Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Hanya Hukuman Ringan

Sion memejamkan mata. Satu per satu kenyataan menghantamnya. Raina yang berdiri di dapur. Raina yang membawa nampan. Raina yang membersihkan meja. Raina yang selalu mengatakan sudah makan. Raina yang sering terlihat lelah. Dan dirinya? Tidak pernah bertanya. Tidak pernah benar-benar melihat penderitaan wanita itu.

Ia hanya pulang, makan malam, berbicara seperlunya, lalu kembali bekerja. Ia bahkan pernah mengira Raina terlalu dingin karena perempuan itu sering diam. Padahal mungkin... Raina sudah terlalu lelah untuk berbicara.

"Berapa lama hal ini berlangsung?" tanya Sion.

Kepala pelayan menjawab pelan. "Hampir sejak awal pernikahan."

Sion menatap kosong ke depan. Hampir sejak awal wanita itu tinggal di Mansion mewahnya. Berarti selama bertahun-tahun ia membiarkan istrinya hidup sebagai pelayan di rumahnya sendiri.

"Apakah Raina pernah mengeluh?"

Seorang pelayan tua menjawab, "Pernah."

Sion langsung menoleh. "Kepada siapa?"

"Kepada kami."

"Apa katanya?"

Pelayan itu menunduk. "Dia hanya berkata... jangan beri tahu Tuan Sion."

Sion membeku. "Kenapa?"

"Katanya Tuan pasti sedang sibuk dan Nyonya tidak ingin membuat masalah semakin membesar."

Dada Sion terasa sesak. Kalimat sederhana itu justru terasa seperti hukuman paling berat. Karena selama ini ia memang sibuk, tetapi bukan berarti ia tidak punya waktu untuk istrinya. Ia hanya tidak pernah meluangkan waktu. Itu hanya alasan untuk menghindari wanita itu.

"Dia pernah menangis?" Pertanyaan itu keluar lebih lirih.

Pelayan tua tersebut mengangguk.

"Sering, Tuan."

Sion menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah itu tidak bisa lagi ia singkirkan. Ia selalu menyalahkan keadaan, menyalahkan kesibukannya dan menyalahkan Raina yang tidak pernah bicara padanya. Padahal sebenarnya... yang paling mudah dilakukan adalah bertanya. Namun, ia tidak pernah melakukannya.

Kakek Edwin menatap cucunya. "Sion."

Sion tidak menjawab. "Apa yang akan kau lakukan?"

Sion perlahan mengangkat wajah, tatapannya telah berubah menjadi dingin. "Memperbaiki kesalahan, meski sudah sangat terlambat."

Tepat saat itu, Damian Sylvain salah satu anak buah kepercayaannya yang menggantikan posisi Falleo sementara waktu datang di saat yang tepat. Sion pun langsung memberinya perintah, "Damian, segera hubungi bagian legal."

Damian segera mendekat. "Baik, Tuan. Namun untuk apa?"

"Mulai hari ini, seluruh aset yang berada atas nama Calista, Leon, dan Lea yang berasal dari pemberianku akan ditarik kembali dan alihkan menjadi atas nama Raina, Sean dan Shia."

Damian hanya bisa terdiam. Namun, Sion masih tetap melanjutkan tanpa ragu."Rumah, mobil, rekening investasi, saham yang kuberikan. Semuanya ambil alih."

"Bagaimana dengan kartunya?"

"Blokir." Suaranya tegas. "Semua kartu, baik debit ataupun kredit blokir dan bekukan semuanya."

Kakek Edwin menatapnya. "Sion."

"Aku tahu, Kek." Sion menatap kakeknya penuh keteguhan. "Aku tahu ini tidak akan menghapus apa yang terjadi pada Raina."

Ia berhenti. "Ini hanya hukuman ringan yang bahkan tidak sebanding dengan semua penderitaannya selama ini."

Tangannya mengepal. "Tapi setidaknya mereka harus belajar bahwa memperlakukan seseorang seperti tidak punya harga diri. Bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan tanpa konsekuensi."

Kepala pelayan masih menunduk, begitu juga pelayan dan pengawal lainnya. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Tuan mereka akan semurka ini setelah mengetahui kebenarannya. Sion kemudian menatap seluruh orang di ruangan.

"Dan satu hal lagi."

Semua orang memperhatikannya. "Mulai sekarang, Raina dan kedua anak kami adalah pemilik rumah ini sama seperti sebelumnya."

