Indonesia
NovelToon NovelToon
Qin Yuchen : Seni Dewa Naga

Qin Yuchen : Seni Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Di Tanah Soul Martial, hukum rimba adalah segalanya — hanya kekuatan yang menentukan hidup dan mati. Para kultivator menembus langit, para raksasa mengguncang bumi, dan setiap jiwa bermimpi meraih matahari serta bintang.

Namun, takdir berputar.Qin Yuchen, Raja Dewa yang pernah menguasai Alam Atas, jatuh ke jurang kehancuran. Dari abu kehancuran itu, ia bangkit kembali dalam tubuh seorang pemuda biasa di perbatasan barat, membawa rahasia terlarang: Seni Dewa Naga Kekacauan

Dengan seni ilahi itu, ia menapaki jalan berdarah — menantang langit, menundukkan bumi, dan menyingkirkan segala jenius yang berani menghalangi. Perjalanan menuju takhta tertinggi pun dimulai, sebuah kisah tentang kebangkitan yang akan mengguncang seluruh jagat raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Tan Ruoxi, Sang Alkemis Muda

"Delapan pil kelas tinggi, dua pil kelas menengah." Qin Yuchen menatap sepuluh pil di tangannya dengan sedikit kerutan di dahi — jelas belum puas dengan hasilnya.

Padahal jika ada alkemis lain yang menyaksikan, mereka pasti akan ternganga. Untuk tungku pil sekelas ini, menghasilkan tiga pil dalam satu proses saja sudah dianggap bagus, enam pil dianggap luar biasa. Sepuluh pil sekaligus adalah standar tertinggi — nyaris sempurna. Apalagi delapan di antaranya berkualitas tinggi, dicapai dengan peralatan seadanya pula.

Mengingat sudah puluhan ribu tahun sejak terakhir kali ia meracik pil sekelas ini, dan dengan level kultivasinya yang masih rendah saat ini, pencapaian ini sebenarnya sudah luar biasa sulit. Alkemis terhebat sekalipun di Benua Jiwa Terpencil tak akan mampu menghasilkan sepuluh pil hanya dengan tungku perunggu dan kayu bakar biasa.

Waktu berlalu cepat hingga tengah malam. Qin Yuchen mengangkat sembilan Pil Qi dan Darah berwarna merah cerah yang baru selesai, wajahnya sumringah. Dalam setengah hari ia sudah menyelesaikan enam batch pil — total tiga puluh Pil Otot dan Tulang, dua puluh tujuh Pil Qi dan Darah. Kecuali lima yang berkelas menengah, sisanya semua berkualitas tinggi.

Dengan modal pil sebanyak ini, melesat ke Alam Pemurnian Tubuh Kesembilan bukan masalah besar. Bahkan masuk seratus besar Kompetisi Akhir Tahun dan mendapat kesempatan memadatkan Jiwa Wu setelah Tahun Baru pun terasa mudah dijangkau. Sebenarnya, tanpa perlu masuk Kolam Jiwa sekalipun, Qin Yuchen yakin seratus persen bisa memadatkan Jiwa Wu-nya sendiri.

Namun untuk sekarang, kultivasinya masih terlalu lemah. Ia perlu bernaung di bawah sekte yang kuat demi akses sumber daya — jauh lebih efisien ketimbang mencari semuanya sendirian.

Ia langsung memasukkan tiga Pil Otot dan Tulang ke mulutnya, lalu duduk bersila dan mulai menjalankan Seni Dewa Naga Kekacauan.

Khasiat obat menyebar cepat, arus hangat mengalir ke seluruh anggota tubuhnya, disusul sensasi kesemutan ringan di otot dan tulang.

Bagus, khasiatnya cukup baik.

Tapi tiba-tiba — *nging!* — Token Naga Ilahi di Ruang Indra Jiwanya bergetar. Sesaat kemudian, energi pil yang tadinya mengalir ke otot dan tulangnya justru berbelok, tersedot seperti seratus sungai yang bermuara ke laut, menuju Token Naga Ilahi. Hanya dalam hitungan napas, seluruh energi dari tiga pil itu habis terserap tanpa sisa.

