Mentari siang cukup terik saat anak kecil itu mengayuh sepeda mengelilingi pasar untuk mencari pekerjaan. Bukannya ia tidak ingin beristirahat setelah pulang sekolah, tetapi keadaanlah yang membuatnya harus cukup dewasa sebelum waktunya.
“Tuhan, semoga siang ini ada rezeki untukku,” gumam Azmira sambil menunduk melihat sepatunya yang mulai terbuka di bagian depan hingga kaus kakinya terlihat.
Gadis kecil itu menghela napas pelan. Mungkin terik matahari membuat tubuh mungilnya lelah, bahkan tenggorokannya terasa kering karena sejak pulang sekolah ia belum sempat membeli minuman.
Namun, semua itu tidak pernah memudarkan tekadnya. Sepeda mininya berhenti di depan deretan toko kelontong yang berjajar di pinggir pasar. Satu per satu ia datangi, menawarkan tenaga untuk membantu pekerjaan apa saja.
Ada yang menolak dengan halus. Ada pula yang hanya menggeleng karena toko mereka sedang sepi. Sampai akhirnya Mira tiba di toko kelima.
“Maaf ya, Mira. Dagangan Ibu hari ini lagi sepi,” ujar Ibu Sulis, pemilik toko tersebut.
Mira tersenyum dan mengangguk. “Enggak apa-apa, Bu.”
Ia tidak menunjukkan wajah kecewa. Setelah mengucapkan salam, gadis kecil itu kembali menaiki sepedanya. Roda kecil itu kembali berputar menyusuri jalan.
Keringat mengalir dari pelipisnya, membasahi wajah dan hampir membuat seragam lusuh yang dikenakannya ikut lembap. Namun, Mira tetap mengayuh dengan sabar.
Sudah cukup lama ia berkeliling ketika dari kejauhan terlihat keramaian di salah satu rumah. Rumah itu milik tetangga yang tidak terlalu dekat dengannya. Beberapa motor terparkir di halaman. Dari dalam rumah terdengar suara beberapa orang sedang berbincang.
Rasa penasaran membuat Mira memperlambat kayuhan. Ia kemudian turun dari sepeda dan meminggirkannya di dekat pagar.
“Assalamualaikum, Ibu Joko.”
“Waalaikumsalam.”
Ibu Joko yang sedang berdiri di depan rumah langsung menoleh.
“Eh, Mira. Sudah pulang sekolah?”
Mira mengangguk patuh. “Sudah, Bu.”
Matanya sempat melirik ke dalam rumah. Ada beberapa ibu-ibu yang duduk berkumpul, sementara di bagian belakang tampak beberapa peralatan makan yang cukup banyak.
Dengan sedikit ragu, Mira akhirnya memberanikan diri bertanya. “Ibu Joko lagi ada acara apa?”
“Arisan, Nak.” Ibu Joko tersenyum. “Memangnya kenapa?”
Mira menunduk sebentar sebelum kembali mengangkat wajahnya. “Apa Ibu Joko tidak membutuhkan tenaga untuk bantu-bantu?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Ibu Joko terdiam. Wanita paruh baya tersebut sebenarnya memang sedang kerepotan. Sejak pagi ia sudah menyiapkan berbagai macam hidangan untuk acara arisan, tetapi hampir semua pekerjaan masih dikerjakannya sendiri.
Namun, melihat Mira berdiri di hadapannya dengan seragam sekolah yang masih melekat dan wajah penuh keringat, hati wanita itu justru terasa tidak tega.
“Memangnya Mira bisa?”
Anak itu langsung mengangguk cepat. “Iya, Bu. Mira bisa bantu apa saja.”
“Apa saja?”
“Iya.” Mira tersenyum. “Cuci piring bisa, iris sayur bisa, angkat-angkat juga bisa.”
Ibu Joko terkekeh kecil. “Kalau begitu, masuklah.”
Seketika wajah Mira berubah cerah. “Benar, Bu?”
“Iya. Tapi kamu sudah makan?”
Mira terdiam sebentar. “Sudah, Bu.”
Padahal sejak istirahat sekolah tadi ia hanya menghabiskan sebagian bekalnya karena sisanya sengaja disimpan untuk dimakan nanti.
Ibu Joko yang memperhatikan wajahnya hanya menggeleng kecil.
“Ya sudah. Taruh sepedamu di belakang, kemudian bantu Ibu di dapur.”
“Iya, Bu!”
Mira segera membawa sepedanya ke halaman belakang. Langkah kecilnya bahkan terlihat jauh lebih ringan dibandingkan ketika ia datang tadi.
