Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Prolog

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun itu, mengayuh sepeda mininya menyusuri jalan desa yang mulai ramai oleh anak-anak berseragam sekolah.

Senyum khas selalu menghiasi wajah mungilnya. Setiap kali berpapasan dengan orang yang dikenalnya, Mira tak pernah lupa menganggukkan kepala atau sekadar melambaikan tangan.

“Pagi, Mira!”

“Pagi, Bu!”

“Sekolah?”

“Iya, Bu!”

Jawabannya selalu sama. Ceria, ringan, seolah tidak pernah ada beban yang sedang dipikulnya.

Orang-orang memang lebih sering memanggilnya Mira daripada Azmira. Gadis kecil itu sudah begitu terbiasa hingga terkadang ia sendiri lupa bahwa namanya sebenarnya cukup panjang.

Mira adalah anak yang baik.

Ia juga rajin bekerja.

Tidak ada pekerjaan yang menurutnya terlalu kecil selama pekerjaan itu halal dan bisa menghasilkan sedikit uang untuk membantu ibunya.

Sepulang sekolah, ketika teman-temannya berlari menuju rumah untuk makan siang atau bermain, Mira sering kali justru berbelok ke tempat lain.

Kadang ia membantu seorang pedagang mengangkat barang.

Kadang menjaga warung milik tetangga.

Kadang membantu seorang ibu mencuci piring setelah acara keluarga.

Upahnya tidak pernah besar.

Seribu rupiah.

Dua ribu rupiah.

Kadang hanya diberi makanan.

Namun bagi Mira, uang sekecil apa pun tetap berarti.

Sebab di rumah ada seorang ibu yang harus dipikirkan.

Ibunya berjualan makanan dan barang-barang kecil secara keliling dari satu tempat ke tempat lain. Penghasilan mereka tidak menentu. Ada hari ketika dagangan hampir habis dan mereka bisa makan dengan cukup.

Namun ada pula hari ketika ibunya pulang dengan wajah lelah sementara dagangannya masih tersisa banyak.

Mira tahu semua itu.

Mungkin karena itulah sejak kecil ia belajar untuk tidak banyak meminta.

Sepasang sepatu yang mulai berlubang di bagian depan tidak membuatnya malu.

Tas sekolah yang talinya pernah putus dan dijahit berkali-kali juga tidak membuatnya minder.

Selama masih bisa dipakai, Mira akan tetap menggunakannya.

Pernah suatu hari seorang teman memperhatikan lubang pada sepatunya.

“Mira, sepatu kamu rusak.”

Mira menunduk sebentar, lalu tersenyum.

“Masih bisa dipakai.”

“Aku punya sepatu bekas. Kalau kamu mau, nanti aku kasih.”

Mira langsung menggeleng.

“Enggak usah.”

“Kenapa?”

“Kalau kamu punya pekerjaan buat Mira, Mira mau.”

Temannya mengernyit bingung.

“Maksudnya?”

Mira tersenyum lebar.

“Suruh Mira bantu apa saja. Nanti uangnya buat beli sepatu.”

Sesederhana itu cara berpikirnya.

Mira tidak ingin dikasihani.

Ia ingin mendapatkan sesuatu dari hasil tenaganya sendiri.

Mungkin bagi orang dewasa, pemikiran seperti itu terdengar sederhana.

Namun bagi seorang anak berusia sepuluh tahun, ada sesuatu yang membuatnya berbeda.

Mira tumbuh menjadi anak yang kuat bukan karena hidup selalu memperlakukannya dengan baik.

Justru karena sejak kecil kehidupan mengajarinya bahwa tidak semua keinginan bisa dipenuhi.

Ia tahu rasanya melihat teman-temannya membeli jajanan sementara ia hanya menelan ludah.

Ia tahu rasanya ingin memiliki tas baru tetapi harus menerima kenyataan bahwa tas lama masih harus dipakai.

Ia tahu bagaimana rasanya pulang sekolah dengan perut kosong karena uang jajannya sengaja disisihkan untuk membantu ibunya.

