Indonesia
NovelToon NovelToon
Pernikahan Bisnis

Pernikahan Bisnis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

Malam itu, gedung pencakar langit Soerjoatmodjo Tower berdiri bagai raksasa kesepian di tengah gemerlap lampu ibu kota. Di lantai tertinggi, di dalam ruang kerja Presdir yang teramat luas, keheningan mencekam menyelimuti udara.

Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo berdiri terpaku di depan kaca jendela raksasa. Jas buatan tangannya sudah terlepas sejak tadi, kemeja putihnya tergulung acak, dan dasi sutra miring buatan jemari Lilianne—yang sepanjang hari ia pakai dengan rasa bangga—kini terkulai di atas meja marmer. Di tangannya, segelas whisky bertengger dingin, namun tak sedikit pun tersentuh.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan malam itu kembali menghantam kesadarannya: gumpalan air mata jernih yang menetes di pipi mulus Lilianne, tubuh indah yang gemetar ketakutan di balik kungkungannya, serta bisikan lirih memohon agar ia melepaskannya.

Rasa bersalah dan penyesalan mendalam membakar dadanya bagai sembilu. Seumur hidupnya, Arya Sena adalah pria yang selalu memegang kendali penuh atas kekuasaan, bisnis, dan emosinya. Namun malam ini, karena rasa cemburu buta yang liar, ia telah melintasi batas kehormatan seorang pria terhadap istrinya sendiri.

Pintu ruang kerja berketuk pelan. Aldi, sekretaris utamanya, melangkah masuk bersama dua pria berjas rapi yang merupakan pimpinan tim Public Relations (PR) dan tim legal Soerjoatmodjo Group.

"Pak Arya," lapor Aldi dengan suara berhati-hati, merasakan aura sangat kelam yang menyelimuti bosnya.

Arya tidak berbalik badan, suaranya meluncur sangat rendah, dingin, dan sarat akan ancaman mematikan. "Matikan seluruh pemberitaan itu malam ini juga."

Pimpinan tim PR menunduk cepat seraya mencatat instruksi. "Baik, Pak Arya. Kami sudah menghubungi seluruh pimpinan redaksi stasiun TV, media cetak, dan portal berita daring. Artikel terkait foto Ibu Lilianne sudah diturunkan sepenuhnya. Akun gosip socialite yang menyebarkan pertama kali juga sedang dalam proses take down permanen dan pelaporan pidana."

"Saya tidak mau cuma diturunkan," pangkas Arya tegas, berbalik badan dengan netra kelam yang menyala tajam. "Usut siapa pihak pertama yang mengambil foto itu dan menjualnya ke media. Pastikan akun itu hancur secara finansial dan hukum. Jangan ada satu pun kalimat di media tanah air yang merendahkan martabat istri saya."

"Siap, Pak! Melaksanakan perintah," jawab pimpinan tim PR patuh sebelum mundur mengundurkan diri bersama tim legal.

Ruangan kembali hening. Arya menghembuskan napas berat, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi eksekutif, menyadari bahwa membersihkan berita di media massa adalah hal yang sangat mudah baginya. Namun, membersihkan luka dan ketakutan di mata hijau Lilianne adalah pertempuran berat yang baru saja dimulai.

Beberapa hari kemudian...

Kehidupan di mansion pribadi Arya berjalan dalam atmosfer yang berubah drastis. Lilianne memilih untuk tidak kabur ke rumah orang tuanya di Menteng. Putri tunggal klan Djojodiningrat itu terlalu berkelas untuk memperlihatkan kerapuhannya atau memicu perang antar keluarga besar. Sebaliknya, Lilianne mengubah strategi pertahanannya secara amat radikal.

Ia tidak lagi melempar amukan, tidak lagi mendengus ketus, dan tidak ada lagi tangisan. Lilianne menjelma menjadi sosok Nyonya Soerjoatmodjo yang teramat sempurna, begitu anggun, sangat sopan... namun memperlakukan Arya tak lebih dari seonggok patung transparan di dalam rumah mereka sendiri (silent treatment).

