Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 35
Pukul 20.45 WIB. Grand Ballroom hotel bintang lima itu diselimuti kemewahan yang menyilaukan mata. Lampu-lampu kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan ke atas lantai marmer yang dipenuhi ratusan tamu undangan VIP. Jajaran pengusaha papan atas, pejabat publik, hingga puluhan wartawan dari berbagai media nasional telah berkumpul, menanti momen puncak yang digadang-gadang sebagai pernikahan megah antar-konglomerat tahun ini.
Di sudut depan panggung utama, Aurelia berdiri anggun dalam balutan gaun malam bernilai ratusan juta dari perancang busana Paris. Senyum kesombongan mekar sempurna di wajahnya yang dipoles riasan mahal. Di sampingnya, sang ayah, Broto terkekeh riang seraya bertukar cangkir sampanye dengan para investor.
"Papa lihat sendiri, kan?" bisik Aurelia manja pada ayahnya, merapikan sarung tangan sutra putihnya. "Semua wartawan sudah siap. Setelah malam ini, tidak akan ada satu orang pun yang berani merendahkan aku. Arsen akan sepenuhnya jadi milikku."
Broto tersenyum bangga, menepuk bahu putrinya pelan. "Tentu saja, sayang. Bisma sudah memastikan semuanya berjalan mulus. Tapi... bicara soal Bisma, kenapa sampai jam segini dia dan Arsen belum kelihatan di backstage?"
Aurelia mengibaskan tangannya santai. "Paling-paling Arsen sedang menyiapkan kejutan romantis untukku, Pa. Dia kan paling suka membuat kejutan yang bikin gempar."
Tepat pukul 21.00 WIB, lampu utama ballroom mendadak redup. Cahaya spotlight putih yang tajam langsung terarah menembus tengah ruangan, menyorot ke arah pintu ganda mahoni yang terkuak lebar.
Suasana ruangan seketika hening. Ratusan pasang mata dan kilatan kamera fokus ke satu titik.
Namun, alih-alih melihat pasangan Bisma Pratama dan Arsen berjalan beriringan dengan jas mewahnya, yang melangkah masuk adalah Arsen Pratama tanpa setelan jas kaku CEO. Pria itu memakai kemeja hitam yang lengannya tergulung santai hingga siku, dengan wajah yang dihiasi bekas memar tipis di rahangnya. Dan yang paling mengejutkan seluruh ruangan, Arsen berjalan seraya menggenggam erat jemari seorang wanita yang mengenakan gaun putih sederhana namun tampak begitu anggun.
Tsania.
Bisik-bisik riuh langsung memecah keheningan ballroom. Kilatan lampu kamera pers meletus tanpa henti, memburu pemandangan tak terduga itu.
"Siapa wanita di sebelah Pak Arsen itu?!"
"Bukan Aurelia?! Bukankah ini acara pertunangan dengan keluarga Broto?!"
"Lihat bekas luka di wajah Pak Arsen!"
Wajah Aurelia yang semula dipenuhi senyum manis seketika pucat pasi. Gaun mewahnya terasa mencekik lehernya saat ia melihat wanita yang paling ia benci berjalan dengan kepala tegak, menggenggam tangan calon suaminya di atas karpet merah.
"Arsen...?! Apa-apaan ini?!" jerit Aurelia histeris, melangkah maju mendekati tepi panggung dengan mata membelalak murka.
"Kenapa kamu membawanya ke acara pertunangan kita?! Buakannya kamu sudah mengasingkannya ke pinggiran kota?"
Broto ikut melangkah maju dengan wajah memerah padam oleh amarah.
"Arsen! Apa maksud dari semua sandiwara gila ini?! Di mana Bisma?! Kenapa kamu mempermalukan keluarga kami di depan ratusan media?!"
Arsen tidak menjawab hardikan itu. Dengan tenang dan protektif, ia menuntun Tsania naik ke atas panggung utama. Arsen membiarkan Tsania berdiri di sampingnya, lalu meraih mikrofon podium. Aura kepemimpinan yang dingin dan tak tergoyahkan terpancar kuat dari matanya.
"Selamat malam kepada seluruh tamu undangan dan rekan-rekan media yang hadir," suara berat Arsen menggelegar melalui pengeras suara, membungkam keriuhan ruangan seketika.
"Arsen! Turun kamu! Jangan gila!" teriak Broto seraya mencoba merebut mikrofon, namun Danu bersama dua petugas keamanan berpakaian preman langsung menahan tubuh Broto di tepi panggung.
