Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sore ini sekitar pukul lima sore, sinar matahari nampak menyinari pelataran depan rumah Keluarga Devantara yang minimalis.

Nampak bayangan panjang karena terpantul di sela-sela tanaman hias.

Setelah kepergian Putri, di rumah Asri sendirian dan mencoba menyibukkan diri.

Asri nampak di dalam kamarnya, menyusun portofolio soal risetnya sembari menanti kabar mengenai visanya.

Namun, keseriusannya itu terhenti tatkala suara bel pintu rumahnya berbunyi---memang gerbang tak di kunci oleh Putri---karena kondisinya masih siang hari.

Ting Nong...Ting Nong...

Di tambah area komplek ini ada satpam yang suka keliling, jadi bisa di bilang aman.

Jika kalo ada tamu bisa memencet bel dari luar gerbang, namun ada bel pintu yang terletak di dekat pintu rumah.

Asri menghela napas, dan mengira itu adalah kurir yang biasa mengantar paket miliknya dan Putri------Tukang paket selalu tahu kebiasaan, jika memencet bel dari dalam rumah bila gerbang tak di kunci.

Jika gerbang di kunci maka menekan bel dari luar gerbang, menjadi pilihannya.

"Iya bentar bang," teriak Asri keluar kamar menuruni anak tangga.

Tentu saja, Asri tak menaruh kecurigaan apapun karena mengira itu tukang paket.

Ting Nong...Ting Nong...

Tangan Asri meraih gagang pintu, begitu daun pintu di buka.

"Iya bang, paket punya saya ya yang---" kalimat Asri terhenti, saat melihat orang yang di hindarinya kini berdiri di depannya.

Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya kaku dan seketika peluh keluar----sama seperti keadaan waktu di ballroom pertemuan antara UNESCO dan Kementerian kebudayaan waktu itu.

"Ka-ka-kamu...," tunjuk Asri suaranya seolah tercekat di tenggorokan.

Matanya seketika membulat, saat mendapati pria bertubuh tegap yang telah merenggut kehormatannya----kini berdiri di depannya.

Mayor Angga Pratama.

Angga berdiri dengan mengenakan pakaian kasual, kaos polo lengan pendek warna biru cerah---bawahnya di padukan dengan celana training panjang warna hitam senada dengan sepatu olahraganya.

"Selamat siang... Asri," bisik Angga dengan suara baritonnya yang berat dan bergetar ragu.

Tatapan matanya yang tajam menatap Asri dengan lekat, hati Angga menjadi berdebar kencang----ada rasa lega dan rasa yang sulit di artikan.

Selama ini dirinya----akhirnya menemukan seorang bidadari berkemeja putih yang di tiduri malam itu.

Asri yang mendengar kembali suara dan melihat Angga, kini ketakutan yang luar biasa menyerangnya.

Matanya melebar sempurna dengan tatapan trauma yang mendalam, tangannya memegang gagang pintu dengan kuat, sementara tubuhnya secara refleks mundur ke belakang.

"Pergi...," ucap Asri dengan lirih.

Langkahnya mundur seolah kembali masuk, dan tubuhnya mendadak bergetar---sampai dirinya tak sempat menutup kembali pintunya.

Angga merasa dadanya sesak seperti di tekan, kehadirannya di sini telah membuka kembali luka menganga yang ia goreskan di atas seprai putih saat malam terkutuk itu.

"Asri, tolong jangan takut... Saya ke sini tidak berniat jahat," ujar Angga dengan suara lembut.

Kakinya melangkah maju----saat kaki Asri melangkah mundur ketakutan, melewati ambang pintu demi menghindari tetangga yang melintas.

"Asri...saya hanya ingin minta maaf ama kamu," ucap Angga sekali lagi.

Asri tubuhnya sudah bergetar hebat, dirinya tak sanggup lagi membayangkan saat malam terkutuk itu.

"Ampun...tolong pergi...," rintih Asri dengan suara parau.

