Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Pertengkaran Pertama yang Dewasa

Hari-hari berikutnya sibuk luar biasa. Ujian tengah semester di depan mata, tugas numpuk kayak gunung, tidur makin dikit. Badan capek, pikiran berat, emosi tipis banget — kayak kaca retak, gampang pecah dikit aja.

Pagi itu, kita janjian ketemu di perpustakaan kota. Katanya tenang, cocok buat belajar bareng. Gue berangkat duluan, bawa buku, bekal, semangat. Tunggu di meja pojok — lima belas menit, tiga puluh menit, satu jam.

Farhan belum muncul.

Gue telepon — tidak diangkat. Pesan — belum dibaca. Gue duduk di sana, buku terbuka tapi mata gak baca satu baris. Orang lewat, suara berisik, meja di depan kosong. Lama-lama dada gue panas. Bukan cuma nunggu — tapi ngerasa gak dihargai, kayak waktu gue gak berarti.

Jam sebelas, dia lari masuk. Napas ngos-ngosan, keringat di dahi, muka panik.

"Mir... maaf banget! Tadi dosen panggil mendadak, HP gue mati total, baru bisa cari colokan sekarang."

Gue natap dia sebentar, lalu tutup buku pelan. "Lo tahu gue tunggu dari jam sembilan?"

"Tau, gue tau. Maaf ya..." Dia tarik kursi, duduk di depan gue. "Ayo mulai sekarang ya. Gue siap belajar."

"Gue udah gak mau." Gue masukin buku ke tas. "Dua jam, Han. Dua jam gue duduk di sini, nunggu, gak berani kemana-mana takut lo datang. Lo cuma bilang 'maaf'?"

Dia berhenti gerak, dahi berkerut. "Terus lo mau gimana? Gue udah minta maaf. Gak sengaja kan?"

"Gak sengaja selalu alasannya. Tapi kenapa selalu gue yang nunggu? Kenapa selalu waktu gue yang harus disesuaikan?" Gue berdiri, tas di pundak. "Kalau lo sibuk, bilang dari awal. Biar gue gak sia-sia nunggu."

"Sia-sia?" Dia ikut berdiri, suaranya naik dikit. "Lo pikir gue sengaja telat? Lo pikir gue seneng bikin lo nunggu? Gue juga capek tau! Gue juga kejar tugas, kejar nilai, kejar mimpi — buat siapa? Bukan cuma buat gue!"

"Terus kenapa gue jadi nomor belakangan?" Mata gue panas. "Dulu lo bilang — sepuluh menit tiap pagi, selalu ada waktu. Sekarang dua jam nunggu aja gak cukup?"

"Jangan gampang bandingin!" Dia napasnya berat, matanya merah. "Dulu kita baru mulai. Sekarang jalan lagi. Gue harus kerja keras, Mir! Supaya nanti kita gak pusing mikirin masa depan!"

"Masalahnya bukan soal masa depan, Han!" Gue tahan isak. "Masalahnya di masa sekarang lo udah gak ada waktu buat gue. Gimana nanti?"

Dia diam. Mulutnya komat-kamit, kayak mau ngomong sesuatu tapi ditahan.

"Jawab dong!" desak gue.

"Gue gak tau!" Dia buang napas kasar, balik badan sebentar. "Gue capek banget, Mir. Capek dikejar waktu, capek takut gagal, capek merasa gak cukup buat lo."

"Kalau capek bilang. Jangan bikin gue nunggu kayak orang asing."

"Gue lupa!" Dia nengok lagi, matanya berkaca-kaca. "Gue lupa karena otak gue penuh sama semua hal yang harus gue lakuin! Gue lupa bukan karena gak sayang — tapi karena gue takut kalau berhenti sebentar aja, semua runtuh!"

"Dan gue runtuh gak penting ya?"

Pertanyaan itu keluar sendiri. Pelan tapi berat banget.

Farhan diem. Kakinya mundur selangkah, kayak ketimpa beban.

"Gue..." Suaranya pecah. "Gue gak pernah mikir gitu. Maaf. Gue beneran lupa — kalau gue lupa kasih kabar, lo khawatir. Kalau gue telat, lo nunggu. Kalau gue diam, lo sedih." Dia usap muka kasar. "Gue kira kita kuat. Gue kira kita bisa tahan apa aja. Ternyata gue yang lemah — lupa hal paling kecil."

Gue tarik napas dalam, tahan air mata. "Gue juga salah. Gue langsung marah, gue langsung tuduh. Gue gak denger alasan lo dulu."

