Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kenangan Lama, Kebenaran yang Terpendam, dan Tepian Sungai yang Hangat
Ruangan kerja Ellion yang luas dan hangat kini terasa semakin penuh makna. Cahaya matahari sore yang keemasan menembus jendela besar, menyinari setiap sudut ruangan yang kini dihuni oleh mereka berempat — Yofaith, Rebeca, Angel, serta Ellion dan Lazark yang berdiri sedikit di samping, seakan memberi ruang bagi keluarga itu untuk menyatu kembali.
Di udara, seakan-akan bayangan-bayangan masa lalu perlahan muncul satu per satu. Ellion menatap Yofaith dengan mata berkaca-kaca, kenangan saat pertama kali bertemu di rumah kayu tua itu kembali terbayang begitu jelas — malam yang dingin, meja makan kecil, dan kata-kata yang mengubah seluruh hidupnya: "Mulai hari ini, engkau adalah keluargaku." Sementara itu, Lazark berdiri di dekat jendela, tersenyum tipis melihat pemandangan itu, teringat masa-masa lama saat ia dan Yofaith berjalan menembus ribuan medan perang, berdua saja menghadapi dunia yang penuh bahaya. Dan Kael… di sudut ruangan, ia menunduk pelan, mengingat hari ketika ia berlutut di hadapan tuannya, bersumpah untuk melindungi orang-orang yang paling berharga bagi Yofaith — bahkan jika itu berarti harus menyembunyikan identitasnya sendiri selama bertahun-tahun.
Semua kenangan itu seakan menyapa satu sama lain, menyatu dalam keheningan yang hangat. Namun di tengah kehangatan itu, hati Angel justru semakin bimbang dan sedih. Ia duduk di samping ayahnya, menatap wajah pria itu berulang kali, berharap akan mendengar jawaban atas pertanyaan yang sejak tadi terus bergema di kepalanya — Kenapa kau pergi? Kenapa baru sekarang datang? Mengapa aku harus tumbuh tanpa pernah melihat wajahmu sekalipun? Namun Yofaith hanya diam, menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan namun tak kunjung menjelaskan apa pun. Rasa bingung perlahan berubah menjadi kesedihan yang dalam. Angel merasa seakan ada tembok tebal yang masih berdiri di antara mereka, meskipun kini mereka duduk berdampingan.
Rebeca yang sedari tadi memperhatikan raut wajah putrinya, perlahan merasakan hati dirinya hancur berkeping-keping. Ia melihat kebingungan itu, rasa kehampaan yang masih tersisa di mata Angel — dan ia tahu, ia tidak bisa lagi menyembunyikan semuanya. Kebenaran itu harus terucap, walau rasanya seperti merobek hatinya sendiri. Dengan tangan yang gemetar, Rebeca menggenggam tangan Angel erat-erat. Suaranya terdengar lemah, penuh dengan rasa bersalah yang telah ia pendam selama delapan tahun penuh.
"Angel… maafkan Ibu…" ucapnya pelan, air mata mulai menetes kembali di pipinya. "Bukan hanya Ayahmu yang menyembunyikan kebenaran darimu… Ibu juga telah membohongimu sejak kau masih kecil. Selama ini… setiap kali kau bertanya di mana Ayahmu, Ibu selalu berkata bahwa ia sedang pergi untuk tugas yang sangat penting, bahwa ia akan kembali suatu hari nanti… padahal itu bukanlah satu-satunya kebenaran. Ibu lah yang memintanya untuk pergi. Ibu lah yang menyuruhnya menyembunyikan keberadaannya darimu… dan dari dunia ini."
Kalimat itu menggantung di udara, membuat seluruh ruangan menjadi hening seketika. Angel diam mematung, tak mampu mencerna apa yang baru saja ia dengar.
"Kenapa…?" tanyanya pelan, nyaris tak terdengar. "Kenapa Ibu melakukan itu?"
"Karena Ibu tidak ingin kau hidup dalam kekangan, Nak…" ucapnya lantang namun bergetar. "Ibu tidak ingin kau tumbuh di bawah bayang-bayang kekuatan yang mengerikan, di bawah nama yang ditakuti seluruh alam semesta. Jika semua orang tahu siapa Ayahmu… kau tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang. Setiap orang akan melihat kekuatan itu, bukan dirimu. Kau akan selalu dijaga, dikawal, dibatasi — tanpa pernah diberi kesempatan untuk menjadi dirimu sendiri. Ibu ingin kau menjalani hidup yang normal, sederhana, bebas dari beban dunia yang begitu berat. Ibu ingin kau tumbuh dengan tawa, dengan teman, dengan hari-hari yang tenang… bukan dengan pedang di tangan dan ketakutan di hati. Itulah sebabnya Ibu meminta Ayahmu pergi — agar kau bisa tumbuh tanpa dikekang oleh siapa pun, tanpa diketahui siapa dirimu sebenarnya."
Suaranya pecah, tangisnya tak lagi bisa ditahan. "Tapi ternyata… Ibu salah. Keputusan itu justru membuatmu sengsara. Kau tumbuh kesepian, kau tidak punya teman, kau sering merasa tidak berharga karena tidak pernah tahu siapa dirimu sebenarnya. Ibu menyembunyikan kebenaran itu demi kebaikanmu… tapi ternyata yang Ibu berikan padamu bukan kebebasan, melainkan kesepian yang panjang. Maafkan Ibu, Angel… maafkan Ibu yang egois ini…"
Angel mendengarkan semuanya dalam diam. Rasa bingung, sedih, dan marah perlahan bercampur menjadi satu — namun di atas segalanya, ia merasakan betapa besarnya kasih sayang yang tersembunyi di balik kebohongan itu. Ibunya melakukan itu bukan karena kejahatan, melainkan karena ia ingin melindunginya — dengan caranya sendiri, yang penuh kekurangan dan kesalahan. Angel perlahan mengangkat tangannya, menyentuh pipi ibunya, menghapus air mata yang terus mengalir di sana.
"Ibu…" ucapnya pelan namun tegas. "Aku tidak menyalahkan Ibu. Aku tahu… Ibu melakukannya karena Ibu menyayangiku."
Rebeca langsung memeluk putrinya dengan erat, seakan takut kehilangan lagi. Di samping mereka, Yofaith ikut merangkul keduanya, air mata pria yang tak pernah menangis itu kini jatuh perlahan.
"Dan aku…" Yofaith berbicara dengan suara berat dan penuh penyesalan. "Aku juga salah. Aku seharusnya bisa mencari jalan lain — jalan yang tidak membuat kalian berdua menderita. Maafkan aku, Rebeca… maafkan aku, Angel. Aku berjanji… mulai hari ini, aku tidak akan pergi lagi. Aku akan ada di sini, di sisi kalian berdua. Apapun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama — sebagai satu keluarga."
Di sudut ruangan, Ellion dan Lazark tersenyum haru melihat pemandangan itu. Kenangan lama yang menyakitkan perlahan tergantikan oleh harapan baru. Namun di hati Angel, masih ada satu hal yang belum sepenuhnya hilang — pertanyaan lain pun muncul di benaknya: Jika ayah adalah Dewa Penghancur… dan aku adalah putrinya… apa yang sebenarnya menantiku di masa depan?
Sementara percakapan itu berakhir dengan pelukan hangat dan janji untuk tidak lagi berpisah, hari di luar telah berubah menjadi gelap pekat. Langit malam yang bertabur bintang mulai menyelimuti seluruh area akademik, dan cahaya lampu ruangan kerja Ellion menjadi satu-satunya penerang yang lembut di tengah keheningan malam itu.
Ellion menatap mereka satu per satu dengan tatapan penuh kehangatan, namun terselip rasa rindu yang mendalam di matanya. Sebenarnya, di dalam hati Ellion, ia sangat berharap mereka menerima tawaran itu — ia merindukan suasana kehangatan keluarga yang utuh, dikelilingi oleh orang-orang yang ia sayangi dan anggap sebagai keluarganya sendiri, sejak hari ketika Yofaith meminta mereka semua untuk berpisah dan pergi mencari kehidupan masing-masing, menunggu takdir mempertemukan mereka kembali satu per satu. Dengan lembut ia berkata:
"Malam sudah semakin larut… mengapa tidak menginap di sini saja untuk malam ini? Ruangan di sini cukup luas, dan aku sudah menyiapkan tempat istirahat yang nyaman untuk kalian semua."
Namun sebelum siapa pun sempat menjawab, Angel mengangkat suaranya dengan lembut namun tegas.
"Maafkan saya, Tuan Kepala Akademik…" ucapnya sambil menunduk sedikit, "Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Tuan. Tapi… saya ingin pulang. Saya merindukan rumahku. Saya ingin tidur di kamar saya sendiri, di rumah yang selama ini menjadi tempat kami tinggal. Tapi Tuan tidak perlu sedih… Tuan bisa berkunjung ke rumah kami kapan saja. Karena Tuan juga adalah pamanku, bukan?"
Kata-kata itu begitu sederhana namun menembus hingga ke dalam sanubari Ellion. Ia tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca mendengar panggilan itu — paman. Sebuah gelar yang begitu sederhana namun begitu berharga baginya.
"Baiklah…" jawab Ellion dengan suara lembut namun penuh sukacita. "Kalau begitu, pulanglah. Dan terima kasih, Angel. Aku pasti akan sering berkunjung ke rumah kalian."
Tanpa menunggu lama, Ellion melangkah ke tengah ruangan dan mengangkat kedua tangannya. Cahaya putih yang lembut mulai memancar dari tubuhnya, perlahan membentuk sebuah portal besar yang bersinar hangat di hadapan mereka — sebuah lorong yang akan membawa mereka langsung pulang.
"Masuklah," ucap Ellion lembut. "Semoga perjalanan kalian pulang terasa tenang."
Mereka pun melangkah masuk satu per satu — Angel, Rebeca, Yofaith, Kael, dan Lazark. Cahaya itu menyelimuti tubuh mereka, dan dalam sekejap mata, mereka telah lenyap dari ruangan itu. Hanya tersisa Ellion yang berdiri sendirian di sana, namun kali ini hatinya tidak lagi terasa sepi. Ia tersenyum menatap tempat di mana portal itu tadi berada, lalu berbisik pelan: "Sampai jumpa… keluargaku."
Sesampainya di rumah, suasana seketika menjadi hening. Rumah kayu sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggal Rebeca, Kael, dan Angel kini terasa begitu penuh — penuh dengan kehadiran orang-orang yang selama bertahun-tahun hanya ada dalam cerita dan kenangan. Yofaith berdiri di ruang tengah, menatap sekeliling dengan tatapan penuh kerinduan. Lazark berjalan pelan menyentuh dinding kayu itu, seakan tidak percaya bahwa akhirnya mereka benar-benar ada di sini, di rumah yang sederhana namun penuh kasih sayang ini. Kael berdiri di dekat jendela, menatap langit malam sambil tersenyum tipis, sedangkan Rebeca berdiri di samping Angel, membiarkan putrinya menyerap suasana itu perlahan.
Namun di antara kehangatan itu, Angel justru berdiri diam, menatap mereka semua satu per satu dengan tatapan bingung. Hatinya merasa bahagia — bahagia karena akhirnya ayahnya ada di sini, bahagia karena mereka semua berkumpul bersama. Namun di saat yang sama, ada banyak hal yang belum ia mengerti. Ia melihat tatapan-tatapan penuh makna di antara mereka, cara mereka saling memandang seakan setiap sudut pandang itu menyimpan kisah lama yang panjang dan mendalam — kisah yang belum pernah diceritakan kepadanya. Angel adalah satu-satunya yang tidak memahami masa lalu mereka. Ia tidak tahu tentang perang panjang itu, tentang janji-janji yang diucapkan di medan perang, tentang pengorbanan yang dilakukan demi menjaga dunia dan demi melindunginya. Semua itu adalah hal-hal yang terjadi sebelum ia lahir — hal-hal yang sengaja disembunyikan darinya agar ia bisa hidup tenang. Dan kini, di rumah yang sepi namun penuh kehangatan itu, kebingungan itu perlahan tumbuh menjadi satu pertanyaan besar di hatinya: Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu, sebelum aku lahir?
Suasana hening itu masih menyelimuti ruang tengah rumah kayu tua itu. Di antara tatapan penuh makna dan kebingungan yang masih membekas di mata Angel, Rebeca perlahan menarik napas panjang. Ia menyadari bahwa hari ini sudah membawa begitu banyak kejujuran dan emosi — terlalu banyak untuk dipahami sekaligus dalam satu malam.
"Sudah…" ucap Rebeca lembut namun tegas, memecah keheningan. "Mari kita beristirahat untuk malam ini. Semua hal bisa kita bicarakan dengan tenang besok pagi. Sekarang, tidurlah. Besok adalah hari yang baru, dan kita punya banyak waktu untuk bercerita satu sama lain."
Mereka pun mengangguk pelan, menyetujui kata-kata itu. Malam itu, rumah kayu yang selama ini terasa sederhana dan kecil, kini terasa penuh dan hangat — untuk pertama kalinya, Yofaith dan Lazark juga beristirahat di sana, melengkapi keluarga yang selama bertahun-tahun terpisah. Mereka semua tertidur lelap, menyimpan segala pertanyaan dan perasaan di hati, menanti pagi yang akan datang.
Cahaya matahari pagi yang lembut perlahan menembus celah jendela, menyinari setiap sudut rumah itu. Udara pagi terasa segar, dan di dalam rumah yang dulu hanya dihuni oleh Angel, Rebeca, dan Kael, kini terasa berbeda — lebih hidup, lebih lengkap. Kehadiran Yofaith dan Lazark membuat rumah itu terasa penuh, seakan setiap ruangan kini menyambut kehadiran anggota keluarga yang telah lama dinantikan.
Angel terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ia merapikan pakaiannya, lalu berjalan menuju ruang makan dengan langkah pelan. Sesampainya di sana, pemandangan yang dilihatnya membuat langkahnya terhenti sejenak — di meja makan itu kini duduk ayahnya dan ibunya, berdampingan. Selama ini, setiap pagi Angel selalu melihat ibunya sendirian di sana, menyiapkan makanan dengan senyum yang sering kali menyembunyikan kesepian. Namun pagi ini, semuanya berbeda.
Rebeca segera menyadari kehadiran putrinya. Ia tersenyum hangat dan melambaikan tangan. "Angel, sayang… kemarilah, duduklah dan makanlah bersama Ayahmu."
Angel berjalan mendekat, lalu duduk di hadapan mereka. Di sampingnya, Yofaith tampak menunduk sedikit, tangannya yang besar dan kekar tergeletak di atas meja, namun terlihat gemetar pelan. Rasa malu dan rasa bersalah yang begitu dalam menyelimuti hatinya — ia menatap putrinya, dan setiap kali melihat wajah itu, ia teringat bahwa ia tidak ada di sana saat Angel lahir, tidak ada saat Angel belajar berjalan, tidak ada saat Angel menangis sendirian. Ia telah meninggalkannya sejak hari pertama, dan rasa itu kini menghimpit dadanya begitu kuat.
Angel baru saja akan mengambil sendok, ketika Yofaith berbicara dengan suara pelan namun penuh kelembutan.
"Nak… aku tahu kau punya begitu banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan padaku. Dan aku berjanji, aku akan menjawab semuanya — satu per satu, tanpa menyembunyikan apa pun. Tapi mari kita makan dulu dengan tenang. Setelah selesai makan, temui Ayah di sungai di belakang rumah ini. Di sana tenang, dan Ayah akan menjawab semua pertanyaanmu sampai kau puas."
Angel menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baik, Ayah…"
Belum sempat Yofaith tersenyum mendengar panggilan itu, ia langsung berdiri dari tempat duduknya. Seakan tak sanggup lagi menatap mata putrinya karena rasa bersalah yang begitu berat, ia bergegas melangkah keluar dari rumah, meninggalkan Angel dan Rebeca di meja makan itu. Pintu kayu terbuka perlahan, dan sosoknya menghilang menuju arah hutan kecil yang membelah sungai di belakang rumah mereka.
Angel menatap pintu yang perlahan tertutup itu, lalu menoleh ke arah ibunya. Rebeca hanya tersenyum tipis, namun ada kesedihan yang tersembunyi di balik tatapan itu.
"Makanlah, Nak…" bisik Rebeca lembut. "Ayahmu hanya butuh sedikit waktu untuk menenangkan dirinya. Dia… sangat menyesal atas semuanya."
Angel mengangguk pelan, lalu mulai makan. Namun di hatinya, ia sudah menyiapkan segalanya — segalanya yang ingin ia tanyakan, segalanya yang ingin ia ketahui.
Segera setelah sarapan selesai, Angel bergegas keluar rumah dengan hati berdebar — ia tak sabar menuju sungai untuk menemui ayahnya dan mendengar segala jawaban yang selama ini ia rindukan. Namun baru saja hendak berjalan pergi, Kael menyadari niatnya dan bertanya dengan lembut:
"Nona, kau mau pergi ke mana pagi-pagi begini? Apakah kau ingin aku menemanimu?"
Angel menggelengkan kepalanya pelan namun tegas. "Maaf, Paman. Kali ini aku ingin pergi sendiri. Ayah sedang menungguku di tepi sungai, dan beliau berpesan — kami berdua harus membicarakan banyak hal berdua saja."
Kael mendengar jawaban itu, lalu mengangguk paham. "Baiklah, Nona. Kalau begitu pergilah. Tapi ingat, jika ada sesuatu hal, atau kau membutuhkan apa pun — kau boleh datang meminta apa pun kepada kami. Kami selalu ada untukmu."
"Terima kasih, Paman," jawab Angel tulus, lalu bergegas berjalan meninggalkan rumah.
Namun baru saja melangkah melewati pintu kayu, langkahnya terhenti seketika. Di halaman depan rumah, Lazark dan Kael sedang berhadapan. Tanpa senjata, hanya dengan tangan kosong, mereka bergerak begitu cepat hingga mata hampir tak sanggup mengikutinya. Setiap kali tangan mereka bertemu, terdengar dentuman udara yang pecah, dan tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan. Gerakan Kael begitu tenang namun mematikan — setiap serangan terarah, setiap pertahanan sempurna, seakan ia sudah melakukan ini seumur hidupnya. Angel terbelalak tak percaya. Selama ini ia mengenal Paman Kael hanya sebagai nelayan yang pulang dengan pakaian sederhana, tangan kasar karena jala dan ombak, pria yang selalu tersenyum lembut dan bekerja keras demi menghidupi mereka bertiga. Namun pria yang berdiri di hadapannya ini bukanlah nelayan biasa. Kekuatan, kecepatan, dan ketepatan itu — jauh melampaui seorang panglima perang mana pun. Bukan sekadar setara, melainkan berada di atas tingkatan itu sendiri.
Pertarungan itu berlangsung menakjubkan, seakan dua badai saling bertabrakan tanpa menyakiti satu sama lain — murni latihan, namun kekuatan yang terpancar sungguh luar biasa. Hingga Kael tiba-tiba menoleh sedikit, menyadari kehadiran gadis kecil itu di ambang pintu.
"Berhenti, Guru," ucap Kael pelan namun tegas.
Lazark langsung menghentikan gerakannya seketika, seakan perintah itu adalah hukum yang tak bisa dibantah. Kael berjalan mendekati Angel dengan senyum lembut yang biasa ia tampilkan, seakan baru saja ia tidak sedang menunjukkan kekuatan yang bisa mengguncang gunung.
"Selamat pagi, Nona-ku," sapa Kael dengan hangat. "Apakah kau sudah sarapan?"
Angel masih tertegun, matanya tak lepas dari wajah pamannya. "Sudah, Paman…" jawabnya pelan.
Belum sempat Angel bertanya apa pun, Lazark pun berjalan mendekat dengan langkah ringan, lalu berdiri di samping Kael. Ia menatap Angel sejenak, lalu tersenyum lebar dan menyapanya dengan nada yang begitu ceria dan akrab, persis seperti orang yang sedang menyapa teman lama.
"Hai, anak kecil!" serunya dengan nada yang terdengar begitu ramah dan polos.
Angel tampak bingung mendengar itu. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya — Apakah orang ini benar-benar sosok yang sama yang saat itu menebas langit-langit bangunan di acara kelulusan? Yang memancarkan aura kematian yang begitu mengerikan? Tapi kenapa… kenapa ia menyapaku dengan nada begitu hangat dan lucu seperti ini?
Saat itu juga, Rebeca keluar dari rumah dan menemui mereka bertiga. Ia melihat kebingungan di wajah putrinya, lalu tersenyum tipis sambil menepuk bahu Angel pelan.
"Jangan dipikirkan terlalu dalam, Putriku," ucap Rebeca dengan nada bercanda namun penuh makna. "Pamanmu itu memang diakui sebagai orang terkuat setelah Ayahmu — tapi yang aku kenal, dia hanyalah orang yang bodoh dan lucu."
Lazark yang mendengar ucapan itu langsung menunduk, matanya berkaca-kaca seakan akan menangis.
"Nyonya… perkataanmu sungguh jahat sekali… hiks… hiks… hiks…" keluhnya dengan nada tertindas, membuat Rebeca tak kuasa menahan senyum.
Kael di sampingnya justru tersenyum tipis melihat pemandangan itu, namun senyum itu segera lenyap ketika Lazark menoleh dan menatapnya dengan mata menyipit penuh ancaman bercanda.
"Wah… melihat gurumu yang sedang dihina begini, kau justru tersenyum?" tanyanya sambil menyeringai lebar. "Kalau begitu, apakah aku harus memberikan latihan yang jauh lebih berat untukmu mulai sekarang? Hehehehe!"
