Bab Bertemu Shasa

Bel pulang sudah berbunyi. Anak-anak pun mulai berhamburan meninggalkan kelasnya masing-masing. Namun, tidak dengan Azmira. Anak itu baru beranjak dari bangkunya ketika ruang kelas mulai kosong. Ia segera menghampiri Ibu Sinta, guru Bahasa Indonesia yang tadi sempat memberikan nasihat baik untuk dirinya.

Melihat Mira berjalan ke arahnya, Ibu Sinta mulai bertanya. “Mira, kenapa tidak pulang cepat?”

Anak itu menggeleng pelan. “Mira mau bantu Ibu Guru membersihkan meja,” ujarnya.

“Enggak usah, Nak. Ini sudah menjadi tugas Ibu,” sahut Ibu Sinta.

Mira terdiam. Namun dari gelagatnya terlihat jelas kalau anak itu tidak ingin menyerah begitu saja.

“Bu, boleh ya Mira bantu Ibu sekali ini saja? Kan tadi Ibu sudah bantuin Mira.”

Ibu Sinta yang sedang menata buku menghentikan pergerakan tangannya.

“Nak, apa yang Ibu lakukan tadi sudah menjadi tanggung jawab Ibu. Mira tidak boleh merasa tidak enak sama Ibu.”

“Aku tahu,” jawab Azmira.

“Lalu?”

“Karena Mira tahu, makanya Mira mau bantuin Ibu Guru.”

Ibu Sinta menatap anak itu dengan tatapan heran. “Enggak usah, Nak. Ibu Guru bisa sendiri.”

Seketika wajah Mira terlihat murung. Entah kenapa, setiap kali permintaannya ditolak, anak itu selalu merasa sedih. Bukan karena ia ingin mendapatkan sesuatu dari bantuannya, tetapi sejak kecil Mira memang terbiasa rajin dan ringan tangan. Ia tidak pernah merasa keberatan membantu orang lain.

“Bu, kali ini saja izinkan Mira membantu Ibu,” pintanya sekali lagi.

Melihat wajah Azmira yang mulai murung, akhirnya Ibu Sinta mengalah. “Baiklah. Mira boleh bantu Ibu, tapi yang ringan-ringan saja, ya.”

Mira langsung mengangguk antusias. “Iya, Bu!”

Tangan kecilnya mulai membawa beberapa tumpukan buku untuk dipindahkan ke ruang guru. Senyum riang kembali terpancar di wajahnya.

Sementara Ibu Sinta yang melihat ketulusan Azmira hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hati wanita itu berdoa.

Anak ini memang baik. Semoga suatu hari nanti cita-cita yang selama ini diinginkannya bisa terwujud.

Setelah selesai membantu Ibu Sinta, entah kenapa perjalanan pulang terasa lebih ringan bagi Mira. Ada rasa lega di dalam hatinya karena hari itu ia kembali bisa membantu seseorang.

Mira mengayuh sepedanya cukup kencang. Angin siang menerpa wajah lelahnya, membuat beberapa helai rambut yang keluar dari ikatannya bergerak mengikuti arah angin.

Namun, baru beberapa meter meninggalkan sekolah, kayuhan Mira perlahan melambat. Dari kejauhan ia melihat tiga anak laki-laki berada di tanah lapang yang cukup sepi.

Di antara mereka ada seorang anak perempuan yang terlihat sedang menangis. Mira langsung menghentikan sepedanya. Ia turun dan memarkirkannya di pinggir jalan.

Tanpa berpikir panjang, gadis kecil itu berjalan mendekati mereka. “Hei! Kalian kenapa bikin Kakak ini menangis?” seru Mira.

Ketiga anak laki-laki itu menoleh. Salah satunya mendengus. “Jangan ikut campur!”

“Aku enggak akan ikut campur kalau kalian enggak gangguin Kakak ini.”

Anak laki-laki bertubuh paling besar maju beberapa langkah. “Oh, jadi kamu mau main-main sama aku?”

Mira tidak mundur. Tubuhnya memang jauh lebih kecil dibandingkan anak itu, tetapi tatapan matanya tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.

“Aku cuma bilang jangan gangguin dia.”

Anak itu terkekeh. “Berani sekali kamu.”

Ia kemudian menunjuk ke arah anak perempuan yang sejak tadi menangis. “Dia saja enggak punya keberanian buat melawan kami.”

Mira menoleh kepada anak perempuan itu. Wajahnya basah oleh air mata. Seragamnya terlihat sederhana. Tas yang dibawanya juga sudah tampak lama.

Namun bukan itu yang membuat Mira merasa kasihan. Ia melihat bagaimana anak itu terus menundukkan kepalanya, seolah berharap dirinya bisa menghilang dari tempat tersebut.

“Kalian ngapain dia?” tanya Mira lagi.

Salah satu anak laki-laki tertawa. “Kami cuma bercanda.”

“Kalau bercanda kenapa Kakak menangis?”

“Biar saja.”

Anak yang paling besar kemudian berkata dengan nada mengejek. “Dia memang gampang nangis. Lagian siapa suruh dia gak mau ngerjain tugas kita."

Mira mengerutkan kening. “Hah, kalian bertiga! Badan saja besar tapi otaknya kecil."