Bukankah Token Naga Ilahi hanya bisa diisi ulang dengan Kristal Jiwa? Kenapa energi pil biasa juga bisa diserap?

Bahkan dengan pengetahuannya yang luas, Qin Yuchen sempat terkejut. Namun keterkejutan itu segera berubah jadi kegembiraan. Token Naga Ilahi adalah kartu truf terbesarnya di kehidupan ini. Selain teknik dan warisan Klan Naga Ilahi yang sudah ia dapatkan, ia bahkan belum menyentuh Pedang Naga Ilahi Primordial. Hanya dengan kepadatan Qi Spiritual di Ruang Naga Ilahi yang jauh melampaui dunia luar — membuat kecepatan kultivasi di sana sepuluh kali lebih cepat — saja sudah cukup untuk membuatnya mengejar pemulihan token itu mati-matian.

Dengan token dan ruang itu, ia yakin bisa mencapai kembali puncak kehidupan sebelumnya dalam sepuluh ribu tahun. Saat itu tiba, dengan Pedang Naga Ilahi Primordial di tangan, membasmi musuh-musuhnya akan jadi perkara mudah.

Selama ini ia mengira hanya Kristal Jiwa — batu roh eksklusif para Master Jiwa yang tak mungkin dimiliki murid luar — yang bisa mengisi ulang token itu. Ternyata pil obat biasa pun bisa. Penemuan yang mengejutkan sekaligus menggembirakan.

Tanpa ragu, ia melahap tiga pil lagi. Lalu tiga lagi, dan tiga lagi. Dalam sekejap, energi dari dua puluh satu Pil Otot dan Tulang habis terserap token itu.

Ketika hendak mengambil tiga lagi, ia berubah pikiran dan beralih ke Pil Qi dan Darah. Setelah lima belas butir dilahap, ia berhenti — token itu sudah kembali bercahaya penuh. Sisa pil lainnya ia simpan; besok pagi ia akan menukarnya dengan bahan untuk meracik lebih banyak lagi.

---

Keesokan paginya, Tan Jinyu, penjaga toko senior Paviliun Dan Emas, tersenyum lebar pada Qin Yuchen.

"Tuan Muda, bagaimana kalau begini — mulai sekarang, toko kami sediakan bahan untuk dua jenis pil ini secara gratis untuk Anda. Syaratnya cuma satu: semua Pil Otot dan Tulang serta Pil Qi dan Darah hasil racikan Anda hanya dijual ke toko kami. Harganya juga tidak akan mengecewakan — enam ratus tael perak per Pil Otot dan Tulang, delapan ratus tael untuk Pil Qi dan Darah. Bagaimana?"

"Terus terang, Paman Tan, setelah hari ini saya tidak akan meracik dua jenis pil ini lagi," jawab Qin Yuchen. "Tapi kalau memang ingin bisnis jangka panjang, saya bisa menjual dua resep pilnya sekalian."

Resep pil? Dijual?

Mata Tan Jinyu langsung berbinar.

Ji Tianyun, alkemis andalan Paviliun Dan Emas, menatap kedua lembar resep di tangannya sambil menggaruk janggut, wajahnya penuh keraguan bercampur kagum. Kedua resep ini sedikit berbeda dari formula Pil Otot dan Tulang serta Pil Qi dan Darah yang selama ini ia kenal — tapi hasil jadinya, yang ada tepat di depan matanya, jauh lebih berkualitas dibanding hasil racikannya sendiri, meski ia sudah mendalami alkimia hampir lima puluh tahun.

Tan Jinyu hendak bicara, tapi sebuah suara lembut menyela.

"Paman Ketiga, buka sepagi ini?"

Seorang gadis muda berbaju biru danau melangkah masuk.

"Ruoxi! Cepat kemari!" Mata Tan Jinyu berbinar senang.

Tan Ruoxi bukan sembarang murid — ia murid paling berprestasi generasi muda Keluarga Lin, sekaligus Alkemis Tingkat Dua termuda di Sekte Pedang Bintang. Gurunya adalah Duan He, Pemimpin Puncak Dan, salah satu dari sembilan puncak besar sekte. Ia adalah sosok penting.