Ia menekankan setiap katanya. "Jika dia meminta bantuan, bantu. Jika dia ingin melakukan sesuatu sendiri, biarkan."

Sion berhenti sejenak. "Dan jika masih ada yang berani menganggap bahkan memperlakukannya sebagai pelayan, maka aku tidak akan menghukumnya dengan berat."

"Baik, Tuan. Kami mengerti."

Sion kembali duduk, tetapi tidak ada rasa lega sedikit pun. Karena semakin banyak yang ia dengar, semakin ia menyadari bahwa hukuman untuk Calista, Leon, dan Lea bukanlah hal terberat yang harus ia tanggung. Hukuman sebenarnya adalah kenyataan bahwa selama tiga tahun... ia adalah suami Raina. Namun, ia gagal menjadi tempat Raina berlindung.

Dan sekarang, setelah semuanya terlambat, ia hanya bisa berdiri di antara reruntuhan pernikahan mereka dan bertanya-tanya… berapa banyak luka yang sebenarnya disembunyikan wanita itu di balik diamnya?

Semua kebenaran itu kini sangat mengusik hati dan pikiran Sion. Ia bahkan sampai tidak sadar bahwa Damian, para pelayan dan pengawal masih berdiri di sana menunggu perintah selanjutnya. Sebab mereka tidak berani beranjak sebelum Sion memerintahkannya.

“Kenapa kau masih di sini, Damian?” tanya Sion saat menyadari anak buahnya itu masih berdiri tak jauh disisinya. “Cepat lakukan tugasmu!”

“Ba-baik, Tuan!” Damian pun bergegas pergi dari sana.

Ruang utama masih dipenuhi keheningan ketika terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Sion yang masih duduk di dekat meja langsung menoleh. Raina muncul lebih dulu. Wanita itu mengenakan blus putih sederhana dengan celana panjang berwarna krem. Rambutnya ditata rapi, wajahnya tampak segar, dan di tangannya tergenggam sebuah tas kecil.

Di belakangnya berjalan sepasang anak kembar, Sean dan Shia. Keduanya mengenakan pakaian yang sangat rapi. Sean memakai kemeja biru muda dengan celana panjang hitam, sementara Shia mengenakan gaun sederhana berwarna putih dengan rambut dikuncir dua. Mereka terlihat seperti hendak menghadiri sebuah acara penting.

Sion otomatis mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada mereka. "Kalian mau ke mana?"

Raina berhenti di anak tangga terakhir. "Keluar."

Jawaban singkat itu membuat alis Sion terangkat. "Ke mana?"

"Aku akan mendaftarkan Sean dan Shia ke sekolah."

Sion terdiam. "Daftar sekolah?"

"Ya." Raina berjalan mendekati kedua anaknya dan merapikan kerah kemeja Sean. "Aku sudah mencari beberapa pilihan. Ada satu sekolah yang menurutku paling bagus untuk mereka."

Sean langsung mengangguk antusias. "Papah, sekolahnya punya lapangan sepak bola besar."

Sion menatap putranya. "Kau sudah tahu darimana?"

Sean mengangguk. "Mamah sudah menunjukkan fotonya tadi."

Shia ikut menyela. "Katanya ada kelas musik juga."

Sion kemudian menatap Raina. "Kapan kau merencanakannya?"

"Tentu saja sejak aku memutuskan untuk kembali ke sini."

"Kenapa tidak memberitahuku?"

Raina mengangkat bahu. "Aku tidak perlu meminta izin untuk mendaftarkan anak-anakku."

Sion terdiam, sebab kalimat itu benar. Secara biologis Sion memang bisa dikatakan sebagai ayahnya. Akan tetapi, kenyataannya ia belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kedua anak itu. Ia tidak ada disaat Raina sedang hamil dan melahirkan mereka. Ia tidak ada disaat Raina sedang berjuang merawat dan membesarkan mereka hingga sekarang.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau mengumpulkan para pengawal dan pelayan di sini?” tanya Raina saat menyadari mereka semua sedang menatap ke arahnya.

“Bukan apa-apa… hanya menjelaskan sedikit peraturan baru kepada mereka,” jawab Sion yang jelas tidak akan memberitahu bahwa ia baru saja menginterogasi mereka mengenai apa saja yang Raina lalui selama menjadi istrinya dulu.

Bersambung….

1
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
Budhe Satryo
semoga nanti g bisa bngun adik kecilmu kalu Ndak dngn rayna 😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!