Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Baruh.

“Ada apa pak?” Aku bertanya sedikit takut. Ngerinya, orang itu akan menculik Ila.

Pria paruh baya tersebut menoleh ke arahku. “kau bukan saudara laki-laki nya”

Aku tersentak. Memang benar, tapi bapak ini harus tahu jika kami baru saja melarikan diri dari kejaran orang jahat.

“emangnya kenapa pak?” Ila yang membalas.

Aku terkesima. Hadeh! Jangan asal jawab Ila.

“pakai nanya. Dasar anak muda zaman sekarang…” pria paruh baya di depanku mendelik.

Aku terdiam. Aku tahu maksud bapak ini sedang curiga. “Maaf pak. Kami tidak yang seperti anda pikirkan”

Bapak itu terdiam sejenak. Senyap, menyisakan suasana desa yang hening di malam hari dan suara serangga.

Terdengar hembusan. Aku dan Ila terdiam. Situasi memang tidak selalu berjalan dengan semestinya. Pikiran orang di sini pasti ‘hih apaan ini. Kok ada pasangan ke luar dari hutan’. Jelas-jelas maksud lirikan mereka seperti itu

“kalian sudah mencemari pikiran orang-orang di sini. Kalian tidak bisa menghapusnya” orang tua itu berkata. “tapi aku tahu, orang seperti kalian tidak mungkin berbuat k ji seperti itu”

Wajahku yang dari tadi terasa suram, mulai merekah. Baguslah kalau bapak ini percaya. “Kami benar-benar tidak melakukan sesuatu pak” ujarku memastikan.

“Iya pak. Izinkan saya pulang” Ila juga ikut menyahut.

Pria di depanku menggeram. “jangan pulang sekarang. Berbahaya. Mending bermalam dulu di rumah bapak”

Ai! Semudah itu menawarkan. Bukankah kami sudah mengganggu kenyamanan sekitar ya?.

Aku menoleh ke arah Ila.

“terserah kamu aja..” Ujarnya.

Menimbang keadaan yang berlalu. Mungkin bapak ini bisa sedikit membantu untuk melaporkan atau menunjukkan jalan pulang nanti nya. Walau bantuan sekecil apapun, pasti sangat berguna.

Aku balik lagi menghadap Bapak di depanku. “jika memang bahaya. Kami minta ke longgaran hati bapak”

Pria tersebut berbalik badan, dia langsung beranjak. “Nama bapak, pak Baruh” Ujar beliau. “lewat sini.

Aku mengangguk. Balik memperkenalkan diri, lalu mengikuti pelan dari belakang.

Tidak jauh dari sana. Hanya butuh beberapa detik pak baruh mulai memasuki sebuah rumah. Rumah biasa dengan tembok semen seperti yang lainnya.

Pak Baruh menoleh ke arah kami diambang pintu. “ucapkan salam”

Aku turun dari motor, juga Ila. Dia menyembunyikan senjata api di balik sebuah pot besar.

“ouh iya.. Pantas saja orang orang ngeliatin kita” aku berkata.

Ila menyeringai. “eheheh, gak sadar kalo dari tadi kupegang terus”

Aku ikut terbahak.

“Assalamualaikum” aku yang masuk duluan. Ila di belakangku.

Seketika ada yang membalas salam dari dalam. Tapi seorang wanita. Tanpa di tunggu, wanita paruh baya mengenakan jilbab ke luar ruangan dan menyambut ramah. “ehh anak kota ya. Mari masuk, sudah lama rumah ini tidak di kunjungi remaja seperti kalian”

“iya buk” Aku dan Ila serentak menganggut sopan. Suasana canggungpun mulai membuai.

Kami segera bersalaman dan berkenalan. Nama Si Ibuk itu adalah Bu Evi.

“sebentar ya. Ibu sedang menyiapkan sesuatu. Kalian duduk saja” Bu Evi tersenyum dan buru-buru kembali masuk ke ruangan lain.

Aku dan Ila langsung duduk di kursi-kursi bambu yang terdapat di dalam ruangan. Nyaman seperti rumah desa biasanya. Di tengah ruangan di isi meja pendek, dan di ke lilingi kursi bambu yang kokoh.

“kau duduk disana saja” aku mendelik. Bisa-bisanya Ila dengan enteng duduk di sampingku.

“Ishh.. Yadah.. Refleks ko” yang di tuding bersemu.

“Kayak gitu kok di biasain” balasku.

Ila berdecak lidah. “mana ada.. Dah capek aku. Jadinya gini. Lagi pula bangkumu yang paling dekat tadi” Ila mulai terlihat sebal.

“Capekan siapa sama yang nyetir, hayo?” Aku masih bisa membalas. Keningku mengernyit.

“ish yaudahlah…” Ila bersemu.

