Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Pria menyebalkan itu
Pagi itu Azmira sudah berada di ruang poli ketika perawat masuk membawa daftar pasien. Ia duduk dengan tegas, jas putih sudah melekat di tubuhnya menambah kesan perempuan dewasa dan penuh wibawa.
"Dok, pasien pertama sudah menunggu."
Azmira mengangguk. "Baik, silakan masuk."
Beberapa saat kemudian seorang ibu bersama anaknya masuk ke ruang pemeriksaan.
Azmira mempersilakan mereka duduk, lalu memeriksa data pasien yang sudah tersedia di hadapannya.
"Apa keluhannya, Bu?"
Perempuan itu mulai menjelaskan kondisi anaknya. Azmira mendengarkan dengan saksama, sesekali mengajukan beberapa pertanyaan untuk memastikan keluhan yang dirasakan.
Setelah melakukan pemeriksaan, Azmira menjelaskan kondisi pasien dan memberikan beberapa anjuran kepada sang ibu.
"Untuk sementara, obatnya diminum sesuai aturan. Kalau keluhannya tidak membaik atau justru semakin berat, segera kembali untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama, Bu."
Setelah pasien keluar, Azmira kembali melihat daftar pasien berikutnya.
Begitulah pagi itu berjalan. Satu pasien datang, kemudian berganti dengan pasien lainnya. Tidak ada yang terlalu berbeda dari hari-hari sebelumnya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Menjelang Siang Azmira kembali ke ruang kerjanya setelah seharian tugasnya di ruang poli anak. Namun baru beberapa meter berjalan, Tania sudah menghampirinya.
"Mira."
Azmira menoleh. "Iya?"
"Sudah dengar?"
"Dengar apa?"
Tania mendekat dan menurunkan suaranya. "William Adams akan mulai bekerja di rumah sakit ini."
Azmira menghela napas. "Dia memang bilang kemarin."
Tania langsung membulatkan mata. "Dia ngomong langsung sama kamu?"
"Iya."
"Terus?"
Azmira melanjutkan langkah. "Terus apa?"
"Kamu nggak merasa aneh?"
Azmira mengernyit. "Aneh bagaimana?"
"Anak pemilik rumah sakit tiba-tiba turun langsung bekerja."
Azmira mengangkat bahu. "Ya bagus."
Tania mengikutinya. "Katanya papanya memang sengaja menugaskan dia."
Azmira berhenti. "Menugaskan?"
"Iya. Bukan sekadar datang sesekali."
Tania menjelaskan dengan antusias. "Papanya ingin William belajar semua bagian rumah sakit. Mulai dari administrasi, pelayanan pasien, sampai pengelolaan keuangan."
Azmira kembali berjalan. "Berarti dia memang harus bekerja."
"Betul."
Azmira tersenyum tipis. "Semoga dia tidak terlalu menyebalkan kalau sudah bekerja."
Tania terkekeh. "Kayaknya itu sulit."
Belum sempat Azmira menjawab, terdengar suara seorang laki-laki dari belakang mereka. "Saya juga berharap begitu."
Langkah Azmira seketika langsung berhenti.
Tania menutup mulut. Azmira perlahan menoleh tapi bukannya mundur William justru maju dan berhenti beberapa meter dari mereka.
Kemeja formalnya terlihat rapi. Satu tangannya memegang beberapa dokumen, sementara wajahnya menunjukkan senyum tipis.
Azmira menghela napas. "Anda suka menguping?"
William berjalan mendekat. "Saya tidak menguping."
"Lalu?"
"Saya kebetulan lewat."
Tania menunduk, berusaha menyembunyikan senyum. William kemudian menatap Azmira.
"Dan ternyata dokter yang kemarin juga ada di sini."
Azmira mengangkat alis. "Memangnya Anda berharap saya tidak bekerja?"
"Tidak."
"Bagus."
William tersenyum. "Saya hanya memastikan."
"Memastikan apa?"
William menatapnya beberapa detik. "Bahwa Anda memang suka berdebat."
Azmira mendengus. "Saya hanya menjawab kalau diajak bicara."
William terkekeh kecil. "Baiklah."
Ia kemudian melangkah melewati mereka. Namun sebelum benar-benar pergi, William berhenti.
"Oh, Dokter."
Azmira menoleh. "Ya?"
"Kalau nanti kita bertemu lagi..."
Azmira langsung menyela. "Saya tahu."
William mengangkat alis. "Tahu apa?"
"Anda akan bilang saya lagi."
William tersenyum. "Sepertinya Anda sudah hafal."
Azmira memutar bola matanya. Sementara William kemudian pergi. Tania langsung menyenggol lengan Azmira.
"Mira."
"Apa?"
"Kalian seperti anak sekolah."
Azmira menatapnya tajam. "Jangan mulai."
☘️☘️☘️☘️
Beberapa jam kemudian, seluruh kegiatan rumah sakit mendadak sedikit berubah. Beberapa dokter dan kepala bagian dikumpulkan di ruang rapat. Azmira sebenarnya tidak terlalu tertarik. Ia hanya datang karena diminta oleh kepala bagian untuk mewakili beberapa dokter muda.
