Bab 2

Azmira masih mengayuh sepedanya, tangan kirinya menepuk-nepuk uang lima belas ribut tadi, mata anak kecil itu sangat berbinar seolah tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika hari ini ia sangat beruntung mendapatkan pekerjaan dari Ibu Joko.

“Alhamdulillah.”

Ucapan syukur itu berkali-kali keluar dari mulutnya. Mungkin bagi orang lain lima belas ribu bukanlah jumlah yang besar. Namun bagi Mira, uang itu cukup berarti, karena ia tahu sejak kecil hidupnya memang serba terbatas, ibunya hanya berjuang sendirian untuk membesarkannya, maka dari itu ia berusaha sekuat mungkin untuk meringankan beban orang tuanya.

Matahari sudah tidak seterik tadi. Angin sore sesekali menerpa wajahnya, membuat rasa lelah yang sejak siang menempel di tubuhnya sedikit berkurang. Namun sebelum pulang, Mira teringat sesuatu.

Di rumah tidak tidak banyak bahan makanan untuk dimasak. Ia pun membelokkan sepedanya menuju sebuah warung kelontong kecil yang berada tidak jauh dari jalan pulang.

Warung itu milik seorang wanita yang biasa dipanggil warga sebagai Bu Welijo. Mira turun dari sepeda dan menyandarkannya di sisi warung.

“Bu, beli tempe satu.”

“Tempenya yang mana, Mir?”

“Yang itu.”

Bu Welijo mengambil satu potong tempe dan memasukkannya ke dalam plastik kecil.

“Dua ribu.”

Mira mengeluarkan uang dari sakunya. “Terus telur dua, Bu.”

“Dua telur empat ribu.” Mira kembali mengangguk. “Kalau kangkung satu ikat kecil itu berapa.”

“Dua ribu.”

Mira menghitung uangnya sebentar. Dua ribu untuk tempe. Empat ribu untuk telur. Dua ribu lagi untuk kangkung.

Totalnya delapan ribu rupiah. Masih tersisa tujuh ribu, ia menghembuskan napas lega sebelum akhirnya menyerahkan uang belanjaannya itu.

“Ini, Bu.”

Setelah membayar, Mira menerima belanjaannya dengan senyum lebar.

“Terima kasih.”

Ia kemudian kembali menaiki sepedanya. Kali ini kayuhannya terasa lebih ringan. Bukan karena tubuhnya sudah tidak lelah, melainkan karena ia tahu hari ini ia bisa membawa sesuatu untuk ibunya. Tangannya sesekali memegang plastik belanjaan yang tergantung di bagian depan sepeda.

Tempe. Dua butir telur. Seikat kangkung, sangat sederhana sekali tapi bagi Mira, itu sudah cukup untuk membuat hatinya berbunga-bunga, karena malam nanti ia bisa makan dengan layak.

“Nanti Ibu pasti senang,” gumamnya.

Ia membayangkan ibunya memasak telur dengan kangkung yang baru dibelinya. Senyum Mira semakin lebar. Tak lama kemudian, rumah sederhana mereka mulai terlihat dari kejauhan.

Mira mempercepat kayuhannya namun begitu sampai di depan rumah, langkahnya mendadak melambat. Ibunya ternyata sudah pulang. Wanita itu sedang duduk di teras sambil memilah dagangan yang masih tersisa. Beberapa bungkus makanan ringan dan barang dagangan masih memenuhi keranjang.

Mira langsung bisa melihat wajah lelah ibunya. Sepertinya hari ini dagangan ibunya tidak begitu laku. Anak itu turun dari sepeda dan berlari kecil menghampiri.

“Ibu.”

Rina langsung menoleh. “Mira?”

Mira mengangkat plastik belanjaannya dengan wajah berbinar. “Lihat, Mira bawa belanjaan.”

Ibunya menatap plastik tersebut dengan heran. “Beli dari mana?”

“Mira dapat kerjaan.”

Jawabannya membuat sang ibu terdiam. “Kerjaan lagi?”

Mira mengangguk bangga. “Iya. Mira bantu Ibu Joko. Cuci piring sama bantu-bantu di dapur.”

Ibunya menghela napas panjang. “Kamu itu baru pulang sekolah, harusnya kamu main Mir, jangan cari-cari kerjaan seperti itu Ibu masih sanggup biayain Mira," ujar sang Ibu dengan pelan.

“Mira enggak capek kok." jelas anak itu.

Padahal pipinya masih terlihat merah karena kepanasan dan keringat masih menempel di dahinya.

