Bab 3

Keesokan paginya.

Mentari sudah mulai bersinar terang, sementara gadis kecil itu masih sibuk menata dagangan ibunya ke dalam keranjang yang sudah diletakkan di atas sepeda onthel.

“Mira... sudah, Nak. Kamu berangkat sekolah dulu, nanti terlambat,” ujar Rina dengan lembut.

Anak itu tersenyum hangat. Namun, bukannya berhenti dari pekerjaannya, ia justru menjawab dengan tenang.

“Masih ada waktu, Bu.”

“Kamu itu, Nak. Kenapa keras kepala?” ucap Rina.

“Untuk meringankan beban Ibu, enggak apa-apa keras kepala sedikit,” sahutnya sambil nyengir kuda.

“Ada-ada saja kamu ini,” ujar Rina sambil tersenyum.

“Gitu dong, Bu. Senyum yang banyak, ya, untuk Mira,” pinta anak itu.

Setelah semua dagangan selesai ditata, Mira menatap keranjang jualan sang ibu. Entah karena kebiasaannya atau memang sedang ingin memberi semangat, anak itu tiba-tiba berbicara sendiri seolah sedang memberikan kata-kata afirmasi kepada dagangan ibunya.

“Cemilan, jepitan rambut, sama minuman... kalian jangan lama-lama, ya, duduk di keranjang Ibu. Semoga nanti kalian laku di tangan pembeli yang baik, supaya Ibu enggak perlu keberatan membawa kalian pulang lagi," gumam Mira sambil menepuk pelan dagangan tersebut.

“Makasih ya, Nak, untuk doanya,” ujar sang ibu tiba-tiba.

Mira menoleh dan tersenyum. “Sama-sama.”

Ia kemudian melihat jam. “Ya sudah kalau begitu, Mira berangkat sekolah dulu, ya, Bu.”

Mira pun berpamitan, lalu mengambil tas yang sudah disiapkan oleh ibunya.

Gadis kecil itu melangkah menuju sepeda mininya. Seperti biasa, ia berangkat sekolah dengan penuh semangat dan tidak pernah lupa memperlihatkan senyum manisnya kepada orang-orang di sekelilingnya.

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Bel sekolah pun berbunyi. Anak-anak segera masuk ke kelas masing-masing. Begitu juga dengan Mira.

Ia duduk di bangku paling depan. Meskipun penampilannya terlihat berbeda dari anak-anak lainnya, Mira cukup pintar dalam beberapa pelajaran. Salah satu yang paling ia sukai adalah pelajaran IPA.

Entah mengapa, setiap kali guru menjelaskan tentang tubuh manusia, hewan, tumbuhan, atau berbagai hal yang ada di sekitar mereka, mata Mira selalu terlihat lebih berbinar.

Pagi itu, guru sudah tiba di kelas. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan berubah menjadi hening. Semua anak mulai duduk rapi di tempat masing-masing. Mira pun ikut menegakkan tubuhnya, bersiap mengikuti pelajaran.

“Selamat pagi, anak-anak.”

“Selamat pagi, Bu!”

Suara mereka terdengar hampir bersamaan. Guru itu tersenyum, kemudian meletakkan beberapa buku di atas meja.

“Pagi ini Ibu tidak akan langsung meminta kalian membuka buku.”

Beberapa anak langsung saling pandang. “Memangnya kita mau belajar apa, Bu?”

“Tenang saja.” Guru itu terkekeh kecil. “Kita akan belajar berbicara di depan kelas.”

Seketika beberapa anak mengeluh.

“Jangan, Bu.”

“Kenapa harus maju?”

“Takut, Bu.”

Mendengar berbagai macam protes itu, sang guru justru tersenyum. “Justru karena kalian takut, kalian harus belajar berani.”

Kelas kembali tenang. Guru tersebut kemudian mengambil spidol dan menuliskan sebuah kata di papan tulis.

CITA-CITA

“Siapa yang tahu apa arti cita-cita?”

Beberapa tangan langsung terangkat. “Kamu.”

“Cita-cita itu keinginan kita kalau sudah besar, Bu.”

“Bagus." Guru itu mengangguk. “Hari ini Ibu ingin tahu cita-cita kalian. Nanti Ibu akan bertanya satu per satu. Kalian berdiri dan menyebutkan ingin menjadi apa ketika besar nanti. Tidak perlu takut salah.”

Beberapa detik kemudian. Satu per satu anak mulai dipanggil.

“Raka.”

Anak laki-laki yang duduk di bangku tengah langsung berdiri. “Saya ingin jadi polisi, Bu.”

“Kenapa ingin jadi polisi?”

“Biar bisa menangkap penjahat.”

Teman-temannya tertawa. Guru itu ikut tersenyum bangga dengan cita-cita salah satu dari muridnya itu.

“Bagus. Duduk.”

Kemudian giliran anak lainnya.

“Saya mau jadi guru.”

“Saya mau jadi tentara.”

“Saya mau jadi pengusaha.”

“Saya mau jadi koki.”

Berbagai macam jawaban terdengar dari dalam kelas. Ada yang menjawab dengan malu-malu. Ada pula yang terlalu bersemangat sampai membuat teman-temannya tertawa.

Mira memperhatikan semuanya sambil menopang dagu. Ia sudah tahu jawabannya.

