Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang belum ditepati
“Papa… Leo minta maaf, ya.”
Anak laki-laki itu masih berada dalam gendongan Ardan. Satu tangannya memainkan kancing kemeja suaminya, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Ardan yang sejak tadi berusaha menenangkannya.
Setelah tangisannya mereda, keempatnya pun berjalan menyusuri pesisir pantai menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat mereka bertemu. Jenaya berjalan berjejer dengan Ardan di depan, sementara Naresa mengikuti beberapa langkah di belakang mereka. Tatapannya terpaku pada suaminya yang masih menggendong anak laki-laki bernama Leo itu, putra Jenaya.
Pertemuan yang sama sekali tidak ia duga itu akhirnya membawa mereka pada situasi seperti sekarang. Setelah cukup lama berusaha menenangkan tangisan Leo, Ardan tampaknya tidak tega membiarkan bocah itu kembali pada Jenaya. Entah bagaimana caranya, bocah itu justru semakin nyaman berada dalam gendongannya.
Naresa hanya bisa memperhatikan dari belakang dengan wajah sedikit cemberut. Bukan karena ia iri pada perhatian Ardan yang kini sepenuhnya tertuju pada Leo. Setidaknya, bukan itu yang ingin ia akui.
Sejak awal, ia tidak pernah keberatan berlibur bersama Kale dan ketiga temannya. Mereka punya agenda sendiri, dan Naresa tetap bisa menikmati waktu bersama Ardan tanpa merasa terganggu. Namun, kehadiran Jenaya terasa berbeda. Terlebih ketika ia dan Ardan baru saja mendapatkan waktu untuk berdua, kini perhatian suaminya kembali tersisa oleh masa lalu yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Kalo boleh jujur, Naresa juga tidak terlalu menyukai sikap suaminya yang selalu menuruti kemauan anak kecil. Ardan seperti tidak pernah benar-benar bisa menolak ketika seorang anak merengek kepadanya. Bahkan sekarang, setelah tangis Leo berhenti, perhatian lelaki itu masih sepenuhnya tercurah kepadanya.
“Kenapa Leo minta maaf, hm?” Suara Ardan terdengar dari depan, lembut dan sabar.
Bocah itu menunduk sebentar sebelum kembali memainkan kancing kemeja Ardan. “Kata Bunda Leo nakal.”
“Leo!” Jenaya langsung menoleh ke samping, menatap putranya.
“Katanya, kalau Leo nakal, Papa nggak mau ketemu Leo lagi. Pas malam itu, Papa kan pergi ninggalin Leo, pergi sama Tante itu.” Telunjuk kecilnya kemudian terangkat, menunjuk ke arah Naresa.
Naresa yang sejak tadi berjalan di belakang mereka hanya mengangkat alis tipis. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, Ardan sudah lebih dulu menoleh. Pandangan lelaki itu langsung tertuju kepadanya.
“Sayang, kok di belakang? Sini dong.” Tanpa menunggu jawaban, Ardan mengulurkan tangan dan menarik pelan pergelangan tangan Naresa, membawanya berjalan tepat di sebelahnya.
Melihat itu Jenaya lagi-lagi tidak mampu berkata-kata. Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika melihat putranya berada begitu dekat dengan lelaki yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya, sementara perempuan yang kini berada di samping Ardan adalah istrinya. Pemandangan itu seharusnya sederhana, tetapi bagi Jenaya, ada terlalu banyak hal yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
“Leo, sama Bunda, ya? Kasihan Om Ardan sama Tante Naresa-nya,” ujar Jenaya berusaha mengambil alih putra kecilnya yang semakin erat melingkarkan kedua tangannya di leher Ardan.
Ardan menoleh kepada Jenaya. “Gapapa, Jen. Sama aku dulu aja.”
Jenaya terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Ia tahu tidak ada gunanya memaksa Leo ketika anak itu sudah memilih untuk tetap berada dalam gendongan Ardan.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di restoran yang menghadap langsung ke laut. Keempatnya memilih sebuah meja bundar dan duduk saling berhadapan. Leo tetap berada di pangkuan Ardan, sementara Jenaya duduk di seberang mereka. Naresa yang berada di samping Ardan sempat memperhatikan beberapa pasang mata yang sesekali tertuju ke meja mereka. Ada yang hanya melirik sekilas, ada pula yang memandang sedikit lebih lama sebelum kembali mengalihkan perhatian. Melihat itu, Naresa mulai merasa pemandangan di meja mereka memang cukup mudah disalahartikan. Ardan duduk di tengah dengan seorang anak laki-laki di pangkuannya, sementara di kedua sisinya ada dua wanita. Sekilas, orang mungkin akan mengira Ardan sedang duduk bersama dua istrinya dan satu anak laki-laki.
