Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna

Aku adalah seorang warga negara yang taat hukum, tetapi jika ada satu orang yang bisa memicu diriku untuk membunuh suami sendiri, orang itu adalah calon suamiku.

Aku membenci kesombongannya, ketidakramahannya, dan cara mengejeknya saat dia memanggilku mia cara.

Aku membenci bagaimana debaran nadiku berpacu cepat saat merasakan luasan tangannya yang kasar merengkuh leherku.

Dan aku membenci bagaimana dia selalu tampak begitu mendominasi, seolah-olah molekul di ruangan mana pun yang dia masuki harus melipat diri demi memberikan ruang baginya.

'Apakah. Aku. Sudah. Cukup. Jelas?'

Suaranya yang membakar emosi itu terngiang-ngiang di kepalaku.

Sudah sangat jelas, sungguh. Sangat jelas bahwa Xavier Romanov adalah Iblis yang mengenakan setelan jas mewah.

Aku memaksa paru-paruku untuk mengembang melewati rasa amarah. Tarik nafas, satu, dua, tiga. Hembuskan, satu, dua, tiga.

Baru setelah tekanan darahku kembali ke tingkat normal, aku membuka pintu kamar baruku alih-alih pergi berburu pisau paling tajam yang bisa kutemukan.

Sesuai janjinya, sebuah kartu nama dengan nomor telepon asisten Xavier dan sebuah kartu Amex Black sudah menunggu di atas meja samping tempat tidur, tepat di sebelah kotak cincin berwarna merah yang khas.

Saat aku membuka penutupnya, sebuah berlian enam karat tampak berkilau menatapku.

Aku menyapukan jariku di atas permata yang memukau itu. Berukuran enam karat, potongan Asscher yang langka, dengan berlian potong baguette yang lebih kecil menghiasi di kedua sisinya.

Aku seharusnya merasa sangat gembira. Cincin itu sangat menakjubkan dan, menilai dari warna serta kejernihan berliannya, bernilai setidaknya seratus ribu dolar. Itu adalah jenis cincin yang membuat kebanyakan wanita rela melakukan apa saja demi memilikinya.

Namun saat aku mengambilnya dari kotak dan menyematkannya ke jariku, aku merasa… hampa.

Tidak ada yang kurasakan selain sentuhan dingin dari platina dan bobot berat yang lebih terasa seperti sebuah penjara daripada sebuah janji.

Sebagian besar cincin pertunangan adalah simbol cinta dan komitmen. Milikku ini adalah bentuk fisik dari tanda tangan di atas kontrak penggabungan perusahaan.

Rasa sesak yang aneh mencengkeram tenggorokanku.

Aku seharusnya tidak mengharapkan apa pun yang lebih dari apa yang diberikan Xavier. Beberapa pernikahan yang dijodohkan, seperti milik kakakku, memang berubah menjadi cinta sejati, tetapi peluang keseluruhannya tidaklah besar.

Aku menghempaskan diri ke atas tempat tidur. Rasa sesak itu menyebar dari tenggorokan ke dadaku.

Bisa-bisanya aku merasa sedih, sungguh konyol. Memangnya kenapa kalau Xavier melamar dengan cara yang paling tidak personal? Aku sudah tahu sejak pertemuan pertama kami, bahwa kami tidak akan pernah cocok. Setidaknya dia sudah jujur tentang niat dan batasan-batasannya.

Tetap saja, jauh di dalam hatiku, aku sempat berharap interaksi kami sebelumnya hanyalah kebetulan dan kami secara bertahap akan makin akrab satu sama lain. Namun ternyata tidak. Calon suamiku murni seorang pria berengsek.

Dentingan pesan teks baru memotong lamunan sedihku. Aku mengambil ponselku, mengharapkan pesan ucapan selamat lainnya atau pengingat dari Selena untuk mengundangnya datang begitu aku selesai berkemas.

Namun sebaliknya, aku melihat pesan dari orang terakhir yang paling tidak kuharapkan kabarnya.

Harper : Selamat Hari Cokelat Panas Labu :)

Aku menatap kata-kata itu, menunggu tulisan tersebut menghilang seolah-olah aku tidak sengaja memimpikannya. Tulisan itu tidak kunjung hilang.

