Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Jreng...

Suara petikan senar gitar akustik itu mengalun jernih memenuhi ruang studio yang pengap.

Stevan duduk di atas kursi kayu dengan posisi tubuh yang sangat santai.

Di depannya, Clara berdiri sambil menarik napas panjang.

"Kalian berpesta di atas lukaku!"

Clara menyanyikan lirik lagu itu dengan kekuatan vokal S-Rank miliknya.

Tuk.

Stevan menghentikan petikan gitarnya dengan telapak tangan dan menggelengkan kepalanya pelan.

Clara langsung menghentikan nyanyiannya dengan wajah kebingungan.

"Ada apa, Kak? Nadaku fals ya?" tanya Clara dengan cemas.

Stevan meletakkan gitarnya dan mengambil ponsel di atas meja.

Ia mengetik pesan dengan cepat lalu menyodorkannya pada Clara.

"Nadamu sempurna, tapi volume suaramu hanya akan sampai di barisan pertama penonton."

"Tanpa mikrofon, suaramu akan langsung tertelan oleh suara napas ribuan penonton di auditorium."

Clara menundukkan kepalanya membaca pesan kritis tersebut.

"Lalu aku harus bagaimana, Kak? Tenggorokanku sudah terasa perih jika aku berteriak lebih keras lagi," keluh Clara pelan.

Stevan mengingat kembali pengetahuan dari hadiah Pemahaman Anatomi Vokal yang ia terima sebelumnya.

Ia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Clara.

Stevan menunjuk ke arah perut bagian atas Clara, lalu menunjuk ke area hidung dan keningnya sendiri.

"Jangan gunakan otot tenggorokanmu untuk berteriak," ketik Stevan di ponselnya.

"Itu hanya akan merobek pita suaramu sebelum lagu selesai."

"Gunakan otot perutmu untuk menekan udara keluar."

"Lalu arahkan getaran udara itu ke rongga hidung serta tulang tengkorakmu bagian depan."

Clara membaca instruksi medis itu dengan kening berkerut dalam.

"Tulang tengkorak? Maksud kakak, aku harus membuat kepalaku bergetar?" tanya Clara ragu.

Stevan mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun.

Ia mengetik lagi untuk memberikan penjelasan yang lebih logis dan mudah dipahami.

"Jadikan tubuhmu seperti bodi kayu pada gitar akustik ini."

"Bodi kayu gitar itu kosong di dalam, sehingga suara senar bisa memantul dan menjadi keras secara alami tanpa listrik."

"Teknik ini bernama resonansi ruang, teknik tingkat tinggi yang biasa dipakai oleh penyanyi opera klasik tanpa mikrofon."

Clara menganggukkan kepalanya mulai mengerti maksud dari latihan ini.

Sementara itu, di waktu yang sama pada sebuah bar biliar yang kotor di pinggiran kota.

Tak... duk!

Suara bola biliar berbenturan keras terdengar di seluruh ruangan redup yang bau alkohol tersebut.

Dion duduk di sudut meja bundar dengan mengenakan jaket kulit hitam, topi, dan kacamata gelap.

Ia berusaha keras menyembunyikan identitasnya sebagai figur publik di tempat kumuh ini.

Seorang pria bertubuh besar dengan banyak bekas luka sayatan di wajahnya duduk di depan Dion.

Pria itu bernama Bopeng, seorang bos preman lokal yang sering menerima pekerjaan kotor dari orang kaya.

"Jadi, calon artis besar sepertimu butuh bantuan dari tikus jalanan seperti kami?" tanya Bopeng sambil tertawa serak.

Dion merasa sangat jijik melihat pria itu, namun ia menahan ekspresi wajahnya agar tetap datar.

Srak.

Dion melempar sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja berdebu tersebut dengan kasar.

"Di dalam sana ada lima puluh juta rupiah sebagai uang muka," ucap Dion dengan nada merendahkan.

Mata Bopeng langsung berbinar buas melihat ketebalan amplop tersebut.

Ia segera mengambil amplop itu dan mengintip isinya yang dipenuhi lembaran uang kertas merah merah.

"Nominal yang sangat pantas. Siapa targetnya kali ini, Tuan Muda?" tanya Bopeng dengan senyum licik.

Dion mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Bopeng dengan tatapan membunuh.

"Dua orang mahasiswa dari Institut Musik Nusantara bernama Stevan dan Clara."

"Mereka selalu terlihat berjalan bersama dan sering berlatih sampai malam di studio tua sayap barat kampus."

Bopeng menganggukkan kepalanya perlahan sambil mencatat informasi itu di dalam otaknya.

"Apa yang kau ingin anak buahku lakukan pada mereka?" tanya Bopeng sambil menyalakan rokok murahan.

"Bunuh mereka? Uangnya masih kurang kalau untuk pekerjaan menghilangkan nyawa."

Dion langsung menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang sangat cepat dan panik.

"Jangan bertindak bodoh, aku tidak mau berurusan dengan kasus pembunuhan yang akan memancing anjing polisi!" desis Dion kesal.

"Aku hanya butuh mereka gagal hadir di acara audisi semifinal lusa nanti."

Bopeng menghembuskan asap rokoknya ke udara dan tertawa mengejek.

"Itu pekerjaan anak kecil, sangat mudah," ucap bos preman itu dengan sombong.

"Kau ingin aku mematahkan kaki mereka atau menghancurkan tangan mereka?"

Dion terdiam sejenak, membayangkan wajah Stevan yang selalu bersikap tenang dan meremehkannya.

Rasa bencinya pada pria bisu itu sudah tidak bisa dibendung lagi.

"Stevan adalah pemain gitarnya. Patahkan saja jemari tangan kirinya agar dia tidak bisa memetik senar lagi selamanya," ucap Dion sangat kejam.

"Lalu untuk gadis bernama Clara itu, culik dan sekap dia di sebuah gudang kosong sampai acara semifinal selesai."

Bopeng mengulurkan tangannya yang besar dan kasar melintasi meja.

"Kesepakatan kita terima," ucap Bopeng dengan suara berat.

"Saat acara idolamu dimulai besok lusa, kedua musuhmu itu pasti sedang menangis meratapi nasib di dalam got."

Dion tidak sudi membalas jabatan tangan kotor itu.

Ia hanya berdiri tegak dan segera berjalan meninggalkan bar biliar yang bau tersebut.

"Mati kau, The Zeros. Opini publik tidak mempan padamu, jadi mari kita lihat apakah tubuhmu kebal terhadap pukulan," batin Dion dengan kepuasan gila.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!