Pagi itu, di ruang makan utama yang megah, pendar sinar matahari menyinari meja marmer panjang. Lilianne duduk di sisinya dengan gaun rumahan berbahan sutra berwarna baby blue yang membalut tubuhnya secara elegan. Rambut blonde alaminya tertata rapi, dan netra hijaunya fokus membaca majalah seni internasional.

Suara dentang sepatu kulit terdengar dari lorong. Arya Sena melangkah masuk. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas kerja mewahnya. Wajahnya tampak sedikit kusam, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya—fakta bahwa beberapa hari terakhir ia tak pernah tidur nyenyak di kamar tamu.

Widya—yang kini telah digeser tugasnya ke area paviliun luar atas perintah Gayatri—hanya bisa berdiri sopan di ambang lorong, tak berani lagi masuk ke area privat. Tugas melayani kini sepenuhnya berada di bawah kendali staf rumah tangga yang ditunjuk langsung oleh Lilianne.

Arya melangkah mendekat, lalu menarik kursi tepat di samping Lilianne. Pria itu berdehem pelan, berusaha mencairkan dinding es di antara mereka.

"Selamat pagi, Lilianne," sapa Arya dengan suara beratnya yang sengaja dibuat sesantun dan sehalus mungkin.

Lilianne tidak melirik sedikit pun. Ia menanggapi sapaan itu dengan senyuman formal yang amat tipis—sebuah senyuman santun khas bangsawan kepada orang asing—lalu mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah.

"Selamat pagi, Mas Arya," sahut Lilianne. Suaranya terdengar teramat jernih, sangat sopan, namun begitu dingin dan datar tanpa emosi sedikit pun.

Arya menelan ludah dengan susah payah. Keanggunan yang tidak tersentuh itu terasa jauh lebih menyiksa dadanya daripada jika Lilianne menyiram wajahnya dengan kopi panas atau memamakinya habis-habisan.

Pelayan melangkah mendekat, menyajikan cangkir kopi hitam di samping piring Arya dan segelas jus jeruk untuk Lilianne.

Lilianne meletakkan majalahnya dengan gerakan perlahan. Ia menoleh ke arah pelayan di belakangnya, mengulas senyum manis yang sangat hangat—perlakuan hangat yang kontras seribu derajat dibanding cara ia memperlakukan Arya.

"Terima kasih banyak ya, Mbak Maya. Jus jeruknya segar sekali," tutur Lilianne dengan nada suara mendayu-dayu yang ramah.

"Sama-sama, Ibu Lilianne," jawab pelayan itu gembira seraya membungkuk hormat.

Arya menyipitkan matanya tipis. Rasa cemburu dan gengsinya terusik hebat melihat bagaimana istrinya bisa tersenyum begitu manis pada pelayan, namun berubah menjadi benteng es tak berjiwa saat berhadapan dengannya.

Arya mengambil cangkir kopinya, menatap Lilianne lurus. "Dasi yang saya pakai hari ini... adalah dasi sutra berwarna hijau emerald. Warna favoritmu," ujar Arya mencoba memancing percakapan, merapikan ikatan dasi yang dipasangnya sendiri pagi tadi.

Lilianne menyesap jus jeruknya anggun, meletakkan gelas kristalnya tanpa membuat bunyi sedikit pun, lalu menatap dinding di belakang Arya dengan pandangan kosong yang elegan.

"Pilihan warna yang bagus, Mas Arya. Dasi itu sangat cocok untuk menemui jajaran direksi di kantor," balas Lilianne dengan nada bicara yang amat formal, seolah sedang berbicara dengan relasi bisnis asing.

Setelah mengucapkan kalimat itu, Lilianne kembali melanjutkan aktivitas membacanya, mengabaikan presensi Arya secara total.

Dada Arya mendadak bergemuruh oleh rasa sesak yang tak tertahankan. Silent treatment dari Lilianne betul-betul menyiksa egonya sebagai seorang pria dominan. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Lilianne dengan manik kelam yang dipenuhi penyesalan dan keinginan kuat untuk memecahkan jarak ini.

"Lilianne..." panggil Arya rendah, suaranya sedikit bergetar. "Bisakah kita bicara soal malam itu?"

