"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gengsi mekanik muda
Hari Sabtu sore yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Peluit panjang tanda berakhirnya jam kerja pekanan bergema di seantero kawasan industri. Di dalam mes karyawan bengkel, suasana sibuk terasa berbeda dari hari biasanya. Bunyi gemercik air dari kamar mandi bersahutan. Setelah seharian berlumuran oli dan debu besi, Salman, Jono, dan Agus kini sudah tampil rapi dan wangi. Salman mengenakan kemeja kasual bersih bawaan dari desa, sementara rambutnya disisir rapi.
Sesuai dengan janji dan obrolan Agus kemarin, agenda utama malam minggu ini adalah misi penting: mengenalkan Salman pada lingkungan baru, tepatnya pada karyawati mes pabrik tekstil yang terletak persis di seberang jalan bengkel.
Mereka bertiga berjalan menyeberang, menemui tiga orang gadis yang sudah menunggu di depan gerbang mes pabrik.
"Nih, kenalin teman baru kami di bengkel," buka Jono dengan gaya bicaranya yang sok akrab, menepuk pundak Salman.
"Kenalkan, namanya Salman."
Ketiga gadis itu tersenyum ramah, memandang sosok Salman yang tampak kalem namun memiliki pembawaan yang tenang. Mereka bergantian mengulurkan tangan.
"Aku Siska."
"Aku Dian."
"Aku Tias."
Salman menyambut uluran tangan mereka satu per satu sambil mengangguk sopan. "Salman," ucapnya singkat, mencoba beradaptasi dengan ritme pergaulan kota yang jauh lebih ekspresif dibanding di desanya dulu.
Setelah sesi perkenalan yang sedikit canggung itu selesai, Agus langsung mengambil kendali obrolan. "Malam ini kita kemana kita nih enaknya?" tanya Agus sambil memandang ketiga gadis itu.
Dian langsung melambaikan tangannya dengan cepat. "Jangan clubbing atau ke tempat mahal ya! Kami belum gajian, nih. Dompet lagi tipis," seru Dian jujur yang langsung disambut tawa kecil oleh teman-temannya.
"Haha! Sama aja kalau itu mah, kita juga lagi nunggu jatah potong kasbon," sahut Jono terbahak-bahak, merasa senasib.
Agus mengetukkan jarinya ke dagu, mencoba melempar ide. "Kita ke pantai aja gimana di daerah pinggiran kota? Nanti besok sore baru kita pulang.
"Siska langsung mengerutkan keningnya, tampak keberatan. "Aduh, apa gak capek, Gus? Senin kan kita udah harus masuk shift pagi lagi di pabrik. Bisa rontok badanku di jalan."
Melihat perdebatan yang mulai buntu, Tias akhirnya memberikan solusi alternatif yang paling aman. "Atau gini aja, gimana kalau kita ngerujak aja di depan halaman mes kami? Murah meriah, kenyang, dan gak bikin capek.
"Salman yang baru bergabung dalam lingkaran pergaulan itu hanya memilih diam. Sebagai anak baru yang masih meraba-raba karakter teman-teman kotanya, ia memutuskan untuk bersikap tahu diri dan mengikuti saja ke mana pun arah kesepakatan kelompok.
"Nah, setuju! Opsi hemat!" seru Jono bersemangat.
Akhirnya mereka berenam sepakat untuk mengadakan acara ngerujak bersama di mes karyawati malam itu. Pembagian tugas pun langsung dieksekusi secara taktis. Jono, yang paling paham urusan menawar harga, langsung tancap gas menggunakan motor bebeknya menuju pasar terdekat untuk membelikan buah-buahan dan bumbu rujak.
Sementara itu, Salman dan Agus berjalan kaki menuju toko kelontong di ujung gang untuk membeli minuman segar. Tidak lupa, sebelum membayar di kasir, Agus menyenggol lengan Salman sambil menunjuk ke arah etalase kaca tempat pajangan tembakau.
"Man, beli rokok filter. Tapi kali ini pilih yang batangnya kecil aja, yang kemasan mild," bisik Agus dengan volume suara yang sangat pelan.
Salman menaikkan sebelah alisnya, agak heran.
"Kenapa emangnya?
Biasanya kan kita hantam yang biasa?"
Agus terkekeh pelan sambil merapikan kerah bajunya. "Ah, kamu kayak gak tahu aja, Man.
Ini kan mau ngumpul sama cewek-cewek seberang. Biar kelihatan agak berkelas dikit, ada gengsinya kalau pas lagi pegang rokok. Kalau pakai rokok kretek atau filter bapak-bapak yang batangnya segede silinder hidrolik, ntar dikira kita mau lanjut ngelas sasis truk lagi!
"Salman menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa geli mendengar logika kocak dari Agus. Ia akhirnya mengangguk setuju, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya untuk menebus rokok "gengsi" malam minggu mereka.