Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Di sel tahanan yang pengap dan lembap, Herman hampir tak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, telinganya selalu diusik oleh suara-suara aneh, rintihan, gesekan kuku pada tembok, hingga derai tawa lirih wanita. Dan anehnya hanya dia yang mengalami itu. Mentalnya terkikis perlahan, membuatnya semakin kurus.

Malam itu, ruangan sel yang sempit dihuni oleh beberapa tahanan lama. Suasana remang menambah kesan mencekam di dalam ruangan berjeruji besi tersebut.

"Hey, kau anak baru!" sentak seorang tahanan berbadan besar dan bertato, memecah kesunyian dengan suara seraknya yang berat.

Herman yang duduk meringkuk di sudut hanya menoleh perlahan tanpa bersuara.

"Eh, dipanggil bukannya jawab! Cepat ke sini, pijitin aku!" gertak lelaki itu lagi seraya meluruskan kakinya di atas lantai semen.

Herman kembali menoleh. Namun, saat tatapannya beradu dengan lelaki berbadan tegap itu, pandangannya mendadak mengabur. Udara di dalam sel bertambah dingin secara tidak alami. Bau minyak melati berbau busuk mendadak memenuhi indra penciumannya.

Dalam penglihatan Herman, sosok tahanan pria yang garang itu perlahan memudar, berganti menjadi seorang wanita berparas sangat cantik. Kulitnya putih bersih bagai pualam, rambut hitamnya yang panjang terurai indah menutup sebagian punggungnya, dan bibirnya tersenyum manja menggoda.

Herman bagai terhipnotis. Pikiran sehatnya mendadak lenyap ditelan pesona ilusi gaib tersebut. Sifat mata keranjangnya kini bangkit tanpa kendali. Tanpa ragu, Herman bangkit dan melangkah mendekat dengan tatapan terpana.

"Cepat pijiti pundakku!" ucap sosok wanita itu, yang sebenarnya adalah suara berat tahanan berbadan besar tersebut, namun terdengar sangat merdu di telinga Herman.

Tanpa membantah, Herman berlutut di belakangnya dan mulai memijat pundak tegap itu. Namun lama-kelamaan, pijatan Herman berubah menjadi elusan lembut yang merayap perlahan menyusuri leher.

Tahanan berbadan besar itu tersentak kaget. Sebelum ia sempat berbalik penuh amarah, Herman yang sudah dirasuki ilusi liar malah memajukan wajahnya, mencoba menyosor leher tahanan tersebut.

"Heh! Gila kau, ya?!" bentak tahanan itu murka.

Bugggh!

Sebuah pukulan mentah melayang telak menghantam rahang Herman. Pria itu tersungkur ke lantai semen yang dingin, seketika tersadar dari ilusi yang menguasainya. Pandangannya kembali jernih. Sosok wanita cantik bermata menggoda itu lenyap, menyisakan wajah tahanan brewokan yang kini menatapnya dengan penuh rasa jijik dan amarah membara.

"Kurang ajar! Mau cari mati kau?!"

Tanpa ampun, tahanan itu bersama beberapa rekan selnya langsung menerjang dan memukuli Herman yang terlentang tak berdaya. Di tengah rintihan kesakitannya menahan remukan pukulan, Herman mendengar suara tawa wanita melengking terus mempermainkan jiwanya.

"Dasar edan!" umpat tahanan berbadan besar itu meludah ke lantai, disusul sorakan dan cemoohan dari tahanan lain.

Herman terkapar meringkuk di lantai semen yang dingin. Tubuhnya memar-memar dan babak belur, rasa sakit berdenyut hebat di rahang serta dadanya. Napasnya terengah-engah, bersatu dengan rasa malu dan ketakutan yang teramat sangat.

Di tengah sisa kesadarannya yang kian meredup, penglihatan Herman tertuju pada sel yang paling gelap. Di sana, di antara jeruji besi, sosok Nina berdiri membeku. Gaun putihnya yang bernoda tampak kontras dengan kegelapan, dan wajah pucatnya memancarkan seringai dingin yang mengerikan.

"Ini baru permulaan, Herman..."

Suara itu berbisik lirih tepat di dalam kepala Herman. Herman hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat.