Lilianne menghentikan jemarinya di atas halaman majalah. Ia berpaling menatap Arya. Netra hijaunya menatap lurus ke dalam manik kelam sang suami—tidak ada amarah di sana, tidak ada kebencian, hanya kekosongan jernih yang membuat Arya merasa begitu kecil.

"Bicara soal apa lagi, Mas Arya?" tanya Lilianne dengan nada sangat tenang. "Pemberitaan media sudah bersih berkat tim PR-mu yang hebat. Bukankah martabat dinasti Soerjoatmodjo sudah aman kembali?"

"Saya tidak peduli soal media, Lilianne!" potong Arya emosional, suaranya naik satu nada. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap Lilianne dengan pandangan memohon yang teramat langka. "Saya peduli padamu. Saya minta maaf atas tindakan saya malam itu. Saya lepas kendali, dan saya... saya sangat menyesal telah membuatmu takut."

Lilianne menyunggingkan senyum miringnya yang sangat tipis dan dingin. Ia merapikan gaun sutranya seraya berdiri dari kursi makan.

"Mas Arya tidak perlu meminta maaf," tutur Lilianne halus, menatap Arya dari atas ke bawah. "Mas Arya adalah suami, pemilik mansion ini, dan kepala dinasti Soerjoatmodjo. Mas Arya berhak melakukan apa pun di rumah ini. Dan aku... sebagai istri yang baik, hanya menjalankan peranku untuk tidak memicu masalah lagi."

"Lilianne, bukan itu maksud saya—"

"Permisi, Mas Arya. Hari ini aku ada janji menghadiri kelas merangkai bunga bersama Ibu Gayatri," pangkas Lilianne santai tanpa memberi ruang untuk perdebatan. Ia menundukkan kepalanya sedikit dengan kesopanan yang mematikan. "Selamat bekerja di kantor."

Lilianne berbalik badan, melangkah anggun membelah ruang makan dengan high heels-nya yang berdentang teratur. Ekor gaun sutranya mengayun indah, meninggalkan aroma harum melati dan mawar yang memenuhi udara.

Arya Sena terduduk sendirian di meja makan yang luas itu. Pria itu mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja marmer, menatap cangkir kopinya yang perlahan dingin. Senjata terbaik seorang putri bangsawan bukanlah teriakan murka, melainkan pengabaian berkelas yang sanggup meruntuhkan keangkuhan pria mana pun—dan Lilianne baru saja memenangkan babak ini dengan sangat telak.

Bersambung...

1
Mita Paramita
😍😍😍
Mita Paramita
Arya jadi suami siaga 😍😍😍
Helen@Ellen@Len'z
up byk ya 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪thor 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Anonim
crazy up thor
falea sezi
sesuai janji q kirim bunga tuh🤭 lanjut banyakkk Thor
Heresnanaa_: wahhh, terimakasih Kaka, stay tune ya 🥹😚
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
Heresnanaa_: wahhh, maaciw kakak, stay tune ya beb🙏😚
total 1 replies
falea sezi
cantik tp otak kosong🤣 lu nyingkirin widya g mau kesaing🤣 tp lu g mau gantiin tugas dia layani laki lo🤣🤣 aneh gt ini cwek manja bisa nya apa shoping doank😒
falea sezi
nah gini🤣 aduin ke bumertua🤣 emank babu g tau diri si widya
falea sezi
harusnya di belikan buat anak yatim🤣 biar suami mu kagum 🤭
falea sezi
g suka cwek sombongnya kayak lily ini 🤣🤣 berharap dia itu lemah lembut cegil tp bukan sok jd cowok penasaran🤣
falea sezi
nyimak dlu klo bagus q krim bunga🤭
Mita Paramita
so sweet 😍😍😍
Mita Paramita
Liliane masih syok udah di unboxing paksa 😭 tinggal Arya nih yang mesti ngejar cinta Liliane
Arix Zhufa
up
Mita Paramita
akhirnya Arya unboxing Liliane 😍😍😍
Mita Paramita
Widya backstabbing 🤣🤣🤣
i got you 🔥🔥🔥
Mita Paramita
nice statement Liliane 😍
Mita Paramita
berkelas banget balasan Liliane ke ulat bulu Widya 🤣🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor 😍😍😍
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!