Perutku terasa terbalik.

Dari jutaan hari yang ada, dia malah mengirim pesan tanpa alasan tepat di hari ini—tepat setelah aku pindah ke rumah Xavier. Alam semesta benar-benar punya selera humor yang buruk.

Ada sejuta hal yang ingin kuucapkan, tetapi aku memilih untuk tetap membalas dengan hal yang aman dan netral.

Aku : Memangnya ada minuman itu di California?

Harper : Cokelat panas labu? Nggak ada.

Harper : Di sini kamu cuma boleh minum smoothie sama jus hijau, kalau nggak nanti disuruh keluar dari pulau ini.

Senyum tipisku memudar secepat kemunculannya. Kami seharusnya tidak saling bicara, tetapi aku tidak sanggup membawa diriku untuk memblokir nomornya.

Harper : Aku sudah kirim email ke Bonnie Sue’s tiap hari minta mereka buka cabang di San Francisco, tapi sampai sekarang belum ada hasil.

Rasa nyeri menghantam dadaku saat nama Bonnie Sue’s disebut.

Itu adalah kafe populer di dekat Universitas Columbia, tempat aku dan Harper menempuh pendidikan S1 dulu. Kafe itu terkenal dengan menu musiman cokelat panas labunya. Meskipun aku tidak suka labu dan Harper tidak suka cokelat panas, kami selalu datang setiap tahun saat menu itu kembali hadir di pertengahan September.

Lupakan soal titik balik matahari musim gugur, hari pertama musim gugur yang sebenarnya bagi kami adalah hari di mana minuman itu muncul kembali di menu Bonnie Sue’s.

Aku : Nanti juga bakal buka. Kegigihan pasti membuahkan hasil.

Rasa bersalah membengkak di dadaku selagi aku dan Harper bertukar lebih banyak obrolan ringan. Dia bertanya tentang pekerjaanku dan situasi kota, aku bertanya tentang anjingnya dan cuaca di San Francisco.

Ini adalah percakapan terpanjang kami selama bertahun-tahun. Biasanya, kami hanya saling berkirim pesan saat hari libur dan ulang tahun, dan kami tidak pernah berbicara lewat telepon. Lebih mudah untuk berpura-pura bahwa kami hanyalah kenalan biasa dengan cara seperti itu, meskipun kenyataannya kami jauh dari kata sekadar kenalan.

Harper Terest.

Sahabatku sewaktu kuliah. Mantan pacarku. Dan cinta pertamaku.

Dahulu sekali, aku berpikir kami akan menikah. Aku menyakinkan diriku sendiri bahwa kami bisa mengatasi penolakan orang tuaku dan hidup bahagia selamanya. Namun perpisahan kami dua tahun lalu membuktikan bahwa harapanku hanyalah sebatas… harapan. Sangat rapuh dan tak berdaya di hadapan kemurkaan orang tuaku.

Aku mengibaskan ingatan tentang hari itu dan mencoba untuk fokus kembali.

Aku : Bagaimana perkembangan perusahaanmu?

Setelah perpisahan kami, Harper pindah ke California dan mengembangkan aplikasi belajar bahasanya hingga menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang. Terakhir kali aku mengeceknya, aplikasi itu masuk dalam lima belas besar aplikasi yang paling banyak diunduh di AS.

Harper : Luar biasa bagus. Kami bakal melantai di bursa saham (IPO) pada akhir tahun ini.

Harper : Kami mengekspektasikan IPO yang besar. Mungkin saja…

Tiga titik yang menandakan dia sedang mengetik muncul, menghilang, lalu muncul kembali.

Harper : Kita bisa membicarakan hubungan kita lagi setelah itu terjadi.

Rasa bersalahku mengeras menjadi ketakutan yang mencekam.

Dia tidak tahu soal pertunanganku. Aku tidak mengunggahnya secara daring, kami tidak lagi memiliki teman yang sama, dan Harper tidak pernah mengikuti berita di kolom sosialita, yang berarti aku harus memberitahunya sendiri. Aku tidak bisa berbohong dengan menyembunyikan hal ini dan membiarkannya berpikir bahwa masih ada kesempatan bagi kami untuk balikan.

