Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Kejujuran Diyah
Diyah menunggu kepulangan suaminya dengan tak sabar, karena ingin menceritakan bahwa Sarmila sudah ditemukan. Ketika pintu kamar berdecit, Diyah langsung bangkit dari duduknya menyambut Biyakta dengan senyum merekah.
"Mas, aku ada kabar baik," ucap Diyah dengan cepat tanpa menyadari ekspresi wajah Biyakta yang tak seperti biasanya.
"Hem," balas Biyakta dengan datar, lalu melangkah ke arah kamar mandi. Namun, Diyah mencegatnya.
"Sarmila sudah ketemu, Mas, katanya ibu tahu di mana dia sekarang. Aku juga dikirimi potonya," ujar Diyah memberitahu Biyakta, wajahnya benar-benar sangat sumringah hingga tak memedulikan Biyakta yang pikirannya tengah melalang buana.
"Hanya itu?" tanya Biyakta yang sudah membalik badan. Senyum Diyah langsung tertanggal, dia mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda dari suaminya.
Diyah mengangguk. "Iya, Mas, ibu baru aja kabarin aku."
Biyakta mendengus pelan, tatapannya yang lurus memecah kebahagiaan Diyah.
"Kamu tidak mau menjelaskan apa-apa tentang vitamin yang ada di laci nakas?"
Deg!
Diyah langsung paham ke mana arah pembicaraan suaminya. Ternyata Biyakta mengetahui pil-pil yang diberikan oleh Laksmi. Namun, sepertinya Biyakta tahu yang sebenarnya bahwa pil-pil itu bukanlah vitamin biasa.
Tak ingin ada kekeliruan di antara mereka, Diyah memberanikan diri untuk meraih tangan suaminya.
"Jangan salah paham, Mas, ayo duduk. Biar aku jelaskan sekarang," ujar Diyah membujuk Biyakta yang sepertinya sudah terlanjur diracuni oleh pikirannya sendiri.
"Jadi benar itu bukan sekedar vitamin?" tanya pria itu. Jangan salahkan dia, jika berpikir bahwa Diyah tak ingin mengandung anaknya, sebab pil kontrasepsi memang diperuntukkan untuk menunda kehamilan.
Tatapan yang semula dingin kini langsung berubah layu. Tubuh Biyakta terasa lunglai. Namun, Diyah bersikeras untuk meyakinkan suaminya.
"Benar, tapi Mas tidak boleh berpikir kejauhan," jawab Diyah, dia kembali menuntun Biyakta untuk duduk supaya mereka bisa bicara dengan santai. Biyakta pun menurut, karena tak ingin egois. Dia juga perlu mendengarkan dari sisi istrinya.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau aku menyembunyikan ini semua dari Mas. Sekarang aku yakin Mas sudah tahu pil apa itu. Ya, itu pil kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, tapi bukan berarti aku tidak ingin punya anak. Justru karena aku ingin, makanya pil-pil itu hanya aku simpan di dalam laci ...." Diyah bicara pelan-pelan agar Biyakta bisa mencernanya. Namun, pria itu malah mengerutkan dahinya.
"Mas bingung ya? Aku juga. Vitamin itu dari Bude Laksmi. Aku tidak tahu maksud beliau apa, tapi berkat aku menjadi kader posyandu aku tahu bahwa vitamin yang dimaksud adalah pil KB. Aku tidak ceroboh, tapi aku juga tidak langsung bilang karena aku takut kamu lebih percaya pada Bude-mu. Di rumah ini aku orang baru, Mas, aku terlalu takut untuk bertindak. Jadi aku menjalaninya seperti biasa supaya aku tahu apa tujuan sebenarnya. Kamu mengerti 'kan?" lanjut Diyah, berharap Biyakta bisa percaya sepenuhnya.
Mendengar itu semua raut wajah Biyakta langsung berubah seketika. Dia seperti mendapat benang merah dari beberapa perilaku Laksmi akhir-akhir ini.
Biyakta pun langsung menarik Diyah untuk masuk ke dalam dekapannya. Dia sadar bahwa hati Diyah terlalu lembut terhadap orang-orang yang menyakitinya.