Ibunya tahu anak itu berbohong dalam hati sebenarnya ia ingin menolak pemberian sang anak tapi melihat dagangannya tadi banyak yang tak laku, rasanya juga tidak baik menolaknya. Rina menatap wajah kecil itu penuh dengan dengan haru, ada rasa sesal yang tak bisa diungkap ketika melihat sang anak harus ikut berjuang juga.

'Ya Allah maafkan aku,' ucap Rina dalam hati.

Tapi sebelum sempat menegurnya, Mira sudah membuka plastik belanjaannya. “Ibu lihat ini, ada tempe, telur sama kangkung.”

Sang ibu menatap isi plastik itu cukup lama. “Kamu beli semua ini?”

“Iya.”

“Pakai uang dari mana?”

“Mira dapat uang lima belas ribu.”

Seketika mata Rina berembun, sebagai seorang ibu ia merasa malu tidak bisa menjadi yang terbaik, apa lagi ia tahu sudah beberapa Minggu ini sang anak memakai sepatu yang sudah bolong.

"Nak harusnya uang itu untuk keperluan kamu saja," ucap Rina.

"Gak masalah Ibu, Mira gak butuh apa-apa, yang penting Mira bisa bantu Ibu setiap hari, itu sudah buat Mira senang," ujarnya dengan tulus.

Setelah berucap seperti itu, kemudian Mira mengeluarkan sisa uang dari sakunya. “Masih ada tujuh ribu.”

Ia menyerahkan uang tersebut kepada ibunya. “Ini disimpan.”

Ibunya tidak langsung mengambilnya. "Itu untuk kamu saja Nak, kamu kan udah beli bahan makanan tadi."

“Mira enggak perlu.”

“Buat jajan besok.”

Mira menggeleng. “Besok kan masih bisa cari lagi.”

Kalimat sederhana itu justru membuat mata sang ibu mulai berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus bangga atau sedih. Anaknya baru berusia sepuluh tahun. Tetapi cara berpikirnya terkadang jauh lebih dewasa daripada anak-anak seusianya.

“Kenapa Ibu?”

Mira memperhatikan mata ibunya. “Enggak apa-apa.”

Wanita itu buru-buru mengusap sudut matanya.

“Kamu pasti lapar. Masuk sana, mandi.”

Mira mengangguk. Namun sebelum masuk, pandangannya jatuh pada keranjang dagangan ibunya yang masih penuh.

“Ibu hari ini enggak laku?”

Ibunya tersenyum tipis. “Lumayan.”

Mira tahu jawaban itu tidak sepenuhnya benar. Ia kemudian mendekati keranjang tersebut dan mulai membantu merapikan dagangan.

“Kalau begitu besok Mira bantu Ibu jualan.”

“Tidak usah.”

“Tapi—”

“Kamu sekolah.”

Mira terdiam. Ia kemudian tersenyum kecil. “Iya, Bu.”

Untuk sesaat rumah sederhana itu terasa begitu tenang, meskipun dalam keadaan sederhana mereka seolah saling melengkapi. Seorang ibu yang pulang membawa dagangan yang masih tersisa dan seorang anak perempuan kecil yang pulang membawa hasil keringatnya sendiri.

Namun bagi Mira, hari itu adalah hari yang menyenangkan. Sebab untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia berhasil menyisihkan sedikit uang untuk ditabung.

Ia belum tahu berapa lama uang itu akan terkumpul. Mungkin berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. Tapi Mira tidak peduli.

Sedikit demi sedikit, ia percaya suatu hari nanti tabungannya akan cukup untuk membeli sesuatu yang sangat ia inginkan.

Sebuah sepatu baru. Mira tersenyum sendiri sebelum masuk ke dalam rumah. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum ibunya, ada kekhawatiran lain yang jauh lebih besar daripada dagangan yang tidak laku hari ini.

Ada masa lalu yang selama ini sengaja disembunyikan dari Mira. Dan semakin besar gadis kecil itu tumbuh, semakin sulit pula rahasia itu untuk disimpan.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

kak ayuu sbnr nya di mana ayah nya mira

2026-08-16

2

Ghiffari Zaka

Ghiffari Zaka

ya Allah Thor...bait demi bait AQ baca kok air mata q gak ud netes ya...??? trs SMP kapan mereka kayak gn,trenyuh AQ bacanya Thor..gak kuat.ank yg br 10 tahun yg gak tau apa2 yg biasanya LG seneng2 nya main dan minta,la ini.....AQ gak bs ngomong lah Thor😭😭😭😭😭

2026-08-26

0

Rohmi Yatun

Rohmi Yatun

jaman sekarang masih ada gak ya anak yg seperti mira.. 😌😌😌kasian sekali

2026-08-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!