Di depan ruangan, seorang pria paruh baya berdiri. Dialah pemilik rumah sakit. Di sampingnya berdiri William.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu."
Pria itu membuka rapat. "Saya ingin menyampaikan bahwa mulai hari ini William akan membantu saya dalam pengelolaan rumah sakit."
Beberapa orang saling berpandangan.
"Selama beberapa bulan ke depan, dia akan mempelajari setiap bagian rumah sakit secara langsung."
Pria itu kemudian menoleh kepada putranya. "Saya tidak ingin kamu hanya duduk di ruangan saya dan membaca laporan."
William mengangguk. "Saya mengerti, Pa."
"Kamu harus tahu bagaimana rumah sakit ini berjalan."
"Baik."
"Mulai dari pasien, tenaga medis, administrasi, sampai masalah yang sering terjadi di lapangan."
William kembali mengangguk. "Saya akan belajar."
Azmira yang duduk di bagian belakang hanya memperhatikan tanpa banyak bicara. Namun ketika papanya William selesai berbicara, pria itu memberikan satu pesan terakhir.
"Jangan merasa kamu anak pemilik rumah sakit."
William menatap ayahnya.
"Di sini kamu tetap harus bekerja."
William tersenyum tipis. "Saya tahu."
Azmira tanpa sadar mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya, ia melihat William bukan hanya sebagai pria menyebalkan yang dua kali bertabrakan dengannya.
Mungkin lelaki itu memang datang untuk bekerja. Bukan sekadar bermain-main dengan jabatan ayahnya.
☘️☘️☘️☘️
Hari-hari berikutnya membuktikan hal tersebut. William benar-benar turun ke berbagai bagian rumah sakit.
Ia datang pagi. Mengikuti rapat. Memeriksa laporan lalu berbicara dengan perawat. Bahkan beberapa kali terlihat berada di bagian administrasi pasien.
Namun suatu pagi, terjadi sesuatu yang membuat suasana rumah sakit sedikit tegang. Seorang perempuan paruh baya datang bersama suaminya.
Wajah mereka terlihat cemas. Perempuan itu membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Dokter..."
Azmira menatapnya. "Iya, Bu?"
"Katanya anak saya belum bisa menjalani pemeriksaan karena ada berkas yang kurang."
Azmira melihat dokumen tersebut. Setelah memeriksanya, ia memahami masalahnya.
"Sebentar, Bu. Saya coba tanyakan."
Azmira berjalan menuju bagian administrasi. Namun seorang staf menghentikannya.
"Dokter, prosedurnya memang begitu."
"Saya tahu."
"Kalau berkasnya belum lengkap, kami tidak bisa memproses."
Azmira menatap staf tersebut. "Pasiennya sudah menunggu sejak pagi."
"Kami juga punya aturan."
Azmira menarik napas. "Saya tidak meminta aturan itu dilanggar."
"Lalu?"
"Kita cari solusinya."
Staf tersebut terlihat ragu. Di saat yang sama, sebuah suara terdengar dari belakang.
"Memangnya masalahnya apa?"
Azmira menoleh ke arah belakang dan ternyata di situ sudah ada William. Pria itu berjalan mendekat. Staf tersebut menjelaskan keadaan pasien. William membaca dokumen yang diberikan kepadanya.
"Kenapa belum bisa diproses?"
"Karena ada persyaratan yang belum lengkap."
William mengangguk. "Kalau begitu lengkapi."
"Masalahnya pasien tidak membawa—"
"Hubungi keluarganya."
Staf itu terdiam. "Kalau tidak bisa dihubungi?"
William menatapnya. "Cari cara lain."
Azmira memperhatikannya. William kemudian menatap staf tersebut.
"Pasien datang ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Jangan membuat mereka merasa seperti sedang meminta belas kasihan."
Suasana mendadak hening. Azmira terdiam.
Ia tidak menyangka William akan mengatakan hal tersebut, lalu William menyerahkan dokumen itu kembali.
"Selama ada jalan yang sesuai aturan, jangan mempersulit."
Staf tersebut mengangguk. "Baik, Pak."
William kemudian berjalan pergi sementara Azmira masih berdiri di tempat, kali ini ia mendadak kaku. Ternyata... pria menyebalkan itu punya sisi lain yang belum pernah ia lihat.
William berhenti beberapa langkah dari tempatnya. Tanpa menoleh, ia berkata,
"Dokter."
Azmira tersentak. "Iya?"
"Jangan menatap saya seperti itu."
Azmira mengerutkan kening. "Seperti apa?"
"Seperti baru melihat saya melakukan sesuatu yang benar."
Azmira mendengus. "Geer."
William tersenyum. "Saya hanya bercanda."
Azmira memutar bola matanya, Namun kali ini, tanpa ia sadari... sudut bibirnya ikut terangkat. Azmira mulai menyadari satu hal.
William Adams mungkin memang menyebalkan. Tetapi mungkin... ia tidak seburuk yang selama ini ia pikirkan.
Bersambung...
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