Tak lama kemudian, gadis kecil itu sudah sibuk di dapur. Ia mencuci piring yang menumpuk di bak.
Satu demi satu. Tidak banyak mengeluh meskipun tangannya mulai terasa pegal. Sesekali ia membantu mengambilkan piring, memotong sayuran, atau membawa makanan ke ruang depan.
“Mira, tolong ambilkan sendok yang di atas meja.”
“Iya, Bu.”
“Mira, tolong bawakan ini ke depan.”
“Iya.”
Setiap kali dipanggil, jawabannya selalu sama. Tidak pernah sekalipun Mira mengeluh. Bahkan ketika salah satu ibu-ibu yang datang ke acara itu memperhatikannya, ia justru tersenyum ramah.
“Anak siapa itu, Bu?”
“Mira. Anaknya Bu Rina.”
“Oh, yang suka bantu-bantu itu?”
Ibu Joko mengangguk.
“Iya. Anak ini memang rajin.”
Mira yang mendengarnya hanya tersenyum sambil melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak membutuhkan pujian. Yang ia butuhkan hanyalah pekerjaan. Karena di dalam pikirannya, setiap pekerjaan berarti kesempatan untuk membawa sesuatu pulang.
Setelah hampir dua jam membantu, acara arisan pun selesai. Piring-piring sudah bersih.
Meja sudah kembali rapi. Dapur yang tadi berantakan juga sudah Mira bersihkan.
Ibu Joko kemudian menghampirinya sambil membawa sebuah piring.“Nak, istirahat dulu.”
Mira menggeleng. “Sudah selesai, Bu?”
“Sudah.”
Mira tersenyum lega. “Kalau begitu Mira pulang.”
“Tunggu.”
Ibu Joko masuk ke dalam kamar, lalu kembali membawa beberapa lembar uang. “Ini untuk Mira.”
Mata gadis kecil itu langsung tertuju pada uang di tangan Ibu Joko. Namun ia tidak langsung mengambilnya.
“Berapa, Bu?”
“Lima belas ribu.”
Mira menerima uang itu dengan kedua tangannya. “Terima kasih, Bu.”
“Buat jajan.”
Mira menggeleng sambil tersenyum. “Buat Ibu saja.”
Ibu Joko mengernyit. “Kenapa?”
“Mira masih punya air minum di rumah.”
Padahal sebenarnya yang ia pikirkan bukan air minum. Ia membayangkan wajah ibunya ketika nanti uang itu diletakkan di atas meja. Mungkin jumlahnya tidak seberapa. Namun setidaknya hari ini ia tidak pulang dengan tangan kosong.
Ibu Joko menatap gadis kecil itu beberapa saat sebelum mengusap kepalanya. “Kamu ini masih kecil, Mira.”
Mira hanya terkekeh. “Kalau kecil terus, nanti kapan besarnya, Bu?”
Ibu Joko ikut tertawa lalu setelah Mira berpamitan dan mengayuh sepedanya meninggalkan halaman rumah, senyum wanita itu perlahan menghilang. Ada rasa iba yang tidak bisa ia sembunyikan.
Sementara Mira terus mengayuh dengan senyum yang kembali menghiasi wajahnya. Ia tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Baginya, membantu orang adalah hal biasa. Mendapatkan uang dari hasil bekerja juga sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Yang tidak pernah Mira tahu, ada alasan mengapa ia begitu terbiasa hidup tanpa meminta. Sebab sejak kecil, hanya satu orang yang selalu ia jadikan tempat pulang.
Ibunya. Dan bagi Mira, selama ibunya masih tersenyum, hidup sesulit apa pun akan tetap ia jalani.
"Ibu Mira pulang bawa rejeki Bu," gumamnya seolah ingin meringankan beban ibunya.
Bersambung .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Ghiffari Zaka
ya Allah thoooor ,betulkan lok author ini bs meres air mata q,kayaknya banyak bawang deh di depan q,sedih bngt Thor ma nasib Mira yg masih umur segitu hara menahan lapar tanpa meminta....jahat banget ya tu keluarga bapaknya eh...laki2 yg sudah membuat Mira hadir di penderitaan ini,pasti akan dapat balasannya nnt,karma pasti ada,dan buat Mira sabar ya nak,pasti akan ada pelangi setelah hujan,ah emboh lah Thor AQ gak bs komen lagi,AQ mewek aja😭😭😭😭
2026-08-16
2
Nar Sih
semagatt ank pinter mira 💪moga rezeki mu banyak dan bisa bantu ibu mu
2026-08-16
1
Nancy Nurwezia
masak cuma dikasih 15 ribu.. nggak 50 ribu😭😭
2026-08-16
1