Wanita yang menyambut sebelumnya kembali ke ruangan. Dibawanya beberapa gelas minuman hangat diatas nampan kecil. Asap terlihat mengepul diatasnya.

“diminum dulu nak” Ibu itu tersenyum.

“repot-repot sekali buk, padahal kami orang asing” ujar Ila merasa canggung. Tersenyum pasi.

Aku hanya diam, juga canggung.

Bu Evi itu semakin melebarkan senyumnya. “tidak masalah. Siapapun bisa jadi tamu di sini”

Wanita itu kembali pergi dari ruangan kami. Benar-benar ramah. Rasa canggung ku saja sudah melebihi takut ketika di kejar perampok sebelumnya.

Senyap. Beberapa detik kemudian Pak Baruh yang masuk ke ruangan. Sungkan semakin bertambah. Beliau membawakan dua mangkok besar. Aromanya lezat, mengepul dan terurai di udara.

“Makan dulu. Nanti istirahat” ujar bapaknya. Sekarang nadanya lebih senang di dengar.

Aku tersentak. Bagaimana ini? Apakah tidak masalah membiarkan bis semalaman di sana. Bagaimana dengan barang-barang kami.

“ehh pak, maaf buat repot” Ila berkata lagi. Entah dia berakting atau benar-benar sungkan.

Pak Baruh duduk di sisi bangku yang lain. Di susul istrinya yang duduk berhadapan dengan beliau. Posisi empat bangku saling berhadapan.

Aku memperhatikan lamat-lamat mangkok berisi mie di meja yang mengepul. “bapak, gak ikut makan?” Tanyaku.

“tidak, kami sudah makan malam setelah isya’ tadi” balas Pak Baruh.

Aku mulai menyendok satu suapan. Ila juga memulai bersamaan, dia melirikku sejenak. Apa sih yang di pikirkan anak itu.

“kata bapak, kalian ke luar dari hutan tiba-tiba. Kapan kalian memasuki hutan. Pak Baruh dari tadi duduk di luar tapi tidak melihat kalian” istri Pak Baruh membuka percakapan.

Aku terdiam. Bingung ingin menjawab apa. Apakah aku harus memberi tahu kami sedang melarikan diri dari perampok?

“kami dari seberang hutan buk” Ila yang menjawab.

Bu Evi sedikit terkejut. Ingin menutup wajahnya. “itu jauh sekali.” Ujar beliau.

Ila menelan makanan dalam mulutnya. “Kami menempuhnya kurang lebih satu jam buk, Aro, orang ini ini pandai mengendarai motor” Ila melirik ke arahku

Aku tersentak, kenapa pakai bawa namaku segala.

Bu Evi tersenyum ke arahku“ouh jadi namamu Aro”

Aku mengangguk sambil menyeringai. Canggung bertambah.

“Kalau kamu?” Bu Evi ganti melirik ke arah Ila.

Ila menyebut namanya.

“Bagaimana kalian bisa sampai masuk ke dalam hutan?” Pak Baruh akhirnya membuka mulut. Melihat ke arahku.

Aku terdiam, masih mengunyah makanan. Realatinya memang sangat berat untuk di jelaskan. Suasananya bisa rusak nanti. Tapi jauh lebih tidak masuk akal lagi jika kami mencari alasan lain. Masa gara-gara nyasar.

“kami sebenarnya penumpang bis pak” Aku coba jawab perlahan.

“Lah tadi kalian bawa motor?” Pak Baruh terheran.

Aku berhembus. “mobil bis dihadang perampok bersenjata Saat di tengah jalan, kami berhasil melarikan diri ke hutan. Dan mendapat motor”

Pak Baruh malah terbahak. “mana ada motor di tengah hutan”

“kami sempat di kejar sampai hutan. Tapi Aro berhasil menumbangkan salah satu anggota perampok lalu balik menyerobot motor dan senjatanya” Ila menanggapi terlebih dahulu. Entah kenapa dia jadi bersemangat. Bukanya canggung.

Jauh dari kata Ila yang terdengar menyenangkan. Tapi Bu Evi justru kembali terkejut. “kalian bisa melakukan nya. Tapi itu sangat berbahaya”

Aku hanya bisa diam, sambil mengunyah mie. Seingatku yang kurasakan saat itu hanya memperioritaskan Ila supaya tidak di sakiti.

“dirampok? Kenapa kalian terlihat tenang?” Lanjut Pak Baruh.

“iya.. Wajah kalian tidak ada panik-paniknya” Bu Evi menyahut.

“paniknya saat di kejar-kejar buk. Sekarang tidak” Ila menjawab polos. Melanjutkan makannya.

