"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Dini Hari
Jam dua dini hari aku terbangun.
Jarang sekali aku terbangun di jam seperti ini. Mungkin karena udara malam yang begitu dingin, atau mungkin tubuhku memang sudah cukup beristirahat.
Aku tidak terlalu memikirkannya. Daripada kembali tidur, lebih baik aku mengambil air wudhu kemudian menuju masjid untuk melaksanakan shalat malam.
Saat melewati kamar-kamar santri, tiba-tiba mataku menangkap sekelebat bayangan hitam.
Aku berhenti.
Sepertinya ada seseorang.
Aku memperhatikan ke arah bayangan itu menghilang. Benar saja. Dari arah gerbang terlihat dua orang santri baru saja masuk. Keduanya berjalan pelan, seperti berusaha agar tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka.
Aku segera mendekati mereka.
Begitu melihatku, keduanya langsung terkejut. Wajah mereka seketika berubah. Tatapan mereka tampak seperti orang yang baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
"Min aina ji'tuma?" tanyaku.
Keduanya saling pandang.
"Eh... min khorij, Ustadz," jawab salah seorang dengan suara terbata-bata.
"Khorij?"
Aku mengulang kata itu dengan nada lebih tinggi.
"Limadza fil khorij?" tanyaku lagi.
Mereka kembali saling sikut. Tidak ada yang berani menjawab.
Aku mulai merasa kesal.
"Kenapa malam-malam keluar?" tanyaku dengan nada tegas.
Salah seorang akhirnya mencoba menjawab.
"Aa... anu, Ustadz... li... la'eb," katanya terbata-bata.
Aku menarik napas panjang.
Bermain di luar tengah malam?
Aku menatap keduanya beberapa saat. Rasanya ingin memarahi mereka, tetapi aku juga tahu bahwa mereka masih anak-anak. Yang mereka butuhkan bukan hanya teguran, tetapi juga pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Kalau begitu, iqob bagi kalian," kataku tegas.
Keduanya langsung menundukkan kepala.
"Malam ini kalian shalat dan membaca satu juz."
Mereka mengangguk pelan.
Aku kemudian beranjak menuju masjid. Namun sebelum itu, aku membangunkan bagian qism ibadah untuk mengawasi mereka selama menjalankan iqob.
Malam yang awalnya begitu sunyi ternyata memberiku satu pekerjaan tambahan.
Aku hanya bisa menghela napas.
Setelah selesai shalat malam, aku kembali ke kamar.
Baru saja aku membuka pintu, kulihat Hammad baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tumben bangun pagi sekali," katanya sambil mengusap wajahnya.
"Iya, tadi kebelet. Sekalian saja shalat malam," jawabku. Aku kemudian teringat kejadian tadi. "Eh, malah ketemu santri yang keluar malam-malam."
"Betulkah?" tanyanya sedikit terkejut.
Aku mengangguk.
"Iya. Dua orang malah."
Hammad menggeleng-gelengkan kepala.
"Mereka harus didisiplinkan lagi. Atau mungkin memang harus ada dari asatidz yang jaga malam?" usulku.
"Iya, sepertinya harus seperti itu," jawabnya setuju.
Aku duduk di tepi kasur, lalu tiba-tiba teringat masa-masa kami masih menjadi santri di pondok ini.
"Sepertinya dulu waktu kita nyantri, kita nggak pernah keluyuran malam-malam, deh."
Hammad tertawa kecil.
"Paling sore-sore cuma keluar beli jajan," lanjutku. "Itu saja sebenarnya harus izin dulu."
Kami sama-sama tertawa mengingat masa lalu.
Dulu pondok ini masih sangat sederhana. Jumlah santrinya belum banyak. Bahkan aku dan Hammad termasuk generasi pertama yang lulus dari pondok ini.
Waktu itu, satu kelas kami hanya berisi sebelas orang.
Sebelas orang.
Kalau sekarang mengingatnya, rasanya seperti membandingkan dua dunia yang berbeda.
Peraturan pondok dulu juga masih cukup longgar. Bukan berarti tidak ada aturan, tetapi suasananya memang berbeda. Jumlah santri yang sedikit membuat semuanya lebih mudah diawasi.
Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda.
Santri semakin banyak. Kegiatan semakin padat. Dan tentu saja, semakin banyak pula hal yang harus diatur.
Peraturan-peraturan baru mulai diterapkan. Sistem kedisiplinan juga semakin diperketat.
Aku memandang Hammad yang masih tersenyum.
"Lucu juga ya," kataku. "Dulu kita yang jadi santri. Sekarang malah kita yang harus mikirin bagaimana cara mendisiplinkan santri."
Hammad kembali tertawa.
"Iya. Ternyata jadi ustadz nggak semudah yang kita bayangkan waktu masih jadi santri."
Aku ikut tersenyum.
Benar juga.
Dulu kami hanya memikirkan bagaimana caranya agar tidak terlambat ke masjid, menyelesaikan hafalan, dan sesekali mencari jajanan selepas kegiatan.
Sekarang, kami justru harus memikirkan bagaimana menjaga puluhan bahkan ratusan santri agar tetap berada dalam jalan yang benar.
Waktu ternyata benar-benar mengubah banyak hal.
Pondok ini berubah.
Jumlah santrinya bertambah.
Peraturannya semakin banyak.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