***

Suasana makan malam di rumah Roni terasa begitu tegang. Di meja makan sederhana itu, berbagai hidangan telah tersaji rapi. Rukmini dan Ruhi langsung mengambil posisi duduk nyaman, mata mereka menyapu deretan makanan tanpa sedikit pun sungkan. Sejak tiba di rumah itu, tak sepucuk jarum pun mereka sentuh untuk membantu Hana yang sibuk bergelut di dapur menyiapkan makan malam.

Suara dentingan sendok dan piring mendominasi ruangan untuk beberapa saat sebelum Ruhi akhirnya membuka suara. Dengan mode angkuh yang tak juga luntur, ia memandang adiknya.

"Kami jadi tinggal di sini kan, Ron?" tanya Ruhi santai sembari mengunyah lauknya.

"Iya. Kalian boleh tinggal di sini."

Bukan Roni yang menjawab pertanyaan itu, melainkan Hana. Wanita itu memotong pembicaraan dengan suara datar dari ujung meja.

Rukmini dan Ruhi seketika saling pandang. Ukiran senyum penuh kemenangan merekah di bibir mereka berdua. Senyum menyebalkan yang seolah menegaskan bahwa posisi mereka kini telah aman.

"Dari tadi kenapa tidak bilang kalau boleh, pake diskusi segala." sahut Ruhi lagi, terkekeh pelan dengan nada meremehkan. "Lagipula, meskipun tidak diizinkan, kami akan tetap tinggal di sini."

Ucapan tidak tahu diri itu membuat dada Hana bergemuruh, namun ia memilih menyunggingkan senyum sinis. Ia malas menanggapi celotehan kakak iparnya yang tak tahu malu itu. Ruhi dan Rukmini boleh saja merasa menang malam ini, tetapi mereka tidak tahu bahwa Hana sudah menyusun rencana yang jauh lebih indah, sebuah perangkap halus yang siap mengubah hari-hari kedua wanita itu di rumah ini menjadi neraka bertahap.

*

Pagi itu, Roni sudah berangkat ke luar desa sejak subuh. Ia harus mencari pasokan kayu baru untuk usaha mebelnya, meninggalkan rumah dalam keadaan hening. Tinggallah Hana seorang diri di meja makan, menikmati sepiring nasi goreng hangat yang baru saja ia buat.

Tak lama kemudian, terdengar pintu kamar tamu terbuka. Rukmini dan Ruhi keluar dengan langkah malas, rambut mereka masih acak-acakan dan wajah bantal yang belum dibasuh. Tanpa mengucap salam, kedua wanita itu langsung menghempaskan diri di kursi meja makan, menguap lebar.

Namun, mata Ruhi menyapu meja yang bersih tanpa tudung saji. Tidak ada hidangan apa pun yang tersaji di sana, selain piring nasi goreng milik Hana.

"Mana sarapan buat aku dan Ibu, Han?" tanya Ruhi dengan nada menuntut, seolah meminta haknya sebagai ratu di rumah itu.

Hana menghentikan kunyahannya perlahan. Ia meletakkan sendoknya ke atas piring dengan dentingan pelan, lalu mendongak menatap kakak iparnya dengan pandangan dingin dan tak acuh.

"Mau sarapan? Masak saja sendiri. Di kulkas banyak bahan makanan," ucap Hana santai, lalu kembali melanjutkan suapannya.

Rukmini dan Ruhi seketika saling pandang, terperanjat dengan jawaban tajam yang baru saja mereka dengar. Wajah Rukmini memerah menahan kaget, sementara emosi Ruhi langsung mendidih.

"Apa maksudmu?! Aku ini kakak iparmu, dan Ibu ini mertuamu! Ya harusnya kamu yang menyiapkan semuanya!" bentak Ruhi tinggi, menunjuk wajah Hana dengan kurang ajar.

BRAKKK!

Hana memukul meja makan dengan telapak tangannya begitu keras hingga piring dan gelas di atasnya berdenting nyaring. Rukmini dan Ruhi tersentak, refleks mundur menempel pada sandaran kursi.

Hana bangkit berdiri, menatap kedua wanita di hadapannya dengan tatapan menusuk dan senyum sinis yang mengerikan.

"Hei! Kalian itu cuma numpang di rumahku!" bentak Hana penuh penekanan di setiap kata. "Enak saja mau jadikan aku macam pembantu kalian! Ingat ya! Aku bukan Nina yang bisa seenaknya kalian injak-injak! Apalagi ini di rumahku sendiri!"

Suasana di meja makan seketika membeku.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!