Naresa mengembuskan napas pelan. Entah kenapa, pikiran itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.
Setelah makanan datang, Ardan kembali mengajak Leo berbicara panjang lebar. Dengan sabar ia menjelaskan bahwa melempar gelas kepala orang lain bukan sesuatu yang boleh dilakukan, tidak peduli seberapa kesalnya Leo saat itu. Ia juga mengingatkan bocah itu untuk meminta maaf kepada Naresa atas kejadian beberapa malam sebelumnya, ketika Leo melemparkan sebuah gelas kepada dirinya hingga meninggalkan memar di tulang selangkanya.
Leo akhirnya menoleh kepada Naresa. Ia sempat diam, lalu berkata pelan, “Tante Naresa… Leo minta maaf.”
Naresa menatapnya beberapa saat. Ia sebenarnya tidak pernah tahu bagaimana harus berbicara kepada anak kecil, terlebih kepada anak berusia 6 tahun yang kini duduk tepat di hadapannya dengan wajah penuh rasa bersalah. Ardan mungkin bisa dengan mudah menjelaskan sesuatu kepada Leo sampai bocah itu mengerti, tetapi Naresa tidak pandai melakukan hal semacam itu. Karena itu, setelah beberapa detik terdiam, ia hanya mengangguk kecil.
“Iya. Tante maafin.”
Jawabannya terdengar kaku, tetapi hanya itu yang mampu ia katakan. Ia tidak tahu harus menambahkan apa lagi. Bagaimanapun, di hadapannya hanya ada seorang anak kecil yang sudah meminta maaf atas kesalahannya. Dan Naresa tidak punya alasan untuk terus mempermasalahkannya.
Percakapan mereka akhirnya berlanjut sampai waktu makan selesai. Setelah itu, mereka kembali resort. Ternyata, Jenaya pun menginap di sana. Bahkan, kamar mereka hanya berjarak 4 kamar dari kamar Naresa dan Ardan.
Naresa hanya bisa menatap kosong ketika mengetahui hal itu. Rupanya, liburan yang sejak awal ia bayangkan akan menjadi waktu tenang bersama suaminya benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk berjalan sesuai rencana.
Kini, setelah semuanya selesai, Naresa dan Ardan akhirnya kembali berada di kamar mereka.
“Mau pindah resort aja?” Tanya Ardan begitu melihat wajah masam istrinya yang sedari tadi hanya diam.
Ardan sendiri tentu tidak pernah menyangka mereka akan bertemu dengan Jenaya di tempat ini. Namun, ia juga tidak bisa berbuat banyak. Ini tempat wisata, dan Jenaya berhak datang ke manapun yang ia inginkan.
“Sayang…” Ardan menarik bahu Naresa agar mendekat padanya. “Maaf, ya.”
Naresa menoleh. Raut wajahnya masih menyimpan kesal dan marah. “Kak Ardan selalu aja minta maaf, tapi ujung-ujungnya aku tetap harus menghadapi hal yang sama.”
Ia menyingkirkan tangan Ardan yang masih bertahan di bahunya, lalu mengalihkan pandangan ke jendela besar di hadapan ranjang tempat mereka duduk.
“Kak Ardan pernah janji bakal cerita soal masa lalu kalian. Tapi mana?” Naresa kembali menoleh kepadanya. Kali ini tatapannya jauh lebih serius. “Selama ini aku selalu sabar. Aku nggak pernah maksa Kak Ardan buat cerita. Aku nunggu karena Kak Ardan sendiri yang janji.”
Ia terdiam sebentar, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dadanya. “Tapi sampai sekarang nggak pernah ada ceritanya.” Suaranya terdengar lebih pelan. “Jujur, aku nggak nyaman. Aku capek harus terus-terusan tahu sesuatu tentang masa lalu Kak Ardan dari kejadian yang muncul di depan mata aku.”
Naresa menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “aku mau pulang.”