"Gue juga salah. Gue gak kasih kabar. Itu dasar. Gue lupa aturan paling penting — kalau telat, bilang. Kalau sibuk, kasih tau. Jangan biarkan lo nunggu tanpa kepastian." Dia mendekat pelan, suaranya melembut. "Maaf ya, Mir. Beneran. Gue gak bermaksud nyakiti lo."

"Gue juga maaf, Han. Gue egois tadi. Gue cuma... gue takut gak penting lagi di hidup lo."

Dia langsung pegang kedua tangan gue erat. "Gak akan pernah gak penting. Justru sebaliknya — lo satu-satunya alasan gue bertahan. Kalau lo hilang, gue gak tau ke mana tujuannya."

Kita duduk lagi. Bukan buka buku — tapi buka hati.

"Gue capek," aku jujur pelan. "Capek sendirian di kampus, capek makan sendiri, capek pulang ke kamar kosong. Kadang gue mikir — buat apa jauh-jauh ke sini kalau sendirian juga?"

Farhan dengerin, gak motong. Matanya perhatiin gue penuh.

"Gue juga capek," akunya dia. "Tiap malam sebelum tidur gue pikir — apa gue cukup baik buat dia? Apa gue bakal sukses tepat waktu? Apa dia bakal nunggu sampai gue siap? Takut banget gue gak bisa kasih lo yang lo pantes dapet."

"Han..." Gue pegang pipinya pelan. "Gue gak mau orang sukses yang sibuk. Gue mau lo. Yang ada, yang denger, yang kabarin. Cukup itu."

Dia pegang tangan gue di pipinya, cium pelan telapak tangan itu. "Gue belajar. Pelan-pelan ya. Gue masih baru urus dua hal sekaligus — mimpi dan orang yang disayang."

"Gue juga belajar. Gak gampang marah. Gak nuntut waktu yang gak ada."

"Kita buat aturan baru ya?" usulnya. "Kalau telat — kabarin. Kalau sibuk — bilang. Kalau capek — jujur. Gak ada yang baca pikiran. Kita bicara."

"Setuju. Dan kalau marah — kasih kesempatan bicara sebelum pergi."

"Janji." Dia senyum tipis, lega banget. "Ternyata bertengkar juga penting ya. Buat tau apa yang sebenarnya dipikirin."

"Kalau gak bertengkar sekarang, nanti makin besar."

"Iya. Lebih baik marah pelan-pelan daripada diam-diam menjauh."

Sore itu kita gak belajar banyak. Kita duduk di sana, cerita lelah masing-masing, ketawa pelan, minta maaf lagi. Pulang beriringan, langkah pelan, tangan saling pegang.

"Besok ketemu pagi ya," kata dia di depan pintu kos. "Jam yang sama. Kalau telat satu menit — telepon."

"Janji?"

"Janji."

Malamnya gue tulis panjang di buku catatan:

"Pertengkaran pertama kita. Bukan soal cinta atau setia. Soal waktu, perhatian, perasaan diabaikan. Dan ternyata — itu ujian yang sesungguhnya. Bukan godaan dari luar. Tapi lelah di dalam. Cara kita menghadapinya — itu yang nentuin bertahan atau tidak."

"Hari ini kita belajar: cinta bukan berarti gak pernah marah. Cinta berarti tetap denger saat marah. Tetap bicara saat mau pergi. Tetap minta maaf saat salah. Dan tetap pilih satu sama lain walau capek."

Tiba-tiba HP bunyi. Pesan dari Farhan:

"Udah tidur? Gue kepikiran terus tadi. Maaf banget ya. Besok gue datang pagi-pagi, bawain sarapan kesukaan lo. Biar lo tau — lo selalu prioritas. Setiap hari."

Gue senyum, balas:

"Udah tidur belum? Gue juga kepikiran. Kita berdua capek, Han. Pelan-pelan aja ya. Gak harus sempurna. Yang penting saling denger. Selamat malam."

"Selamat malam, Mir. Makasih udah gak pergi walau gue salah."

"Makasih udah minta maaf walau gengsi."

"Besok pagi."

"Besok pagi."

Gue taruh HP, tarik selimut. Hati gue berat tapi lega. Kayak luka kecil yang dibersihkan — perih, tapi bakal sembuh.

Besok masih ada ujian, masih ada tugas, masih ada hari yang berat. Tapi hari ini kita lewati satu rintangan lagi. Bukan dengan lari — tapi dengan berhenti, bicara, dan saling mendengar.

Dan itu kemenangan yang jauh lebih besar dari nilai ujian apa pun.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!