"Aku tidak mau bilang kalau Bude itu jahat, tapi nyatanya aku merasa bahwa Bude tidak menyukaiku," ujar Diyah, tahu bahwa selama ini Laksmi hanya memakai topeng kebaikan ketika di depannya.
"Terima kasih sudah jujur, selanjutnya biar aku yang bertindak," balas Biyakta sambil mengelus-elus rambut Diyah. Mulai saat ini dia pastikan untuk selalu terbuka, karena komunikasi adalah kunci di dalam rumah tangga.
***
Setelah berhasil menjual barang-barang fasilitas kostan milik ibu mertuanya. Cakra langsung mengajak Rani untuk berkemas, karena rencananya mereka ingin pulang ke kampung malam ini juga.
"Tidak perlu bawa barang banyak, nanti susah," ujar Cakra kepada istrinya yang sedang memasukan baju ke dalam tas. Bukannya membantu dia malah duduk santai sambil otak-atik handphone.
"Iya, Mas," jawab Rani tanpa menegur. Dia tidak ingin ada perdebatan, karena bisa-bisa Cakra malah tidak mengajaknya.
"Ibu pulang jam berapa?" tanya Cakra, menghembuskan asap nikotin yang baru dibakarnya.
"Mungkin satu jam-an lagi. Kamu sudah beli tiketnya?"
"Tidak perlu tiket-tiket, kita ke terminal langsung naik saja bus yang ada. Ayo, sudah selesai belum?"
Rani langsung mengangguk kemudian menutup resleting. Dengan perutnya yang mulai membuncit, dia mengikuti semua keputusan suaminya. Karena dia tak mau ambil resiko untuk menghidupi bayinya sendirian.
"Sudah, Mas," jawab Rani dengan mantap, meski sebenarnya ada keraguan di hatinya.
Cakra tersenyum lebar, dengan berbekal uang tersebut pria itu membawa pergi Rani tanpa sepengetahuan ibunya. Karena Cakra tidak ingin berdebat, apalagi sampai dimarahi karena ketahuan mencuri.
"Nanti setelah sampai kampung, baru kita kabari ibu," ujar Cakra sambil melangkah keluar.
****
Sementara itu Sarmila tak ubahnya seperti seorang pembantu gratis di rumah Arumi. Dia mengerjakan ini dan itu, tanpa boleh membantah. Namun, demi bisa menelpon Diyah, dia melakukan itu semua.
"Kamu sudah belum makannya? Kalau sudah langsung cuci piring sama sekalian semua alat-alat masaknya. Supaya besok udah bersih semua, saya nggak suka orang jorok!" titah Arumi saat Sarmila sedang menyantap makan malam dari lauk sisa.
"Iya, Bu, tapi kapan ya saya bisa telepon Kak Diyah?" balas Sarmila dengan patuh.
"Ya nanti, Diyah pasti sudah tidur sekarang. Udah deh santai aja kenapa sih, yang penting kan kamu udah ada di tempat aman!" ketus Arumi langsung mencak-mencak. Kalau Sarmila cepat pulang yang ada dia tidak dapat uang.
Sepeninggal Arumi, Sarmila langsung bersih-bersih. Dia tak bisa keluar sembarangan, apalagi meminta tolong pada orang lain untuk menelpon Diyah, karena nomornya saja dia tidak hafal.
"Ssttt!" Tiba-tiba Sarmila mendengar desisan orang. Dia segera menoleh dan melihat Diva sedang mengendap-endap supaya tidak ketahuan ibunya.
"Kenapa?" tanya Sarmila dengan suara bisik-bisik.
"Aku bakal cari cara buat ambil handphone ibu, supaya aku bisa catat nomor Kak Diyah. Nanti kalau aku berhasil, aku bakal kasih tahu alamat rumah ini supaya Kak Diyah bisa jemput Kakak. Doain aku ya," jawab Diva yang berusaha untuk membantu Sarmila. Karena selain kasihan, dia juga tidak mau sang ibu terus-terusan memanfaatkan kakaknya.
Mendengar itu, entah kenapa hati Sarmila langsung melow. Dengan mata yang berkaca-kaca dia mengangguk.
si pecudang arumi semogah cepat dapat karma,,,,
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi