Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:75.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa bersalah

Untuk sesaat tubuh Fajar terpaku, ia tatap kertas berbalut plastik halus di genggamannya. Terdiam tanpa satu patah kata pun keluar.

Sementara di depannya, duduk Azarin yang menatapnya tanpa ekspresi. Dan juga Nyonya Fanya di samping Fajar, tampak menangis tersedu-sedu seraya memohon maaf pada Azarin berkali-kali.

"Azarin, ibu ucapkan selamat untuk pernikahanmu. Maafkan kejahatan ibu dan Fajar yah, nak." lirih Nyonya Fanya seraya menghapus air mata di sudut dengan tisu, terisak kecil.

Azarin rapatkan bibir ke dalam, menatap keduanya tanpa satu patah kata pun keluar. Ia beralih menatap Fajar yang terus merunduk menatap undangan yang belum dibuka itu.

Cukup lama Fajar terdiam, sebelum akhirnya pria itu mendongak, memaksakan senyumnya yang kontras dengan bola matanya yang memerah.

"Selamat yah, Azarin."

Wanita itu tersenyum tipis, mengangguk kecil, "Iya, sama-sama."

Setelah itu Fajar langsung bangkit. Ia sambar baju jas putih kebesarannya, lalu memakainya, berjalan memutari sofa dan melewati ruang tamu begitu saja.

"Mas!"

Azarin hendak mengejar, namun ia tak bisa. Ia tau, Fajar kecewa, dan mungkin terpukul. Namun ini sudah keputusannya. Lagian, jika ia dan Fajar kembali, itu hanya akan mengorek rasa sakit di masa lalu.

"Mama sebenarnya ingin....sekali kamu kembali dengan Fajar, Azarin." isak Nyonya Fanya, merunduk menatap lantai pias.

"Bagaimanapun, kamu adalah menantuku yang terbaik. Dan Mia adalah cucuku." imbuhnya lagi.

"Mulai sekarang aku tidak akan melarang ibu bertemu Mia."

Isak tangis Nyonya Fanya semakin kencang. Wanita itu segera bangkit, berjalan mendekat dan duduk di samping Azarin, memeluknya erat.

"Ku mohon berbahagialah, Azarin. Ibu akan selalu mendo'akan kamu disini. Kunjungilah ibu sesekali, yah. Jangan anggap ibu ini orang asing." seru Nyonya Fanya di pelukan Azarin.

Untuk sesaat Azarin hanya bisa diam. Mencerna bait demi bait kata yang terdengar sesak di telinga.

Ia paksakan senyumnya terbit, menepuk bahu Nyonya Fanya lembut.

"Iya, ibu. Azarin tidak akan melupakan ibu."

Sementara Fajar. Pria itu mengendarai mobil secara ugal-ugalan di jalanan, air matanya tidak berhenti keluar sedari rumah tadi.

Ia pukul stir mobil kuat.

Apa seperti ini akhirnya? Apa akhirnya ia yang kalah?

Sial, padahal sudah mencoba melapangkan hati untuk menerima, namun saat hari ini tiba, rasa sakitnya tetap menyesakkan.

Membayangkan wanita yang begitu ia cintai, akan dinikahi oleh pria lain. Rasanya sangat menyakitkan, apalagi pria yang akan menikah dengannya adalah orang yang ia kenal sedari lama.

"Ini sangat menyakitkan." rintih pria itu, meremat dadanya yang begitu sesak.

Akhirnya semua selesai.

Tidak ada lagi yang bisa di perjuangan. Semua pupus, dan harapan kembali itu sudah tidak ada.

Meski aku tau akan seperti ini endingnya. Tapi rasa sakit ini tetap membekas.

Sejenak aku teringat tentang pernikahanku yang dadakan dengan Fania. Aku bisa membayangkan rasa sakitnya, jauh lebih menusuk dan menghujam hingga ke relung hati Azarin yang terdalam.

Ini adalah karma.

Karma yang harus ku terima akibat kebodohanku menilai.

Aku juga kembali mendapatkan apa yang sudah aku lakukan. Fania tidak selang lama memiliki kekasih. Perjuanganku selama ini ternyata tidak berarti.

Tentang bagaimana aku mengalah, dan meratukannya meski ia tidak bisa memberikanku keturunan, aku terus berusaha memaklumi. Namun Fania justru menghunuskan pedang ke dadaku hingga rasanya aku tidak bisa mengenali Fania lembut yang ku kenal di awal dulu.

"Rasanya aku yang berada di posisi Azarin 3 tahun lalu. Dimana aku dengan tanpa rasa belas kasihan menikahi Fania dengan begitu cepatnya. Sementara Azarin menanggung rasa sakit hingga 3 tahun lamanya."

Fajar paksakan senyumnya terbit. Meski air matanya terus berlinang, ia juga harus turut bahagia dengan kebahagiaan Azarin bukan?

Setidaknya pria itu adalah Dean. Lelaki yang pantas untuk Azarin perjuangkan. Ia juga mendengar Dean berkorban waktu demi Azarin. Memang sepatutnya mereka bersatu. Dirinya yang hanya batu loncatan ini tentu tidak pantas mengeluh.

"Dean kau harus membahagiakan Azarin. Jika kau juga menyakitinya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

****

Azarin langkahkan kakinya lemah menuju kontrakan miliknya. Sepanjang jalan ia terus merunduk lesu. Ekspresi tegang Fajar, dan tangis Nyonya Fanya masih terngiang jelas dalam otaknya.

"Apa aku terlalu jahat? Apa seharusnya aku tidak mengundang mereka?"

Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, tidak ada waktu untuk merubah hal yang sudah terjadi.

Azarin jatuhkan pantatnya pada sofa, menyandarkan kepalanya seraya menatap langit-langit intens.

"Mas Fajar...."

Entah kenapa ia begitu merasa bersalah. Namun bagaimanapun mereka harus tau, dan meski pahit, kenyataan itu harus mereka terima mentah-mentah.

"Maafkan aku, Mas. Ini yang terbaik buat kita."

Azarin akhirnya menutup matanya, terlelap perlahan untuk menghilangkan rasa penat dalam diri.

Sampai akhirnya ia terkejut saat tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Membuat wanita itu refleks bangkit.

"jeng jeng jeng....minuman dinginnya sudah datang....."

Azarin tatap Dean yang terkekeh di sampingnya intens, menghela nafas panjang. Ia sampai tak menyadari Dean duduk, padahal pintu sudah tertutup rapat.

"Ahh...aku pasti terlalu lelah sampai tidak menyadari dia masuk." batin wanita itu.

"Mas kapan kamu datang?"

Dean yang tengah menyesap minuman kaleng itu melirik ke arah Azarin. Ia turunkan minuman kaleng dari mulut, meletakkannya di atas meja.

"Baru saja. Kamu keliatan cape banget, nih minum dulu." Dean tersenyum seraya menyodorkan minuman kaleng rasa leci ke arah Azarin.

Wanita itu dengan senang hati meraihnya, meminum minuman kaleng yang Dean sodorkan.

"Aku tadi habis ngasih undangan ke Nyonya Fanya dan Mas Fajar."

Hening.

Dean sampai terhenti dari aksi minumnya, sebelum akhirnya pria itu tersenyum tipis.

"Lalu?"

Azarin tatap minuman kaleng di genggamannya kosong, menggeleng lemah.

"Gapapa, hanya saja aku jadi merasa bersalah."

Dean terdiam. Ia tau apa yang Azarin fikirkan. Tentu saja mereka berat karena mereka masih mengharapkan Azarin kembali kepadanya.

Dean tarik bahu Azarin untuk bersandar pada bahunya, tersenyum simpul.

"Maka kamu juga berhak menangis."

Azarin spontan menggeleng, memanyun kecil. Ia turunkan tangan Dean dari bahunya.

"Aku ga nangis. Aku cuma ngerasa bersalah aja karena liat mereka nangis. Seharusnya aku tidak ngasih mereka undangan aja."

"Maka aku yang kirim dia undangan."

Azarin tatap Dean malas, memanyun kecil. Sementara Dean hanya terkekeh saja, mengecup pipi Azarin singkat.

"Ehh mana Mia? Aku belum ada lihat sedari tadi." tanya Dean seraya celingak-celinguk ke sekeliling.

"Mia di rumah Azril."

Dean tertegun, "Dekat juga mereka yah, sahabatannya. Nanti besar jadi jodoh."

Azarin hanya bisa menghela nafas panjang, "Ngurusin jodoh anak kecil yang bahkan belum ada 5 tahun. Sementara kita aja begini."

Dean terkekeh saja, ia peluk tubuh Azarin erat, menjatuhkan dagunya pada bahu. Menatap minuman kaleng di genggaman Azarin intens.

"Iya sayang. Aku faham apa yang kamu fikirkan. Tapi dunia akan terus berjalan, dan penyesalan akan berlalu. Jadi jangan terlalu di fikirkan."

"Hufftt .... Ku harap begitu."

1
Ds Phone
jadi ketawa meraka berdua
Ds Phone
kenapa nak rasa ber salah pulak
Ds Phone
tak mahu terluka lagi
Ds Phone
lagi buat orang panas
Ds Phone
ada aja pakat dengan anak nya
Ds Phone
suka buat lawak bodoh
Ds Phone
buat macam tak kenal aja
Ds Phone
itu kawan yang bagus nasihat yang bagus aja
Ds Phone
susah juga macam ni di telan mati di luah mati anak
Ds Phone
ada kenangan lama antara meraka
Ds Phone
habis dia keluar kan semua yang di simpan dalam hati
Ds Phone
ya lah bapak dia
Ds Phone
merajuk lah tu
Ds Phone
dulu kau buang puteri mu kenapa sekarang nak balik
Ds Phone
anak nya pandai ambik orang tua
Ds Phone
apa kah dia di terima
Ds Phone
kawan nya sama lulus bendul
Ds Phone
bukan cemburu tapi sakit hati
Ds Phone
apa den tak sedar pasangan kena buli
Ds Phone
bodoh kau maseh nak pada nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!