“Bukan urusanmu.”

“Ya jelas itu urusanku, kalian sudah membully anak yang tidak mau mengikuti perintah kalian, memangnya kalian siapa?" desak Mira.

Anak itu terdiam beberapa saat. Kemudian ia menjawab dengan santai.

“Sudah kamu pulang saja dari pada nanti giliranmu yang kami bully," ujar anak itu dengan santai.

"Aku tidak takut melawan kalian bertiga, justru kalian yang harus pergi sebelum aku memanggil warga setempat.

Ketiga anak itu langsung menjawab ucapan Mira dengan gelak tawa yang begitu kencang. "Kamu mau panggil warga silahkan saja, lagian mana ada warga yang mau bantuin dia, anak tanpa ayah."

Deg! Seketika Mira membeku, bukan karena takut pada ketiga anak itu melainkan karena kata-kata terakhirnya begitu dekat dengan kehidupan pribadinya.

Sementara teman-teman yang lainnya masih tertawa. “Kasihan banget.”

"Enggak punya ayah.”

“Makanya jangan sok!”

Mira masih terdiam seolah ikut mencerna ejekan demi ejekan yang terlontar dari mulut ketiga anak itu. Entah kenapa kata-kata itu terasa berbeda di telinganya.

Ia menatap anak perempuan di hadapannya. Gadis itu masih menangis sambil menundukkan kepala. Mira kemudian mengepalkan tangannya.

“Jangan bilang begitu.”

Tiga anak laki-laki itu kembali menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena enggak punya ayah bukan berarti dia anak yang salah.”

Suasana mendadak hening, tatapan Mira berubah tajam ke arah mereka. “Pergi kalian!”

Mira menunjuk ke arah jalan. Anak bertubuh besar tadi kembali mendekatinya.

“Kamu mau apa?”

“Aku bilang pergi!”

Kali ini suara Mira terdengar lebih keras. Mungkin karena mereka merasa tidak mendapatkan kesenangan lagi, akhirnya ketiga anak itu pergi sambil terus mengomel.

Mira tidak mengejar. Ia justru segera menghampiri anak perempuan tadi.

“Kakak enggak apa-apa?”

Anak itu menggeleng.

Air matanya masih mengalir. “Mereka sering begitu.”

“Kenapa Kakak enggak bilang sama guru?”

Anak perempuan itu mengusap pipinya. “Percuma.”

“Kenapa?”

“Karena mereka selalu bilang cuma bercanda, dan menuduhku yang berbohong."

Mira terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri di tempat itu. Sampai akhirnya Mira bertanya pelan.

“Nama Kakak siapa?”

“Shasa.”

“Azmira Shafira.”

Shasa menatapnya. “Aku tahu. Kamu adik kelas yang suka bantu-bantu guru, kan?”

Mira tersenyum. “Iya.”

Shasa kemudian menunduk lagi. “Makasih sudah nolongin aku.”

Mira mengangguk. “Jangan sedih.”

Shasa mengusap air matanya. “Mereka benar.”

“Benar apa?”

“Aku memang enggak punya ayah.”

"Kalau pun itu benar, bukan berarti Kakak harus diam jika mereka membully, mereka harus dilawan Kak," tegas Mira.

Shasa masih terdiam entah kenapa ia merasa ketakutan seperti itu sementara Mira yang melihat wajah teman di hadapannya itu menatapnya dalam-dalam. Ada sesuatu yang terasa begitu dekat dari kalimat tersebut.

Sesuatu yang selama ini juga ada dalam hidupnya. Mira kemudian duduk di samping Shasa.

“Kak... jangan sedih, ya.”

Shasa menoleh. “Aku juga sama seperti Kakak.”

Shasa mengernyit. “Maksudnya?”

Mira tersenyum kecil. “Aku juga enggak pernah tahu wajah ayahku.”

Shasa tidak lagi berkata apa-apa. Mira melanjutkan dengan suara polos.

“Kata Ibu, Ayah kerja di kota. Tapi sampai sekarang aku enggak pernah lihat Ayah pulang.”

Senyum di wajah Mira perlahan memudar. “Tapi mungkin suatu hari nanti Ayah pulang.”

Shasa hanya menatap anak kecil itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Entah mengapa, mendengar ucapan Mira justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

Sebab selama ini ia mengira hanya dirinya yang tumbuh tanpa seorang ayah. Ternyata ada anak lain yang juga menyimpan pertanyaan yang sama.

Mira kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya. “Sudah, Kak. Jangan nangis lagi.”

Shasa menatap tangan kecil itu. Kemudian perlahan menggenggamnya. Hari itu mereka pulang bersama. Tak satu pun dari keduanya tahu, pertemuan sederhana itu kelak akan membawa mereka pada sebuah rahasia besar yang selama bertahun-tahun tersembunyi.

Bersambung. ...

Terpopuler

Comments

Ghiffari Zaka

Ghiffari Zaka

waaah rahasia apa ya??? kok jadi penasaran,apa mungkin ayah mereka 1,mksdnya mereka 1 ayah dan karena ank perempuan jg JD sm2 GK di inginkan ya....

2026-08-26

0

kiky

kiky

next

2026-08-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!