Harper : Kalau kamu mau, tentu saja.

Aku bisa membayangkan dia sedang menyapu rambutnya dengan tangan seperti yang selalu dia lakukan setiap kali merasa gugup.

Gigiku menekan bibir bawahku. Aku tahu sebagian alasan mengapa dia bekerja begitu keras pada perusahaan perintisnya adalah untuk membuktikan bahwa orang tuaku salah. Merekalah yang sangat marah saat mengetahui aku telah menyembunyikan hubungan kami selama bertahun-tahun, dan makin murka saat mengetahui Harper tidak berasal dari latar belakang keluarga yang pantas.

Pada saat itu, dia berpenghasilan cukup sebagai insinyur perangkat lunak yang mengerjakan aplikasinya sebagai pekerjaan sampingan, tetapi dia bukanlah seorang anggota keluarga Romanov atau Young. Ayahku mengancam akan mencoret namaku dari keluarga jika aku tidak mengakhiri hubungan dengan Harper, dan pada akhirnya, aku memilih keluarga daripada cinta.

Harper mungkin berpikir orang tuaku akan mengubah pikiran mereka setelah perusahaannya melantai di bursa saham dan dia menjadi seorang jutawan. Aku tidak tega untuk memberitahunya bahwa orang tuaku tidak akan pernah berubah.

Keluargaku memang memiliki banyak uang, tetapi kami adalah orang kaya baru. Tidak peduli seberapa banyak kami menyumbang untuk amal atau seberapa banyak angka nol di rekening bank kami, tingkatan masyarakat tertentu akan selalu tertutup bagi kami… kecuali jika kami menikah dengan keluarga old money.

Harper tidak akan pernah menjadi bagian dari old money, yang berarti orang tuaku tidak akan pernah merestuinya sebagai pasangan cintaku.

Katakan saja padanya.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memberanikan diri.

Aku : Aku sudah bertunangan.

Itu bukanlah perpindahan topik yang paling halus, tetapi reaksi yang singkat, jelas, dan langsung pada intinya.

Aku menahan diri untuk tidak kembali ke kebiasaan masa kecilku memukuli kuku saat menunggu balasan darinya.

Balasan itu tidak pernah datang.

Aku : Ini terjadi beberapa minggu lalu. Orang tuaku yang mengaturnya.

Aku : Aku berniat memberitahumu lebih awal.

Aku seharusnya berhenti, tetapi aku tidak bisa menahan gelombang kata-kata yang keluar lewat pesan teks ini.

Aku : Pernikahannya diadakan satu tahun lagi.

Hening tanpa balasan.

Lima menit berlalu, tetapi layar ponselku tetap gelap dan membisu. Aku mengerang pelan dan melemparkan ponsel itu ke samping.

Aku tidak seharusnya merasa bersalah. Harper dan aku sudah berpisah lama sekali dan, sejujurnya, aku terkejut dia menginginkan kesempatan kedua. Aku tadinya berpikir......

Sebuah ketukan pelan memotong kekacauan dalam pikiranku.

Aku menarik napas panjang lagi dan merapikan ekspresiku menjadi tenang dan sopan sebelum menjawab. “Masuk.”

Pintu terbuka, memperlihatkan rambut perak yang anggun dan setelan jas hitam yang tersetrika rapi.

Jack, kepala pelayan Xavier.

“Nona Annastasia, Tuan Xavier meminta saya untuk mengantar Anda berkeliling melihat seluruh rumah,” katanya, aksen Inggrisnya terdengar setegas pakaiannya. “Apakah sekarang waktu yang tepat, atau Anda ingin saya kembali lagi pada jam yang Anda tentukan?”

Aku melirik ponselku, lalu menatap ruangan yang dingin dan indah di sekelilingku. Suka atau tidak, tempat ini sekarang adalah rumahku. Aku bisa saja mengunci diri di kamar, meratapi nasib, dan menyiksa diri dengan masa lalu, atau aku bisa mencoba memanfaatkan situasiku saat ini sebaik mungkin.

Aku berdiri dan memaksakan sebuah senyuman yang terasa sedikit kaku.

“Sekarang waktu yang sangat tepat.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!