"Kyaaaa....pergi!! Jangan mendekat!!" teriak Asri dengan suara memilukan.

Asri berteriak menutup kedua telinganya, Angga yang khawatir dan tak bisa meninggalkan Asri, karena takut jika wanita ini akan melakukan tindakan yang nekat.

Angga sendiri akibat serangan panik (panic attack) refleks melangkah masuk ke dalam ruang tamu, kehadirannya malah mendatangkan sebuah memori yang kembali hadir di ingatan Asri.

"Asri, tolong dengarkan saya dulu," desak Angga.

Pria ini secara refleks merentangkan kedua tangannya dengan gestur menenangkan, namun hal itu justru terlihat seperti ancaman-----cengkeraman baru di mata Asri yang sedang didera trauma hebat.

Bau parfum maskulin berpadu aroma keringat tipis dari tubuh perwira itu, mendadak memenuhi indra penciumannya, bukan lagi aroma alkohol seperti malam-malam menjijikan itu.

Justru pikiran Asri saat ini, kembali akan pada malam terkutuk itu di dalam kamar hotel---tarikan kasar, rasa sakit akibat hubungan yang merobek mahkotanya, bahkan pemukulan di wajahnya sampai pingsan.

Asri yang kehilangan seluruh kekuatannya seketika merosot jatuh, terduduk jongkok di atas lantai ubin ruang tamu yang dingin di samping meja kayu jati.

"Aaaaaahhhhh! Pergi!!! Jangan sentuh aku! Pergi!!!" teriak Asri histeris masih dengan menutup kedua telinganya.

Suara teriakan yang memilukan itu menggema keras di dalam ruangan, memecah keheningan.

Air mata Asri tumpah deras membasahi pipinya yang pucat, matanya terpejam, teriakan kembali melebar meluapkan segala traumanya yang selama ini terpendam.

Asri berteriak sambil menangis sejadi-jadinya, seolah pria di depannya bukan manusia, melainkan sosok hewan buas yang siap menerkamnya hidup-hidup.

Angga membeku di tempatnya, dirinya hanya bisa terdiam di hadapan Asri yang meringkuk ketakutan di lantai.

Sungguh Angga tak menyangka jika perbuatannya bisa sampai melukainya sejauh ini, wanita yang sudah beberapa hari ini membayangi pikirannya sudah di temukan.

Kini, wanita itu malah menyimpan trauma yang mendalam akibat perbuatannya malam itu.

Sungguh, disisi lain Angga takut jika Asri melaporkannya ke kesatuan tempatnya bertugas----Dan Asri juga takut melaporkan jika Angga adalah orang penting karena bisa bicara dengan Pak Budi----Anggota perwakilan kementerian kebudayaan.

Keduanya memiliki rasa takut masing-masing, dan sepertinya-----baik Asri atau Angga memiliki keterikatan.

Angga menatap nanar ke arah wanita di bawah kakinya sambil menutup kedua telinganya menggunakan tangan, menjerit secara histeris sembari menyuruhnya pergi.

Tangan kekarnya berusaha menyentuh pundak Asri guna menangkannya, namun hal itu sia-sia.

Wanita itu semakin menjerit histeris ketakutan, seolah Angga akan melakukan hal yang sama.

Angga menyadari dengan kejam bahwa Asri, menganggapnya seperti predator yang sudah merenggut kesuciannya.

"Aaaaaahhhhh! Pergi!!! Jangan sentuh aku! Pergi!!!" teriak Asri histeris masih dengan menutup kedua telinganya.

Angga berusaha menenangkan Asri, dirinya akan bicara padanya.

"Mbak...tenang dulu...," ucapnya lirih.

Namun, Asri masih menjerit sembari menutup kedua telinganya----Angga kebingungan bagaimana dirinya menenangkan Asri.

Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya, dirinya memiliki ide untuk menenangkan Asri.

Apa yang akan Angga lakukan pada wanita malang ini.

*

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!