Pak Baruh terbahak. Jawaban Ila memang seadanya, namun tetap terdengar lucu. “yasudah.. Anak remaja zaman sekarang memang mengadi-ngadi imajinasi nya” Ujar orang itu. “habiskan makanannya. Setelah itu tidur”

Pak Baruh mulai bangkit dari tempat duduk. “bapak ada di depan rumah. Jika membutuhkan sesuatu tinggal bilang saja”

Aku mengangguk. Kini tinggal Bu Evi, matanya tak berkedip melihat Ila makan dengan lahap di hadapanku.

“Kalian, mengingatkanku pada anak-anak” Bu Evi berkata. Melepas lengang.

“Eh iya. Semuanya tidur sekarang?” Tanyaku.

Bu Evi menggeleng. “tidak mereka semua sudah di Jakarta. Katanya mau menjadi anggota organisasi pengabdi negara”

Lengang lagi. Senyap menyisakan suara sendok.

“kakak laki-laki, Dan adiknya seorang perempuan. Sekarang mereka suda sah menjadi anggota. Itu cita-cita mereka. Entah apa yang melatarbelakangi ke inginannya itu. Tapi yang penting cita-citanya sudah tercapai walau usia masih muda” Bu Evi melanjutkan. Seorang ibu mana sih yang tidak suka cerita tentang keluarganya. Terlebih pada remaja seperti ku. Beliau bisa saja membuat dongeng dengan aktor seluruh keluarganya.

“emangnya Umur berapa buk?” Aku tanya lagi.

“Dua puluh dan delapan belas” jawab Bu Evi singkat. “Mereka sangat berkesan. Suka bercanda, kadang menyebalkan. Tapi jika di pandang tetap sangat berkesan”

Ibu ini sangat rindu dengan anaknya. “emang bisa kembali ke rumah kapan buk?”

Bu Evi berhembus. “Mereka aslinya bisa pulang kapanpun jika tidak ada misi. Tapi karena jauh di Jakarta. Mau tidak mau tetap stay di sana, menyuruh pulang pasti sangat membuat mereka ke repotan”

Aku mengangguk. Miris juga, aku masih harus bersyukur karena mendapat liburan dan bertemu orang tua.

Aku telah menghabiskan makananku. Ila sudah daritadi. Dia lahap sekali.

Ah aku teringat sesuatu. “buk, ini tuh di mana ya? Kami benar-benar tersesat tadi”

“Sekarang Ini ada di Bandung. Dan hutan yang kalian lewati adalah hutan jayagiri. Kalian tau kan? Sebuah destinasi hutan yang ditutup, beberapa tahun lalu” Bu Evi menjelaskan.

“Bandung?” Ila bertanya penasaran.

“Iya, Bandung. Adapun hutan yang kalian lalui tadi itu hutan Jayagiri”

Ila tiba-tiba tersentak mendengarnya. Emang ada apa di hutan tersebut.

Aku menatap wajahnya. Penasaran.

“Kau tidak tau kejadian jayagiri pada enam tahun yang lalu?” Ila bertanya padaku.

Aku menggeleng.

“Jayagiri dulunya adalah tempat destinasi wisata di Bandung. Namun karena ada sebuah kejadian, hutan itu di tutup untuk selamanya. Apakah kalian tidak melihat ayunan panjang atau tempat duduk saat berjalan di sana?” Bu Evi yang menjelaskan lagi.

Aku kembali menggeleng. Aku kan fokus denga jalan ke depan.

Ila mulai terlihat berfikir.

“yasudah tidak usah kalian pikirkan. Sekarang istirahlah kalian. Besok boleh pulang” Ujar Bu Evi dengan senyum ramahnya. “Lewat sini”

Bu Evi beranjak dan mengajak kami ke sebuah kamar. Aku langsung konek kamar siapa ini. Ini adalah kamar anaknya. Aku bisa melihatnya dari sebuah Poto yang di pajang pada permukaan dinding.

Sebuah Foto keluarga dan dua anak.

“ini kamar Dian” Bu Evi mendekati ranjang. Mulai membenahi sisi sprei yang agak berantakan. “Ila tidur di sini”

“aduh.. Repot sekali Bu. Padahal aku bisa tidur di ruang tamu” Ila merasa sungkan.

“shutt.. Tamu adalah raja. Lagi pula cewek kalau tidur harus rapi” Bu Evi menyangkal. Kembali melebarkan senyum.

Sekarang beliau berbalik, menatap ke arahku. “kenapa kau di sini? Kalian tidak boleh sekamar”

Aku tersentak. Tersipu malu, pipiku memanas. Hey, ini bukan seperti yang ibu pikirkan. Kukira aku juga akan diantar ke kamar selanjutnya.

Bu Evi terbahak melihat wajahku. Ila juga terlihat cengengesan. “belum halal bang. Dosa”

Astaga. Benar juga kenapa aku masih di sini. Aku semakin malu.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!