Bahkan sejak dulu.

Sementara Ibu Rosy kembali melihat daftar nama di tangannya, dan nama Azmira mulai dipanggil.

“Azmira.”

Mendengar namanya dipanggil, Mira langsung berdiri. Ia merapikan seragamnya sebentar, kemudian berjalan ke depan kelas dengan langkah ringan.

“Coba katakan kepada teman-temanmu. Mira ingin menjadi apa ketika besar nanti?”

Mira berdiri tegak. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya. “Mira ingin menjadi dokter, Bu.”

Suasana kelas hening sesaat, beberapa anak saling melihat heran. Lalu terdengar suara tawa dari beberapa anak.

“Hehehe... Mira jadi dokter?”

Mira menoleh pada teman-teman yang sedang menertawakannya, ia sedikit heran kenapa mereka menertawakan cita-citanya.

Bahkan seorang anak perempuan yang duduk di bangku belakang menunjuk ke arah kakinya.

“Dokter itu sekolahnya lama dan biayanya mahal, Mira.”

Beberapa anak kembali tertawa. “Lihat saja sepatumu!”

Mira spontan melihat ke bawah. Sepatu yang dikenakannya memang sudah lama. Bagian depannya sedikit terbuka hingga kaus kaki putih yang dipakainya terlihat.

Mira tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat sepatunya beberapa detik. Kemudian mengangkat wajah.

“Memangnya kenapa kalau sepatu Mira bolong?”

Anak yang tadi mengejeknya mengangkat bahu. “Ya... bagaimana kamu mau jadi dokter sedangkan beli sepatu saja kamu masih belum bisa."

Mira tersenyum kecil. “Sepatu Mira yang bolong hari ini bukan berarti akan tetap bolong sampai Mira besar.”

Kelas kembali hening, ucapan gadis kecil itu seolah menampar teman-teman yang barusan menertawakannya. “Kalau sekarang Mira belum punya sepatu bagus, ya tidak apa-apa.”

Mira mengangkat dagunya sedikit. “Yang penting Mira tetap belajar.”

Tidak ada satu pun anak yang tertawa kali ini. Guru Bahasa Indonesia yang sejak tadi memperhatikan Mira akhirnya tersenyum.

“Bagus sekali.”

Ia kemudian menatap seluruh muridnya. “Anak-anak, dengarkan baik-baik. Jangan pernah menertawakan cita-cita teman kalian hanya karena keadaan mereka hari ini.”

Guru itu berjalan mendekati Mira. “Tidak ada yang tahu kehidupan seseorang sepuluh atau dua puluh tahun lagi.”

Mira mengangguk patuh. “Terima kasih, Bu.”

“Kenapa kamu ingin menjadi dokter?”

Pertanyaan itu membuat wajah Mira semakin cerah. “Karena Mira ingin membantu orang sakit.”

“Kenapa?”

Mira berpikir sebentar. “Karena aku sering melihat tetangga Mira yang sakit tapi gak bisa berobat karena tidak ada biaya,"

Beberapa anak akhirnya mulai memperhatikan Mira, perlahan mereka mulai mendengar.

“Kalau Mira nanti jadi dokter, Mira mau membantu mereka yang membutuhkan."

Guru itu tersenyum mendengar jawaban sederhana tersebut, ada rasa bangga tersendiri dengan kegigihan gadis berpenampilan lusuh itu. Mira memang tergolong anak yang kurang mampu. Tapi guru itu paham jika anak itu mempunyai cukup bekal yang mungkin bisa mengantarnya ke pintu kesuksesan.

“Semoga cita-citamu tercapai ya Nak."

“Aamiin.”

Mira kembali ke tempat duduknya. Ia duduk sambil merapikan ujung rok seragamnya. Teman yang tadi mengejeknya masih memandang ke arahnya, sedangkan Mira memandangnya dengan senyuman. Ia tidak marah ataupun merasa malu.

Dalam hati, ia justru mengulang kembali perkataan gurunya. Tidak ada yang tahu kehidupan seseorang sepuluh atau dua puluh tahun lagi.

Mungkin suatu hari nanti, ia benar-benar akan menjadi dokter. Mungkin juga tidak. Namun Mira tidak ingin menyerah hanya karena hari ini ia belum memiliki apa-apa. Sebab baginya, cita-cita tidak harus dimulai dari kehidupan yang sempurna. Cita-cita bisa dimulai dari sebuah keinginan kecil... dan keberanian untuk memperjuangkannya.

Bersambung .....

Terpopuler

Comments

Sarmini Isang

Sarmini Isang

semangat mira pantang menyerah,buktikan pada orang2 yg sdh merendahkan bahkan menolakmu karena kamu perempuan,kamu bisa sukses dan membahagiakan ibumu

2026-08-16

2

Rohmi Yatun

Rohmi Yatun

semangat ya Mira.. semoga cita2 terkabul... 👍

jadi agak mellow ni rasanya.. 😌

2026-08-16

2

Ghiffari Zaka

Ghiffari Zaka

semoga cita2 terwujud ya Mira,semoga keberuntungan dan kebaikan menyertai dan menghampirimu...semangat selalu buat Mira🥰🥰🥰🥰🥰

2026-08-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!