ulalala....
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
Ya jujurr aja, kalau gue jadi Galang juga gue risih bjirr.
Syifa Azhar
sering typo kadang kelas XII kadang kelas 9🙄
Rofiwan: aku nulisnya tengah malam kak🤣
total 1 replies
Syifa Azhar
kalau sudah tiada baru terasa 💃💃
Syifa Azhar
ini kan yang kamu harapkan terus kenapa harus merasa aneh Galang?
Syifa Azhar
good jadi wanita kudu harga diri👍👍👍
Syifa Azhar
nah gitu dong,👍👍
berdirilah dimana kamu dihargai💪
Syifa Azhar
jika tidak di harapkan jangan datang💪
Syifa Azhar
jangan jatuhkan harga dirimu sedemikian rupa Ivy,cinta boleh bodoh jangan😂
Syifa Azhar
peduli boleh tapi gak gitu juga vy🙄
Syifa Azhar
gimana Galang gak ilfil sama kamu Ivy,kalau sikapmu seperti emang bener Galang bilang kamu cewek psikopat 😬
Syifa Azhar
siapa lagi Rangga???salah nama apa ceritain pemeran baru?
Syifa Azhar
susah memang kalau berurusah sama orang yang sudah kategori "obsesi jiwa"😂
Syifa Azhar
ceritanya menarik,cuma terlalu formal untuk bahasa sehari-hari dilingkungan sekolah, kata-kata saya bisa di ubah aku,kamu mungkin biar lebih enak cerita nya 😂
Rofiwan: iya kak, aku akui emang formal dan kaku banget, tapi bab bab kesananya udah ku ubah kok. yang bab-bab awal pondasi cerita aku memang memilih ga revisi bab nya😄
total 1 replies
Syifa Azhar
jiwa muda yang masih penuh tantangan,dimana ego dan gengsi saling beradu😂
coba kita lihat seberapa keras perjuanganmu Ivy sampai kamu menyadari arti perjuangan mu benarkan cinta atau hanya sekedar obsesi🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!