Matanya yang indah tertuju pada dua lembar resep itu, dan semakin lama ia membacanya, semakin berbinar tatapannya.

---

Setengah jam kemudian, di ruang alkimia terbaik milik Paviliun Dan Emas, kekaguman di mata Tan Ruoxi dan Ji Tianyun semakin membesar.

Di mata Tan Ruoxi, pemuda yang sedang meracik pil dengan tenang di depannya terlihat begitu berwibawa. Ia teringat masa lalu, saat pertama kali menyaksikan gurunya meracik pil. Gerakan pemuda itu sederhana, luwes, tampak santai di permukaan — tapi begitu familiar seolah sudah dilakukan ribuan kali, seakan bisa dilakukan sambil menutup mata tanpa kesalahan.

Padahal usianya baru sekitar empat belas atau lima belas tahun, tapi kesannya seperti seorang tetua yang sudah hidup entah berapa lama.

Qin Yuchen melangkah mengikuti Jurus Sembilan Langkah Istana, tangannya dengan cepat melayangkan sembilan tepukan berturut-turut.

*Wusss!*

Tutup tungku terbuka lebar, sepuluh pil beraroma harum berhamburan keluar — tiga di antaranya bahkan memancarkan cahaya ungu berbentuk lingkaran, tanda pil kelas tertinggi. Tujuh sisanya kelas tinggi.

Tan Ruoxi dan Ji Tianyun menatap Qin Yuchen dengan mata terbelalak, penuh keterkejutan.

Jenius alkimia. Bukan hanya di Perbatasan Barat — ini jenius yang belum pernah ada sepanjang sejarah Benua Jiwa Terpencil. Sepuluh pil dalam satu tungku, kualitas terendah saja kelas tinggi, tiga di antaranya kelas tertinggi. Bahkan para grandmaster alkimia sekalipun tak pernah mencapai level ini.

"G-guru... apakah Guru masih menerima murid?" Ji Tianyun berkata terbata-bata.

"Bakatmu terlalu lemah. Paling-paling kau hanya akan mencapai Alkemis Tingkat Tiga dalam hidup ini," jawab Qin Yuchen datar.

(Ia hampir saja melanjutkan, "Nona Lin bahkan hampir tidak memenuhi syarat jadi muridku" — untung ia menahan diri tepat waktu.)

"Alkemis Tingkat Tiga...? Anda bilang saya bisa mencapai Tingkat Tiga?!" Seluruh tubuh Ji Tianyun bergetar. Sesaat kemudian, pria berusia enam puluhan itu langsung berlutut, bersujud berulang kali. "Mohon bimbing saya, Guru!"

Alkemis Tingkat Tiga berarti minimal harus mencapai level Guru Jiwa Agung. Padahal sejak muda, Jiwa Wu Ji Tianyun rusak parah, membuat kultivasinya mandek di Tahap Ketiga Prajurit Jiwa tanpa kemajuan berarti selama puluhan tahun. Selama ini ia hanya sanggup meracik pil kelas satu tahap dua — jauh dari pil kelas tiga. Padahal jarak antara Prajurit Jiwa, Guru Jiwa, hingga Guru Jiwa Agung adalah dua tingkatan besar yang terpisah, dengan selisih usia harapan hidup hampir dua ratus tahun.

Mendengar Qin Yuchen menyebut soal mencapai kultivasi Guru Jiwa Agung dan meracik pil kelas tiga, bagi Ji Tianyun ini bagaikan orang sekarat yang tiba-tiba diberi pil penyelamat nyawa. Andai saja Qin Yuchen tidak menolak mengambil murid, ia pasti sudah bersumpah setia sepenuh hati kepadanya.

1
Ardi ansyah
saling support ka The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny. bantu saling berkembang
Pecinta Gratisan
bunuhlah
nanonano
mantap
Friska trisna
Semangat thor💪
Ardi ansyah: saling support kak The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!