Aurelia menunjuk Tsania dengan jari gemetar, air mata amarahnya mulai merusak riasan mewahnya. "Arsen! Kamu janji malam ini adalah malam terakhirku menikmati fasilitas Pratama! Kamu janji kita akan mengumumkan pernikahan kita bulan depan! Kenapa kamu malah membawa wanita miskin ini ke sini?!"
Arsen menoleh perlahan pada Aurelia, menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, senyuman beracun yang tempo hari ia janjikan.
"Kamu benar, Aurelia," tutur Arsen datar namun suaranya menggema tegas melalui mikrofon.
"Aku memang berjanji malam ini akan jadi malam terakhir kamu menikmati fasilitas Pratama Group. Dan aku tidak pernah berjanji bahwa acara malam ini adalah untuk mempertunangkan aku bersamamu."
"Apa?!" jerit Aurelia histeris.
Arsen beralih menatap ratusan kamera wartawan yang menyorotnya dari bawah panggung.
"Acara malam ini diselenggarakan bukan untuk merayakan aliansi bisnis, melainkan untuk mengumumkan pembongkaran skandal kejahatan terbesar yang melibatkan Pratama Group dan keluarga Broto," ujar Arsen penuh kepastian.
Ruangan ballroom mendadak gempar luar biasa. Wartawan berebutan maju ke depan panggung.
"Pak Arsen! Apa maksud dari kejahatan tersebut?!" seru seorang jurnalis.
"Di mana keberadaan Pak Bisma Pratama saat ini?!"
Arsen merogoh saku kemejanya, lalu mengangkat sebuah flashdisk kecil ke udara. Pada saat yang sama, layar proyektor raksasa di belakang panggung yang semula menampilkan foto Aurelia mendadak berubah warna.
"Ayahku, Bisma Pratama... telah resmi ditangkap oleh tim kepolisian dan kejaksaan agung dua jam yang lalu di kediaman pribadinya," tegas Arsen tanpa sedikit pun ragu di matanya.
BZZZT!
Layar raksasa di belakang panggung mendadak menyalakan rekaman video dan dokumen otentik. Suara rekaman pengakuan Bisma Pratama pagi tadi saat ia menodongkan pistol ke kepala Tsania dan mengaku memukuli almarhum ayah Tsania tiga tahun lalu, bergema keras memenuhi seluruh sudut ballroom. Tidak hanya itu, puluhan lembar bukti transfer dana pencucian uang antara Bisma dan Broto terpampang jelas di layar.
Aurelia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat hingga kakinya lemas dan terjatuh berlutut di atas panggung. "Tidak... tidak mungkin... Papa...!"
"Tiga tahun lalu, keluarga saya dan keluarga Broto menghancurkan hidup seorang wanita tak berdosa," lanjut Arsen seraya menatap wajah Tsania yang basah oleh air mata haru.
"Mereka menganiaya almarhum ayahnya, meneror keluarganya, dan memfitnah nama baiknya demi menutupi kejahatan bisnis mereka. Malam ini, di depan seluruh publik Indonesia, saya Arsen Pratama membersihkan seluruh nama baik almarhum Bapak Rahardjo dan putrinya, Tsania."
Di bawah panggung, Raihan bersama lima personel kepolisian bersenjata lengkap melangkah maju, memborgol kedua tangan Broto di hadapan ratusan kamera pers.
"Broto, Anda ditahan atas dugaan tindak pidana pencucian uang dan keterlibatan dalam kasus penganiayaan berat," tegas komandan polisi.
"Arsen! Kamu anak durhaka! Kamu menghancurkan kami semua!" jerit Broto histeris saat diseret keluar dari ballroom bersama para pengawalnya.
Aurelia merangkak di atas panggung, mencoba menggapai celana Arsen seraya menangis histeris, hilang sudah seluruh keanggunan dan keangkuhannya.
"Arsen... tolong aku, Arsen! Aku tidak tahu apa-apa soal ini! Aku mencintaimu, Arsen! Jangan lakukan ini padaku!"
Arsen menarik kakinya perlahan, menatap Aurelia dari ketinggian tanpa ada sedikit pun rasa kasihan di matanya.
"Nikmatilah hasil dari kebohongan keluargamu, Aurelia. Lagi pula mana mau aku menikah dengan wanita speertimu, wanita tang bahkan tak bisa menjaga dirinya sendir!"
"Apa maksud kamu, Arsen?"
"Apa kamu yakin akan mempermalukan diri kamu sendiri di sini, Aurelia?" tanya Arsen dingin.
👍👍👍👍
selamat mendekam d penjara pak Bisma