Tetapi anehnya, Mira tidak pernah terlihat murung terlalu lama.

Ia selalu punya cara untuk membuat dirinya sendiri bahagia.

Kadang hanya dengan menemukan permen murah di warung.

Kadang dengan bercanda bersama teman.

Atau sekadar melihat ibunya tersenyum ketika Mira menyerahkan uang hasil pekerjaannya.

“Ini buat Ibu.”

Biasanya sang ibu akan menatap uang receh di telapak tangan kecil itu dengan mata berkaca-kaca.

“Mira, simpan saja untuk jajan.”

Mira akan menggeleng.

“Mira masih punya bekal.”

“Kalau kamu mau beli sesuatu?”

“Nanti saja.”

Jawaban itu selalu terdengar ringan.

Seolah Mira tidak pernah menginginkan apa pun.

Padahal tentu saja ia punya keinginan.

Ia ingin sepatu baru.

Ia ingin tas baru.

Ia ingin sesekali membeli jajanan seperti teman-temannya tanpa harus menghitung sisa uang di sakunya.

Namun ada satu hal yang tidak pernah ia katakan kepada siapa pun. Mira juga ingin tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ayah. Sebab di sekolah, hampir semua teman-temannya pernah bercerita tentang ayah mereka.

Tentang ayah yang mengantar sekolah. Yang membelikan sepeda, juga memarahi mereka ketika pulang terlambat.

Sementara Mira hanya memiliki ibu. Ketika ada yang bertanya tentang ayahnya, ia selalu tersenyum.

“Enggak tahu.”

Lalu ia akan mengalihkan pembicaraan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum cerianya, ada sebuah pertanyaan yang selama sepuluh tahun tidak pernah mendapatkan jawaban.

Dan tidak ada seorang pun yang tahu... bahwa kelahiran Azmira dahulu bukanlah sesuatu yang dinantikan. Ia bahkan lahir membawa satu kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Kesalahan karena terlahir sebagai seorang perempuan. Namun Mira belum tahu tentang semua itu.

Untuk saat ini, ia hanya seorang gadis kecil yang mengayuh sepeda mininya menuju sekolah, dengan sepatu berlubang, tas yang mulai rusak, dan senyum yang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya.

Ia belum tahu bahwa suatu hari nanti, masa lalu yang selama ini disembunyikan ibunya akan datang mengetuk kehidupannya.

Dan ketika pintu itu terbuka... Mira mungkin akan mempertanyakan satu hal yang paling menyakitkan. Mengapa sejak awal dirinya tidak pernah diinginkan?

Assalamualaikum Kakak...

Maaf ya akhir-akhir ini sering ngilang. Tapi tenang saja sekarang aku datang lagi dengan buku baru yang insyaallah bisa menginspirasi kalian semua. Selamat membaca prolog dari kisah Azmira ini ya. Salam sayang dari aku ♥️♥️♥️♥️♥️

Wassalam ....

Terpopuler

Comments

Ghiffari Zaka

Ghiffari Zaka

waalaikum salam kak author...mohon iiZhin baca🙏🙏🙏
kayaknya seru dech Thor ceritanya,awal2 aja ud buat AQ berkaca2 gmn nnt seterusnya ya??? cukup GK tisu 1 bungkus buat AQ?? GK perlu panjang2 Thor ceritanya,tp mengena di hati pembaca,dan itu ud wae bngt Thor,tp 1 Thor AQ mau jangan endingnya Mira ttp menderita AQ mau dia dan ibunya bahagia tanpa keluarga yg menolaknya/Sob//Sob//Sob/

2026-08-15

1

Rohmi Yatun

Rohmi Yatun

waalaikumsalam.. . q hadir disini.. sepertinya cerita nya bakal menarik.. lanjut Thor.. 👍🙏

2026-08-15

1

Nar Sih

Nar Sih

wa ,alaikum salam hadier kak

2026-08-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!