Kael hanya menggeleng pelan, namun di matanya tersirat rasa sayang yang mendalam terhadap guru sekaligus sahabat tuannya itu. Di halaman rumah kayu yang sederhana itu, di antara tawa dan canda, Angel perlahan menyadari satu hal — di balik setiap sosok yang tampak mengerikan dan perkasa, ternyata tersembunyi hati yang penuh kasih sayang, persahabatan yang tak tergoyahkan, dan kehangatan keluarga yang selama ini mereka jaga dengan segala cara.
Namun ia tak bisa berlama-lama. Ayahnya sedang menunggunya di tepi sungai. Ia pun berpamitan dan bergegas pergi. Tak butuh waktu lama hingga kakinya sampai di tepi sungai itu. Air mengalir jernih memantulkan cahaya matahari pagi yang lembut, dan di sana — di dekat pohon besar yang berdiri tegak di pinggir air — tampak sosok ayahnya sedang duduk. Namun saat Angel hendak melangkah mendekat, langkahnya terhenti. Yofaith tampak sedang berbicara seorang diri, gerak-geriknya tampak begitu aneh dan gelisah. Sesekali ia menepuk-nepuk wajahnya sendiri, sesekali menghela napas panjang, lalu kembali berbicara pelan seakan sedang berlatih sesuatu di hadapan orang lain.
Angel perlahan mendekat, langkah kakinya begitu pelan dan hati-hati. Namun anehnya — Yofaith sama sekali tidak menoleh, seakan tak menyadari kehadiran putrinya sama sekali. Padahal, sosok itu adalah Dewa Penghancur, seseorang yang mampu mendeteksi setiap getaran di sekitarnya hingga jarak ribuan kilometer, seseorang yang tak akan pernah bisa dikejutkan oleh siapa pun. Namun saat ini, ia begitu tenggelam dalam kegelisahannya sendiri hingga tak menyadari putrinya telah berdiri tak jauh darinya.
Semakin dekat ia mendekat, semakin jelas terdengar apa yang diucapkan ayahnya.
"Maafkan aku... maafkan aku telah meninggalkanmu sejak lahir... aku tidak bermaksud... aku hanya... hanya ingin melindungimu..." Yofaith berbicara dengan suara bergetar, seakan sedang berlatih mengucapkan permohonan maaf berulang-ulang dengan berbagai nada. "Aku tahu aku ayah yang buruk... tapi percayalah, setiap detik aku selalu memikirkanmu... Nak, maafkan Ayah..."
Angel mendengar itu, lalu perlahan tersenyum lebar. Sesuatu yang begitu berat dan menyedihkan, namun saat melihat ayahnya yang sedang berlatih dengan begitu canggung dan tulus itu, hati Angel terasa hangat — hingga tak bisa menahan tawa kecil keluar dari bibirnya.
Cekikikan... hehe...
Suara tawa kecil itu terdengar begitu jernih di keheningan tepi sungai itu. Yofaith seakan tersengat aliran listrik. Tubuhnya kaku seketika, kepalanya berputar perlahan ke arah sumber suara. Di sana, putrinya berdiri sambil menahan tawa, menatapnya dengan mata yang berbinar hangat.
Wajah Yofaith seketika memerah padam. Ia — Dewa Penghancur yang ditakuti seluruh alam semesta, yang tak pernah gentar menghadapi ribuan musuh sekaligus — kini merasa malu luar biasa. Ia tidak merasakan kehadiran putrinya sama sekali, dan yang lebih parah, putrinya mendengar semuanya. Semua latihan permohonan maaf yang ia persiapkan dengan canggung itu.
"Anak... Angel..." ucapnya terbata-bata, tak tahu harus menyembunyikan wajahnya ke mana.
Angel perlahan berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya di atas rumput hijau yang lembut. Ia menatap ayahnya yang tampak begitu malu dan gugup, lalu tersenyum tulus — senyum yang mampu mencairkan beban berat di hati pria itu.
"Ayah..." panggilnya pelan namun lembut. "Tidak perlu berlatih. Cukup Ayah katakan apa adanya. Aku di sini sekarang. Dan aku mendengarkan Ayah."
Yofaith menatap mata putrinya, dan di saat itu, segala kegelisahan, rasa malu, dan ketakutannya perlahan luruh. Di tepi sungai yang tenang itu, di bawah naungan pohon besar dan suara air yang mengalir lembut, ia menarik napas panjang — dan mulai bercerita.